
Satu tahun kemudian...
"Wahhh... Indahnya pagi hari." Ucapku sambil memandang dunia luar.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk universitas. Tentu saja aku akan menggunakan identitas palsu di universitas itu. Sekarang namaku adalah Jela. Tepatnya Jela Tarina. Aku merasa nama ini lumayan keren, jadi aku sih nggak terlalu keberatan. Toh ini cuma berlaku sementara.
Aku juga mengubah penampilanku. Aku benar-benar tidak ingin melakukannya namun aku harus melakukannya. Tapi tenang aku sudah berjanji untuk tak akan melepas hijabku.
Aku sekarang sering menggunakan baju serba oversize. Tapi aku menggunakan celana sekarang. Namun aku tetap memilih celana yang longgar dan tetap menutup bentuk kakiku. Itu semua kulakukan bukan untuk fashion. Tetapi aku ingin menjaga identitasku.
"Huh... Huh... Huhhh." Nafasku terengah-engah berlari mengejar bus karena hampir ketinggalan.
Baik Aldo maupun Farhan mereka benar-benar laknat. Bagaimana bisa mereka tidak ada yang mengantarku.
"Hei... Keluarlah kalian..." Aku sadar ada yang membuntutiku dari belakang. Aku tau itu adalah anak buah Aldo yang di tugaskan untuk mengawasiku.
"Kau tidak perlu mengawasiku, aku tidak akan kabur." Ucapku pada mereka.
"Emm... Bukan begitu, bos khawatir kalau kau berurusan dengan orang-orang b*eng**k lagi." Jawab mereka.
"Dia masih belum yakin terhadapku ternyata." Aku berkata begitu sambil tersenyum licik.
Oh... Ya, sekarang aku juga bukanlah wanita penakut dan hanya bisa menangis seperti dulu. Sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan dan situasi di sini. Aku sekarang juga sering menghadapi orang-orang jahat dan tidak bertanggungjawab yang dulu selalu kutakuti.
Tentu saja itu berkat latihanku selama ini. Sudah satu tahun aku berlatih. Aku akan terlihat sangat payah jika dalam waktu yang selama itu aku belum menguasai apapun. Ditambah lagi guru yang mengajari ku adalah orang-orang yang begitu keren. Tentu saja itu adalah Aldo dan kakakku Farhan.
"Sudahlah lakukan sesuka kalian." Ucapku pada orang yang mengikutiku tadi.
Aku sampai di kampusku.
"Apa yang benar saja..." Aku lupa membawa kartu identitas di masa orientasi siswa baru ini.
Akupun di hukum berdiri di lapangan bersama siswa-siswi lain yang juga melakukan kesalahan.
"Hei... Penampilanmu keren banget deh." Ucap perempuan di sampingku.
"Benarkah, ku kira ini pakaian yang terlihat norak." Ucapku.
"Tentu tidak... Ini adalah tren fashion. Kenalin aku Dasha."
"Iya salam kenal aku Ut...., eh maksudku Jela." Kami berkenalan saat itu dan berencana untuk menjadi teman.
"Wah... Bahkan namamu terdengar keren." Lagi-lagi dia memujiku.
"Ihh... Enggak kok, namamu juga terdengar indah." Aku berbalik memujinya.
__ADS_1
"Btw kamu ambil jurusan apa?" Tanyaku padanya.
"Kalo aku sih ambil jurusan sastra bahasa." Jawabnya.
"Ehhh... Sama dong, kamu udah tau belum sih kelasnya?" Tanyaku lagi.
"Belom, nanti kita cari sama-sama kuy!" Jawabnya.
"Kuy lah.." Jawabku.
Aku sudah di kelas tapi materinya belum di mulai sih soalnya kita masih orientasi. Dan ini waktunya istirahat, tentu saja aku bersama Dasha dan beberapa teman lainnya.
Ku kira aku tak akan mudah berbaur di sini, tapi ternyata perkiraan ku salah.
"Ehh... Minta nomer hp kalian dong!" Ucap salah satu dari kami.
"He em, betul tu, biar lebih akrab. Atau kalo perlu kita buat grub sekalian.
"Kuy."
"Kuy lah." Kita semua setuju untuk memberikan nomor ponsel satu sama lain.
Aku akhirnya pulang jam empat sore. Tentu seperti tadi. Aku memakai maskerku dan berlari ke terminal.
Ketika di tempat yang sepi aku melihat pemalakan, awalnya aku kira itu hanya segerombol manusia menyebalkan. Tapi setelah kuperhatikan, mereka sedang melakukan tindakan tak bermoral. Dari kejauhan terdengar mereka berbicara.
"Tolong bang... Itu uang buat hidup saya di sini selama sebulan." Ucap seseorang itu.
"Gue ngga peduli itu uang buat apa, cepet kasih uang yang lo punya sekarang." Ucap pria lainnya.
"Hey... Hey..., kalian lagi, kemarin kalian juga malak gue kan?" Ucapku sambil mendekat.
"Si*al*n, itu cewe yang kemarin kan?" Ucap salah satu dari mereka.
"Cabut semuanya." Ucap seseorang yang sepertinya pimpinan mereka. Dan merekapun pergi meninggalkan kami.
"Terimakasih." Ucap orang di depanku
Ternyata orang yang ku bantu adalah seorang laki-laki.
"Sama-sam....a." Aku sangat terkejut ketika melihat wajah orang itu. Dia adalah Ahmad.
Aku berlari meninggalkan Ahmad di situ, dan cepat-cepat menuju ke terminal. Aku menaiki Angkot dan terus berfikir.
"Ahmad?, kok bisa dia di sini, dan tadi kenapa dia tidak melawan, padahal dia bisa bela diri juga. Tapi saat ku perhatikan ada yang janggal, baju yang dia pakai adalah seragam yang ku pakai hari ini." Gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Nggak... nggak mungkin. Tapi aku yakin itu Ahmad. Aaaaa... entahlah." Aku malah pusing sendiri.
Ahmad POV
Flashback on.
"Assalamu'alaikum Ustadz" Ucap Ahmad yang bertamu ke rumah Ustadz.
"Wa'alaikumsalam, ada apa Ahmad?" Jawab Ustadz.
"Anu... Ustadz saya ke sini hendak menyampaikan sesuatu." Ucap Ahmad gugup.
"Tidak apa, sampaikanlah." Jawab Ustadz.
"Saya ingin melanjutkan study dan hidup mandiri." Ucap Ahmad.
"Apa kamu yakin nak Ahmad." Ucap Ustadz.
"Iya Ustadz. Sebelumnya saya minta maaf, saya diam-diam bekerja selama ini, karena saya benar-benar ingin melanjutkan study saya. saya juga bekerja dan mengambil paket untuk mengejar ketertinggalan saya. saya ingin mengambil jurusan bahasa Arab dan ilmu tafsir." Jawab Ahmad.
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu Ahmad, jika kamu bilang, insyaallah Ustadz akan membantumu." Jawab Ustadz.
"Saya tidak ingin merepotkan lagi Ustadz. Keluarga ini sudah banyak sekali membantu saya, saya benar-benar berterimakasih." Jawab Ahmad.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, keluarga ini adalah keluargamu juga Ahmad." Ucap Ustadz.
"Terimakasih karena telah merawat saya, dan terimakasih kepada Rani dan juga Ibu karena telah menyayangi saya layaknya keluarga sendiri." Jawab Ahmad.
"Baiklah kalau ini memang keputusanmu. Tapi tolong jangan tolak pemberian ini, ini untuk bekal dan modal hidupmu. Dan lagi... Jangan lupa untuk berkunjung ke sini. Ucap Ustadz.
"Tentu... tentu saya akan berkunjung, sekali lagi terimakasih banyak." Ucap Ahmad.
Flashback off.
"Kenapa suara wanita yang menolongku tadi terdengar tidak asing." Fikir Ahmad.
Utari POV
Aku kembali ke rumah Aldo, yah sekarang sebut saja itu rumahku. Ketika di rumah aku tetap berpakaian layaknya Utari yang dulu memakai gamis panjang setiap saat. Aku tau ini terbalik, tapi ini memang harus aku lakukan.
Aku menuju meja makan untuk makan siang. Di situ ada aku, kakakku, Aldo, dan bibi juga.
"Selamat makan." Ucap bibi kepada kami semua.
Orang-orang menyantap makanannya. Namun tentu aku tidak melupakan untuk berdoa sebelum makan. Aku berdoa selama beberapa saat. Dan aku hendak menyendok makananku. Namun Aku melihat Aldo.
__ADS_1
Dia terlihat sudah membuka mulutnya untuk menyantap makanan, namun sepertinya dia menghormatiku dan mengurungkan suapannya.
Aku tersenyum padanya, lalu aku memakan makananku.