Selembar Hijab Untukku

Selembar Hijab Untukku
Eps.19 Awal Berlatih


__ADS_3

**Perhatian!!!


Setiap nama dan kejadian dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka, dan sama sekali tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun, jadi diharapkan untuk selalu bijak dalam membaca. Terimakasih**...:)


"Oke sekarang kita akan melakukan peregangan tubuh terlebih dahulu. Pertama-tama tegakkan badanmu dan angkat tanganmu." Perintah kakakku.


Aku mengikuti gerakan yang dia tunjukan. Dia menyuruhku untuk menggerkan setiap anggota badanku. Mirip seperti sedang senam menurutku.


"Ini mudah sekali kak, kalo tau gini, pasti bentar juga bisa." Ucapku meremehkan.


Kakakku hanya tersenyum. Namun entah kenapa senyumnya terlihat sedikit aneh. Kakakku terus menunjukan gerakan-gerakan senam itu selama beberapa menit.


Lama-kelamaan aku merasa ini semakin tidak beres, entah kenapa mulai terasa sulit. Tiba-tiba kakakku mengangkat salah satu kakinya lurus ke belakang. Terlihat sangat seimbang.


Aku di belakangnya berusaha menirukannya. Dan tentu saja aku tak bisa. Badanku seakan-akan ingin jatuh ke kiri dan ke kanan, namun aku terus berusaha mengikutinya.


Akhirnya kakakku menurunkan kakinya dan berganti gerakan. Kakakku mengangkat kakinya lurus ke atas. Tentu aku berusaha mengikutinya.


"Wah... Mudah sekali ya..." Ejek kakakku sambil tersenyum puas.


"Pliss... Deh yaa..., jahat banget deh..." Aku menggerutu sambil tetap berusaha menirukan gerakannya.


"Hahahaha..., ngga ngga, kita ngga bakal latihan ini dulu, tapi kita latihan kelenturan tubuh dulu, ini sangat berpengaruh untuk kedepannya nanti." Jawab kakakku.


"Oke jadi kita latian yang bagaimana?" Tanyaku pada kakak.


"Coba duduk dan luruskan kakimu ke depan." Perintah kakakku, dan aku tentu mengikuti perintahnya.


Kakakku duduk dan menempelkan telapak kakinya di telapak kakiku. Kakakku perlahan membuka kakinya dan menggiring kakiku agar ikut terbuka juga. Awalnya aku merasa biasa saja. Namun lama kelamaan...


"A...aw...adudududuhh... Aaaaaa... Kak stop kak. Aku berteriak. Kakaku melepaskan kakiknya. Seketika akupun merapatkan kakiku dan mengusapnya sambil merintih kesakitan.


"Padahal belum lebar sama sekali loh, dulu kan kamu petakilan, setidaknya pasti bisa lebih lebar dari ini." Ucap kakakku sambil memegang jidatnya.


"Ya... Kan petakilan ngga harus buka kaki lebar-lebar kak." Jawabku.


"Ngga papa... Ini cuma tes kelenturanmu sampai mana. Sekarang ganti gerakan. Lengkungkan tubuhmu ke belakang." Ucap kakakku.


"Maksud kakak???" Aku kebingungan.


"Maksud kakak kayang, kamu tau kayang kan?" Tanya kakakku.


"Ngga tau, aku taunya kuyang." Jawabku.

__ADS_1


"Kuyang apaan dek?" Tanya kakakku.


"Ihh... Masa ngga tau sih, itu loh makhluk yang kepalanya bisa lepas." Jawabku.


"Owhh... Ehh... btw ngapain jadi bahas kuyang?" Tanya kakakku tersadar kita sudah melenceng dari topik.


Kakakku akhirnya mencontohkannya. Dan okee, terlihat sangat mudah. Dan aku mencobanya.


"Gini ya kak?" Posisiku belum melengkung sama sekali.


"Lebih ke bawah!" Perintah kakakku.


Aku mencobanya, tapi malah...


"Bruk..." Kakiku tak bisa menopang badanku.


"Coba lagi." Ucap kakakku


"Bruk..." Masih sama seperti tadi.


"Lagi." Kakakku terus memerintahkan.


"Bruk... aduduh pinggangku."


"Lagi." ucap Kakakku...


"Baru segitu..." Ucap kakakku.


Namun setelah kakak melihatku sangat berkeringat.


"Yaudah... Minum dulu sana." Ucap kakakku.


Aku dan kakaku duduk terdiam selama beberapa saat. Akupun memulai pembicaraan.


"Kak ini sebenarnya grub apaan sih, preman kah?, atau gengster?, atau jangan-jangan penculik?" Tanyaku.


"Entahlah... Kakak juga ngga tau. Kelompok ini terlalu baik untuk disebut sebagai penjahat, tapi juga terlalu buruk untuk disebut sebagai penyelamat." Jawab kakakku.


"Bagaimana maksud kakak?" Aku bertanya lagi.


"Intinya kelompok ini tidak sepenuhnya buruk, bahkan akhir-akhir ini bisa dibilang kita hanya melakukan misi yang baik seperti memblokir pengiriman barang ilegal seperti senjata dan nark*ti**a. Kemudian kami mengirimkan barang dan orang yang terlibat ke pihak yang menanganinya." Jawab kakakku lumayan panjang.


"Lalu bagaimana bisa di sini ada senjata, aku melihatnya di rumah ini waktu itu?" Aku terus saja ingin tau.

__ADS_1


"Oh maksudmu di gudang senjata?, tentu saja kami memiliki izin. Dan kami juga tidak boleh menggunakannya secara sembarangan. Kelompok kita ini bahkan sudah didukung oleh pihak-pihak luar karena bisa di bilang misi kami juga sedikit membantu negara untuk mengamankan dan merampas barang-barang ilegal. Maka dari itu, kelompok-kelompok lain sedikit membenci kelompok Aldo ini, karena bisa dianggap sebagai ancaman."


"Ohhh... Jadi begitu, bisa di bilang Aldo bukan penjahat dong. Lalu bagaimana orang yang ingin menangkap kita kemarin ya, mereka terlihat langsung mundur ketika melihat Aldo datang." Ucapku.


"Tentu saja... Bahkan Aldo seperti menganggap orang yang ada di sini adalah keluarganya sendiri. Dan kalo untuk orang itu aku juga tidak tau, anggap saja mereka takut." Kakakku menjelaskan dengan sangat bersemangat.


Author POV


Di satu sisi kelompok yang berusaha menangkap Utari dan kakaknya sedang berdiskusi.


"Bagaimana bisa menangkap dua orang bocah saja kau tidak becus." Ucap dari seseorang yang terlihat berkuasa atau bisa di bilang bos.


"Maaf bos, tapi sepertinya kita salah perkiraan, mereka benar-benar sudah bergabung dengan kelompok Gagak Putih (Nama kelompok Aldo)." Ucap salah satu pria yang berusaha menangkap Utari dan kakaknya.


"Oww... Jadi begitu rupanya, kecurigaanku selama ini ternyata benar. Lalu bagaimana dengan mata-mata kita?" Ucap bos mereka.


"Sepertinya mereka sudah ditangkap oleh kelompok itu." Jawab anak buahnya.


"Kurang ajar sekali mereka. Tapi kita tidak bisa menyepelekan mereka, kelompok itu sudah banyak sekali mendapat dukungan dari luar. Sungguh merepotkan!!!" Ucap bos mereka.


"Lalu kita harus bagaimana bos?" Tanya anak buahnya.


"Jangan gegabah, kita fikirkan matang-matang dulu rencananya. Dan sementara waktu jangan ada yang mengusik kelompok itu, kita akan merencanakannya dulu. Biarkan mereka bernafas lega sejenak, lalu kita akan melancarkan rencana kita." Perintah bos mereka.


"Baik bos..." Jawab anak buahnya.


Utari dan Kakaknya POV


"Sudah... Sudah cukup istirahatnya. Ayo berdiri, kita harus lebih serius sekarang!" Ucap kakakku.


Aku berdiri lagi dan kembali Berusaha untuk melakukan gerakan kayang.


Tiba-tiba kakakku menopang bagian punggung belakangku dengan tangannya. Aku sedikit terkejut.


"Terus lebih ke bawah, heiii kepalamu jangan miring sambil melihat lantai begitu. Coba luruskan pandanganmu dan biarkan kepalamu secara alami mengikuti alur badanmu." Ucap kakakku mengarahkanku.


Aku terus mencobanya sambil dibantu kakak. Dan akhirnya tanganku menyentuh lantai itu. Dan entah kenapa rasanya begitu bahagia seperti mendapat hadiah dari lomba kemerdekaan.


"Yeyyy... Aku bisa, akhirnya...." Aku sangat bersyukur, padahal ini baru satu hari aku berlatih.


"Baguslah... Kau belajar dengan cepat, besok aku ingin melihat kau lebih baik dari ini. Oh iya, jangan lupa latih kelenturan otot kakimu, ini sangat dibutuhkan." Ucap kakakku layaknya guru pembimbing sungguhan.


"Tapi itukan sulit sekali kak, ototku rasanya mau putus tadi." Aku merengek pada kakak.

__ADS_1


"Ssstttt... Jangan membantah, berlatihlah dengan rutin, aku akan mengecek perkembangannya setiap hari, dan memberikan materi baru." Ucap kakakku tegas.


"Haaaissshhh..." Aku menggerutu di dalam hati.


__ADS_2