Selembar Hijab Untukku

Selembar Hijab Untukku
eps.12 merubah penampilan???


__ADS_3

Malam terasa begitu cepat berlalu. Aku masih tidak rela untuk meninggalkan semua kenangan di sini. Tapi benar kata kakakku, aku memang tidak bisa terus disini, aku disini hanya numpang hidup saja. Setelah ini aku tentu tidak ada tempat lagi.


Pukul 09.00 am


aku bergegas untuk pergi dari pondok itu. Aku berjalan menuju parkiran, dan sekali lagi aku berhenti untuk melihat tempat ini untuk yang terakhir. Hatiku sangat bimbang, namun aku harus melakukannya.


Aku berjalan sangat pelan dan menuntun sepedaku sambil membayangkan masa-masa indah di sini. Namun terdengar suara nafas terengah-engah dari kejauhan.


"Tari..."


Seseorang memanggil namaku. Aku mengenali suara itu, jadi aku berbalik dan benar saja, itu adalah Ahmad. Dia mendekatiku sambil berlari.


"Tari... Sejujurnya aku tidak ingin kau pergi. Tapi aku juga tidak bisa memaksamu untuk tetap tinggal karena aku juga bukan siapa-siapa disini. Tapi sebelum pergi aku ada sesuatu untukmu.


Dia mengeluarkan sesuatu mirip sebuah kain dari kotak yang ia bawa. Itu adalah selembar hijab. Dia memberikan hijab itu dengan kedua tangannya layaknya sedang memberikan sebuah penghormatan.


Hatiku sangat tersentuh. Aku tak bisa menghitung lagi air mata yang kukeluarkan. Air mataku jatuh membasahi hijab yang Ahmad berikan.


"Tidak Ahmad, aku tak bisa menerima hadiahmu." aku mengembalikan hijab itu pada Ahmad.


"Kenapa...? Apa kau tidak suka hijabnya." tanya Ahmad padaku


"Bukan itu... Hanya saja..." aku memotong ucapanku ditengah-tengah karena menahan tangisku agar tak menjadi-jadi.


"Hanya saja apa??" Ahmad kebingungan.


"Hanya saja... Aku menyukaimu Ahmad!!! Aku memang bodoh, orang macam diriku bisa-bisanya berharap hal yang tak masuk akal. Rasanya sama saja seperti aku memberontak pada diriku sendiri. Jika aku menerima hadiah itu, maka sama saja aku menyakiti diriku sendiri..., dan aku tidak akan bisa lupa denganmu. Hijab itu akan terus saja membayangiku." Tangisku yang sudah tak bisa kutahan lagi.


"Selamat tinggal Ahmad, aku mohon lupakanlah aku, begitu pula sebaliknya, aku juga akan melupakanmu. Assalamu'alaikum."


Itu menjadi penutup dari pembicaraanku saat ini. Aku kembali menuntun sepedaku dan pergi dari sana.

__ADS_1


Ahmad POV


"Bukan kamu yang bodoh, tapi aku Tari, seandainya aku lebih berani mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi beraninya kamu membasahi hijab ini tanpa menerimanya. Dengan begitu bukan kau yang akan mengingatku,,, tapi justru aku yang akan terus ingat padamu." Ucap Ahmad sambil meneteskan air mata di hijab yang sama sambil memandang hijab itu.


Utari POV


13.00 pm


Aku masih berada dirumah untuk menunggu orang yang membeli rumah peninggalan ayah dan ibuku. Aku masih saja tak percaya dengan hidupku. Tiba-tiba kakakku muncul dari dalam rumah.


"Udah ga usah nangis, lagian bentar lagi lu juga bakalan lupa." ucap kakak dengan nada santai namun menyebalkan.


Aku hanya terdiam karena memang tak ada hal yang bisa aku jawab. Dan setelah beberapa menit orang yang kami tunggu datang. Kami menyelesaikan semua urusan disini dan kamipun berangkat.


Aku dan kakakku menaiki sebuah kereta ekonomi. Tentu saja badan terasa sangat pegal kerena harus duduk berjam-jam bahkan hampir satu hari.


"Tar makan nih, lu kan punya sakit magh, jangan sampai pingsan disini, ogah gue nolongin." kakakku membelikan sebuah nasi goreng untukku.


Pukul 02.00 am


Aku turun dari kereta dan menuju rumah kakakku. Dan akhirnya aku sudah sampai dirumahnya. Rumahnya lumayan, tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar, dan sepertinya cukup nyaman juga.


Kakakku memintaku untuk ke sebuah kamar, katanya itu sekarang kamarku. Kami membahas banyak hal termasuk masalah kuliahku.


"Kau ingin kuliah dimana?" tanya kakakku.


"Aku ingin mengambil jurusan bahasa dan sastra kak, apa disini ada jurusan seperti itu?" aku bertanya kembali padanya.


"Kebetulan ada, jaraknya juga ngga jauh dari sini. Tapi inget lu bayar sendiri,,, awas aja kalo minta ke gue. Oh ya besok lu harus mulai kerja, gue ada kenalan, pasti dia mau nerima lu disana." jelasnya padaku.


"Emang kerja apaan?, gue kan ngga bisa apa apa, cuma bisa makan duduk, ngobrol." jawabku.

__ADS_1


"Lohhh,,, justru bagus, kerjaan ini cocok banget sama lu, lu cuma perlu duduk, makan, senyum-senyum, gampang kan, santai aja gue juga bakal sering kesitu juga."


"Ohh... Maksudnya aku bakal jadi penerima tamu?" aku terus bertanya karena jujur aku masih bingung.


"Kurang lebih gitu lah" jawab kakakku singkat


"Dan sekarang kau tidak memerlukan benda dikepalamu itu." Dia berbicara sambil memiringkan bibirnya.


"Apa maksudmu, hijab ini?" Aku memegang hijab di kepala ku.


"Heh" dia hanya memiringkan salah satu sudut bibirnya. Namun setelah beberapa detik dia menarik hijab di kepala ku, aku sangat terkejut dan meminta untuk mengembalikan hijab itu.


"Heiii... Apa apaan kau kak, kembalikan!!!" Aku terus memintanya. Namun entah apa yang ada di fikiran kakakku, ia tak mengembalikan hijab ku.


"Aku tak tau sejak kapan kau memakai benda ini, namun sejak awal melihatnya, aku sungguh tak menyukainya." Tegas kakakku.


Lantas ia menjatuhkan hijab itu ditempat sampah, Lalu ia pergi. Aku berlari ketempat sampah itu dan mengambilnya. "Tega-teganya dia melakukan ini." Aku duduk termenung selama beberapa menit.


Tiba-tiba saja kakakku membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya dulu. Aku sedikit terkejut. Aku terus menatapnya, namun dia malah melemparkan sebuah baju.


"Apa ini?" Tanyaku.


"Nggak punya mata haaa?, jelas-jelas baju." jawabnya dengan sungguh menyebalkan.


"Lu pengen gue pakai ini?" Jawabku yang biasanya agak halus tiba-tiba berubah menjadi sedikit kasar.


"Ya kali lu besok gue bawa ketempat kerja pakai baju lu yang sekarang." Ucapnya lagi


"Emang aku bakal kerja dimana sih kak?" Aku masih terheran-heran dengan kakakku.


"Udah besok lu juga tau." Jawabnya lalu pergi meninggalkan kamarku.

__ADS_1


Disisi lain aku melihat-lihat baju yang ia berikan. Aku sungguh tak tau harus berekspresi seperti apa. Dia memberikan sebuah kaos ketat berlengan pendek dan sebuah rok mini.


__ADS_2