Selembar Hijab Untukku

Selembar Hijab Untukku
Eps.20 Pulang


__ADS_3

Pagi ini akan menjadi pagi yang sangat melelahkan. Aku menuju aula latihan sebelum kakak datang.


Aku berusaha untuk berlatih sendirian. Aku mengulangi semua yang kakak ajarkan kemarin.


Pertama-tama aku melatih gerakan splitku karena sepertinya sangat sulit. Aku meregangkan kakiku dan memulai untuk berlatih.


"Oke... Jangan takut." Aku menyemangati diriku sendiri.


Aku menonton tutorial video bagaimana cara melakukan split. Aku berusaha menirukan video itu. Tentu saja di video terlihat sangat mudah, tapi saat aku mencobanya... Nihil.


Aku tidak hilang semangat. Aku terus mencobanya walau selalu gagal. Tiba-tiba ada yang datang.


"Pffft... Hei kau lagi ngapain mbak?." Aku kemudian melihat orang itu dan yaa..., dia Aldo.


"Kenapa sih pas kau datang selalu bilang lagi ngapain?." Jawabku jutek.


"Habisnya kegiatan lu selalu ambigu gitu pas gue datang. Kemarin katanya masak tapi malah hancurin dapur, dan sekarang lagi ngapain?" Tanya Aldo lagi.


"Gue lagi latian. jangan ganggu!" Perintahku.


"Ehh... Mulai berani ya kau...!" Jawab Aldo.


Aku hanya cuek saja, dan Aldo melihat video yang aku tonton. Tiba-tiba dia menunjukan sesuatu.


"Ini, pakai ini!" Dia menunjuk sebuah tiang panjang lurus ke samping di ruangan itu." Ucap Aldo sambil memanggilku.


"Apa ini...?" Tanyakku.


Aldo menunjukan cara latihan split dengan bantuan tongkat itu. Kedua tangannya memegang tongkat itu dan badannya perlahan ia turunkan kebawah dengan posisi kaki yang terbuka sempurna.


"Ayo cobalah..." Ucap Aldo.


Aku mengikuti apa yang dia tunjukan. Dan aku mulai membuka kakiku. Baru sebentar aku membuka kakiku membentuk sudut 35 derajat dan aku terdiam.


"Heii... Cepat lakukan." Perintah Aldo.


"Hehe... Sakit, udah ngga bisa." Jawabku sedikit malu.


"Apa...? Segitu doang, parah emang. Sini gue bantu. Ini lah gunanya teman saat latihan split." Ucap Aldo.


"Apa... Teman?, Tapi Aldo pasti tidak sadar saat mengatakan itu." Tanya dalam hatiku sedikit kecewa.


"Hey... Jangan bengong, cepet lakukan kaya tadi." Lagi-lagi Aldo memerintahku.


Tiba-tiba Aldo memegang kedua pundakku dan menekan badanku kebawah agar kakiku terbuka.


"Eehhh... A...aw, jangan dipaksa woy, sakit tau." Ucapku agak membentak.


"Kalo ngga dipaksa gini, kakimu ngga bakal mau terbuka sampe muka lu tumbuh jenggot." Jawab Aldo.


"Tapi ya ati-ati lah, nanti kalo otot gue putus gimana?" Jawabku.


"Ya ini udah ati-ati mbak..., nglatih gini tu juga ada ilmunya asal lu tau, ngga boleh sembarangan juga, harus mengerti sampai mana batas maksimal dari orang yang mau belajar itu, kalo belum bisa ya ngga boleh dipaksa. Tapi kalo lu kayaknya masih bisa deh, cuma elu nya aja yang rewel." Jawab Aldo jadi panjang lebar.

__ADS_1


"Iya-iya pak guru, maap..." Jawabku.


Kami berlatih hampir selama satu jam. Aldo banyak mengajarkan tekhnik dan trik. Dan benar saja, aku merasa benar-benar ada hasil yang lumayan mencengangkan, walau belum sempurna.


"Udah, pasti kakimu sakit tuh, jangan dipaksa lagi. Lanjutin besok, kita ganti latihan yang lain." Perintah Aldo.


Akhirnya kita berlatih beberapa gerakan bela diri waktu itu. Walaupun masih sangat dasar sih.


Setelah itu kami akhirnya istirahat.


"Huhhh... Capeknya..." Rintihku.


"Eh btw bentar lagi Idul fitri ya?" Tanya Aldo padaku.


"Kenapa emang?, Lu kan ngga ngerayain idul fitri." Jawabku.


"Ya ngga apa-apa, walaupun kita berbeda keyakinan, emang ngga boleh nanya." Jawab Aldo.


"Ya... Boleh sih. Itu namanya toleransi, btw aku suka lu nanya gitu." Ucapku pada Aldo.


Walaupun kita tau kita berbeda keyakinan, namun kita sangat berusaha untuk tidak membahas dan menyinggung keyakinan satu sama lain, mungkin inilah yang dinamakan toleransi. Kami tetap bisa berinteraksi layaknya keluarga tanpa memandang perbedaan.


"Emang lu ngga kangen sama kampung halaman ya, kan biasanya kalo idul fitri orang-orang pada mudik?" Tanya Aldo.


Akupun seketika meneteskan air mata.


"Eh..ehhh..eh... Kok nangis sih, maafin gue, gue ngga sengaja nanya." Ucap Aldo bingung.


"Ehhh... Sori.. Gue ngga sengaja..." Jawab Aldo pada kakakku.


"Kak... Bisakah kakak mengabulkan permintaanku kali ini?" Tanyaku pada kakak.


"Katakanlah." Jawab Kakakku.


"Aku rindu sekali dengan bapak dan ibuk." Kita datang ke rumah baru mereka yuk.


"Ehh... Apa maksudmu, kita tidak boleh saat ini." Jawab kakakku.


Aku bersedih.


"Hey... Ngga usah sedih, boleh kok, kalian boleh mengunjungi orang tua kalian." Ucap Aldo.


"Tapi Do, kita masih dalam pengawasan orang itu." Jawab Farhan kakakku.


"Heh... Sepertinya mereka tak akan menyerang setelah tau kau bergabung denganku. Yah... Bisa di bilang kita bebas. Walau cuma sementara." Jawab Aldo.


"Beneran ngga apa-apa nih?" Tanya kakakku masih ragu.


"Yah kayaknya sih gitu, lagi pula kan kau bisa bertarung, kenapa bingung banget sih, palingan mereka hanya berani mengirimkan mata-mata saja untuk strategi." Jawab Aldo dengan santainya.


"Makasih ya... Ternyata lu orang yang baik


banget ya." Ucapku pada Aldo.

__ADS_1


Kami memutuskan untuk benar-benar pulang besok. Jadi kami melanjutkan latihan hari ini dan beraktifitas seperti biasa lagi.


Keesokan harinya...


Aku dan kakakku sudah dalam perjalanan untuk pulang kampung. Dan setelah beberapa menit kami sampai.


Aku dan kakakku langsung menuju ke makam orang tua kami. Terlihat rumput hijau menyelimuti makam mereka. Dan terlihat ada bunga-bunga yang masih segar di makam bapak dan ibuk.


"Eh... Kok makamnya ada bunga segar sih?" Aku penasaran namun kakakku tak terlalu ambil pusing hal itu. Kakakku justru terlihat memperhatikan sesuatu.


Kami berdoa untuk bapak dan ibu. Sekuat mungkin ku tahan agar tidak menangis. Aku bahkan juga bercerita tentang kehidupan baruku bersama kakak. Begitu juga dengan kakak. Kami membersihkan makam bapak dan ibu, dan tak sadar sudah hampir dua jam kami di situ. Kami akhirnya memutuskan untuk pergi.


"Kak... Habis ini kita mau ke mana?" Tanyaku.


"Emm... Kakak juga ngga tau. Bagaimana kalau kita ke tempat yang ramai." Ucap kakakku.


"Tapi... Ijinin aku buat ke pondok sebentar ya kak. Aku mau mengunjungi temanku." Ucapku.


"Tapi bentar aja ya dek." Ucap kakakku seperti gelisah.


"Iya kak." Aku menuju pondok itu bersama kakakku.


"Kak, kakak ngga ikut masuk?" Tanyaku.


"Nggak... Kakak di sini saja." Jawabnya


Aku masuk ke pondok dan menemui Mia dan juga orang-orang di situ. Sayang sekali aku tidak berjumpa dengan Ahmad. Sejujurnya aku sedikit kecewa, namun juga sedikit bersyukur.


Kakak Utari POV


"Buat apa lo ngikutin kita?" Ucap kakak Utari pada seseorang yang sebenarnya dari tadi menguntit mereka.


"Buat apa, kata lo?, ngga usah pura-pura bodoh, lo pasti udah tau tujuan gue, untung lo gabung sama Gagak Putih, kalo engak kemarin udah habis lo." Jawab orang itu.


"B**ng**k..., kalian ngapain sih masih ganggu kehidupan gue." Kakak Utari sepertinya sangat kesal.


"Santai bro... Selow..., gue kesini ngga mau ngapa-ngapain cuma ngikutin tugas dan laporan gitu aja, setidaknya gue harus punya laporan begitu balik ke markas gue. Silahkan lanjutkan aktifitas kalian." Ucap orang itu sangat santai.


Utari POV


"Kakak... Aku udah selesai di sini nih Yok balik, kita mau kemana lagi?" Aku memanggil kakakku dan langsung bertanya.


"Emm... Kita balik ke rumah Aldo aja ya?" Jawab kakakku.


"Yah... Kecewa deh.... Tapi yaudah gapapa yang penting aku udah ngga rindu lagi sama keluarga di sini." Jawabku.


Kami berdua akan kembali ke rumah Aldo lagi sekarang.


Author POV


Di satu sisi Ahmad melihat pria yang bertemu dengan kakak Utari dari kejauhan.


"Loh itu bukannya bang Ipul ya...?"

__ADS_1


__ADS_2