
Aku kebingungan, namun Ahmad terus saja berjalan ke arah yang aku tak tau,,,
Dia tarus berjalan hingga ia berhenti di sebuah kuburan yang letaknya berada di tengah makam itu, lantas ia berjongkok di sebelah makam itu, ia lalu melihatku dan menyuruhku mendekat,,,
Aku terus saja kebingungan sambil melihat Ahmad yang memandangi batu nisan itu. Aku yang hendak bertanya siapakah dia, namun dia justru memberitahuku sebelum aku bertanya
"Apakah kau ingat laki laki yang ada di foto yang kau temukan, aku dan dia adalah sahabat. Aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun termasuk teman temanku yang sekarang.Tapi,,, karena kau sudah berterus terang padaku, aku juga akan berterus terang padamu,,,"Ahmad mengatakan seperti itu dengan raut wajah yang nampak sedih dan bertanya padaku.
"Hei nona, Apa kau menganggapku orang baik?"
Dan aku menjawabnya "Tentu saja, jika tidak aku tak akan percaya padamu" aku menjawabnya dengan yakin,,,
namun aku mendapatkan balasan yang aneh dari Ahmad, dia tiba tiba tersenyum sambil terus memandangi batu nisan itu seakan ada yang lucu.
Ahmad POV
"Kau salah nona, aku tak sepenuhnya seperti yang kau bicarakan, dulu aku hidup sebagai orang yang tidak mampu. Aku harus bekerja di pasar sebagai kuli pengangkat barang.
Namun,,, karena ibu sakit dan bapakku sudah tidak ada,,, penghasilanku tidak cukup untuk biaya berobat ibukku dan biaya hidup kami. Akhirnya aku mengambil jalan pintas.
Aku menjadi seorang pencuri. Bahkan dulu aku tak segan segan menyakiti korban jika aku hampir ketahuan.
banyak sekali yang telah menjadi korbanku. Hingga pada hari itu, aku mencuri di pasar dan aku ketahuan. Warga mengeroyoku ,memukuliku dan aku di seret ke kantor polisi.
Aku selalu berteriak didalam sel tahanan. sudah beberapa hari aku didalam sel tahanan hingga aku mendapat kabar bahwa ibukku meninggal.
Mendengar kabar itu aku teriak dan menangis didalam sel itu sambil meminta polisi untuk melepaskanku.
Hingga,,, seseorang yang berada satu sel denganku itu menghampiriku dan berkata padaku,,,
"Heii tenanglah, aku juga butuh ketenangan disini"
Setelah ia berkata begitu, aku lantas terdiam dan melihatnya. dia yang menyadari akan hal itu lantas bertanya padaku
"Apa yang kau lakukan hingga berakhir disini?"
Lalu aku bercerita tentang kejadian kejadian yang aku alami, dan saat aku menceritakan ibuku, aku menangis lagi. Karena merasa ibu akan sangat kecewa padaku jika ibu tau apa yang telah aku lakukan selama ini. dan gara gara aku di penjara ibukku sudah meninggal sekarang, bagaimana ini apakah aku menjadi orang yang hina sekarang.
__ADS_1
Aku terus saja menangis hingga aku sadar
"Heii apa kau tadi berdzikir?" itu yang aku tanyakan pada laki laki tadi
"Iya, aku selalu berdzikir dan memohon ampunan kepada tuhanku,,, dulu aku juga orang sepertimu. Aku tersadar ketika aku berada di dalam sel tahanan ini.
Masalah diampuni atau tidaknya itu ditangan tuhan. kita hanya harus terus berusaha untuk merubah diri kita menjadi lebih baik.dan satu yang membuatku terus bersemangat
Tuhan itu MAHA PENGAMPUN dan juga MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG, tak ada satupun manusia yang tidak pernah berbuat dosa semasa hidupnya.
Aku terus merenung dan berfikir mungkin tuhan sedang menunjukan jalan untukku, mungkin ini adalah cara agar aku kembali padanya"
Mendengar perkataan pria itu aku meneteskan air mata lagi.
Semenjak hari itu, kita selalu bersama sama, saat makan, saat melakukan tugas di dalam penjara, kita juga saling bercerita masa lalu kita, dia juga selalu membangunkanku untuk sholat tahajud.
Oh iya dia namanya adalah Farhan, dia dua tahun lebih tua dariku.
Dan pada akhirnya dia terbebas dari penjara lebih dulu, dan aku jadi merasa sendirian didalam sel itu walaupun sebenarnya masih ada beberapa orang juga.
Akhirnya setelah 6 bulan dipenjara, aku di bebaskan, dan ketika aku keluar dari pintu penjara, aku sangat terkejut karena Farhan yang menjemputku.
"Yooo brother akhirnyaaa..." kami tertawa bahagia dan dia mengajakku berfoto.
Pertemuan kami terasa sangat singkat. beberapa bulan setelah itu dia bercerita padaku dia mendapat diagnosis dokter bahwa dia mengidap tumor otak.
Katanya penyakitnya sudah ada bahkan sebelum dipenjara dan kini menjadi semakin parah dan mungkin usianya sudah tidak lama. aku yang mendengar itu terkejut, dan bersedih.
"Aku hanya punya kau. kau sudah kuanggap sebagai kakakku, bagaimana nanti ketika kau sudah..." aku tak bisa melanjutkan perkataanku.
Dia berpesan padaku,,,
" Bro,,, jangan menyerah jalani hidup, kau tak perlu berusaha keras untuk jadi yang paling baik diantara orang lain, kebaikan dalam dirimu,,, keikhlasan dan ketulusan hati, itu akan terasa sangat berharga bagi orang lain.
Dan itu akan membuat dirimu menjadi besar dengan sendirinya"
Dia tersenyum dan memberikan amplop padaku, lalu dia pergi. Aku membuka amplop itu isinya adalah uang, dan disitu ada selembar kertas,,, katanya ini untukku. Setidaknya untuk berjaga jaga jika aku belum mendapatkan pekerjaan dalam waktu dekat.
__ADS_1
Setelah aku lihat lagi didalam amplop itu, ternyata masih ada selembar foto, yang bertuliskan sahabat selamanya.
Setelah mendengar cerita Ahmad, tiba tiba aku juga meneteskan air mata, lalu ahmad berbicara padaku
"kau pasti sudah tau sekarang, foto yang kau temukan itu adalah fotoku dengan Farhan ketika aku terbebas dari penjara, dan kau pasti sudah tau kuburan siapa ini?
Yaa ini adalah farhan, tak lama setelah kami bertemu saat itu, aku mencarinya namun aku malah mendengar dari seseorang bahwa farhan telah meninggal. Aku cepat cepat pergi ke tempat dia dikubur. Hanya itu kenang kenangan yang ia berikan padaku,
Setelah mendengar ceritaku, kau pasti sudah tau, dialah yang membantu aku untuk menemukan jalanku kembali dan aku membawamu kemari untuk kuperkenalkan padanya.
Aku merasa jika dia masih ada, mungkin kau juga akan mendapat ceramahannya yang terdengar sedikit sok dan menyebalkan itu".
Ahmad terus saja bercerita sambil menangis dan sepertinya dia tidak sadar ingusnya sudah sampai kepipinya.
Melihat hal itu aku yang sebenarnya juga menangis justru terkekek pelan karena dia yang seperti itu,,,
Ahmad melihat kearahku sambil menanyakan apakah ceritanya ada yang lucu seharusnya kan ini cerita sedih. Dia berbicara dengan nada yang sedikit kesal.
"Pffttt....bwahahahha ingusmu kemana mana tuh" aku yang melihat mukanya tak bisa lagi menahan tawa.
Ahmad yang menyadari hal itu mukanya langsung merah dan mengelap ingusnya. Dia sepertinya masih malu namun dia menutupi rasa malunya dengan mengajaku mendoakan Farhan.
Kami berdoa dengan hikmat saat itu, dan setelah hampir 15 menit dia mengajaku pulang.
Dia sepertinya tak sadar, dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku tau dia menjaga agar tak bersentuhan antara laki laki dan perempuan jadi aku,,,
" Ihhh ga mau,,, tanganmu kan tadi habis pegang ingus"
Aku mengejek sambil berjalan mendahuluinya, namun setelah beberapa detik ternyata Ahmad masih malu dan berdiri di tempat. Aku berbalik memegang ujung bajunya, aku menariknya agar dia cepat berjalan.
Saat perjalanan Ahmad juga masih banyak sekali bicara, katanya sebenarnya dia nggak enak keluar cuma berduaan gini bla bla bla, dan ternyata ada yang bikin aku syok.
Dia nggak tau namaku. Entah karena lupa atau karena aku ga pernah kasih tau namaku, haaah... Entahlah...
Dan tiba tiba saja,, Aaaaaaaaaaa.....
Baca kelanjutannya juga ya...
__ADS_1
Dan mohon maaf apabila ada salah kata atau pengetikan :)
Happy reading...