Selembar Hijab Untukku

Selembar Hijab Untukku
Eps.22 Hari Sial


__ADS_3

Pagi ini adalah hari keduaku menjalankan orientasi siswa. Aku harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat. Aku menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk sarapan, tentu di bantu oleh bibi.


Kami semua menuju ke meja makan sekarang.


"Loh bi, Aldo nggak ikut sarapan?" Tanyaku pada bibi.


"Ohh... Tadi dia bilang katanya ngga enak badan dan ngga mau makan juga, katanya kita disuruh makan duluan aja." Jawab bibi.


Kita semua pun sarapan tanpa Aldo pagi itu.


"Cklek..." Aku membuka pintu kamar Aldo. Dia masih tertidur pulas.


"Heii... Apa paan kau ini, ternyata bisa sakit juga ya." Aku berbicara kepada Aldo yang masih tertidur.


"Kalau dilihat-lihat, kau terlihat seperti manusia normal pada umumnya saat keadaan begini. Tapi siapa sangka laki-laki yang sedang sakit dan terlihat sangat lemah tak berdaya di hadapanku ini adalah pemimpin dari kelompok Gagak Putih." Aku masih berbicara dengannya yang sedang tidur.


"Apa kau tau, aku sangat ketakutan saat pertama kali di sini. Kau benar-benar terlihat seperti laki-laki br***s*k saat itu. Aku menangis sepanjang malam dan berharap bisa terbebas dari situasi menyeramkan saat itu." Aku terus berbicara.


"Tapi siapa sangka, kau ternyata adalah orang yang baik. Emm... Tepatnya sangaaat baik. Aku sangat berterimakasih kepadamu telah menjaga aku dan kakakku, dan maaf karena waktu itu telah menuduhmu yang tidak-tidak." Aku selesai berbicara dan menghela nafasku sebentar kemudian berdiri meninggalkan kamar Aldo.


Author POV


Aldo yang dari tadi terlihat tertidur membuka matanya.


"Maafkan aku Tari, aku telah membuatmu takut saat itu." Ucap Aldo.


Utari POV


Akupun berangkat ke kampus seperti kemarin.


Aku sudah berada di kampus sekarang. Aku mengobrol dengan temanku Dasha.


"Jela..." Dasha memanggil nama itu.


"Kau memanggil siapa Sha?" Aku bertanya.


"Pliss... Kamu garing banget deh La, pake acara ngga inget nama sendiri." Jawab Dasha.


"Oh... Iya tentu, ada apa?, maap aku cuma bercanda." Jawabku sedikit kikuk karena sempat lupa kalau namaku sekarang adalah Jela.


"Ehh... La tau ngga, kemarin aku ketemu sama cowo yang ganzzz binggo." Ucap Dasha.


"Ngomong yang bener dong, ngga paham nih." Jawabku.


"Ihhh... Maksudku ganteng banget, kan waktu itu aku mampir ke perpus. Nah aku bawa buku banyak. Tiba-tiba aja dia datang nawarin mau dibantuin ngga. Uwwww..." Dasha bercerita padaku.

__ADS_1


"Terus kelanjutannya gimana?" Tanyaku.


"Ya tentu mau lah, tapi sayang banget aku lupa ngga nanya nama dia, syedih aku tuh." Ucap Dasha.


"Emang seganteng apa sih dia, sampe bisa bikin kamu kaya gitu." Tanyaku pada Dasha.


Tiba-tiba saja Dasha heboh.


"Ehh... La liat tuh La, itu cowonya, keliatan ganteng imut pendiem gimana gitu ngga sih." Ucap Dasha dengan heboh.


Aku melihat ke arah laki-laki itu dan aku langsung membalikkan wajahku lagi. Dia adalah Ahmad. Aku benar-benar tidak menyangka kalau itu Ahmad sungguhan.


"Eh... Dasha kita pergi yuk ke kelas." Ucapku tiba-tiba.


"Kenapa La, padahal di sini lagi ada pemandangan bagus." Ucap Dasha.


"Emm... Yaudah kamu di sini saja, aku ke kelas dulu ya..." Ucapku sambil pergi meninggalkan Dasha.


Nyebelin deh... Bisa-bisanya ninggalin aku sendirian. Tapi gapapa deh, yang penting ada penyejuk mata." Ucap Dasha sambil tersenyum.


Aku yang di kelas terus saja berfikir sepanjang hari dan tidak konsentrasi pada materi yang diberikan.


Akhirnya saatnya pulang. Aku tidak berlari saat itu karena terus saja berfikir. Aku selalu melewati perumahan ini saat pulang. Namun tak kusangka.


Klontang... Aku tidak sengaja menendang sebuah mangkuk makan besi.


Aku mengambil mangkuk itu dan berusaha menaruh mangkuk itu di pinggir jalan.


"Eh... Tunggu ini bentuknya kok mirip mangkuk???" Batinku.


"Guk...guk...grrrrr." Tiba-tiba suara itu di belakangku.


Aku yang mulai curiga menengok ke belakang dan benar saja itu adalah seekor anjing. Aku berlari sekuat tenagaku agar tak terkejar olehnya.


"Hah... hah...hah...." Nafasku terengah-engah.


Anjing itu sudah tidak mengejarku.


"Siapa sih yang pelihara anjing kaya gitu, mana gede banget lagi." Gumamku.


Aku akhirnya sampai di rumah. Dan setelah itu aku membantu bibi untuk membuat sarapan karena sebentar lagi hampir waktu makan malam.


Aku menghidangkan makanan di meja makan dan Aldo dan Kakakku juga paman turun ke bawah untuk makan.


Ketika orang-orang hendak menyantap makanan tiba-tiba saja.

__ADS_1


"Halooo... semua aku datang..." Wanita yang tak ku kenal masuk kerumah dengan santainya seolah-olah ini adalah rumahnya.


"Halo kak Aldo, dan ini pasti kak Farhan ya..., Halo... semuanya." Tingkah wanita itu benar-benar terlihat menyebalkan.


"Kenalin semua ini Grace." Aldo memperkenalkan wanita itu.


"Iya semua, Aldo ini adalah calon suamiku." Ucap wanita itu dengan sangat pede.


"Apaan sih Grace, sudah ku bilang aku hanya menganggapmu sebatas adik. Tegas Aldo.


"Pfttt..." Tawa dalam hatiku.


"Ehh... Kalian mau makan malam ya, pas banget lagi lapar." Lagi-lagi ucap wanita itu.


Bibi dan aku masih sibuk menyiapkan minuman, namun lagi-lagi dia bersikap menyebalkan.


"Eh... bibi aku ngga suka minum teh jenis ini, bisa buatin yang lain ngga...!" Ucapnya.


"Oh... Emang sukanya minum teh apa neng?" Tanya bibi dengan lembut.


"Aku jelasin pun bibi ngga bakal faham soalnya teh ini cuma ada di Prancis." Ucapnya lagi dengan nada yang menyebalkan.


Mendengar hal itu Aldo terlihat menahan emosinya. Dan bibi segera menyingkirkan teh di hadapan wanita itu.


"Nak Tari, nanti tolong ambilkan minuman yang baru untuk neng Grace ya." Bibi meminta bantuanku.


Sekarang ganti aku meletakan lauk yang baru saja matang di meja makan.


"Ehh... Ini dagingnya terlalu matang ngga sih, teksturnya tuh bakalan beda banget dan rasanya juga ngga bakalan bisa juicy gitu." Dia sangat menyebalkan.


"Heh... Nona, sudah hentikan, kalau kau ingin meminta teh yang kami tidak faham, seharusnya kau tidak perlu mengatakannya pada kami, dan juga kalau kau ingin daging ini dimasak sempurna seperti keinginanmu pergi saja ke restoran bintang lima, jangan makan di sini." Ucapku sangat emosi.


"Ohh dan iya satu lagi, kami memanggil wanita itu bibi bukan karena dia pembantu di sini, dia juga sama seperti yang lainnya, kami semua adalah keluarga. Jadi jangan sekali-kali merendahkannya. Ucapku semakin emosi.


"Kami...? Ngga salah tuh. Tentu saja level gue beda jauh sama elo. Lu siapa sih pernah denger juga enggak, tapi sok-sok an banget." Ucap wanita itu.


"Heee emangnya lu juga siapa, lu juga asing bagi gue, malu-maluin banget pede nya ngga ketulungan, tapi sayang ngga ngaca." Ucapku


"Heyyy.... Beraniii lo yaaa..." Ucap wanita itu.


"Brak... Sudah cukup." Aldo menggebrak meja karena suara pertengkaran kami semakin keras.


"Dasar betina, kalo udah adu mulut ngga ada habisnya." Ucap Aldo pelan sambil menatap kami sinis.


Aku dan wanita itu akhirnya duduk diam dan memakan makanan yang ada.

__ADS_1


Dan aku melihat kakakku. Dia terlihat mengelus dadanya dengan ekspresi malu. Dan aku hanya bisa berdoa, semoga kakak masih mau menganggapku sebagai adiknya.


__ADS_2