Selembar Hijab Untukku

Selembar Hijab Untukku
eps.18 Berbahagia Sejenak


__ADS_3

"Apa... Kakak mau melatihku?, Nggak kak, aku ngga mau. Aku sekarang bukan Utari yang dulu, nakal, petakilan dan seenaknya sendiri." Ucapku pada kakak.


"Dek, kamu masih belum sadar juga keadaan kita?. Sekarang bukan waktunya memikirkan itu. Kakak cuma pengen kita selamat, kamu juga ngga bisa selamanya duduk santai di rumah ini terus. Kakak janji, setelah ini selesai kita bisa hidup bahagia lagi. Seperti dulu, dan seperti yang kamu impikan. Jelas kakakku padaku.


Aku menunduk dan terdiam sejenak.


"Tapi janji ya kak, kita akan bahagia bersama setelah ini." Ucapku sambil mengangkat kelingkingku.


"Janji." Jawab kakakku sambil melingkarkan kelingkingnya di kelingkingku.


Tak terasa maghrib sudah tiba.


"Oh ya, kakak puasa tidak?" Tanyaku pada kakak.


"Apa kau mengejekku haa..., tentu saja kakak puasa, walau dalam keadaan begini kakak selalu ingat ucapan ibuk, kalau jangan pernah lupa sama kewajiban. Emangnya kamu dek? Hahaha..." Ejek kakakku.


"Hehh... Apaan sih kak, yang penting kan sekarang udah ngga kaya gitu." Jawabku malu.


"Yaudah, yuk buka bareng sekalian."


Aku membawa banyak makanan ke kamar untuk berbuka bersama kakak, karena di luar banyak orang. Kami tidak ingin suasana yang jarang terjadi ini sia-sia.


Kami melaksanakan sholat maghrib yang di imami oleh kakakku sendiri. Dan kemudian kami lanjutkan untuk makan.


Harus kuakui, aku bahagia saat itu dan melupakan semua masalah yang ada. Walau aku tau, itu hanya sejenak.


Author POV


Di satu sisi Aldo sedang mencari mereka berdua karena ingin mengajak mereka makan bersama. Aldo menuju kamar Utari dan hendak membuka pintu.


Tiba-tiba Aldo mengurungkan niatnya karena mendengar tawa dari kakak beradik itu.


Wajah Aldo yang awalnya bersemangat berubah menjadi sedikit bersedih, dan ia membalikkan badannya lalu pergi.


Satu hari kemudian...


Utari POV


Aku sedang menonton TV pagi itu, dan aku melihat Bibi sedang membawa tas belanja.


"Eh... Bi tunggu..." Aku memanggil Bibi.


"Ada apa neng?" Tanya Bibi.


"Bibi mau ke pasar ya, aku ikut ya Bi?." Ucapkku pada Bibi.


"Tidak boleh..." Tiba-tiba seseorang berteriak dari arah pintu.


Tentu saja, siapa lagi kalau bukan bos kita.


Aku menatapnya sinis.


"Kau tidak boleh pergi sama Bibi, tapi kalau kau memaksa kau harus pergi denganku." Ucap Aldo mempermainkanku.


Namun aku tidak sebodoh itu.


"Owww... Benarkah?, kalau begitu ayo kita pergi." Jawabku pada Aldo.

__ADS_1


"Ehh... Apa... Aku tidak benar-benar..." Ucapnya belum sempat terselesaikan namun aku menarik kaosnya.


Bibi yang ada di situ berusaha mencegah, namun sepertinya Aldo memberi kode ke Bibi untuk diam saja.


Aku naik angkot lagi kali ini. Namun tentu saja sekarang aku tidak sendiri. Aku melihat wajah Aldo yang nampak kikuk.


Aku tertawa dalam hatiku. Sepertinya ini memang pertama kali baginya.


Kita sampai di pasar. Dan aku asik dengan duniaku sendiri. Dan terlihat pria di belakangku sangat tidak bisa menikmatinya.


Aku melihat kearahnya. Kemudian aku mengajaknya ke suatu tempat.


"Hei... Kau mau ubi bakar nggak?" Tanyaku pada Aldo.


"Seumur hidupku gue belum pernah ya makan makanan kek gitu, pasti ngga steril juga." Jawabnya sok paling bersih.


"Udahhhh... Ikut aku." Pintaku.


"Bu... pesen ubi bakar nya dua ya." Aku memesan ubi. Dan ibu penjual itu segera membuatkan pesanan kami.


Di satu sisi Aldo kesal padaku.


"Hey... Sudah kubilang aku tidak mau." Ucap Aldo.


"Tapi aku ingin kamu mencobanya gimana dong." Gurauku.


Kemudian pesanan kami sudah jadi. Aldo yang dari tadi jenuh menunggu akan mengambil pesanan yang ada di meja


"Ehhhh.... Dek awas pan....as." Ucap ibu penjual berusaha memperingatkan Aldo.


Aldo yang sudah terlanjur memegang ubi yang baru diangkat itu seketika meletakan kembali ubi itu.


"Sudah kubilang jangan panggil nama." Ucap Aldo.


Aku hanya diam dan mengambil pesanan kami dengan hati-hati. Namun ibu penjual itu tiba-tiba berkata.


"Wahhh... Memang dasar ya anak muda sekarang. Nona... Memang apa panggilan kesayangan untuk pacarmu, sampai-sampai dia tidak mau dipanggil dengan namanya." Kata ibu penjual itu mengagetkanku.


"Ehh... Kami tidak pacaran kok bu..." Elakku.


"Tidak perlu malu... Hari gini wajar kok anak muda pacaran. Dan lagipula kalian terlihat sangat cocok." Ucap ibu itu membuatku malu.


Aldo akhirnya menarik lengan bajuku untuk pindah dan pergi.


"Semoga hubungan kalian langgeng yaa..." Teriak ibu penjual dari kejauhan.


Setelah beberapa saat kami pindah tempat dan Aldo yang dari tadi menarik lengan bajuku melepaskan tangannya.


"Kau mau beli apa lagi setelah ini?" Ucap Aldo


"..... " Hening.


"Hei..." Aldo memanggilku yang terus menunduk.


"A.. Ada apa?" Tanyaku pada Aldo. Dan dia sejenak mengamatiku.


"Emm... Jangan bilang kau tersipu ya sama omongan ibu tadi." Dia menggodaku dengan nada yang terdengar sedikit menyebalkan.

__ADS_1


"E... ehemm... tentu saja tidak. Eh... lihat itu, kita beli es sambil duduk di situ yuk."


Kami meminum es sambil memakan ubi yang kami beli.


"Al... Ehmm... Maksudku bos, mana tangnmu yang terluka tadi, peganglah mangkuk es ini biar tanganmu dingin." Aku mengambilkan mangkuk es nya dan dia memegang mangkuknya dari bawah.


Entah kenapa aku lama sekali melepaskan mangkuk itu.


"Ehhhem..." Aldo berdehem.


Akupun tersadar dan melepaskan tanganku dari mangkuk es.


"Thanks..., dan lain kali panggil Aldo saja, entah kenapa kau sangat tidak cocok dan terdengar norak saat memanggilku bos. Ucap Aldo yang lagi-lagi menyebalkan.


"Heiii... Coba makanlah ubi ini, rasanya manis sekali." Aku menawari Aldo ubi.


"Tidak perlu, melihatnya saja aku tidak selera." Aldo menolak.


"Heii... Coba dulu baru ngomong." Aku memaksanya.


Akhirnya dia memakan ubi itu sedikit. Dia sejenak terdiam setelah menggigit ubi itu.


"Bagaimana rasanya?" Tanyaku.


"Lumayan." Jawab Aldo sambil terus memakan ubi itu hingga tersisa sedikit.


"Apa maksudnya... Dia bilang tidak selera?, lumayan?, tapi memakannya sampai habis." Batinku.


"Hei... Kau kelihatannya suka sekali dengan pasar." Tanya Aldo.


"Kenapa memangnya, pasar adalah tempat yang menyenangkan dan juga..." Aku menjawabnya dan terdiam sejenak.


"Dan juga mengingatkanku pada seseorang." Jawabku sambil tersenyum rindu.


Kami memutuskan untuk pulang setelah puas bersenang-senang. Aldo juga mulai terbiasa dan terlihat sangat menikmati keadaan di pasar itu sekarang. Dan sesampainya di rumah, kakakku sudah menunggu.


"Dari mana saja sih, kau lupa janjimu kemarin." Ucap kakak padaku.


"Iya... Iya maaf." Aku langsung duduk di samping kakak.


"Gantilah bajumu dengan yang lebih simpel!" Perintah kakakku.


"Apa... Baju apa maksud kakak?, kakak tidak memintaku melepas hijabku lagi kan?" Tanyaku syok.


"Hahaha... Kau masih ingat saja dengan waktu itu. Kau tau hari itu aku hanya bersandiwara saja agar kau benar-benar yakin kalau kau ku jual. Kalau aku sih yakin kau ngga bakal mau melepas hijabmu itu. Makannya aku berani melakukannya waktu itu. " Ucap kakakku dengan santainya.


"Ih... Jahat banget deh, aku sampe nangis tau waktu itu." Jawabku sedikit manja pada kakakku.


" Udah udah, nih pakai kaos panjang sama celana ini. Tenang... Celananya longgar kok, ngga ketat." Ucap kakakku.


"Ihh.. Aku baru tau kalo kakak seperhatian ini sama adiknya."


Aku mengganti pakaianku dan pergi ke aula berlatih. Aku sangat terkagum melihat rumah ini ada tempat latihan seperti ini.


"Kau latihan bela diri saja, aku tidak mengizinkanmu berlatih senjata api. Lagi pula ini hanya untuk berjaga-jaga dan perlindungan dirimu kalau sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Ucap kakakku.


"Siap bos." Jawabku.

__ADS_1


"Oke... Pertama-tama lakukan ini..." Ucap kakakku.


__ADS_2