Selembar Hijab Untukku

Selembar Hijab Untukku
eps.13 bertemu bos


__ADS_3

Melihat baju yang diberikan kakakku, aku sama sekali tidak menyukainya. Aku hanya terus menatap baju itu. Karena aku mengantuk, aku memutuskan untuk tidur saat itu. Dan pagi telah tiba.


Tidurku sama sekali tidak nyenyak, aku bangun agak kasiangan, jadi aku langsung mandi dan menemui kakakku yang sembari tadi sudah menungguku. Namun ia terkejut melihatku.


"Loh kok lu ngga pake baju yang gue kasih kemarin?" Tanya kakakku.


"Gue ngga bisa pake baju itu kak, toh ngga ada masalah kan?" Jawabku.


"Aaaah... Udahlah brisik, mana jam udah mepet lagi, yaudah lah cepet berangakat." Ucap kakakku kesal.


Kami berangat menuju ke tujuan kami, namun sampai sekarang kakakku tidak memberi tau kamana kami akan pergi. Setelah hampir setengah jam kami masuk ke sebuah jalan yang agak sempit, jalan itu nampak mirip sebuah gang kecil yang sepi. Namun selang keberapa menit motor kakakku masuk ke sebuah rumah yang bisa dibilang besar.


Kami memasuki rumah itu, dan terlihat banyak sekali orang-orang disana, mereka terlihat seperti preman, atau mungkin gangster. Aku tidak tau siapa mereka, pokoknya terlihat seperti sebuah perkumpulan. Dan disamping mereka ditemani masing-masing satu wanita, bahkan ada yang lebih.


Aku mulai merasa curiga dan takut. Semua orang memandangiku dengan tetapan aneh. Mereka menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku tak tau mereka kenapa, mungkin karena pakaianku.


Selang tak begitu lama, seorang pria yang tampan berbadan tinggi, berkulit bersih, menggunakan model potongan rambut Slicked back turun dari tangga. Ia menunjuk kakakku dan aku, ia memberi kode agar kita mengikutinya.


Aku dan kakakku berada dilantai atas sekarang, namun tetap saja ada banyak orang mirip pengawal disana. Kemudian orang yang memanggil kami tadi mendekat pada kakakku dan bertanya.


"Ini anak yang kau maksud?" Tanya orang itu pada kakakku.


"Iya bos ini adik saya." Jawab kakakku.


"Tapi kenapa dengan pakaiannya, apa kau yakin, ini sama sekali bukan style ku." Ucap pria itu.


Disamping mereka terus berbicara, lama kelamaan aku semakin merasa tidak tenang, maka akupun bertanya pada mereka.


"Sebenarnya ada apa ini?" Tanyaku seperti orang bodoh.


Lalu pria tadi tiba-tiba menatapku heran dan bertanya lagi pada kakakku. "Lu belum kasih tau ke anak ini apa tugasnya sekarang, tapi tak apa biar gue sendiri yang kasih tau."

__ADS_1


Dia mendekatiku dengan perlahan dan mendongakkan wajahku dengan sangat kasar.


"Lumayan juga adik lu." Ucap pria itu sambil memiringkan salah satu sudut bibirnya.


Melihat hal itu aku menangkis tangannya dari wajahku sambil menunjukan ekspresi tak suka.


"Berani sekali kau, sekarang akulah tuanmu paham lu sekarang. Owwww atau kakakmu juga belum memberitahu mu tentang hal ini. Kakakmu itu menjualmu, dia berhutang sangat banyak padaku. Walaupun dia anak buahku tapi hutang tetep lah hutang." Ucap pria itu sambil memasukan tangannya kedalam saku celananya dan tersenyum kecut.


Mendengar hal itu aku menatap kakakku tak percaya. Aku memegang tangan kakakku dan memintanya untuk berkata ini hanya lelucon.


Kakakku hanya bisa menundukkan wajahnya lalu pergi dari tempat itu. Aku berteriak memanggilnya, aku berusaha mengejarnya, namun pria tadi memegang lenganku dengan erat.


Aku hanya bisa berteriak, namun kakakku terus saja berjalan dan keluar dari tempat itu. Seketika aku sadar pria itu masih mencengkram tanganku. Rasanya sangat sakit jadi aku memintanya untuk melepaskan tangannya.


Pria itu akhirnya melepaskan tanganku, kemudian dia berbicara padaku.


"Jangan sekali-kali kau berusaha kabur dari sini, orang-orangku akan segera tau jika kau berbuat macam-macam, kau mengerti?" Ucap pria itu layaknya seorang bos dan pembantu.


Aku hanya terdiam karena tak sanggup lagi berucap. Dan pria itupun pergi dari tempatnya sekarang. Selang tak beberapa lama satu pria lagi muncul. Sepertinya ia adalah seorang pengawal. Ia memintaku untuk mengikutinya.


"Bos kami sudah mengurus ini semua sebelum kau datang, besok kau akan mulai masuk kuliah di Universitas yang kau inginkan, jurusan sastra bahasa." Ucap pengawal itu.


"Bagaimana kalian tau hal ini?" Tanyaku.


"Waktu itu kakakmu menanyakan hal ini padamu kan, kakakmu diperintah untuk melapor agar berkasnya segera dipercepat." jawab pengawal itu.


"Terimakasih." Ucapku.


"Oh iya, jangan sampai kau menunjukan identitasmu yang Sebenarnya didunia luar, ini akan sangat berbahaya bagi kau dan kelompok kami, apa kau faham." Ucap pria itu tegas namun tetap sopan.


"Baiklah." Jawabku.

__ADS_1


Malam pun tiba


Aku sama sekali tak bisa tidur dengan nyenyak, aku menangis dan terus menangis. Namun tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk.


Tok tok tok, aku tak membuka pintunya.


Tok tok tok tok, aku hanya terus memandangi pintu itu sambil menahan isak tangis ku.


Dan tanpa kusangka...


Brakkkk... Pintu itu berhasil didobrak, ternyata pria yang tadi siang itu yang mendobraknya. Dia terlihat sempoyongan seperti sedang mabuk.


Aku hanya beranjak dari ranjang dan berdiri dengan diam. Aku semakin tidak paham kehidupan apakah ini...


Pria itu mendekatiku dan bergumam


"Heiii cewek ja***g, beraninya kau menghianatiku, aku sudah berusaha setia dan mengorbankan segalanya untukmu." Ucapnya sambil mendesakku ke arah dinding.


Aku benar-benar tak tau harus berbuat apa. Aku hanya bisa menciutkan tubuhku di dinding itu. Namun kedua tangan pria itu berada kedua sisi pundakku. Aku terus saja menunduk.


Aku terkejut pria itu menarik hijabku kearah belakang layaknya sedang menjambak rambut. Kemudian ia mendekatkan wajahnya padaku, dan sepertinya ia berusaha menciumku.


Namun aku mengumpulkan semua keberanianku dan mendorongnya dengan keras. Tapi apa daya, dorongan itu hanya membuatnya diam sementara. Dia kembali mendekati ku lagi. Dan kali ini aku menamparnya.


Plakkk... Suaranya terdengar sangat keras hingga memantul di dinding ruangan itu.


"Dasar wanita ja***g." Umpat laki-laki itu sambil mendorongku ke arah samping hingga membuatku terjatuh sangat keras.


Kemudian dia berbalik badan dan justru menjatuhkan dirinya ke kasur yang harusnya itu menjadi tempat tidurku.


Dia tertidur dikasur itu dan mau tidak mau aku harus tidur di lantai ruangan ini. Rasanya begitu dingin, aku tak berani mengambil selembar selimut yang ditindih pria itu.

__ADS_1


Aku sudah sangat lalah hari ini, jadi kuputuskan untuk tidur dengan beralaskan tangan sebagai bantal dan ku gunakan gamis dan hijabku sebagai tempat berlindung dari dinginnya lantai dan udara luar.


See you next part...


__ADS_2