
Utari POV
"Hah...hah...hah..." Nafasku terengah-engah karena berlari. Namun aku penasaran, sebenarnya apa yang mereka bicarakan, dan kenapa sepertinya rahasia sekali.
Aku kembali lagi ke tempat itu, tapi bukan untuk menguping, tapi untuk bertemu kakakku. Aku sampai di tempat tadi, namun kulihat mereka berdua sudah tidak ada.
Aku terus mencarinya dan bertemu mereka di ruang tengah. Sepertinya kakakku akan pergi lagi.
"Kak Farhan tunggu...!" Teriakku pada kakakku.
Aku mendekati kakakku sambil berlari.
"Kak, kumohon bawa aku pulang kerumahmu kak, aku takut disini, aku ngga bisa tidur kalo malam, apalagi kalo ada orang itu." Sambil menunjuk Aldo yang berada disamping kakakku.
Kakakku hanya melihat ke arah Aldo kebingungan, sedangkan Aldo hanya tersenyum sombong.
"Sejak awal aku ngga punya rumah." Ucap kakakku meyakinkan.
"Terus waktu itu rumah siapa?" Tanyaku semakin kebingungan.
"I...itu rumah orang disampingku ini." Jelas kakakku.
"Apaa..., kak, kakak ga usah bercanda ya." Aku masih tidak percaya. Namun kakakku diam saja.
"Terus maksudnya aku dibawa kesini buat apa, katanya kerja, tapi di sini aku bahkan tidak diberikan tugas apapun, malah aku dilarang nyentuh itu, dilarang nyentuh ini, terus aku ngapain kak di sini?" Aku mengatakan semua unek-unek dalam hatiku.
"Owww... Maksudmu tugas?, kakakmu kan sudah bilang kau tinggal duduk, tidur, bersantai dan sekolah lagi... Karna kau bakal jadi adikku, oww atau... kalau kau mau, jadi salah satu dari sekian wanitaku juga boleh." Ejek Aldo dengan wajah yang begitu menyebalkan.
"Ngga sudi gue." Jawabku tegas.
"Kak... Sebenernya ada apa sih, aku ngga yakin kalo kakak benar-benar menjualku, aku percaya kakak bukan orang seperti itu." Aku bertanya lagi pada kakakku.
Dilihat dari raut wajahnya, sepertinya kakak sulit menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba ponsel Aldo berdering.
"Ada apa?" Aldo menjawab panggilan ponselnya.
"Apaa..." Tiba-Tiba Aldo nampak sangat terkejut, lalu ia membisikan sesuatu ke telinga kakakku.
Seketika kakakku juga ikut terkejut. Mereka terdiam dan langsung pergi meninggalkan tempat itu bersama beberapa orang.
Aku merasa terabaikan untuk yang kesekian kalinya. Aku kembali lagi ke kamarku. Aku mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Ashar.
Walaupun dalam keadaan begini, aku masih harus tetap ingat dengan tuhan dan agamaku. Aku harus tetap melaksanakan kewajibanku sebagai umatnya.
Beberapa menit sudah berlalu, aku melanjutkan untuk berdoa. Memohon ampunan atas segala dosa juga ketabahan dan keikhlasan dalam menjalani ujian ini. Aku yakin akan ada sesuatu yang indah selama kita berusaha dan mau bersabar dalam menjalani ujian hidup.
Aku melepas Mukenaku dan memakai kembali hijabku. Seketika aku baru sadar, aku meninggalkan Al-Qur'an pemberian Ustadz di pondok pesantren.
Aku sangat menyayangkan hal itu, padahal hanya itulah kenang-kenangan ketika masa-masa indah itu berlangsung.
Aku kembali ke ruang tengah untuk bersantai, dan aku melihat orang yang dulu ditugaskan mengawasiku saat aku dikurung hari itu sedang duduk di teras. Dan aku memanggilnya.
__ADS_1
"Hei tuan..." Aku menghampirinya.
"Ada apa? Ucapnya malas menanggapiku
"Kau tidak ikut yang lainnya pergi?" Tanyaku padanya. Dia menghela nafasnya dan menjawab.
"Dia mengajaku tadi tapi aku menolak. Aku takut malah merepotkan mereka, aku hanya akan menjadi beban dalam misinya itu. Aku adalah anggota paling payah di sini,,,hiks..." Dia sepertinya terbawa suasana.
"Pfttt... Aku menahan tawaku, dan menepuk punggungnya, heii tuan, kau tidak lihat Bosmu itu sangat memberikan kepercayaannya padamu, dan sepertinya kau juga sangat akrab padanya. Pasti dia merasa ada sesuatu yang spesial dari anda." Aku berusaha menenangkannya.
"Benarkah?" Tanyanya padaku.
"Tentu saja, dan kau juga tidak paling payah disini, kau tidak lihat aku, akulah yang paling payah di sini, aku hanya bermalas-malasan setiap saat." Aku terus berusaha membuat dirinya bangga.
Dan akhirnya dia tersenyum lalu berterimakasih padaku. Kita menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol, bahkan dia juga menceritakan banyak tingkah konyol dari Bosnya itu, tentu saja itu Aldo. Kami menertawakannya bersama-sama.
"Oh ya...karena sepertinya mulai akrab sekarang panggil saja aku paman." Pintanya.
"Pa...man?, oke setuju" Aku menyetujuinya
"Dan apa kau tau, wanita yang bekerja disini?, dia adalah istriku." Dia menjelaskan padaku.
"Maksudmu Bibi, tentu saja saya kenal, dia adalah wanita yang sangat sabar." Jawabku.
Ternyata orang yang aku ajak bicara adalah salah satu orang yang merawat Aldo sejak berusai 15 tahun. Aku tak tau kenapa dia dirawat oleh orang itu, dan aku juga tidak berniat untuk menanyakannya.
"Oh ya paman... Disini ada pasar atau tidak?" aku bertannya lagi padanya.
"Ada, tapi lumayan jauh, mungkin bisa ditempuh dengan naik angkot.
Esok harinya...
"Wah... Orang-orang sudah pergi ya hari ini." bahkan paman kemarin juga tidak ada. Aku memutuskan untuk mandi dan pergi kepasar.
Setibanya di pasar aku melihat-lihat pakaian, hijab, dan aku melihat ke sebuah pedagang yang menjual banyak buku. Banyak sekali buku yang bagus.
Beberapa menit aku di sana, aku merasa seseorang yang terus mengawasi aku. Aku melirikan mataku dan dengan tiba-tiba membalikkan badanku. Aku melihat sekelibat laki-laki yang sangat mencurigakan.
"Oww... Itu pasti anak buahnya Aldo kan?" Aku sudah mendapatkan semua barang yang aku cari, jadi aku memutuskan untuk pulang.
~Aktifitas hariku sama saja jadi kita skip sampai waktu sahur.~
Karena tidak ada yang puasa di sini selain aku. Aku juga tidak tau kakakku puasa atau tidak, karena kita beda rumah. Aku memutuskan masak sendirian.
Karena saat di pondokpun aku jarang kebagian tugas masak, sampai sekarang keahlian memasakku yah begitulah. Aku memasak sambil menonton tutorial memasak.
"Aaaah... sangat ribet sekali, tau gini tadi sekalian beli lauk yang bisa dihangatin." gumamku.
"Eh... Airnya sudah terlalu panas." cara memasakku sangat tidak beraturan. Dan...
"Klontaaang..." Aku menjatuhkan tutup panci karena panas.
__ADS_1
"Siapa itu..." Aldo sepertinya terbangun.
Dia turun dari tangga dan melihatku. Dia mendekati ku dan bertanya.
"Kau sedang apa?" Ucapnya.
"Kau tidak lihat, aku sedang memasak." Jawabku.
Aldo melihat-lihat keadaan di dapur dan berbicara lagi.
"Emmmm... Tapi sepertinya keadaanmu sekarang terlihat tidak sedang memasak, tapi kau sedang menghancurkan dapurku." Ucapnya dengan nada pelan namun tiba-tiba berubah menjadi nada tinggi.
"Sttt... Orang-orang sedang tidur, apa kau ingin membangunkan mereka semua. Ucapku padanya.
"Apa kau tidak lihat, justru kau yang membangunkan aku dengan suara brisikmu itu." Ucapnya sambil menaruh tangannya di pinggang.
Beberapa detik aku terdiam dan menunduk karena merasa bersalah.
"Heii... Minggirlah." Ucap Aldo padaku.
Dia mengambil alih pekerjaanku. Tangannya begitu lihai dalam mengerjakannya, dia mengaduk nasi goreng di teflon layaknya chef profesional.
"Wowww..." Aku hanya bisa terkagum-kagum.
Dia bahkan menyajikan makananku di piring.
"Ini makanlah, kita bagi dua, kebetulan aku jadi lapar juga." Ucap Aldo padaku.
Kita makan berdua saat itu. Aku sambil berusaha membuat topik pembicaraan. Namun dia terus saja menyuruhku diam. Hingga aku membahas kejadian tadi.
"Kau diam-diam ternyata sangat perhatian ya." Ucapku pada Aldo.
Dia hanya diam dan melanjutkan makannya.
"Kau bahkan tadi menyuruh pengawalmu untuk mengawasiku saat dipasar." Terus berbicara. Dan tiba-tiba.
"Ohook..." Aldo seketika tebatuk.
"Apa kau bilang, kau tadi ke pasar." Tanya Aldo bingung.
"Hei... Jangan pura-pura tidak tau." Jawabku.
"Kau bilang ada yang mengawasimu, apa kau tau, hari ini semua orang pergi bersamaku menjalankan tugas."
"A...apa maksudmu, jadi orang tadi bukan..." Aku belum menyelesaikan omonganku.
"Sudah ku bilang jangan berusaha keluar." Aldo sepertinya sangat marah.
"Iya... Iya aku minta maaf." Jawabku.
"Apa kau tau, kau bisa menghancurkan rencananya." Aldo sangat marah, lalu berdiri untuk menyudahi makannya.
__ADS_1
"Kan aku sudah bilang maaf, kenapa kau terus saja marah." Aku meneteskan air mata.
Di satu sisi Aldo terus melanjutkan langkahnya.