Selembar Hijab Untukku

Selembar Hijab Untukku
eps.17 yang terjadi kala itu


__ADS_3

Pukul 07.00 am


Aldo menemuiku ketika aku sedang duduk di teras.


"Heyyy... kau yang lagi duduk." Ucap Aldo.


Akupun membalikan badan.


"Iya... Tumben manggil duluan." Jawabku.


"Hari ini, kau dan kakakmu pergilah ke tempat wisata untuk beberapa hari, kakakmu sudah membelikan tiket untuk kalian berdua." Ucap Aldo mencengangkan.


"Ehh... Kenapa tiba-tiba sekali?" Tentu saja aku kebingungan.


"Sudah... Ikuti saja perkataanku, ini permintaan kakakmu." Perintah Aldo.


"Permintaan kakak, baiklah..." Aku menyetujuinya. Lagipula aku juga butuh rekreasi.


Farhan dan Aldo POV


"Bagaimana, apakah adikku sudah setuju?" Tanya Farhan pada Aldo.


"Iya, dia setuju. Besok akan aku urus masalah disini." Jawab Aldo.


Hari ini Aldo dan Farhan mempersiapkan semua yang dibutuhkan.


Keesokan Harinya...


Utari POV


Aku bersiap-siap untuk berangkat.


"Akhirnya... Aku bisa merasakan kebebasan." Teriakku dalam hati.


Aku berangkat menaiki mobil yang dipinjami Aldo. Aku sangat menikmati perjalanan, dan ditambah lagi suasana sekitar dipenuhi pepohonan dan udara yang segar.


Mataku tak bisa berhenti melihat-lihat lingkungan sekitar. Namun beberapa saat kemudian aku merasakan ada sesuatu yang janggal.


Mobil dibelakang terlihat mencurigakan, dari tadi mobil itu terus mengikuti kami.


"Kak, lihat mobil dibelakang, bukankah terlihat aneh." Aku memberi tau kakakku.


"Diamlah, aku juga menyadarinya, namun kita harus tetap bersikap sewajarnya." Ucap kakakku.


Aku tak tau harus bagaimana, dan tiba-tiba mobil dibelakang kami menyelip mobil yang kami tumpangi.


Mobil itu menikung secara tiba-tiba di depan mobil kami.


"Ckitttt..." Kakakku seketika mengerem mobilnya. Kepalaku refleks mengayun kearah depan. Kakakku menghela nafas pendek dan terdiam sambil melihat mobil di depan kami.


Dua orang bersenjata pi**u keluar dari mobil itu. Mereka memaksa aku dan kakakku keluar dari dalam mobil yang kami tumpangi.

__ADS_1


"Wah...wah...wah... Akhirnya ketemu juga lo." salah satu dari mereka berbicara pada kakakku sambil menodongkan pi**u. Dan orang satunya lagi menuju kearahku.


"Ohh... Jadi ini adik lo. Lumayan juga, padahal kelihatannya alim gini, kok bisa jadi adik lo. Hahaha..." Mereka berdua tertawa sinis.


Seketika kakakku memegang tangan pria di depannya, dan mereka bertarung dengan sangat lihainya. Namun kakakku terlihat lebih lincah dan beberapa kali berhasil memberikan pukulan pada orang itu.


Di satu sisi aku masih pada pengawasan pria satunya itu. Dan dia memanggil kakakku.


"Hei... Farhan, lihat ini." Orang di dekatku memanggil nama kakakku sambil menodongkan pi**u kecil di leher ku.


Aku memejamkan mataku karena sangat takut. Kakakku melihat kearahku, dan seketika pria di sampingnya berhasil melumpuhkan kakak dengan teknik kuncian. Seketika kakak tidak bisa berbuat apapun.


Aku hanya bisa memberontak, alih-alih terlepas, pi**u di leherku justru menggores pipiku. Aku hanya bisa diam setelah itu. Kami berdua pasrah dan terduduk di tengah jalanan yang sepi itu.


Namun tuhan sepertinya berkehendak lain. Beberapa mobil datang dan orang-orang turun bersama seseorang yang kami kenal. Tentu itu adalah bos kita, Aldo.


Anak buah Aldo memerintahkan orang yang menyerang kami untuk menyerah dan pergi.


"Bos kenapa kita tidak menangkap orang itu?" Tanya anak buah Aldo.


"Tidak, itu bisa menyebabkan kerugian untuk kita, dan memicu kemarahan kelompok mereka." Jawab Aldo.


Aku dan kakakku berdiri dan memutuskan kembali bersama Aldo dan lainnya.


Kami sampai di rumah itu lagi, dan kakakku menyuruhku untuk kembali ke kamar. Sepertinya ada sesuatu yang akan mereka bicarakan, namun kali ini aku memutuskan untuk tidak ikut campur.


Aldo dan Farhan POV


"Apa maksudmu, bukankah kemarin kau bilang mereka mengintai rumah ini karena curiga keluargaku ada di sini." Jawab Farhan sedikit bingung.


"Justru itu, mereka juga memanfaatkan kecurigaan kita. Mereka sengaja membuat umpan agar kita percaya bahwa rumah ini diintai. Yang benar saja mereka berhasil membuat kita percaya, dan membuatmu pergi dari sini." Jawab Aldo.


"Setelah kau pergi, kami menangkap mata-mata yang sekaligus umpan itu. Akupun mengintrogasinya." Aldo terus menjelaskan.


"Tapi apa maksudmu mencurigai, jadi mereka belum benar-benar yakin jika aku dan adikku berada disini?" Tanya Farhan.


"Aku juga baru tau hari ini, kukira mereka sudah tau jika kau dan adikmu ada bersamaku. Kalau tau begini seharusnya kita tak perlu bersiap-siap di rumah ini." Jawab Aldo.


"Sudah kubilang idemu itu tidak akan berhasil, mereka itu sangatlah licik dan pandai sekali membuat strategi." Ucap Aldo.


"Fikirku akan buruk jika mereka sampai menyerang rumah ini ketika menemukanku di sini, mereka bisa saja melukai yang tidak bersalah seperti Bibi dan pekerja di rumah ini." Jawab Farhan.


"Iya, aku juga tidak ingin mereka sampai terlibat, lagi-lagi aku berhutang budi padamu." Jawab Aldo sambil tersenyum pada Farhan.


Utari POV


Aku terus duduk di kasur karena masih syok sekaligus tidak faham apa yang barusan terjadi.


Tok tok tok


"Cklek..." Ada orang membuka pintu kamarku. Ternyata itu kak Farhan.

__ADS_1


Dia mendekat kearahku sambil membawa obat luka.


"Ini bersihkan lukamu, tidak baik seorang wanita punya luka seperti itu di wajah." Ucap kakakku pelan.


Aku membersihkan lukaku dengan air dan terdiam sejenak.


"Bagaimana bisa kakak terlibat dengan hal seperti ini?" Tanyaku sedikit dingin.


Kakakku terlihat sulit menjawab. Dia menghela nafasnya sejenak.


"Maafin kakak dek, kakak udah bohong sama kamu, bapak, juga ibuk. Ini semua gara-gara kakak." Ucap kakakku dengan tatapan sayu.


"Bohong kenapa kak?" Tanyaku bingung.


Flashback on.


Dulu waktu kakak lulus SMA, kakak berniat merantau untuk membantu Bapak, ibuk, dan kamu biar kita bisa ngrasain hidup yang lebih enak. Namun perkiraan kakak semuanya salah, kakak malah ditipu orang.


Kakak melamar kesana kemari, namun sepertinya pengalaman kakak terus saja dibilang kurang, atau sedang tidak membutuhkan karyawan.


Kakak begitu frustasi, dan lontang-lantung di jalanan. Kakak juga malu untuk pulang. Jangankan pulang, uang untuk makan saja sudah nggak ada.


Pada hari itu ada orang yang melihat kakak sangat depresi, lalu mereka menawarkan serbuk putih dalam plastik kecil. Kakak juga tidak tau itu apa, tapi kata orang itu, ini obat penghilang depresi. Dia memberikan obat itu gratis pada kakak.


Kakak pun mencobanya, dan benar... depresi kakak dalam sejenak hilang. Besoknya dia memberikan lagi pada kakak. Kakak menggunakannya lagi. Pada akhirnya kakak kec**d**n obat itu.


Rasanya begitu pusing, ingin marah ketika tak menggunakannya lagi. Jadi orang itu menawari kakak untuk ikut dengannya. Katanya jika kakak ikut, mereka akan memberikannya dengan gratis sekaligus memberi kakak pekerjaan.


Hampir 2 tahun kakak di sana. Namun kakak diperlakukan layaknya binatang. Kakak dilatih bertarung kemudian dijadikan umpan untuk misi-misi mereka. Jika kakak menolak, maka hukumanlah yang didapat.


Hingga waktu itu, kakak berhasil melarikan diri. Dan bertemu dengan Bibi yang waktu itu sedang di pasar. Waktu itu dia terlihat sedang diganggu oleh orang-orang yang entah siapa. Bibi terlihat berusaha melawan namun tetap saja dia kalah jumlah. Mungkin sebenarnya orang-orang itu adalah orang yang tidak suka dengan kelompok Aldo.


Akhirnya kakak melawan mereka semua. Sebenarnya Kakak tidak menang, namun berhasil meloloskan diri. Kakak dibawa ke tempat ini.


Aldo sangat berterimakasih pada kakak karena menolong keluarganya. Dia juga menawari kakak untuk bergabung dengannya. Awalnya kakak menolak, namun dia memberi tau bahwa keluarga kita terancam dan sedang di intai oleh kelompok jahat itu. Lantas kakak bertanya bagaimana Aldo bisa tau.


Ternyata dia selalu mengawasi dan meneliti latar belakang kakak sejak berada di bawah pimpinan orang jahat itu, dia sudah berencana merekrut kakak apabila kakak berhasil lolos darinya.


Jadi kakak bergabung dengannya. Dan beberapa bulan setelah itu, kabar duka bapak dan ibu sampai pada kakak. Seketika kakak menuju kerumah kita. Kakak juga kaget hari itu. Hingga hari ini kakak terus mencari tau apakah penyebab kematian bapak dan ibu. Jika itu ulah mereka, maka kakak tidak akan bisa memaafkan diri kakak sendiri.


Flashback off.


Kakakku bercerita sambil menangis, aku yang mendengar hal itu tentu tak bisa menahan tangis ku juga.


"Kenapa kakak ngga bilang dari awal sih?" aku marah sambil menangis pada kakakku.


"Maafin kakak dek, kakak nggak punya keberanian, kakak memang sangat pengecut." Kakakku terus menyalahkan dirinya.


"Ngga kak, kakak jangan menyalahkan diri kakak terus, kakak juga ngga akan tau kalo kejadiannya bakal kaya gini." Ucapku sedih sekaligus tak tau harus bagaimana.


"Dek, mulai sekarang kakak akan melatihmu bela diri." Ucap kakakku.

__ADS_1


"Apaa?" Aku terkejut.


__ADS_2