
Rindu mencoba mendekati kak Veno dan berusaha untuk memeluknya, namun dengan garang Veno menepisnya bahkan membentaknya dengan keras.
"Hentikan kegilaanmu Rindu, sudah cukup kau menyakiti Senja, aku tak akan pernah membiarkanmu melampaui batas"
"Veno, apa kau lupa dengan semua janji yang sudah kau ucapkan padaku?"
"Itu dulu Rin, saat kau belum mengkhianatiku, kau sendiri yang mengingkari semua itu, kau yang telah meninggalkan aku hanya demi laki laki lain, kau buang aku karena aku tak bisa seperti yang kau inginkan, jadi cukup sudah Rindu, jangan ganggu ketenanganku lagi! jangan pernah hadir dalam hidup aku lagi, faham!"
"Tidak Ven, aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku tidak rela kalau wanita itu yang akan kau pilih, aku tidak mau kalau kau jadi milik orang lain Veno, tidak akan pernah" Rindu menghentakkan kakinya dan mencoba tuk mencekik Senja.
"Cukup Rind, jangan sakiti Senja! atau kamu berurusan denganku"
Veno menggeram penuh amarah. Tangannya terkepal menahan emosinya yang kian memuncak tatkala melihat keadaan sang pujaan hati yang begitu mengenaskan. Veno mencoba mendekat namun Iren lebih dulu mengancam akan terus menyakiti Senja dengan memegang lehernya.
"Jangan coba coba mendekat dan membebaskan Senja Veno".
"Hentikan tante! sadarlah dengan apa yang telah tante lakukan itu salah! sekarang tempat ini sudah dikepung polisi, jadi menyerahlah tante!"
"Tidak Veno, selama aku dan Reisya belum keluar dengan selamat dan bebas dari sini, maka aku tidak akan melepaskan Senja"
Sementara Veno masih membujuk Iren untuk melepaskan Senja, teman teman Veno mengendap endap masuk melalui jendela samping, mengetahui hal tersebut, Veno berusaha tuk mengalihkan perhatian Iren dan Rindu serta Reisya. Hingga akhirnya ketiga perempuan gila itupun berhasil diringkus.
"Lepaskan aku! lepas brengseeek!"
Teriak Iren yang tak terima dengan kekalahannya.
"Sudahlah tante, percuma saja tante teriak karena polisi sudah menunggu di luar untuk membawa tante segera guna mempertanggungjawabkan semua perbuatan tante"
__ADS_1
Veno dengan wajah menahan kesal ia berusaha tuk menyadarkan Iren. Dengan langkah tergesa Veno menghampiri Senja yang telah lunglai tak berdaya akibat siksaan dari ketiga perempuan gila itu.
Dengan sigap ia mengangkat dan menggendong Senja keluar dari ruangan itu, dengan perasaan sedih ia membawa Senja ke rumah sakit, dengan penuh kasih ia memangku Senja. sementara ketiga perempuan gila itu telah berhasil dibawa oleh polisi tuk dimasukkan ke dalam tahanan.
"Pak polisi saya tidak bersalah, ini semua ide dari Rindu, tolong lepaskan saya dan anak saya pak!" pinta Iren dengan memelas.
"Nanti saja ibu jelaskan di kantor polisi, sekarang sebaiknya ibu diam dan tolong kerjasamanya untuk tidak berbicara selama dalam perjalanan!"
Irenpun terdiam dengan wajah cemberut.
Sementara Veno telah berhasil membawa Senja keluar dari tempat itu, ia berusaha membawanya ke rumah sakit dan saat dalam perjalanan tiba tiba saja Senja pingsan dan membuat Veno jadi panik. Untung saja yang membawa mobil saat itu adalah Lucky.
"Luck cepetan Senja pingsan, gue takut terjadi sesuatu dengan Senja"
"Okey boss" Luckypun segera tancap gass
dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit.
"Ma Veno sekarang di rumah sakit, Veno bawa Senja karena dia pingsan ma".
"Apa Ven, kamu udah temukan Senja? Alhamdulillah ya Allah, di rumah sakit mana Ven? Biar mama sama papa kesana"
"Di rumah sakit tempat om Irwan dirawat ma"
"Baiklah mama sama papa ke sana sekarang"
Tak lama kemudian pak Syafiq dan bu Rania datang bersama Deral.
__ADS_1
"Gimana ceritanya kak? Kok mereka tega banget sih sama Senja" keluh Deral
"Untung saja dulu gue tolak tuh si Reisya"
"Apa Der? Lho pernah ditembak sama si Reisya? Ha ha ha haaa" tawa garing Veno.
"Ven ini rumah sakit, lagian Senja tuh masih pingsan, kamu ini kalau udah ketemu Deral, nggak tahu tempat, masih sempat sempatnya bercanda" omel bu Rania.
"Iya nih si kakak, sukanya ngeledekin, awas aja ntar kalau kak Senja sadar, gue bilangin kalau lo sempat nangis termehek mehek kayak cewek, gara gara takut kak Senja nggak sadar sadar"
"udah udah! kalian ini sama saja, kasihan Senja tuh kita belum tahu gimana kondisinya, semoga dia baik baik saja" bu Rania menyela.
Satu jam kemudian dokter keluar dari ruang IGD sehabis memeriksa keadaan Senja.
"Gimana keadaan calon mantu saya dok?" tanya bu Rania.
Dengan wajah tegang sang dokter menatap bu Rania.
"Maaf bu kita bicara di ruangan saya saja"
Bu Rania dan Veno segera mengikuti langlah dokter, sementara Deral dan pak Syafiq hanya menunggu di depan IGD.
"Baiklah bu, pak saya akan menjelaskan keadaan pasien, begini... ... ..."
Bagaimana sebenarnya keadaan Senja sobat novel toon? Kita ikuti kelanjutan kisahnya di bab berikutnya ya.
Bersambung...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...