Senja Di Hati Veno

Senja Di Hati Veno
Mencari Rozil


__ADS_3

"Loh papa kok sendirian Rozil mana pa?"


Jedeeeeeeerrrr...bak disambar petir pak Irwan terdiam mematung. Ia seolah tak lagi berpijak di bumi, putra tercintanya twrnyata tak kembali ke rumah, dengan wajah tegang pak Irwan berusaha menenangkan istrinya walau ia sendiri dalam hatinya sangat ketakutan akan sesuatu yang menimpa putranya. Pak Irwan meminta izin pada istrinya bu Indah untuk pergi menjemput Rozil dengan alasan ia terburu buru karena ada hal yang ketinggalan di rumah untuk dia ambil.


"Ma maafin papa tadi papa buru buru pulang karena ada yang harus papa ambil dirumah makanya papa belum sempat jemput Rozil, sekarang papa jemput Rozil dulu ya ma".


"Ya sudah cepet pa, ini sudah siang loh pa, takutnya nanti disana Rozil sendirian nggak ada yang nemenin, terus gimana ada orang jahat pa, cepet ya pa!"


"Iya ma, papa pergi, assalamu'alaikum ma"


"Wa'alaikumussalam pa, hati hati"


Dengan langkah tergesa pak Irwan berlalu dari hadapan istrinya, mukanya memerah menahan geram, dalam hati ia marah pada dirinya sendiri dan juga pada orang yang telah membawa putranya.


Pak Irwan terus mengawasi sepanjang jalan yang ia lewati tanpa ada yang terlepas dari pandangannya, namun hingga menjelang petang ia tak jua menemukan putra kesayangannya, dengan tubuh lemas ia menghentikan mobilnya di pinggir danau, ia tak tahu harus menjelaskan apa pada sang istri tercinta tentang hilangnya sang buah hati.


Sementara itu bu Indah terus saja mencoba menghubungi suaminya, namun tak pernah diangkat, iapun mulai cemas namun tetap berusaha tenang dan berfikiran positif, karena tak ingin putri kecilnya yang baru ia lahirkan harus ikut menanggung beban apabila asinya tidak lancar akibat stress karena memikirkan keadaan putra dan suaminya yang sampai saat ini belum juga kembali.

__ADS_1


Setelah berusaha tenang dan menyusun kata kata untuk memberi tahu istrinya, pak Irwan pun akhirnya kembali ke rumah dengan hati yang gelisah.


Sesampainya di rumah...


"Assalamu'alaikum" ucap pak Irwan.


"Wa'alaikumussalam" jawab bu Indah.


"Eh papa udah pulang, Rozil mana pa?"


Pak Irwan termangu, ia meraih istrinya kedalam pelukannya, dengan lembut dan penuh kasih pak Irwan mencoba menjelaskan pada istrinya tentang hilangnya putra tercinta mereka karena keterlambatan ia menjemputnya di sekolah. Seketika bu itu juga tubuh bu Indah lemas ia tak kuasa untuk menahan kesedihannya, hatinya sungguh pilu, dalam pelukan suaminya ia terisak, namun demi putri kecilnya yang baru ia lahirkan, ia berusaha untuk tegar dan kuat, ia tak ingin asinya jadi terhambat dan membuat putri kecilnya harus ikut merasakan imbas dari kesedihannya karena kehilangan putra tercintanya.


"Ma yang sabar ya sayang, papa akan twrus berusaha untuk mencari Rozil, do'akan saja ya ma! semoga besok papa bisa menemukan Ozil".


"Iya pa, semoga papa berhasil ketemu Ozil ya pa"


"Sekarang mama istirahat ya sayang, kasihan Senja ma, dia juga butuh perhatian, mama jangan sampai setress biar asinya tetap lancar ya sayang"

__ADS_1


"Iya pa, sekarang papa juga istirahat biar besok bisa cari Rozil lagi".


"Ya udah, sekarang kita istirahat ya ma".


Mereka pun mencoba untuk istirahat, namun masing masing dari mereka tidak bisa tidur hingga menjelang pagi.


...****************...


Dengan penuh haru pak Irwan menutup ceritanya, ia terisak seolah kembali ke masa dulu, masa di mana ia harus kehilangan seorang putra yang teramat dicintainya. Perlahan ia membuka dompetnya yang didalamnya terdapat foto seorang anak laki laki dengan seragam sekolahnya, ia menunjukkan foto itu kepada Rega. Dan saat Rega memandangi foto itu...


Bagaimanakah reaksi Rega setelah memandangi foto itu? Dan foto siapakah yang ia lihat yang terdapat di dalam dompet pak Irwan?


Yuk simak kelanjutan ceritanya di bab berikutnya ya?


Bersambung...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2