Senja Di Hati Veno

Senja Di Hati Veno
Kehilangan


__ADS_3

"Karena om pernah kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidup om dan itu persis seperti nak Rega"


Rega mencoba menyimak perkataan pak Irwan.


"Maksud om Irwan bagaimana ya om?"


Pak Irwan memulai ceritanya.. Ke masa 23 th silam.


"23 tahun yang lalu... Aq punya seorang putra waktu itu usianya baru 7 th dan seorang putri yang baru saja dilahirkan"


"Rozil, sini nak papa yang antar ke sekolah ya, karena mama belum boleh keluar dulu antar kakak, kan sekarang kakak udah punya adik, jadi biar papa dulu yang antar kakak ya?"


"Horee sekarang Ozil bisa diantar papa, nanti Ozil tunjukin ke temen temen Ozil kalau papa Ozil juga sayang sama Ozil karena sekarang bisa diantar sama papa"


"Wah jadi selama ini anak papa ini sering dibilangin temennya papa nggak sayang ya? Ya udah mulai sekarang biar papa yang selalu antar anak papa ini, okey jagoan?"


"Okay pa" jawab Rozil kecil dengan girang


"Ya udah sekarang tos dulu" merekapun sangat kompak.


"Yuk jagoan papa! kita jalan, let's go!"


Sesampainya mereka di sekolah...


"Pa tunggu bentar ya! Ozil mau kasih tahu temen temen Ozil kalau sekarang papa udah bisa anter Ozil, ya pa".

__ADS_1


"Okey jagoan papa, cepetan ya papa tunggu"


"Siap papa"


...****************...


Kita kembali ke Senja...


Veno dengan setia menunggu Senja di rumah sakit, hatinya miris melihat keadaan sang kekasih yang belum juga sadar dari komanya, ia sungguh menyesali keadaan yang menimpa wanita terkasihnya.


'Ya Allah berilah keajaibanMu untuk Senja, bangunkan ia dari komanya ya Allah, rasanya hatiku tak kuat lagi melihat keadaannya saat ini, ya Allah kabulkanlah pintaku, aamiin'


Saat Veno tengah termenung memanjatkan do'a tiba tiba handphonenya berdering


"Assalamu'alaikum, hallo siapa ya?"


"Iya bener, ada apa ya?"


"Ini dari kantor polisi dik, mau mengabarkan kalau semalam tahanan yang bernama Rindu berhasil kabur dengan bantuan seseorang, tolong berhati hati dan jaga dik Senja yang jadi korban penculikannya kemarin dan jika dik Veno melihat tolong beritahu kami, cuma itu dik, makasih, assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam, terimakasih infonya pak".


Veno panik dan ia pun berusaha menghubungi semua temennya tentang peristiwa kaburnya Rindu, karena ia tak ingin terjadi sesuatu lagi dengan Senja.


...****************...

__ADS_1


kita beralih ke Rozil...


Tiga hari sudah Rozil Febrian Maulana Syahputra selalu diantar oleh sang papa, dia merasa sangat senang karena itu membuat ia tak lagi dirundung teman temannya. Namun naas di hari yang ke empat suatu tragedi menimpanya.


Saat anak anak yang lain sudah dijemput oleh orang tuanya, hanya Rozil yang masih menunggu kedatangan papanya di depan gerbang sekolah, saat sekolah udah mulai sepi, Rozil jadi gelisah. Sudah satu jam ia menunggu namun tak ada tanda tanda papanya akan datang. Ia mulai merasakan kepanikan namun ia tak mau berprasangka yang buruk pada papanya, hingga saat ia beranjak dari duduknya tiba tiba ada seseorang yang mendekatinya dan membujuknya untuk ikut dengannya, karena alasan orang itu yang mengatakan kalau ia disuruh papanya Rozil untuk menjemputnya ke sekolah.


"Dik Rozil, ini om sama tante disuruh sama papa Rozil buat jemput Rozil, sekarang papanya nggak bisa kesini jemput Rozil karena sedang ada rapat di kantornya, Rozil ikut sama om dan tante ya sayang"


Bujuk kedua orang itu, hingga Rozilpun mengikuti mereka. Baru saja sekitar tujuh menit Rozil dibawa pergi, pak Irwan datang untuk menjemput Rozil. Namun ia tak mendapati anaknya yang selalu menunggunya di depan gerbang sekolah, pak Irwan mulai panik, ia berusaha bertanya pada satpam yang ada di sekolah, dan iapun diberitahu kalau ada orang yang sudah menjemput Rozil.


Pak Irwan sedikit tenang karena mengira Rozil dijemput oleh orang rumah, iapun masuk ke mobil dan memutar arah untuk pulang, sesampainya di rumah pak Irwan langsung mencari Rozil putranya, namun apakah yang dia dapat?


"Assalamu'alaikum sayang". Ucap salam pak Irwan.


"Wa'alaimumussalam pa" jawab bu Indah mama Rozil dan Senja.


"Loh papa kok sendirian Rozil mana pa?"


Jedeeeeerrrrr.... Bak disambar petir pak Irwan terdiam mematung. Ia seolah tak lagi berpijak di bumi, putra tercintanya ternyata tidak kembali ke rumah. Dengan wajah tegang pak Irwan berusaha tuk menenangkan istrinya walau ia sendiri dalam hatinya sangat ketakutan akan sesuatu yang menimpa putranya.


Bagaimanakah kisah selanjutnya?


Tunggu di bab selanjutnya ya


Bersambung dulu....

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2