Senja Di Hati Veno

Senja Di Hati Veno
Pertengkaran dengan Mama Tiriku


__ADS_3

Praaank...


Mama Iren membanting asbak puntung rokok papa ke lantai dengan tatapan garang, aku berusaha untuk melawan, kali ini tak akan kubiarkan mama Iren terus menyudutkan dan menyalahkanku lagi, apalagi ini menyangkut biaya kuliahku.


"Tapi memang benar kok kalau selama dua bulan ini mama nggak pernah kasih aku uang kuliahku itu pa, aku berani sumpah pa, aku bahkan belum bisa beli buku dan keperluanku yang lain pa, karena Senja fikir papa terlalu sibuk dengan urusan kantor tempat papa kerja, hingga mungkin membuat papa lupa kalau biaya kuliah Senja belum papa kasih, makanya Senja diam dan nggak berani ganggu kesibukan papa".


"Senja, ngomong apa kamu hah, jangan berbohong sama papa, atau kamu memang butuh uang tambahan lagi yang lebih banyak, kenapa nggak bilang terus terang aja sih, nggak usah pakai berbohong segala apalagi sampai fitnah mama kayak gini Senja!"


"Hik hik hik, lihat Pa, Senja segitu bencinya sama mama, segitu ìnginnya dia melihat mama pergi dari rumah ini pa".


Sungguh hebat, dua jempol kuacungkan untuk mama Iren, atas kehebatannya dalam berakting, sangat cocok untuk pemeran sinetron, SUARA HATI ISTRI.


Air mata kepalsuan, turut andil dalam memerankan sikap antagonisnya.


Mama Iren memang sungguh pandai membolak balikkan fakta, aku makin muak dibuatnya. Dan yang paling aku nggak tahan, sikap papa yang selalu percaya dengan istrinya ini, bahkan papa sendiri menyalahkanku atas tindakanku terhadap istrinya, papa lebih mempercayai istrinya, mama Iren mama sambungku dari pada mempercayai anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Jaga sikap kamu Senja, mama Iren istri papa, dia sudah menganggap kamu seperti anaknya sendiri, tidak jauh beda dengan REISYA. Kamu harusnya bersyukur punya mama kayak mama Iren, bukan malah membuat suasana jadi kacau kayak gini, sudah papa pusing Senja, belum lagi masalah di kantor, atasan papa sebentar lagi nelp, sekarang kembali ke kamar kamu, dan ingat jangan lagi berbuat seperti ini, jangan ulangi lagi! mengerti? dan jika memang kamu butuh tambahan biaya kuliah, ngomong yang jujur jangan buat kegaduhan lagi, sudah sana keluar, kembali ke kamar kamu!"


Papa malah mengusirku dari kamarnya dengan kasar, papa bukan papa yang kukenal, semenjak menikah lagi, papa tidak pernah lagi menganggap keberadaanku, dengan hati pilu, aku melangkah gontai keluar dari kamar mereka.


Kupendam sendiri luka di hati ini, tidak ada yang boleh tahu bagaimana tersiksanya batinku menerima perlakuan ini, bahkan pengasuhku sendiri bibi RASIH, dia wanita yang baik, aku tidak boleh membebaninya dengan kesedihanku. Perlahan kubuka pintu kamarku, aku melangkah mendekati foto mama Indah, ya mama Indah adalah mama kandungku, beliau telah mendahului kami, meninggalkan dunia fana ini, dua tahun beliau harus berjuang melawan penyakit yang dideritanya, 'KANKER RAHIM' penyakit yang selalu ditakuti kaum hawa, aku terbayang, bagaimana kerasnya perjuangan mama, waktu mama berusaha sekuat tenaga melawan penyakit mama, dan sekarang di depan foto mama, dengan berurai air mata, kutumpahkan segala kepdihanku.


"Mama, kenapa papa berubah ya ma, Senja mau ikut mama, kenapa mama tinggalin Senja ma, Senja udah nggak sanggup lagi ma, kemana aku harus cari uang buat biaya kuliah lagi ma? hik hik hik".


Dengan perasaan sakit, aku bangkit untuk mengambil air wudhu', akan kucoba tuk mengadu pada pemilik kehidupanku. Ya hanya Dia yang mampu untuk menolongku keluar dari masalah ini.


Samar kudengar suara mobil keluar dari halaman rumah, apa mungkin itu papa? akhir akhir ini papa memang sangat sibuk, bahkan untuk sekedar menyapaku dengan memberitahu kepergiannya pun, rasanya sungguh sulit.


Dor dor dor...


"Senjaaa, buka pintunya! mama mau ngomong, cepat!" apa yang kupikir barusan ternyata benar, papa pergi lagi, dan itu membuat mama makin leluasa bertindak semaunya.

__ADS_1


"Senja kenapa diam saja, buka pintunya cepat! kalau nggak, mama dobrak nih".


Dengan hati jengkel, terpaksa kubuka pintu kamarku.


Treeeet...Kubuka pintu sambil bersiap siap menghadapi kemarahan si nenek lampir. Kali ini aku sudah tak mau diam lagi, sudah cukup mama Iren memperlakukanku dengan semena mena.


"Iya ma ada apa lagi, mau marahin aku lagi, nggak bisa ma, mama udah nggak bisa ngatur ngatur aku lagi, mama kira aku akan diam lagi dengan tingkah mama yang udah keterlaluan hah, sekarang Senja udah gede ma, Senja nggak mau lagi nurutin kemauan mama yang semena mena terhadap Senja".


"Ooooh bagus ya, udah mulai melawan kamu ya, kamu pikir kamu bisa nentang mama, nggak bisa Senja, kamu nngak akan bisa ngelawan mama, kamu itu anak yang sudah tak dianggap oleh papa kamu, jadi kamu nggak akan bisa buat naklukin mama, jangan kamu, papa kamu aja udah tunduk sama mama, jadi lebih baik kamu nurut sama mama".


"Nggak ma, nggak akan pernah lagi Senja nurut sama mama, udah cukup mama perlakukan Senja seperti babu selama ini, Senja capek dengan tingkah mama, Senja muak ma muak".


Mama Iren melotot tak percaya dengan yang barusan ku lakukan. Tapi aku sudah bertekad untuk tidak mau lagi tunduk padanya, aku sudah lelah dengan semua yang telah dia perbuat terhadapku di rumah ini.


Sedikitpun aku tak bergeming dari tempatku berdiri menantangnya, saat mama Iren mengangkat tangannya hendak menamparku, tiba tiba saja seseorang melepas salam di depan gerbang rumah, membuat mama Iren mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Siapakah dia pemirsa, tunggu kelanjutannya di bab berikutnya ya, heheee, termakasih sudah mau membaca karyaku.


__ADS_2