
Babak baru kehidupan Hana dimulai lagi dari riuh tepuk tangan para peserta upacara pada minggu pertama tahun ajaran baru.
Di bawah cerahnya langit tanpa awan, Hana berdiri di depan podium bersama deretan siswa berprestasi lainnya, menjadi pusat perhatian warga sekolah selama beberapa menit. Nama Hana termasuk sebagai salah satu dari jajaran murid yang menyandang peringkat pertama.
Dari barisan kelas, Ruri melayangkan kedua jempolnya pada Hana dengan senyum paling hangat yang kemudian Hana balas dengan senyuman yang sama. Hana memfokuskan pandangannya hanya pada Ruri, ia tidak terlalu memperhatikan Inung yang juga memberi dua jempol dengan hebohnya, ataupun ekspresi Bella yang tidak serasi dengan cuaca hari ini.
Setelah prosesi selesai, Hana kembali ke barisan dengan menenteng piagam penghargaan prestasi yang baru saja diberikan. Inung yang masih setia dengan kehebohannya nampak sangat antusias ingin mengetahui isi dari piagam milik Hana.
"Cie elah, Hana. Keren, keren. Modal ngantuk-tidur ngantuk-tidur aja peringkat satu. Apalagi kalo ambis?" Ucap Inung seraya membolak-balikkan lembar kertas tebal itu.
Hana tersipu. "Kalo aku ambis, temen aku bukan kamu sama Aji."
"Ya udah, nggak usah temenan sama aku biar kamu ambis!" Inung pura-pura merajuk.
"Kalo aku jadi kamu, aku nggak bakal sekolah disini. Aku bakal sekolah di SMA favorit, terus bergaulnya nggak sama murid doang tapi sama guru-guru juga, pokoknya bakal jadi anak ambis biar gampang masuk universitas ternama, terus merangkap jadi anak hits juga. Pasti aku bakal keren banget." Aji menyerocos panjang lebar.
"Sayangnya kamu bukan Hana, yang modal planga-plongo doang bisa dapet nilai bagus tanpa perlu nyontek!" Inung menjawab pernyataan panjang Aji.
"Diem! Pembina udah mulai ngomong lagi!" Balas Aji.
***
Hana mengambil buku tulis dari dalam tas, ia kibas-kibaskan tepat di wajahnya. Setelah masuk kelas Hana baru merasakan kegerahan yang sangat akibat berjemur lama.
"Hari pertama langsung masuk pelajaran nggak ya? Males banget, masih kebawa liburan kemarin." Baru saja masuk kelas, Inung sudah mengeluh ingin istirahat belajar, padahal mulai saja belum.
"Sama, Nung. Coba hari pertama kosong dulu, nggak usah ada pelajaran sampe pulang. Tapi sekolahan biasanya langsung kebut." Hana berpikiran sama dengan Inung.
"Jam kosong mulu pikiran kalian. Ya udah mending bolos aja sana!" Seperti biasa, Aji menanggapi perkataan mereka dengan gayanya.
"Padahal kamu sendiri yang mau bolos, kan?"
"Mana pernah aku bolos."
"Aji, coba diem deh! Contoh tuh, si Ruri. Kalo ngomong seperlunya aja. Nggak kayak kamu, semua hal diomongin."
"Ngaca, woy, ngaca!"
Inung mengeluarkan cermin berukuran A6 dari dalam tasnya. Diperlihatkannya di depan wajah Aji yang sedang pasang wajah melotot.
"Aku tiap hari ngaca, tuh! Nih, lihat. Kaca segini gede masih nggak kelihatan juga?"
"Udah kayak nenek sihir bawa kaca kemana-mana."
"Sejak kapan nenek sihir bawa kaca?"
"Ada tuh, aku denger di dongeng-dongeng."
"Kamu baca dongeng nenek sihir bawa kaca itu, dongeng sebelah mana? Perasaan nggak pernah denger."
Aji berdeham, bola matanya bergerak tak berarah, seperti mencari jawaban yang tidak pernah ada di dalam otaknya. Aji meraba saku celananya, berusaha mengalihkan perhatian dengan memainkan handphone, seolah ada yang penting di dalamnya. Baru kemudian ia duduk.
"Diem, woy, diem!"
"Orang kalo udah kalah debat tuh gitu. Pura-puranya skak matt pake kalimat yang pernah kita ucapin, balikin lagi ke kita. Padahal udah buntu otaknya buat mikir jawaban!" Hana terkekeh.
"Enak aja! Aku tuh bisa debat sama Presiden sekalipun. Tapi berhubung kalian cewek, jadi aku ngalah. Harusnya kalian berterimakasih sama aku, kalo aku lanjutin kalian bakal malu."
Inung terbahak, "kalo dilanjutin alamat kamu yang malu, Ji."
"Udah, Ji. Kamu kalo lawan kaum emak-emak nggak bakalan menang. Mendingan diem." Ruri menepuk-nepuk pundak Aji.
__ADS_1
"Han, kita dipanggil kaum emak-emak."
"Emang ya, mulut bapak-bapak ronda suka nggak ada rem." Jawab Hana.
Hana adalah Hana. Ketika ada kesempatan untuk tidur, ia tidur. Hana bersiap memposisikan diri dengan nyaman, mengabaikan Inung yang sudah mulai membuka sesi curhatnya dengan Aji, sementara Ruri yang bertugas sebagai penasehat dan pendengar yang baik.
Sebelum liburan akhir semester kemarin, rupanya Aji mulai menyukai Bella. Setelah ia menyerah terhadap Zia. Aji sangat berani menunjukkan perasaannya pada Bella. Tidak segan-segan ia mencari informasi dari beberapa orang terdekat Bella, juga memberi Bella hadiah-hadiah kecil untuk mengambil hati Bella.
Hana merasa sedikit terganggu mendengarnya, maka dari itu ia lebih memilih tidur seperti biasa.
Sejak Aji mengaku mulai menyukai Bella, beberapa kali Aji menanyakan Bella kepada Hana tentang kepribadiannya saat di dalam asrama. Hana berusaha senetral mungkin membantu Aji, ia tidak mendukung Aji mendekati Bella, tidak pula menolak secara terang-terangan. Hana hanya memberi Aji bantuan sebatas yang Hana mau, selebihnya biar Aji sendiri yang menilai.
Suara ketukan pintu terdengar, Hana yang baru saja tertidur di mejanya mendadak bangun, pikirnya ada seorang guru yang masuk. Seluruh ruangan mendadak diam. Beberapa detik kemudian sesosok wajah muncul dari balik pintu dan hanya menampakkan setengah badannya saja.
"Ruri ada?" Tanya Zia pada seisi kelas yang sempat ia buat tegang.
Ruri berdiri, lalu menghampiri Zia yang beberapa saat lalu menjadi pusat perhatian.
Hana menebak, setelah ini Ruri pasti menghilang, membaur bersama teman-teman OSIS-nya. Dan benar, Ruri tidak kembali selama beberapa saat lamanya.
"Kamu yakin mau pindah haluan ke Bella? Beneran udah nyerah sama Zia?" Tanya Inung memastikan.
Hana yang terlanjur bangun dan mendengar hal itu segera mendekat dan bergabung dalam pembicaraan.
"Gimana ya, Bella tuh kelihatannya girly banget. Kalem tapi nggak pemalu, nggak perakilan juga, udah gitu pinter lagi. Terus proposional gitu menurut aku, kalo disandingin sama aku kayaknya cocok deh, dia nggak terlalu tinggi tapi nggak pendek juga. Pas lah."
Hana dan Inung saling melempar pandang. Sepertinya mereka setuju jika hampir semua laki-laki sama saja, yang pertama kali dilihat dari perempuan adalah fisiknya.
"Halah, bilang aja cantik. Semua cowok sama aja." Hana melayangkan protes terhadap ucapan Aji yang menurutnya sedikit kurang pantas jika dibicarakan langsung di depan perempuan, apalagi di depan seseorang seperti Hana yang tergolong sebagai salah satu gadis yang kurang percaya diri dengan penampilan fisiknya sendiri.
"Tapi menurut aku lebih cantikan Zia, cantiknya beda, nggak ngebosenin." Inung berpendapat.
"Aku nyerah sama Zia, susah banget dapetinnya. Apalagi terhalang restu." Aji melirik kearah Hana.
"Cewek mah gitu."
"Kamu jadi cowok juga gampang nyerah. Kalo dia bilang nggak mau, harusnya kamu kejar terus sampe mau. Nanti juga luluh. Soal restu bisa ngikut." Ucap Inung lagi.
"Udahlah, Nung. Pokoknya aku nggak setuju Zia sama Aji."
Aji sedikit tersinggung mendengar ucapan Hana yang seolah memandang buruk dirinya sehingga tidak pantas bersanding dengan sahabatnya itu.
Hana langsung melihat jelas perubahan raut muka Aji, ia menjadi sedikit merasa bersalah. Bagaimanapun, Aji juga sahabatnya.
"Jangan tersinggung, aku nggak bermaksud ngomong jahat sama kamu."
Melihat suasana yang berubah canggung, Inung memutar otak untuk mencairkan suasana. Karena tidak ada Ruri, ia menjadi sedikit kewalahan mencari solusi. Tidak biasanya situasi menjadi seserius ini. Padahal biasanya mereka akan tetap tertawa meskipun candaan mereka termasuk kasar.
"Aji nggak usah baper."
"Baper apaan. Aku cuma lagi mikir biar cepet bisa ambil hati Bella."
"Tapi kan belum lama ini Bella abis jadian sama kakak kelas, nggak tahu masih pacaran apa enggak." Celetuk Hana.
"Siapa tahu udah putus."
"Aji, kamu yakin?" Tanya Inung.
"Yakin aja lah."
"Maksudnya, kalo secepet itu putus padahal baru aja jadian, berarti ada yang aneh nggak sih? Kamu yakin mau sama cewek kayak gitu?"
__ADS_1
Aji merenung sejenak, dan bangkit kemudian.
"Nggak tahu, ah!"
Aji berjalan mengambil gitarnya, mencari tempat nyaman di meja belakang, lalu mulai sibuk sendiri menyanyikan lagu dengan petikan melodi dari senar gitar.
"Aku rada nggak suka sama Bella. Kayak, dia tuh caper gitu ke anak cowok. Mana centil banget." Inung membuka kembali obrolan bertema gosip dengan sedikit berbisik.
"Aku juga nggak suka." Hana menanggapi Inung tetapi matanya fokus pada buku bacaan yang beberapa saat lalu ia keluarkan dari ransel. Hana sudah mulai jenuh dengan obrolan dengan topik utama seorang Bella.
"Nggak bisa ngebayangin kalo Aji sampe beneran pacaran sama Bella. Eh, tapi Aji juga sama aja, cuma dia versi cowoknya."
"Bedanya Aji nggak suka ngejatuhin temen sendiri."
"Emang Bella gimana?"
"Kamu belum tahu ini, kan, Nung? Bukti kalo dia kelihatan baik dari luar. Padahal aslinya, beuh..."
"Cerita buruan, mumpung anaknya nggak kelihatan." Inung bersemangat.
"Bella kalo udah nggak suka sama orang, dia bisa banget ngejelek-jelekin satu orang itu ke orang lain, mana suka ngarang cerita biar orang-orang percaya. Habis itu dia merasa jadi korban dan kayak yang paling tersakiti, padahal dia sendiri yang berulah."
"Serius? Kamu pasti salah satu korbannya makanya berani bilang kayak gitu?"
Hana mengangguk, "parah pokoknya. Sampe mau gumoh aku kalo dia udah mulai bertingkah. Besok deh aku cerita, sekarang lagi males ngomongin itu orang."
"Yah, Hana. Padahal kamu yang barusan mau cerita."
"Aslinya aku nggak mau bahas si Bella lagi sama siapapun. Tapi gara-gara itu makhluk yang namanya Aji."
"Pantesan kamu agak kelihatan kayak gimana gitu tiap kali kita ngomongin Bella, kirain kamu udah nggak tertarik lagi ngobrol sama kita." Inung tergelak.
"Bisa-bisanya kamu, Nung. Dapet wangsit darimana coba?"
Seseorang kembali membuka pintu, membuat para murid mengira ada guru yang masuk. Rupanya itu Ruri. Ia masuk kelas dengan tergesa dan langsung berjalan menuju mejanya. Ia membolak-balik isi tas, dan berulang kali memeriksa laci mejanya.
"Cari apa, Ri?" Tanya Inung.
"Handphone aku, kamu lihat nggak?" Ruri mencari-cari barang tersebut dengan matanya, dan berhenti ketika mendapati handphonenya berada di tangan Inung.
Ruri merasa lega. Ia pura-pura menahan marah, diambilnya handphone miliknya dari Inung.
"Nggak bilang."
"Kamu nggak tanya. Salah sendiri taruh handphone sembarangan, makanya kalo mau pergi itu di cek handphonenya udah kebawa apa belum. Kamu pergi asal pergi." Jawab Inung.
Hana yang melihat pemandangan harmonis itu hanya mampu tersenyum, sepertinya benar ia cemburu.
"Mau balik lagi?" Tanya Hana.
"Iya. Rapatnya masih belum selesai, ini cuma mau ambil handphone soalnya ada isi pentingnya."
"Bahas apa emangnya?" Tanya Inung kemudian.
"Perekrutan OSIS mulai tahun ini dipercepat, langsung ada seleksi satu bulan kemudian abis MOS selesai."
Hana manggut-manggut tanda paham.
Ruri sempat memberi cubitan kecil pada hidung Hana.
"Aku balik lagi ya."
__ADS_1
Hana memandangi punggung Ruri hingga menghilang di balik pintu.
***