
"Maafin aku hari ini ya? Aku cuma bercanda."
Dari arah belakang tiba-tiba saja Hana dikejutkan oleh Ruri yang berbisik tepat di telinganya. Ia terpaku beberapa saat, dan tersadar ketika Ruri sudah lenyap diantara dua daun pintu. Benar-benar menghilang.
"M ... maksudnya?" Jawab Hana sangat terlambat. Ia menoleh kesana kemari namun yang ia temukan hanyalah sosok Inung di kelas itu.
Inung tersenyum sangat lebar sembari mengangkat sebuah boks besar berbungkus kertas kado berwarna biru, warna kesukaan Hana.
"Kata Ruri, Happy Anniversary yang ke dua tahun, dia bilang maaf buru-buru pergi soalnya ada urusan mendadak. Nih, hadiah dari Ruri, buat kamu."
"Bentar, bentar. Aku nge-blank." Ucap Hana sembari mengangkat kedua tangannya mengawang kearah kepala.
"Ya elah, Han. Buruan terima, aku udah bela-belain bantu Ruri pilih hadiah ini kemarin, padahal kita pulangnya udah sore banget, lho."
"Ini tanggal berapa, by the way." Hana gugup. Segera ia membuka handphone miliknya lalu membuka aplikasi kalender. Dan benar, hari itu adalah hari jadi hubungan mereka berdua. Bagaimana bisa lupa?
"Nah, kan. Tanggal jadian aja sampe lupa, padahal yang biasanya sering lupa itu cowok." Inung sedikit meledek Hana.
"Aku selalu inget tanggalnya, Nung. Cuma, nggak ngira aja kalo tanggal itu sekarang." Hana menepuk jidatnya sendiri. "Padahal belum pikun, tapi ngelihat tanggal aja sampe lupa."
"Kamu tuh, bukannya belum pikun tapi gampang lupa. Lebih tepatnya belum tua tapi udah pikun aja."
Hana mengerjapkan matanya seraya tersenyum kepada Inung, lalu menggerakkan kakinya langkah demi langkah hingga tangannya dapat meraih boks besar seukuran setengah meja di kelasnya. Cukup besar untuk ukuran kado dadakan seperti yang Inung bilang.
Hana mengangkat boks tersebut, lumayan berat, namun tidak seberat yang dibayangkan. Malahan cukup ringan dibandingkan dengan tampilannya yang begitu raksasa. Hana kemudian mengocok boks itu untuk menebak isinya.
"Boneka, ya?" Tanya Hana polos.
"Mau buka sekarang, apa nanti pas udah sampe di asrama? Kalo mau sekarang, aku bantuin buka. Tapi nanti sampahnya buang sendiri."
"Udah repot, makin repot kalo begitu caranya. Udah lah, aku bawa pulang aja dulu. Nanti kalo beneran boneka, aku bakalan susah nentengin isinya. Masih rame juga di luar, nanti orang-orang pada ngelihatin lagi."
"Kenapa, sih? Orang-orang juga udah pada tahu kalo kamu pacaran sama Ruri dari lama. Malahan harusnya kamu bangga, udah dua tahun tapi masih sama orang yang sama. Kalo aku mah, mau aku pamerin kalo dapet hadiah kayak gini."
"Nung, nggak perlu lihat isinya. Aku bawa boks gede kayak gini aja, orang-orang udah pasti pada mikir kalo aku baru dapat kado."
Inung tertawa. "Ya udah, mau aku bantu bawain sampe ke asrama apa gimana? Kalo kamu bawa kotak segini gedenya sendirian aku agak nggak tega. Siapa tahu malah aku yang dimarahin Ruri besok pagi kalo ketahuan nelantarin kamu."
"Caranya gimana? Gotongan berdua?"
"Pake motor aku lah. Males banget aku jalan kaki sampe sana. Lagian aku mau langsung pulang, ngapain bolak-balik."
"Iya juga, ya?"
"Kamu kalo lagi error suka nggak bisa mikir."
Singkat cerita mereka telah sampai di halaman asrama yang tidak sampai hitungan menit dari posisi awal motor Inung.
Hana turun dari motor, kemudian baru mengambil boks miliknya.
Hana bergumam lirih. "Makasih, Nung. Udah bikin kamu repot kemarin. Udah capek-capek ngurusin aku sama Aji, terus pulangnya masih harus nemenin Ruri cuma buat ngasih hadiah ke aku."
__ADS_1
"Halah, basi amat. Ya udah, sama-sama. Aku langsung pulang, nih. Bye, bye!" Tanpa dikomando, Inung langsung melesat melajukan motornya di jalanan yang lengang.
Hana memandangi boks yang tingginya hampir sejajar dengan kepalanya, bahkan terlihat seperti Hana ingin mencium boks tersebut karena wajahnya yang menempel. Ia tidak dapat melihat jalan di depannya, ia berjalan dari lantai dasar menuju kamarnya di lantai tiga hanya dengan menggunakan insting, dan celah kecil di sekitarnya.
Susah payah Hana membawanya, namun akhirnya sampai juga di depan kamar dengan nomor pintu 27 itu.
"Zia! Zia!" Panggil Hana setengah berteriak. "Bukain pintu, dong!"
Tidak ada jawaban dari dalam.
"Novi! Nov! Tolong bukain aku pintu!"
Masih belum ada jawaban.
Hana berusaha mendorong pintu tersebut menggunakan ujung kakinya, namun tidak dapat terbuka. Sepertinya di kunci dari dalam.
Hana menghela nafas. Ia menyerah. Ditaruhnya boks itu, kemudian ia mengetuk pintu keras-keras.
Masih belum juga ada jawaban dari dalam. Hana mulai kesal. Apa yang sedang teman-temannya lakukan di dalam, hingga suara sekeras itu tidak juga membuat mereka muncul.
Hana mencoba memanggil Zia melalui handphone, dan tidak butuh waktu lama, telepon darinya di angkat oleh Zia. Hana meminta Zia untuk segera membukakan pintu, dan segera pintu itu terbuka sangat lebar untuk Hana.
"Kamu ngapain aja, sih? Aku panggil-panggil nggak nyahut. Aku ketok pintu keras banget kamu juga nggak denger? Kok bisa? Padahal kamu di dalem." Gerutu Hana.
Zia meringis, sekaligus sedikit merasa bersalah. "Maaf, Han. Aku baru nyobain earphone baru, suaranya gede banget, suara dari luar jadi nggak kedengeran sama sekali."
"Terus kenapa pintunya di kunci segala?" Tanya Hana kemudian, meminta penjelasan lebih lanjut.
Hana pura-pura kesal dan melayangkan tinjunya.
Zia menangkap suatu benda asing yang ikut masuk dengan Hana. Zia melirik benda tersebut dengan tatapan menyelidik.
"Apaan, tuh?" Mata Zia mendelik kearah benda yang di maksud.
Hana tersenyum centil. "Aku dapet kado, dong, dari ayang."
"Idih." Cibir Zia. "Coba buka. Penasaran boks segede itu isinya apa."
Hana membuka boks di bantu Zia dengan rasa penasaran yang menggebu. Setelah beberapa usaha, akhirnya bagian atas kotak tersebut terbuka. Hana mengambil isi dari kotak tersebut dengan kedua tangan. Zia juga membantu menahan boks agar tidak ikut terangkat.
Dan, taraaa!
Sebuah boneka beruang besar berwarna merah muda menyembul di balik boks. Hana memeluk boneka besar dengan tinggi hampir setara dengan tubuhnya tersebut dengan perasaan girang tak terkira.
"Gila! Boneka segede ini?" Pandang Zia penuh takjub.
Hana melepas pelukan dari boneka tersebut, lalu ikut memandangnya.
"Yah, kok warna pink, sih? Padahal Ruri tahu warna kesukaan aku biru." Ucap Hana sedikit kecewa, namun seper sekian detik kemudian ia memeluk boneka itu kembali. "Nggak apa-apa, deh. Lucu banget."
"Dari Ruri? Wah, Ruri keren banget, sih. Mau dong, pacar yang kayak Ruri."
__ADS_1
Saking senangnya, Hana sampai tidak mendengar ucapan Zia.
"Han, buruan sini aku foto dulu." Zia meraih handphonenya kemudian menyuruh Hana memainkan beberapa pose. Sangat banyak Zia memotret. Tidak masalah, biar Hana yang melihat sendiri mana foto terbaik yang akan dipilihnya.
"Udah, Zi. Capek." Ucap Hana seraya duduk di lantai beralaskan karpet, serta serpihan-serpihan bungkus kado yang masih berserakan.
"Tadi gimana waktu Ruri ngasih hadian ini ke kamu?" Tanya Zia penasaran.
"Bukan Ruri langsung yang ngasih, tapi Inung. Ruri malahan buru-buru pergi. Kata Inung lagi ada urusan mendadak."
"Yah..." Ekspektasi Zia terpatahkan. "Kenapa nggak kasih langsung? Biar buru-buru juga, ngasih kado kayak gini cuma butuh sebentar doang, nggak nyampe berjam-jam. Ah, Ruri nggak asik!"
"Aku nggak nyangka bakal dikasih hadiah kayak gini, soalnya seharian Ruri ngediemin aku gara-gara aku ngerjain dia kemarin. Mana aku lupa kalo hari ini tanggal jadian aku sama Ruri." Hana meringis.
Zia manggut-manggut.
"Tapi tadi waktu Ruri mau pulang, dia sempet ngebisikin sesuatu sama aku."
"Ngebisikin apa?" Simak Zia penuh semangat.
"Dia bilang gini, 'maafin aku hari ini ya? Aku cuma bercanda'. Habis itu lewat aja udah. Langsung pulang tuh, si Rurinya."
"Maksudnya, Ruri ngediemin kamu seharian cuma mau bikin kejutan ke kamu? Tapi sama juga bohong, dong. Ruri nggak ngasih ke kamunya langsung. Kalo ngasih langsung, widih, berasa hidup di dalam serial drama."
"Udah, deh. Jangan bikin aku jadi mikir kemana-mana. Biarin aku seneng dulu perkara dia nggak marah beneran, terus juga biar aku tetep bisa ngehibur diri walaupun warna bonekanya pink lucu kayak gini."
"Iya, deh. Dasar cerewet."
Sesaat kemudian... "Ih, lucu banget!" Teriak Zia.
Saking gemasnya Hana dengan boneka itu, secara tidak sadar tangan Hana sampai meremas dan memukulnya berulang kali.
Zia melihat kembali ke dalam kotak, dan menemukan sebuah amplop biru berukuran sedang.
"Han, ada suratnya!" Zia menyondorkan amplop itu pada Hana.
"Mana coba lihat." Hana menerimanya dengan mata berbinar.
Di bagian luar amplop, tidak terdapat tulisan maupun hiasan disana. Hanya amplop biru pastel bermotif sederhana.
Hana membuka amplop tersebut. Dengan kalimat sederhana, Ruri menuliskan isi hatinya melalui selembar kertas yang terlipat.
'Teruntuk Hanaku tersayang.
Semoga bahagia senantiasa mengelilingimu seperti halnya kasih sayang yang selalu aku kirimkan padamu melalui cara yang indah tanpa kamu sadari. Terimakasih telah sudi membersamaiku selama dua tahun ini, suka dan duka bersamamu telah aku terima, semoga seterusnya.
Oh iya, sengaja aku pilih warna pink, karena aku yakin banyak barang warna biru yang kamu punya, kan? Jangan marah dulu. Aku tahu biru itu warna kesukaan kamu, tapi aku sengaja pilih warna pink ini supaya dia beda sama barang kepunyaanmu yang lain. Paham ya? Sengaja!
Dariku, manusia biasa yang ingin jadi istimewa untukmu.
Ruri Mahendra'
__ADS_1
* * *