
Di halaman yang teduh itu, Hana duduk di bawah rindangnya pohon yang sekelilingnya ditumbuhi bunga-bunga. Sangat teduh hingga membuatnya mengantuk, sayang sekali ia tidak bisa tidur disana.
Hana membolak-balikkan buku yang sudah setengah ia baca, kali ini tentang dunia fantasi.
"Seru kali ya, kalo misal hidup di dalam dunia game?"
"Maksudnya seru gimana? Aku nggak paham, soalnya aku cuma bisa main game ular. Kamu mau jadi ularnya?" Tanya Inung.
"Ih, kalo jadi game ular mah, nggak ada seru-serunya. Yang aku maksud seru itu kalo gamenya petualangan gitu, Nung. Misal aku jadi tokoh di dalam game, nanti aku masuk ke hutan-hutan cari harta karun, terus cari berlian sama koin emas biar bisa naik level, kalo udah naik level nanti aku jadi kaya, kalo udah kaya nanti aku jadi gampang selesaiin sampe garis finish. Makin naik level emang makin susah, tapi kalo aku kaya, kan bisa dinego." Hana tertawa.
"Buku apa lagi yang kamu baca, Han? Tiap kali ganti buku, kamu selalu ganti cita-cita. Terakhir kali kamu pengen jadi kepala suku."
Hana menutup buku ditangannya. Mata Hana memandang kosong kearah lapangan basket, bayangan di kepalanya berseliweran tidak tentu.
"Aku pengen jadi penulis, Nung. Dengan cara itu aku bisa ngewujudin cita-citaku yang sebanyak buih di lautan tanpa perlu bener-bener berusaha buat ngewujudin semuanya. Cukup tulis, selesai. Cita-cita aku terwujud."
"Nah, itu malah bagus. Kan, otak kamu encer kalo suruh nyusun kalimat."
"Aku udah banyak latihan, sih. Laptop aku sekarang isinya bukan cuma lagu, film, sama materi pelajaran doang. Ada juga beberapa cerita sama puisi yang udah aku buat, walaupun belum selesai. Tapi udah lumayan banyak."
"Aku penasaran pengen lihat isinya apa, tapi aku tipikal orang yang males baca, Han."
"Ya udah, nggak usah baca."
"Ceritain!"
"Mana aku inget isinya? Lagian belum selesai juga. Aku juga masih malu kalo ada yang baca cerita aku."
"Kenapa musti malu?"
"Jelek."
"Belum juga dinilai, udah bilang jelek aja."
Hana mengulum senyumnya, yang dibilang Inung ada benarnya, masalah terbesarnya adalah jiwa pesimistisnya yang sangat tinggi, juga labil. Terkadang Hana sangat termotivasi, namun ia lebih sering merasa bahwa dirinya pantas gagal.
Cerahnya langit dan rindangnya pohon membuat Hana tidak ingin melewatkan satu momen pun dalam hidupnya. Ya, seluruhnya. Hana lupa bahwa ada momen menyebalkan yang perlu ia buang.
"Kak Hana!"
Seseorang melambaikan tangan, tergopoh-gopoh seakan Hana akan menghilang sebentar lagi jika ia tidak segera menghampirinya.
"Dia lagi, Han."
__ADS_1
"Pasti mau nanyain Ruri lagi. Nggak habis fikir aku, Nung."
Hana ingin tidak peduli, namun ia terlanjur tertangkap radar seorang gadis bernama Farah sehingga ia tidak bisa menghindar.
"Kak Hana, apa kabar? Kemana aja kok nggak pernah kelihatan?"
"Aku ada kok tiap hari. Mungkin yang kamu cari bukan aku, makanya nggak kelihatan."
"Oh iya, Kak Ruri sekarang dimana? Akhir-akhir ini juga nggak pernah kelihatan, aku kirim pesan di chat juga nggak ada balesan. Kak Ruri kenapa ya?"
"Emangnya ada apa cari Ruri? Sini bilang aja sama aku, nanti aku yang sampein ke dia."
"Aku maunya ngomong langsung, Kak. Ini rahasia aku sama Kak Ruri soalnya."
"Kalo rahasia ngapain kamu ngomong? Kenapa nggak diem-diem aja?"
"Iya juga ya, Kak? Aku suka keceplosan kalo ngomong."
Suasana terasa begitu dingin, Hana sudah terlanjur menganggap Farah sebagai gadis aneh yang selalu mengganggu ketenangannya.
"Aku sama Hana masuk kelas dulu ya? Kamu tunggu di sini dulu, siapa tahu Ruri lewat." Inung berkata demikian hanya untuk membuat Farah tenang agar tidak berusaha mencari Ruri, padahal Inung tahu betul bahwa Ruri sedang berada di dalam kelas.
Mereka mengakhiri obrolan di depan pintu, Inung mendorong punggung Hana perlahan, menggiring Hana untuk segera meninggalkan Farah sendiri.
"Emangnya kenapa?"
"Jawab dulu. Kamu mau keluar kelas, apa mau tetep disini?"
Dengan cepat Ruri memahami situasi, Hana pasti sedang mengetesnya, di luar kelas pasti Farah sedang mencarinya, sehingga Hana dan Inung yang semula berada di luar kemudian masuk ke dalam kelas.
"Dari tadi aku nyaman disini, mau ngapain di luar?"
"Ada 'adek' kamu, tuh di luar."
Ruri menggeleng-gelengkan kepala, ia begitu gemas melihat perilaku Hana yang begitu lucu ketika sedang cemburu.
"Nggak ada kepentingan, ngapain?" Ucap Ruri.
"Biasanya nggak ada kepentingan juga tetep ditemuin, sering berduaan malah."
"Nah, kan? Ini lagi adem, lho. Jangan cari masalah, dong. Kalo enggak, beneran aku samperin, nih."
"Jangan, dong..."
__ADS_1
"Pusing banget jadi aku. Nengok kesana, lihat Aji lagi sama Bella. Nengok kesini, lihat prahara rumah tangga dua manusia bucin ini. Masa iya aku cuma jadi penonton?" Keluh Inung soal ketiga temannya yang sedang sibuk urusan percintaan.
"Makanya, Nung. Kalo punya pacar jangan jauh-jauh."
"Nggak dulu, deh. Cukup kalian aja, aku beda kelas sama doi juga nggak apa-apa. Ini aja udah ribet banget nontonin drama tiap hari, nggak kebayang kalo aku juga harus join kemumetan kalian."
Di situasi lain, terlihat Bella pergi ke luar kelas, bersamaan dengan Aji dengan langkah gontai menuju tempat mereka bertiga. Aji mengacak-acak rambutnya frustasi. Jika ia menyerah sekarang, ia akan kembali kehilangan seseorang yang sangat ingin dimilikinya. Namun jika diteruskan, sepertinya ini bukan hal yang mudah baginya yang mendekati seorang gadis hanya dengan bermodal nekat.
"Kenapa, Ji?"
"Tinggal pacaran aja apa susahnya? Yakin, deh, aku langsung buat dia jadi cewek paling bahagia di dunia. Apapun dia minta pasti bakal aki kasih. Sayangnya dia terlalu berbelit, katanya kalo temenan aja nggak masalah, tapi kalo lebih dari itu dia nggak bisa."
"Mungkin yang dia mau bukan kamu." Jawab Hana.
"Aku akuin, aku emang kalah segalanya dari mantannya yang kemarin. Udah kalah materi, kalah tampang pula. Jelas dia nggak mau sama aku." Aji menekuk wajahnya. "Emangnya aku sejelek itu sampe harus pantes ditolak berkali-kali? Emang aku semiskin itu sampe dia takut kelaperan kalo pacaran sama aku?"
"Hei, yang tenang coba. Mungkin aja dia belum suka sama kamu, bukan berarti nggak suka." Lanjut Hana berusaha agar tidak melukai hati Aji.
"Aku kira kamu udah kemakan omongan aku waktu itu, yang kamu nggak bakal nyerah ngejar Bella kayak pas kamu ngejar Zia."
"Iya, sih." Aji merenungkan perkataan Inung sejenak, "iya, deh. Aku nggak jadi nyerah."
Ruri menepuk-nepuk pundak Aji, memberi dukungan moral sesama lelaki.
Aji mengusap dadanya sembari menarik napas pelan, menghadapi guncangan kecil di hidupnya. "Kalo aku ganteng, tinggi, banyak duit, dengan sikap aku yang semanis ini, Bella pasti udah nerima aku dari awal."
"Mulai lagi, deh."
Hana paling tidak suka ketika melihat seseorang yang memiliki rasa rendah diri mulai mencela keadaan. Karena Hana merasa seolah ia sedang bercermin dan melihat rasa insecure-nya sendiri pada orang tersebut.
"Yang aku nggak suka, dia genit ke anak-anak cowok, kayak centil-centil gimana gitu."
"Terus kenapa masih suka? Kenapa masih ngejar?" Tanya Inung.
"Itu dia. Aku juga nggak tahu, mungkin udah terlanjur cinta." Aji menautkan jari-jemarinya dan meremasnya pelan. "Maksud aku, kenapa dia centil ke cowok-cowok lain, kenapa nggak sama aku? Kadang itu yang buat aku mikir, apa aku sejelek itu?"
"Udah, udah. Kalo kamu ngejelek-jelekin diri sendiri terus, kita bingung nanggepinnya. Mending mikir cara lain biar bikin Bella gampang luluh." Ruri memberikan saran serealis mungkin.
"Masalahnya nggak ada cara lain selain itu, Ri. Sayangnya aku nggak bisa nyalahin orang tuaku kenapa aku harus dilahirin dengan kondisi begini. Walaupun dalam hati selalu ada keinginan buat punya hidup enak dan punya segalanya sejak lahir."
"Itu jelas, Ji. Semua orang juga punya keinginan yang sama kayak kamu, termasuk aku. Tapi sebagian dari kita nggak bisa dapetin semua itu, termasuk aku, Hana, Inung. Gimana kita mensyukurinya aja." Ruri memijat-mijat pundak Aji, "ngomong-ngomong, kamu nggak jelek-jelek amat, kok."
Aji bersiap melayangkan tinjunya kearah Ruri, Ruri pun dengan keadaan siaga hendak menangkis serangan maya dari Aji. Mereka hanya bercanda.
__ADS_1
* * *