
"Kak Ruri, aku mau ngomong sesuatu sama Kakak." Ucap Farah memecah keheningan.
Ruri acuh. Ia sibuk menyiapkan keperluan yang akan ia bawa.
Sejak beberapa saat lalu, atmosfer ruang OSIS yang hanya berisi mereka berdua tersebut membuat Ruri merasa tidak nyaman. Dalam hati ia terus merutuki diri, mengapa harus dirinya yang mengambil kardus berisi air minum di ruangan tersebut, terlebih Farah berada disana entah bagaimana caranya.
Ruri berdeham, mencoba melegakan tenggorokannya. Ia merasa sangat was-was mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Farah barusan.
"Kak Ruri, aku tahu Kak Ruri pura-pura nggak denger, dan mungkin nggak bakal mau ngomong sama aku." Farah berjalan kearah pintu, lalu ia mengunci pintu ruangan itu dari dalam. "Jadi aku terpaksa ngelakuin ini."
Ruri mendelik, seketika ia berlari menghampiri pintu dengan kunci yang masih tergantung di tempatnya. Diotak-atik olehnya lubang kunci tersebut, namun pintu tersebut tidak kunjung terbuka.
"Kak Ruri tahu sendiri kan, gimana jadinya kalo pintu itu dikunci dari dalem?" Ucap Farah seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Ruri berteriak kesal, ia mengepalkan tangan dan dipukul-pukulkannya berulang kali pada pintu di depannya.
Sepanjang ia berada di OSIS, ia paham betul jika pintu ruangan itu telah lama rusak namun tidak kunjung diperbaiki. Menyebabkan pintu tersebut macet apabila dikunci dari dalam, dan tidak akan terbuka jika tidak didobrak dari luar.
Masalahnya kini suasana sekolah sedang sepi, hampir seluruh penghuni sekolah sedang berada di luar untuk mengikuti kegiatan jalan santai. Berteriak pun tidak akan begitu terdengar dari luar, karena jendela di ruangan tersebut merupakan jendela mati yang tidak bisa dibuka-tutup.
Dan apabila Ruri berusaha membuat kegaduhan agar orang lain mendengar, tentu saja tidak akan begitu dipedulikan karena di sekitaran ruang OSIS sering ramai para siswa membuat kebisingan.
Lebih sialnya lagi, ia lupa meminta kembali handphonenya yang sempat digunakan Edo untuk keperluan informasi.
"Ngapain kamu ngelakuin hal kayak gini? Kamu nggak lihat aku lagi buru-buru, dan harus cepet-cepet balik lagi ke acara?" Ruri mengungkapkan kekesalannya pada Farah.
"Kalo aku nggak ngelakuin ini, Kak Ruri bakalan terus ngehindar dari aku, aku nggak akan pernah bisa ngomong sama Kak Ruri."
"Tapi nggak gini juga caranya. Acaranya masih belum selesai, aku masih harus nganterin ini semua." Ruri menunjuk dua buah kardus yang telah ia tata rapi. Satu kardus berisi air mineral gelas, dan kardus satu lagi berisi berbagai macam perlengkapan. "Orang-orang bakal mikir kalo aku lari dari tanggung jawab!"
"Bukannya Kak Ruri emang suka lari dari tanggung jawab? Buktinya Kak Ruri udah bikin aku baper, tapi Kakak selalu ngehindar dan nggak mau tanggung jawab soal perasaan aku!"
"Perasaan itu cuma kamu sendiri yang berhak ngatur. Kenapa kamu nyalahin aku?" Urat lehernya seperti menunjukkan bahwa rasa kesal pada diri Ruri sudah sampai pada puncaknya. Wajahnya pun ikut berubah menjadi merah padam.
"Jelas salah! Kalo Kak Ruri nggak suka sama aku, kenapa Kak Ruri bersikap sebaik itu sama aku?" Ucap Farah dengan tangan yang sesekali menggebrak meja, mencoba menguasai situasi.
Ruri kembali berteriak kesal, ditendangnya kursi terdekat sehingga menambah ketegangan diantara keduanya. "Mau kamu apa, sih?"
Dengan lantang Farah berbicara tanpa sedikit pun keraguan, ia berdiri tegak dengan tatapan tak tergoyahkan. "Aku pengen hubungan kita kembali baik seperti semula, aku nggak mau ada Kak Hana diantara kita berdua!"
"Serendah itu harga diri kamu, sampe kamu harus ngejar cowok sampe sebegininya? Apalagi kamu tahu kalo Hana itu pacar aku."
Farah dengan sangat marah meraih benda apapun yang berada di dekatnya, lalu melemparkannya kearah Ruri. Ia nampak seperti seseorang yang kehilangan akal.
* * *
"Si Ruri kemana, sih? Lama banget." Keluh Zia sembari menengok jam tangannya berulang kali sambil mondar-mandir. "Kalo dia ngebut harusnya dia udah balik sekarang, perlengkapannya udah aku siapin semua, tinggal bawa doang."
__ADS_1
"Aku susulin aja gimana?" Usul Edo selaku salah satu penyumbang masalah.
"Kalo kamu nyusulin Ruri, nanti malah makin muter-muter. Orang si Ruri juga nyusulin anak lain." Zia memukul punggung Edo. "Kamu, sih! Segala handphone ketinggalan di rumah! Kalo handphone Ruri ada di kamu, gimana coba cari orangnya?"
"Seenggaknya aku bisa pastiin, Ruri masih di sana atau nyasar di tempat lain."
"Udah nggak keburu. Pesertanya udah hampir sampe pos ini, dan disini cuma kita berdua. Kalo kamu juga pergi, aku nggak bisa tanganin sendiri."
"Mereka nunggu kita sebentar itu nggak masalah, Zi. Daripada acaranya kacau? Lagian ini pos terakhir sebelum sampe ke sekolah balik, kalaupun mendadak ditiadakan juga nggak apa-apa, nanti bisa diganti tempatnya, sekalian di sekolahan misalnya."
"Jadi gimana? Kamu mau nyusulin Ruri, apa mau kosongin pos terakhir?"
"Aku coba susulin Ruri dulu ke sekolahan. Nanti aku balik kesininya lewatin rute, siapa tahu ketemu di jalan." Edo bersiap pergi dengan motornya. "Nggak akan lama."
Zia mengangguk pada keputusan Edo, yang sebenarnya Zia sendiri tidak yakin dengan hal tersebut.
Lima menit lamanya Edo menghilang, satu persatu peserta jalan santai mulai berdatangan, mencari tempat duduk yang nyaman untuk sementara.
Zia mulai gelisah. Namun karena itu merupakan pos terakhir, beberapa anggota OSIS juga sudah banyak yang selesai dengan tugasnya, segera Zia menceritakan segala kekacauan yang ada, dan Zia pun dibantu dalam menangani hal tersebut.
Karena cuaca semakin panas, dan tidak ada tanda-tanda bahwa Ruri maupun Edo akan segera datang, mereka pun sibuk mengganti agenda di pos terakhir.
Di tengah permainan, Inung menghampiri Zia, mengabarkan jika Hana memerlukan bantuan.
"Kenapa, Han? Katanya kamu sakit perut?" Tanya Zia setelah menghampiri Hana yang sedang duduk berselonjor kaki.
"Iya, Hana sakit perut, kasihan banget." Sergah Inung sebelum Hana menyelesaikan ucapannya. "Ayo, buruan anterin ke UKS pake motor, Hana udah nggak kuat jalan."
Zia dapat dengan segera memperoleh sokongan motor dari teman OSIS lain. Dengan segera Zia, Hana, serta Inung melesat pergi dengan sepeda motor berbonceng tiga.
"Sebenernya perut aku udah nggak apa-apa. Tapi lumayan, deh. Kebetulan kaki aku kayak udah mau copot." Ucap Hana yang berada di jok tengah.
"Aku tahu, kok. Aku juga udah pusing barusan, makanya aku kabur." Zia terkekeh. Di setirnya motor tersebut dengan kecepatan normal.
"Dah, lah. Kalian emang cocok." Tambah Inung.
"Kamu juga sama aja, padahal aku nggak pingsan, tapi kamu sok-sokan jagain aku di belakang."
Mereka bertiga tertawa.
Inung menepuk pundak Hana. "Heh, kamu jangan ketawa-ketawa. Kalo ada yang lihat, nanti dikiranya kamu sakit bohongan."
"Oh, iya." Hana mengatupkan bibirnya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka bertiga sampai di sekolah. Zia mengendarai motornya sampai halaman bagian dalam sekolah, dan berhenti di tempat yang tidak dapat dijangkau lagi dengan motor.
Di ujung koridor Zia memarkirkan motornya. Tidak jauh dari sana, terlihat motor Ruri juga terparkir disana. Mendadak Zia ingin menghabisi Ruri saat itu juga.
__ADS_1
"Rese banget si Ruri."
"Kenapa, Zi?" Tanya Hana pada Zia yang sudah bersiap menyibakkan kedua lengan bajunya dengan wajah kesal.
"Harusnya pos terakhir barusan aku jaga bareng tiga anak lain, eh mereka bertiga malah ngilang semua. Terutama si Ruri tuh, yang bikin aku kesel." Sungut Zia.
"Anterin Hana dulu, baru deh nanti kalo kamu mau ribut sama Ruri." Usul Inung.
"Langsung ke kelas aja, deh. Aku males di UKS, deket ruang OSIS soalnya." Keluh Hana.
"Tanggung, Zia nganterinnya disini. Udah, nggak apa-apa, sekalian aku juga mau ikutan ngadem. Daripada di kelas, gerah banget pasti."
Dengan penuh keengganan, Hana menuruti permintaan Inung.
Dari ujung koridor tempat mereka bertiga turun dari motor, mereka harus melewati beberapa ruangan untuk sampai ke UKS. Dari jauh terdengar keributan yang entah apa, kemudian semakin jelas ketika mereka mendekat. Bahkan sempat terlihat beberapa orang mendorong paksa sesuatu sehingga menciptakan suara yang sangat keras. Karena UKS berada persis di sebelah ruang OSIS, mereka bertiga yang penasaran pun menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Zia pada Edo yang berdiri terengah-engah di ambang pintu yang terbuka lebar karena rusak. Pelipisnya dibanjiri bulir keringat yang masih menetes.
"Kak Ruri, Pak." Teriak seorang perempuan dari dalam ruangan yang diikuti suara isakan. "Dia mau jahatin saya."
"Nggak, Pak. Saya berani sumpah. Saya nggak ngelakuin apa-apa." Suara keras dari seorang Ruri juga terdengar dengan jelas.
Inung yang mengenal suara tersebut segera menggamit lengan Hana pelan.
"Lihat, Pak. Saya udah berantakan kayak gini, wajah sama badan saya banyak yang memar, tapi Kak Ruri masih bilang nggak ngapa-ngapain saya!"
Tangisan perempuan yang Hana yakini sebagai Farah itu kini terdengar seperti lolongan, membuat perasaan Hana campur aduk. Ia menundukkan kepalanya tanpa berkedip, membendung bulir bening dari matanya agar tidak terjatuh.
"Bohong, Pak! Saya sama sekali nggak nyentuh dia. Malahan dia yang lempar benda-benda keras kearah saya, dia juga mukulin wajahnya sendiri. Bukan saya!"
"Pak, percaya sama saya. Mana ada orang yang mukulin dirinya sendiri sampe memar banyak kayak gini? Lihat aja tangan Kak Ruri, pasti memar juga disana." Pinta Farah, tidak lupa dengan tangisannya.
Seseorang memeriksa kedua tangan Ruri, dan benar ada bekas benturan berulang. Walaupun Ruri mengaku bahwa itu karena sebab lain, namun tidak ada bukti kuat untuk beliau tidak mencurigai Ruri.
"Sungguhan, Pak." Ucap Ruri putus asa. "Luka di tangan saya ini akibat mukulin pintu, soalnya saya kesal pintunya dikunci dari dalam sama dia. Sementara saya sedang buru-buru, saya udah ditungguin sama rekan-rekan yang lain."
Mendengar hal tersebut, Zia merasa terpanggil sebagai rekan yang Ruri sebut. Ia sekali lagi menoleh pada Edo. Namun mereka berdua juga masih bingung sehingga tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Saya ini cewek, Pak. Mana mungkin saya sengaja ngunci diri saya dalam satu ruangan bersama seorang cowok, padahal semua orang juga tahu kalo pintu ini nggak bisa dibuka kalo udah dikunci dari dalam. Coba bapak pikir lagi, apa ini masuk akal?"
"Kamu nggak usah ngarang cerita buat fitnah aku, Farah! Kamu bener-bener keterlaluan!"
Semua orang disana nampak gamang. Pernyataan dari kedua belah pihak terdengar sangat meyakinkan. Membuat mereka bingung menentukan pihak mana yang benar dan mana yang salah.
"Kak Ruri maksa mau nyentuh saya, tapi saya nggak mau. Akhirnya Kak Ruri pukulin saya Pak."
Tangisan Farah terdengar sangat kencang, meruntuhkan kepingan hati Hana sedikit demi sedikit.
__ADS_1
* * *