SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Si Bebal Tebal


__ADS_3

"Kak Hana!"


Hana tegang. Entah bagaimana, ia menjadi sangat sensitif dengan panggilan itu. Hanya dengan sekali sebut sudah mampu menyengat jantung Hana. Membuat Hana merasa cemas, kesal, marah, dan gugup secara bersamaan. Ia meyakinkan diri untuk pura-pura tidak mendengar suara di belakangnya dengan alasan ramai orang berlalu lalang.


"Ada yang manggil kamu, tuh." Ujar Inung.


"Udah, diem aja. Pura-pura nggak denger."


"Kak Hana, Kak Hana!"


Panggilan yang bersumber dari belakang Hana itu berpindah, kini berjalan mengiringi Hana.


"Eh, Farah."


"Kak Hana, dari tadi aku panggil-panggil, lho. Kak Hana nggak denger?"


"Maaf aku nggak denger soalnya lagi ngobrol sama dia." Hana menunjuk Inung yang berada tepat di sampingnya.


"Oh, iya deh. Pantesan aku panggil nggak noleh ... By the way, Kak Ruri nggak masuk? Tumben nggak kelihatan?"


'Sudah kuduga, pasti nyariin Ruri. Dasar uler keket! Gatelnya minta ampun. Berani-beraninya nanyain Ruri di depan ceweknya langsung. Bener-bener nggak tahu malu.'


"Nggak tahu, Farah. Kalo lagi nggak kelihatan, mungkin aja Ruri lagi sibuk. Jadi nggak usah di cariin ya?"


Raut kecewa tergambar jelas dari wajah Farah. Namun Hana tidak peduli, ia terus saja berjalan menuju kantin dengan langkah cepat, berusaha meninggalkan Farah.


"Kak Hana, tunggu aku, aku mau ke kantin bareng!"


Hana tidak menghiraukan meskipun Farah terus mengikutinya sampai meja makan kantin.


"Kak Hana, aku ikut duduk disini ya? Nggak apa-apa, kan?" Tanpa aba-aba Farah duduk sejajar dengan Hana.


"Emang temen kamu kemana?" Tanya Inung pada Farah. Seperti halnya Hana, nampaknya ia juga sudah mulai risih dengan kehadiran Farah disitu.


"Aku nggak terlalu akrab sama temen sekelas, Kak. Mungkin karena aku ikut organisasi, jadi jarang di kelas. Oh iya, nama Kakak pasti Kak Inung ya? Aku tahu dari Kak Ruri, katanya kalo di kelas kalian suka bareng, sama Kak Aji juga."


"Bukan, aku bukan Inung, namaku Dewi." Jawab Inung ketus. Sepertinya ia tahu mengapa Hana tidak menyukai gadis itu.


"Maaf, Kak Dewi. Aku kira Kak Inung."


Hana yang mendengar hal tersebut sebisa mungkin menahan tawa agar Farah tidak melanjutkan obrolannya lebih jauh, dan juga tidak ada yang namanya Dewi di kelasnya.


"Kamu kenal Aji dari mana?" Inung bertanya lagi.


"Kak Aji sering pulang sore ikut kelas musik, terus suka ikut gabung kalo aku sama Kak Ruri lagi ngobrol, kadang juga sambil curhat juga."


"Kayaknya kamu gampang akrab sama orang lain, masa kamu nggak akrab sama temen satu kelasmu sendiri?"


"Gimana ya, ngomongnya. Pokoknya aku nggak cocok aja kalo sama mereka." Farah melihat kearah Hana yang sibuk memainkan handphonenya, "Kak Hana dari tadi kok diem terus? Aku terlalu cerewet ya?"

__ADS_1


Inung memahami situasi tersebut, ia memutar otak mencari solusi agar Farah tidak terus-terusan berbicara.


"Dia anaknya emang nggak banyak ngomong, percuma kamu susah payah cari topik pembicaraan, dia nggak bakalan nyahut kalo bukan dia sendiri yang pengen."


"Kalo gitu aku ngobrol sama Kak Dewi aja, kayaknya Kak Dewi suka ngobrol, sama kayak aku."


"Enggak juga, sih. Daripada kamu ngomong sendiri nggak ada yang nyahutin, kasihan, kan?"


"Ah, Kak Dewi bisa aja bercandanya."


Sejujurnya Hana merasa kasihan namun rasa kesalnya pada Farah lebih besar. Hana tidak mengira kalau ia bisa sebenci dan secemburu itu pada seseorang. Mungkin benar kata orang, cinta bisa mematahkan logika.


"Itu Kak Ruri!" Begitu bersemangat Farah ketika rasa penasarannya terjawab dengan munculnya Ruri beberapa waktu kemudian, hingga memanggilnya berulang kali. "Kak Ruri, sini!"


Inung keheranan dengan tingkah laku Farah, kok bisa ada adik kelas seberani itu pada seniornya? Bahkan Inung saja tidak akan bertindak sefrontal itu.


Hana mendesah pelan. Sebenarnya ia ingin jujur mengenai keresahannya pada Farah, gadis itu telah melampaui batas sebagai seorang kenalan, hana merasa seharusnya Farah sadar tentang hubungan Hana dan Ruri. Namun sepertinya sindiran Hana waktu itu tidak cukup untuk menyingkap kenaifan Farah.


"Kak Hana, Kak Ruri nggak mau kesini, coba Kak Hana yang panggil, pasti Kak Ruri mau."


"Biarin aja kenapa? Aku yang jadi pacarnya aja santai."


"Iya, nggak perlu pake teriak juga, malu-maluin tahu!" Sahut Inung.


Farah tertawa, "maaf ya, Kak. Aku orangnya emang suka malu-maluin. Siap-siap aja kalo berteman sama aku. Ya udah, aku samperin aja kali ya?"


"Siapa juga yang mau temenan sama cewek sok asik kayak dia? Please, deh. Kayaknya ada yang konslet sama jiwanya. Lihat tuh, Han. Dia gatel banget sama Ruri!" Celetuk Inung setelah Farah beranjak dari tempat duduk di depannya.


Hana melihat kearah Ruri, sengaja tidak menunjukkan reaksi apapun pada orang-orang di seberang sana, ia ingin melihat respon Ruri, apa benar Ruri akan menepati janjinya kali ini.


Setelah berapa lama merasa terganggu dengan kehadiran Farah, juga khawatir Hana akan murka lagi terhadapnya, Ruri pun berpaling kearah Hana, mengabaikan Farah yang tengah asyik mengajaknya bercanda.


Sementara Farah dengan muka tebalnya berjalan mengikuti Ruri.


Ruri duduk menyamping, menghadapkan wajahnya pada posisi Hana duduk, mencolek hidung Hana.


"Bener, kan, Kak? Kak Ruri nunggu disamperin baru mau kesini." Kata Farah.


"Kenapa kesini? Sana gabung aja sama anak cowok, Aji juga disana." Tanya Hana pada Ruri, mengabaikan perkataan Farah.


"Aku mau disini."


"Kalo kamu keseringan main sama pacar kamu, nanti kamu nggak punya temen di kelas." Ucap Hana sarkas.


Inung yang sedang menyedot minumannya hampir saja tersedak mendengar sindiran Hana. Inung hanya menonton, ia tidak berani jika Hana sudah angkat bicara.


"Nggak apa-apa lho, Kak Hana. Justru yang dilakuin kak Ruri itu romantis, soalnya perhatian sama ceweknya."


Hana memandang Farah dengan tatapan tidak suka, gadis itu terlalu banyak ikut campur urusannya.

__ADS_1


"Romantis, kalo nggak ada kamu sekarang."


"Loh, Kak Hana kok gitu? Padahal aku niatnya baik, lho."


"Gini ya, Farah. Terserah kamu mau beralasan friendly, kamu berteman akrab sama siapa aja, itu semua bukan urusan aku. Tapi sayangnya kamu nggak tahu batasan, kamu nggak paham harus bertindak sejauh mana, kamu cuma ngelakuin apa yang pengen kamu lakuin. Kamu sekalipun nggak pernah mikir kalo tidakan kamu bakal ganggu orang-orang disekitar kamu?"


"Selama ini aku nggak pernah denger ucapan orang-orang kalo mereka keganggu, kok."


Hana mengusap keningnya yang mulai panas, entah Farah benar lugu atau hanya pura-pura polos.


"Mereka nggak bakalan ngomong, tapi mereka langsung ngejauhin kamu. Kamu nggak sadar?"


"Aku cuma pengen jadi diri sendiri. Toh, aku nggak ngerugiin mereka."


Hana memandang Farah dengan enggan, tidak ada gunanya menjelaskan sesuatu pada seseorang yang tidak ingin mendengar ucapannya, dengan kata lain, sulit sekali jika harus beradu argumen dengan orang bebal.


"Hana, udah. Ayo, balik ke kelas aja." Ruri menggamit pergelangan tangan Hana, menjauhkan Hana dari situasi itu.


Inung masih tetap tinggal dan menghabiskan minumannya.


"Kak Dewi, apa aku salah ya?"


Inung berdiri, "aku nggak tahu. Semoga kamu ngerti yang dibilang sama Hana. Maaf ya, aku juga mau balik ke kelas."


* * *


"Kayaknya tadi kamu terlalu keras sama Farah." Ucap Ruri Ragu.


"Kamu masih mau belain dia? Harusnya tadi kamu belain langsung depan dia! Kenapa baru ngomong sekarang?" Cetus Hana kesal.


"Eh, bukan gitu. Takutnya dia tersinggung."


"Kalo dia tersinggung, kamu mau aku minta maaf sama dia? Atau kamu sendiri yang mau minta maaf?"


Ruri menggeleng.


"Ini masih mending soalnya aku masih mau nahan diri, coba kalo aku sama dia sama-sama nggak punya malu. Lagian dia nggak bakal paham sama yang aku omongin, coba lihat aja besok, pasti dia masih nyariin kamu lagi."


"Ruri, Ruri. Adek-adekan kamu bikin resah. Makanya kalo temenan itu pilih-pilih, jangan terlalu baik sama orang, kadang ada orang yang kalo sekali di baikin malah ngelunjak, si Farah ini contohnya."


"Aku udah sering bilang kayak gitu sama Ruri, Nung. Tapi ya gitu."


"Hana, jangan gitu dong. Ini pelan-pelan aku udah mau berubah, kok." Ucap Ruri dengan manjanya.


"Awas aja kalo masih mau nanggepin dia lagi!"


"Dengerin, tuh, Ri! Hana sampe ogah-ogahan nyebut nama Farah gara-gara saking sebelnya."


* * *

__ADS_1


__ADS_2