
Hari-hari sibuk perlahan menunjukkan jedanya, semester pertama telah habis. Hanya menunggu jeda tersebut, lalu Hana akan melewati beberapa proses sibuk kembali. Beberapa rangkaian ujian.
Class meeting. Begitulah cara mereka menyebutnya.
"Hana, kamu dipanggil Bu Yuni, katanya suruh ke ruangannya sekarang." Panggil Bella singkat.
Hana menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan informasi yang ia terima adalah benar. Ia pikir hari itu tidak ada mata pelajaran, terlebih lagi yang diampu oleh Bu Yuni.
"Aku?" Hana ragu, ia ingin meminta ditemani oleh Inung, tetapi Inung tidak terlihat sama sekali, begitu juga dengan kealfaan Ruri serta Aji di ruangan tersebut.
"Iya."
Hana kembali mengedarkan pandangannya, siapa tahu ada yang keliru, pikir Hana.
Namun sayang, tidak ada kekeliruan apapun dari informasi yang baru saja Bella sampaikan. Dengan malas Hana segera menemui Bu Yuni.
Hana berjalan menyusuri koridor. Sepanjang perjalanan tidak ia temui satu kelas pun yang sibuk dengan kegiatan belajar, tentu saja. Lanjut ia tapaki langkah demi langkah hingga sampai ke ruangan guru.
Hana mengetuk pintu yang tidak tertutup, kemudian masuk ke dalam, mencari seseorang yang katanya ingin ia temui.
"Permisi, Pak. Bu Yuni ada? Katanya saya di suruh menemui Bu Yuni, tapi beliau tidak ada di mejanya." Tanya Hana pada seorang guru laki-laki yang sedang sibuk mengutak-atik layar komputer di mejanya.
"Bu Yuni sepertinya baru saja keluar, tapi tidak titip pesan apa-apa ke guru lain, tasnya juga masih ada. Coba cari di ruangan OSIS, siapa tahu beliau disana." Saran guru tersebut.
Bu Yuni merupakan pembina OSIS kala itu, masuk akal jika guru tersebut menyarankan Hana untuk mencari beliau di ruang OSIS.
Tanpa pikir panjang Hana mengucapkan terimakasih pada guru tersebut, kemudian bergegas merubah haluan menuju tempat yang dimaksud.
"Permisi, Bu Yuni di sini, nggak?" Tanya Hana pada salah seorang anggota OSIS yang sedang berada di luar ruangan.
"Ada, Kak. Bu Yuni lagi di dalam, Masuk aja."
"Oke, deh. Makasih."
Hana kembali melakukan ritual yang sama saat hendak memasuki sebuah ruangan, mengetuk pintu dan memberi salam.
Seseorang dari dalam menyerukan Hana untuk masuk, Hana masuk dengan perasaan asing, karena di dalam ruangan tersebut hanya terdapat beberapa orang yang sepertinya sedang berbincang serius.
__ADS_1
"Ini beneran saya disuruh kemari, Bu? Sepertinya di sini sedang rapat?" Ucap Hana dengan tangan yang belum terlepas dari gagang pintu.
"Enggak kok, Han. Sini duduk dulu, kita ngobrol santai." Ajak Bu Yuni pada Hana.
Hana merasa seperti ada yang aneh, dia bukan anggota OSIS, namun diajak berdiskusi oleh pembinanya langsung. Lebih aneh lagi karena hanya terdapat enam orang disana, termasuk Hana.
Hana duduk di bangku dekat dengan pintu masuk. Di sekelilingnya terdapat Bu Yuni, ketua OSIS, seorang anggota OSIS lama yang kini seangkatan dengannya, dan dua orang siswi anggota OSIS baru yang salah satunya adalah Farah.
Ada apa dengan suasana ini? Batin Hana.
"Kamu pasti bingung saya undang ke sini, jadi saya minta maaf karena sudah menyita waktu kamu, di sini saya cuma mau meluruskan sesuatu, sebentar saja. Tidak akan lama, kok." Ucap Bu Yuni.
"Ada apa ya, Bu?"
"Jadi begini, Han. Saya tahu hubungan kamu sama Ruri sudah sedekat apa, satu sekolah juga tahu itu, dan saya juga maklum kalau anak seusia kamu ini lagi menggebu-gebu soal cinta. Tapi kamu harus paham, Ruri itu anak organisasi, jadi dunianya bukan cuma kamu saja." Tegur Bu Yuni tanpa banyak basa-basi.
"Maksud Bu Yuni gimana, ya? Kok tiba-tiba ngebahas urusan pribadi saya?" Ekspresi wajah Hana berubah mendengar penjelasan Bu Yuni yang secara mendadak membuatnya merasa terpojokkan.
"Aslinya saya juga nggak mau ikut campur percintaan orang, Han. Tapi anak-anak OSIS keberatan. Mereka bilang, sekarang Ruri jadi susah berkontribusi buat OSIS, yang mungkin ada hubungannya sama kamu. Atau ada sesuatu yang kamu bilangin ke Ruri mungkin?" Bu Yuni mengendikkan bahunya, seolah bersikap netral, namun sangat mendiskriminasi menurut pandangan Hana.
Hana baru tersadar, Bu Yuni termasuk salah seorang guru yang sudah termakan omongan Bella, bisa dibilang mereka menjadi sangat dekat karena matematika. Pasti lah Bu Yuni memandang Hana dengan sangat sepele.
"Saya nggak tahu maksud Bu Yuni bicara seperti ini, tapi apa sepenting itu, Bu? Sampai harus disaksikan orang-orang di sini?"
"Jangan dulu emosi, Hana. Saya disini sebagai mediator saja. Ada baiknya kita cari solusi bersama."
"Selama saya pacaran sama Ruri, sekalipun saya nggak pernah ngelarang Ruri ini-itu, apalagi soal organisasi. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Edo." Hana menunjuk seorang anggota OSIS yang merupakan teman Ruri, yang merupakan satu angkatan dengannya.
Edo mengangguk. Ia bersedekap, gelagatnya seperti sedang berusaha untuk tidak memihak siapapun.
"Bahkan saking saya ngebebasinnya, sampai-sampai ada cewek yang berani deketin Ruri, terus berlanjut sampe saya diaduin ke ruangan ini."
"Kak Hana nuduh aku?"
Hana melirik tajam ke arah si penanya. "Aku nggak nuduh kamu, nyebut nama juga enggak. Kenapa kamu tiba-tiba ngaku, Farah?"
Semua orang terdiam. Siswi yang duduk tepat di samping Farah menahan tangan Farah erat.
__ADS_1
"Lihat kan, Bu? Sumber masalahnya udah ketemu. Meskipun saya nggak sibuk, tapi saya males terlibat dalam kondisi nggak penting ini." Hana berdiri dari duduknya.
"Loh? Katanya Kak Hana nggak nuduh aku? Tapi kok langsung mutusin kalo aku sumber masalahnya?"
"Terus siapa? Selama ini nggak ada yang permasalahin hal remeh kayak gini. Kalaupun mereka terganggu, pasti mereka udah bilang sejak lama, minimal mereka ngadu ke Ruri habis itu Ruri yang ngomong langsung ke aku. Tapi nyatanya? Baru kali ini aku sampe dipanggil sama orang-orang penting di sini."
"Hana, saya mohon duduk dulu sebentar. Masalahnya belum selesai. Saya harap, kita keluar ruangan tanpa ada sedikitpun beban tertinggal. Tolong hargai."
"Yang Ibu harapkan apa? Ruri aja nggak ada di sini, kok. Kalau mau selesai, ya harus melibatkan berbagai pihak, nggak bisa kayak gini aja. Ini namanya mojokin saya."
"Hana, jaga bicaramu! Bagaimanapun saya ini guru yang harus kamu hormati, meskipun kamu nggak suka."
Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang membuat Hana kesal. Sepertinya Tuhan sedang tidak ingin membuatnya bersantai barang satu detik.
"Apa keluhan kalian? Ungkapin, mumpung Hana disini." Perintah Bu Yuni.
"Pertama, Kak Ruri jadi jarang banget ikut kegiatan organisasi, dan pas ditanya alasannya, Kak Ruri nggak ngejelasin apapun selain gara-gara alasan pribadi. Kemarin sore Kak Ruri juga nggak ikut kumpul, bilangnya alasan pribadi juga." Jelas Farah.
"Nggak penting banget." Ucap Hana ketus.
"Han, kamu selalu begini, ya? Tolong hargai yang bicara, jangan nyepelein seperti itu, orang-orang berhak berpendapat." Kata Bu Yuni.
Hana mengempas nafas kasar. Ia merasa sikapnya tidak salah, ia hanya keliru memilih kata saja.
"Aku mau tanya, emangnya OSIS sepenting itu, ya? Sampe-sampe bentar lagi udah mau ujian, mau lulus, masih aja dibebanin tugas? Emangnya nggak ada orang lain? Apa kalian kekurangan anggota? Peraturan sekolah juga nggak ngewajibin anak kelas dua belas ikut kegiatan selain yang bersifat akademik, OSIS sekalipun." Hana naik pitam. "Terus menurut kamu, alasan pribadi itu musti pacar? Kalo misal yang Ruri maksud itu keluarganya gimana?"
"Menurut kamu gimana?" Tanya Bu Yuni pada sang ketua OSIS.
"Aku setuju sama yang dibilang Kak Hana, terus kalau Kak Hana tanya, emangnya OSIS sepenting itu? Jawabannya, iya, penting, banget malahan. Tapi OSIS nggak pernah memaksakan anggotanya, terlebih Kak Ruri udah purna tugas, sama kayak Kak Edo. Mereka bertugas kalo emang sempat aja, dan itu juga kalo mau. Yang wajib itu cuma kita, anggota OSIS yang masih kelas sepuluh dan sebelas." Jawab ketua OSIS bijak.
"Tapi, Kak. Kalau hubungan kita jadi nggak baik dan sedekat dulu gara-gara faktor eksternal OSIS, bukannya itu juga bisa jadi masalah?"
"Kalo yang kamu maksud faktor eksternal itu yang kayak gini, aku nggak mau ikut campur, deh." Edo angkat bicara.
"Farah, bukannya aku sok senior, tapi kamu itu cuma anak baru. Apa hak kamu buat menjustifikasi orang lain, apalagi kakak kelas? Seseorang jadi kelihatan berbeda itu bukan cuma gara-gara orang itu berubah, bisa aja karena kamu belum tahu aslinya. Jadi stop, deh. Hidup di bumi seolah kamu itu porosnya!"
Dalam hati Hana bergetar, mulutnya bergerak begitu saja, mengeluarkan kata-kata yang entah dari mana asalnya. Sejenak Hana berfikir jika kalimat itu juga berlaku untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
* * *