
Semilir angin memainkan anak rambut Hana. Sejuk. Hana dan adiknya belum juga beranjak dari ujung taman.
"Han, gue sama pacar lo gantengan mana? Gue apa dia?"
Pertanyaan tak berdasar yang terlontar dari mulut Indra membuat Hana tersedak ludahnya sendiri. Hana tidak mengira kalimat seperti itu dapat ia dengar secara langsung.
"Kenapa tiba-tiba tanya kayak gitu? Lo lagi naksir siapa?"
"Tinggal jawab aja dulu. Heran gue sama lo, tiap kata yang keluar dari mulut gue selalu lo tanya alesannya kenapa."
"Aneh aja, Ndra. Kayak, gue nggak rela kalo lo dewasa secepat ini." Hana terkekeh geli.
"Ah, lo mah. Selalu aja nganggep gue anak kecil."
"Dasar tukang ngambek ... Iya, deh. Sekarang lo udah masuk SMA, lo udah gede, udah bukan anak kecil kayak kemarin."
"Jawab, Han."
"Ganteng lo." Hana tersenyum.
"Bohong!"
"Ya udah, gantengan pacar gue daripada lo."
"Tuh, kan. Jadi yang bener yang mana?" Indra terus saja mengerucutkan bibirnya, seolah tidak ada emosi lain yang dapat ditampakkan selain ekspresi merajuk pada kakaknya.
"Cakep pacar gue."
Indra mendengus kesal, seolah menekuk wajah adalah kebiasaan barunya.
"Kenapa, sih? Lo aneh banget. Kasih tahu gue alesan lo nanyain itu coba, biar gue bisa mikir. Lo lagi naksir cewek? Siapa?"
"Nggak ada. Gue cuma penasaran aja cowok kayak gimana yang sekarang jadi pacar kakak gue."
"Lah? Ternyata lo peduli sama gue?"
"Nggak jadi, deh. Kayaknya salah kalo gue tanya kayak gitu ke lo." Indra mengalihkan pandangan kearah lain, membelakangi Hana yang sedang menatapnya.
"Lo takut gue diperlakukan nggak baik kayak sekarang ayah memperlakukan ibu?" Tanya Hana berhati-hati, membuat Indra berbalik menatap Hana. "Tenang aja, Ruri anaknya baik, kok. Orang paling baik sedunia. Dia nggak pernah marahin gue, sama sekali nggak pernah."
__ADS_1
"Tapi ganteng nggak?"
Pertanyaan kekanakan Indra sukses membuat Hana tersenyum lebih lebar lagi. Diacaknya surai lembut adiknya tersebut dengan gemas.
"Ganteng. Tapi gue nggak tahu gantengan lo apa dia, soalnya muka lo masih kayak bayi."
"Semoga aja dia baik terus sama lo, dan semoga aja emang beneran cakep. Gue nggak rela kalo lo sampe disakitin sama orang jelek."
"Kurang ajar." Hana tergelak. Indra selalu saja melontarkan kata-kata yang tidak pernah Hana duga. Hingga perlahan Indra pun ikut tertawa bersama dengan candaan ala mereka.
Sejak pertengkaran kedua orang tua mereka, Hana dan Indra menjadi lebih akrab daripada sebelumnya. Selain karena masih anak-anak, Hana juga selalu kesal karena Indra lebih sering diperhatikan oleh orang-orang di sekelilingnya daripada Hana sendiri hanya karena Indra merupakan seorang anak laki-laki yang penurut. Hana kecil yang merasa iri pun sering mencari perhatian pada orang-orang agar tidak kalah populer dari adiknya. Hingga akhirnya Hana sempat sama populernya dengan Indra, namun dengan cap nakal yang bersandang karena tingkah lakunya.
Indra merogoh saku jaket yang dikenakannya, mengeluarkan bungkusan rokok berwarna putih dari tangan kanan, sementara korek api dari tangan kirinya.
"Lo mau ngerokok?"
"Kenapa? Nggak boleh?" Tanya Indra sembari menghentikan kegiatannya untuk mengambil satu batang rokok.
"Terserah lo, sih. Tapi kalo gue bilang ke pacar suruh jangan ngerokok, dia langsung nurut. Bahkan sekarang dia udah jarang ngerokok. Padahal waktu itu gue bilangnya sambil bercanda."
Ditutupnya kembali bungkus rokok yang telah terbuka, lalu Indra memasukkan kembali kedua benda tersebut ke tempat asal, saku jaketnya.
"Kalo lo ngelarang gue dengan cara nyindir halus, ya otomatis gue merasa terhina."
Hana menggelengkan kepala. "Lo dapet bahasa kayak gitu dari mana? Idealis banget, udah kayak anak organisasi aja."
"Gue emang anak organisasi dari SMP. Lo nggak tahu?"
"Emang iya? Kok gue baru tahu."
"Lo sih, sibuk sama dunia lo sendiri. Sampe lo nggak tahu kalo gue ikut organisasi biar punya alesan yang jelas buat keluar rumah."
Hana tersenyum kecut. Hana baru ingat beberapa tahun lalu saat Indra kelas satu SMP pernah menjadi anggota OSIS serta Pramuka. Itu berarti saat Hana kelas tiga SMP. Namun setelah menginjak SMA, Hana lupa akan hal tersebut karena ia harus berada jauh dari rumah sehingga melewatkan pertumbuhan Indra.
"Yaampun iya, gue baru inget."
"Udah lah. Mau inget kek, enggak kek. Nggak ngaruh juga."
"Idih ... Maaf, deh."
__ADS_1
Indra mengeluarkan korek api yang sempat ia keluarkan beberapa saat lalu, dimainkannya tanpa melibatkan perihal kotak putih berisi rokok.
"Belakangan ini gue lagi digangguin sama anak organisasi. Sumpah bikin kesel banget dia. Pengen gue buang aja ke laut kalo bisa."
"Cewek apa cowok?"
"Cewek."
Indra mengedip jahil, seolah mengejek. "Pasti rebutan cowok."
"Sorry to say, ogah kalo gue harus rebutan sama dia. Dia aja yang sok kegatelan mau ngerebut pacar gue."
"Bisa nggak sih, lo cari kegiatan yang lebih bermanfaat dikit? Suruh sekolah malah pacaran melulu kerjaannya."
"Suka-suka gue lah. Yang penting nilai gue nggak jeblok."
Daun-daun berjatuhan terbawa sepoi angin sedari tadi mengiringi percakapan. Mereka berdua bungkam sejenak. Sedari awal Hana memang tak ingin membahas tentang cinta dengan Indra, karena Hana merasa bahwa mereka berdua tidak satu pandangan tentang hal itu.
Waktu terus merangkak naik, mengantarkan pada matinya obrolan antara mereka berdua. Kini rasa bosan telah menyelimuti.
"Gue mau balik dulu. Kalo lo mau terus disini, terserah." Indra bangkit, ia berdiri seraya merapikan pakaiannya yang mungkin saja kotor ataupun kusut.
Hana berdiri menyejajari Indra. Tinggi mereka terpaut agak jauh. Rasa-rasanya Indra telah tumbuh begitu cepat mengingat beberapa waktu lalu tinggi Indra hanya selisih sedikit dengan Hana.
"Gue juga mau balik! Yakali gue duduk sendiri di pojokan, yang bener aja."
"Ya udah. Bye." Pamit Indra.
Hana memandangi punggung Indra yang mulai menjauh. Dan segera setelah Indra benar-benar menghilang, Hana bertolak menuju sekolahnya kembali.
Sepanjang perjalanan Hana memandangi segala yang dilewatinya, termasuk langkah kakinya sendiri.
Sepatu diciptakan sepasang. Mereka mirip, identik namun berbeda arah. Jika dipaksakan persis satu sama lain, memang selaras, namun tidak serasi. Berjalan bergantian mengikuti langkah kaki.
Kaki. Jika sang kanan di depan, maka kiri akan berada di belakang sebagai penyeimbang. Begitu pula jika sang kiri di depan, maka kanan akan berada di belakang sebagaimana kiri pernah melakukan tugasnya. Kanan dan kiri saling memahami, mereka akan maju bersama hanya ketika ingin melompat. Ketika berjalan dan berlari, mereka lebih memilih melangkah bergantian.
Manusia diciptakan sepasang. Mereka berbeda, dan sudah seharusnya saling menutupi kekurangan, dengan begitu mereka dapat berjalan bersama. Dengan syarat tidak egois memaksakan kehendak masing-masing.
* * *
__ADS_1