SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Orang Ombak


__ADS_3

Beberapa saat berlalu, suasana sekolah menjadi ramai. Puncak dari kegiatan jalan santai sedang berlangsung di lapangan. Suara itu terdengar sampai ruang BK tempat Ruri, Farah, dan guru BK berada.


"Apa tidak masalah kalian terus-terusan berada disini? Bagaimana kalau ada yang mencari? Seharusnya kalian ikut bertanggung jawab dengan kegiatan hari ini, kan?" Ucapan guru BK menyiratkan maksud tertentu, seperti sedang mendesak keduanya untuk berbicara yang sebenarnya.


"Saya sudah terlalu lama meninggalkan tugas saya, Pak. Apa boleh saya pergi? Saya merasa tidak enak dengan rekan-rekan yang lain." Izin Ruri.


"Boleh." Jawab sang guru singkat.


"Terimakasih, Pak."


"Tapi masalah ini harus selesai." Saat Ruri hendak beranjak, guru BK kembali mencegahnya. Nampak menarik ulur keadaan supaya kedua murid jengah.


Lama kelamaan situasi itu membuat Ruri kesal serta sangat menguras energinya. Kembali Ruri duduk dengan lesu.


"Tidak harus sekarang. Saya hanya bilang bahwa masalah ini harus selesai." Guru BK berdiri, meninggalkan kursinya yang sedari tadi ia duduki dengan setia. Beliau berjalan perlahan mengitari ruangan, dengan sengaja ia mengetuk-ngetukkan sepatu pantofelnya untuk mengintimidasi. Sembari bersedekap, beliau mencari sandaran untuk tubuh bagian belakangnya.


"Lalu kapan, Pak? Hari ini terakhir masuk sekolah, besok sudah mulai liburan tengah semester." Tanya Farah.


"Sampai kalian mengakui yang sebenarnya terjadi. Kalau sekarang kalian capek, mau keluar dulu boleh, nanti bisa dilanjut, saya selalu siap menunggu." Guru BK menganggukkan kepalanya, bahkan punggungnya pun ikut serta bergerak. "Atau mungkin setelah liburan? Siapa tahu ada hal yang perlu kalian pikirkan matang-matang."


"Baiklah, Pak. Jika bapak berkenan, mungkin setelah liburan saja. Hari ini saya tidak mau berlama-lama disini." Dengan cepat Ruri bangkit, sebelum guru BK menarik kembali ucapannya.


"Tapi saya ada permintaan buat kalian berdua. Hari pertama masuk sekolah, jam sembilan, saya minta kalian ke ruangan ini." Guru BK memberi jeda sejenak pada kalimatnya. "Bersama orangtua kalian."


Belum lama dari Ruri berdiri, guru tersebut mengucapkan suatu permintaan yang membuat Ruri berdiri mematung.


Kalimat tersebut sukses membuat Ruri maupun Farah tersentak.


* * *


Sepanjang jalan Ruri memikirkan apa yang harus ia katakan pada orangtuanya nanti.


Selain itu, ia juga bimbang, reaksi apa yang akan ia dapatkan jika Hana juga mengetahui apa yang terjadi, terlebih hal ini ada kaitannya dengan Farah. Ia tahu, Hana akan menjadi sangat sensitif jika berurusan dengan Farah. Bahkan sempat pula ia berfikir untuk tidak mengatakan hal tersebut selama Hana tidak menyinggungnya terlebih dahulu.


"Kemana aja, Ri? Acara udah mau selesai kamu baru kelihatan." Sambut Aji, yang sedang duduk santai di tepi lapangan bersama beberapa siswa kelasnya.


Ruri mencoba memperlihatkan senyumnya yang dipaksakan. "Biasa lah, orang sibuk."

__ADS_1


"Widih, orang sibuk katanya."


"Gimana tadi di pos? Ada yang menang nggak pas game?" Tanya Ruri.


"Harusnya, tadi kelas kita dapat juara di semua pos, walaupun nggak semuanya bisa dapet juara satu. Tapi tadi di pos terakhir OSIS-nya kampret banget, katanya kurang prepare, terus diganti game-nya."


"Terus gimana?"


"Karena udah capek, kelas kita mainnya asal-asalan. Mana Inung si tukang ngomel malah kabur duluan sama Hana, ya udah mainnya makin ngasal. Tapi nggak masalah, masih untung anak-anak masih mau main."


Ruri tersenyum kecut. Untung saja Aji tidak tahu bahwa Ruri lah yang seharusnya ada di pos terakhir, ia pasti akan habis kena ejek.


Tunggu sebentar.


Ruri baru menyadari sesuatu setelah beberapa detik.


"Inung sama Hana kabur duluan?"


"Iya. Tadinya aku mau protes sama mereka, tapi pas nyampe sekolah Inung malah bilang kalo Hana sakit perut, terus dia bawa Hana balik. Jadi aku biarin aja, daripada nanti dirujak sama Hana."


"Nggak tahu. Di kelas, mungkin?"


"Thanks." Ruri melanjutkan langkah kakinya menuju tempat Hana berada. Ia melupakan tujuan dirinya keluar dari ruang BK.


Sesampainya Ruri di kelas, ia langsung menghampiri Hana yang sedang menelungkupkan wajah di meja seperti yang Hana biasa lakukan.


"Han, kamu baik-baik aja? Katanya kamu sakit? Udah diobatin belum?" Ruri memberondongi Hana dengan berbagai pertanyaan.


Hana mengangkat kepalanya yang berat. Sepertinya ia baru saja tertidur, dan terbangun ketika mendengar suara Ruri.


"Kamu pasti belum makan? Aku beliin makan, ya?"


Hana menggeleng perlahan dengan tatapan lesu. "Tadi cuma sakit perut dikit, tapi sekarang udah nggak apa-apa."


"Jangan bohong. Muka kamu pucet gitu. Sekarang makan dulu, ya? Pokoknya harus mau." Ruri masih tidak melepaskan sorot matanya dari Hana.


"Nggak usah, Ri." Jawab Hana. "Aku nggak kenapa-napa. Aku juga udah makan, kok."

__ADS_1


Ruri menoleh pada Inung yang sedang duduk tepat di depan Hana.


Inung mengangguk, mengisyaratkan bahwa yang Hana katakan adalah benar. Ia menyuruh Ruri untuk berhenti bersikap agresif.


"Tapi beneran udan diobatin, kan?"


Kedipan mata dan anggukan pelan dari Hana seolah memerintahkan Ruri untuk berhenti khawatir. "Tadi aku langsung ke UKS, habis itu baru ke kelas."


Ingin sekali Ruri bertanya untuk memastikan sekali lagi bahwa Hana baik-baik saja. Namun, ia urungkan ketika melihat tatapan sayu Hana pada dirinya.


"Kamu kenapa, Ri?" Tanya Hana dengan nada datar. "Nggak biasanya sepanik ini?"


Lalu, haruskah Ruri mengatakan yang sebenarnya pada Hana? Mungkin saja Hana telah mendengar sesuatu ketika Hana berada di UKS tadi, Ruri takut akan menimbulkan kesalahpahaman jika tidak ia katakan lebih awal.


Gelengan kepala Ruri menjadi satu-satunya jawaban. Nyalinya belum cukup untuk mengatakan hal itu pada Hana.


"Nggak apa-apa." Ruri mengusap kepala Hana. Sambil tersenyum, Ruri menyimpan rapi kalimat yang tidak ingin ia kemukakan. Atau belum.


"Syukur kalo kamu udah nggak kenapa-napa. Aku cuma khawatir kalo kamu sakit." Lanjut Ruri setelahnya.


"Kamu lagi nggak ngelakuin kesalahan, kan? Kok kayaknya sikap kamu agak beda dari biasanya?" Pancing Hana.


Usai pertanyaan dari Hana itu, Ruri menyimpulkan senyumnya, menyembunyikan apa yang harus ia sembunyikan. Ia membayangkan apa yang akan terjadi jika hal itu ia sampaikan sekarang.


Terakhir kali ia berjanji untuk tidak berhubungan dengan Farah, dengan alasan apapun. Namun, hari itu ia malah terlibat masalah dengan seseorang yang seharusnya ia hindari tersebut.


"Aku cuma khawatir sama kamu. Itu aja." Jawab Ruri tipis. Dengan hati-hati Ruri ucapkan, berusaha untuk tidak menimbulkan kecurigaan.


"Khawatir kalo aku tahu?"


Tiba-tiba, jantung Ruri berdegup lebih kencang. Menerka kalimat apa yang akan Hana pilih untuk melanjutkan pertanyaannya.


Kini, kedua pasang mata itu pun saling bertatapan. Saling menerka maksud dari bergetarnya bola mata diantara keduanya.


Sejenak mereka berdua terdiam. Hanya kebisingan diluar yang mengiringi bahasa tubuh mereka yang sama-sama tidak bisa tertebak.


* * *

__ADS_1


__ADS_2