SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Bau Bangkai Tercium Juga


__ADS_3

Seisi ruang BK terasa pengap sejak dimulainya obrolan panas dari empat orang yang ditengahi oleh seorang guru BK. Tidak lain adalah Ruri, Farah, dan masing-masing ayah dari mereka. Seperti yang lalu, obrolan berjalan rumit.


"Permisi bapak-bapak sekalian, ada suatu hal yang ingin saya tunjukkan pada semua hadirin disini. Pada awalnya saya tidak memiliki gambaran apapun mengenai siapa yang sebenarnya bersalah. Tetapi semalam saya menemukan fakta baru." Ucap sang guru BK setelah perdebatan alot itu sedikit mereda. Beliau mengeluarkan handphone miliknya, dan memutar suatu rekaman dengan nada lumayan keras, sehingga cukup untuk kelima orang tersebut mendengarnya.


Ternyata, kemarin sewaktu guru BK keluar untuk memanggil Edo dan kawan-kawan, beliau sengaja meninggalkan handphonenya dalam keadaan merekam percakapan Ruri dan Farah tanpa keduanya ketahui.


Guru BK berinisiatif melakukan hal tersebut rupanya untuk mengantisipasi adanya percakapan yang tidak mungkin akan diperdengarkan pada beliau. Dan ternyata benar, ada sebuah percakapan kecil, namun merupakan kunci utama untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Setelah mereka semua mendengarnya, raut wajah Farah menjadi merah padam menanggung malu. Tidak berbeda dengan ayahnya yang sekarang berbalik memarahi dirinya.


"Pak, mohon sabar sebentar, mungkin ada hal yang ingin Farah bicarakan." Lerai guru BK terhadap makian ayah Farah kepada putrinya. "Apa benar yang Farah katakan dalam rekaman ini?"


Farah menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya hingga tidak menyisakan satu ucapan pun untuk keluar dari mulutnya.


"Farah, bapak mohon maaf sebelumnya jika ini menyinggung perasaan Farah, tapi bapak perlu tanya sekali lagi, apakah yang Farah katakan itu benar?"


Mendengar perkataan lembut dari snag guru, Farah pun memberikan respon berupa anggukan, dengan posisi dan tangis yang masih sama.


Ekspresi lega tampak melenggang dari pihak Ruri. Namun sangat berbeda dengan pihak Farah, ayahnya memarahi sang putri tanpa henti, hingga ayah Ruri turun tangan untuk menghentikan tindakan kasar ayah Farah.


"Kamu ini, kerjaannya bikin malu saja! Dasar nggak guna!" Hardik ayah Farah.


"Ayah juga nggak berguna dihidup Farah! Ayah selalu kasar sama Farah, sekalipun Farah nggak ngelakuin kesalahan! Ayah kejam!" Ucapan Farah tersebut berhasil membuat darah ayahnya semakin mendidih hingga tanpa sadar beliau mengangkat tangan, yang jika tidak berusaha dicegah,oleh laki-laki di ruangan itu, mungkin saja Farah sudah terkena amukan sang ayah.


"Sudah, Pak, sudah." Lerai ayah Ruri penuh kesabaran. Bahkan beliau sampai mengesampingkan egonya yang telah dicabik-cabik karena perkataan tidak pantas dari ayah Farah kepadanya beberapa saat lalu, demi melindungi seorang gadis yang terkungkung oleh ketidakberdayaannya.


* * *

__ADS_1


"Oh, pantesan dia salah paham sama semua kebaikan kamu, selama ini dia kehilangan peran ayah dihidup dia." Jawab Hana setelah mendengar penjelasan panjang dari Ruri, yang kemudian dibalas anggukan oleh Ruri.


"Kalo dilihat bener-bener, kayaknya luka di tubuh Farah itu juga gara-gara ayahnya. Soalnya waktu itu Farah hampir kena gampar habis ngakuin perbuatan dia. Nggak mungkin kalo di rumah dia ayem-ayem aja, sementara di depan umum aja ayahnya berani kasar kayak gitu." Lanjut Ruri.


"Dulu Farah pernah cerita ke kamu soal ini?"


"Pernah sih, tapi cuma bilang sebatas ayahnya suka marahin dia, nggak pernah cerita apapun tentang kekerasan. Aku ngiranya cuma hal biasa, permasalahan biasa antara anak dan orangtua aja. Jadi aku nggak ambil pusing."


"Ya, iyalah. Lagian kamu siapanya dia? Pacarnya aja bukan, kenapa harus ngurusin hal sampe sedetail itu, kan?"


Senyum mengembang dari bibir Ruri. Bahkan dalam kondisi tersebut, Hana masih sempat merasakan cemburu. Hana adalah Hana. Gadis yang sebenarnya baik hati, namun jika sudah terlanjur hilang feeling dengan seseorang, maka hal apapun tidak akan merubah hatinya.


"Iya juga, ya?" Jawab Ruri basa-basi. Hanya sekedar menenangkan perasaan Hana. Walau bagaimanapun juga, Ruri memiliki dua orang adik perempuan, yang dimana hal itu menjadikan Ruri menjadi sedikit memiliki rasa simpati pada Farah. Meskipun ia tidak akan terlibat lagi dengan Farah, rasa bersalah itu masih sedikit tertinggal.


"Ngomong-ngomong, pak guru BK pinter juga ya strateginya? Udah kayak di film aja, pura-pura keluar kelas buat ninggalin perekam rahasia. Emangnya kamu nggak kepikiran gitu?"


"Sumpah, aku nggak sempet kepikiran sampe sana. Soalnya waktu itu pikiran aku udah nggak karuan. Udah nggak bisa mikir jernih." Ujar Ruri.


"Kenapa kamu nggak cerita dari awal, Ri? Aku yang baru tahu jadi nggak enak, berasa jadi temen nggak berguna yang nggak tahu apa-apa." Ucap Aji berkomentar. "Coba deh lihat, cuma aku aja disini yang nggak tahu."


"Malahan aslinya aku nggak pengen bahas disini, ntar orang-orang pada denger, aku juga nggak mau kalo kamu sampe denger." Jawab Ruri.


"Lah? Kenapa? Sok misterius banget."


"Woilah." Protes Ruri pada seorang anak laki-laki yang memiliki mulut yang sangat licin. "Malu lah, Ji. Hal kayak gini masa diumbar? Kayak nggak ada kehidupan lain aja."


"Terus kenapa malah cerita di tempat umum gini? Mau sengaja ataupun enggak, orang-orang nanti bakal denger."

__ADS_1


Ruri menunjuk Hana dengan dagunya.


Aji melirik singkat pada Hana, kemudian duduk berdekatan dengan Hana. "Dasar cewek."


"Apa? Dasar cewek apa?" Tantang Hana nyolot.


"Enggak." Aji menjawab pertanyaan Hana dengan tatapan sinis. "Aku cuma bilang, dasar cewek. Gitu aja masa langsung ngegas?"


"Iya maksud kamu apa tanya begitu?"


"Ya, dasar cewek. Apa-apa pengen tahu, apa-apa ditanya alasannya. Bahkan kita sebagai cowok aja nggak ngerti alesannya apa."


"Dih. Cowok emang nggak asik!"


Aji mengendikkan bahu tidak peduli.


"Oh iya, gambar yang waktu itu, dapet nilai berapa dari gurunya?" Tanya Hana mengalihkan pembicaraan.


Aji berdeham gagap. Otaknya sibuk berlarian mencari alasan yang logis agar Hana tidak curiga dengan alasanya meminta gambar tersebut.


"Mana aku tahu, yang penting kan udah jadi, terus langsung aku kasih ke adek aku. Habis itu ya udah, aku lepas tangan." Jawab Aji sekeras mungkin menjaga image meyakinkan.


"Gambar apa, sih? Kok aku nggak tahu?" Tanya Ruri.


"Si Aji minta digambarin Hana. Katanya tugas adeknya. Lagian kamu kan sibuk, jadi jarang ngerti yang kayak gini." Inung menjawab.


"Kalo jadi kamu kesel nggak, Ri? Semua orang disini tahu apa yang dibahas, tapi cuma kamu sendiri yang bengong nggak ngerti apa-apa?" Tanya Aji penuh sarkas.

__ADS_1


Ruri meringis kecil, mengacak belakang kepalanya yang terasa tidak nyaman setelah mendengar ucapan Aji. "Maaf, deh. Ternyata aku belum bisa bagi waktu dengan baik."


* * *


__ADS_2