
Putus secara baik-baik?
Hal yang tidak pernah terlintas di benak Hana untuk ia merealisasikan ide gilanya. Namun, kali ini ia malah terjebak di dalam situasi tersebut. Meskipun hubungan mereka tetap baik-baik saja seperti kata Ruri.
Kabar mengenai putusnya mereka berdua hanya tertangkap oleh radar Inung. Bahkan Aji pun tidak tahu-menahu tentang hal ini.
Waktu demi waktu Hana telah menyadari sesuatu yang sedikit berubah dari dirinya, sifat Hana yang mudah cemburu kini mulai berkurang. Bahkan rasa bosan tentang hubungannya dengan Ruri sesekali menghinggapinya.
Berbeda dengan Hana, Ruri justru semakin ingin berada di sekitar Hana lebih dekat lagi. Terutama jika Hana sedang berinteraksi dengan lawan jenis.
"Han, tadi aku lihat di papan informasi, bakal diadain simulasi ujian SBMPTN, di SMA 38. Tadi aku juga lihat Zia lagi cari tahu ini." Ujar Aji membuka percakapan.
"Apaan, tuh?" Tanya Hana penasaran.
"Semacam simulasi tes buat kita masuk perguruan tinggi gitu. Disitu kayak kasih pedoman langsung berdasarkan SBMPTN yang asli." Jelas Aji penuh antusias. "Ikut, yuk? Aku pengen ikut, tapi malu kalo sendirian. Tadi aku udah ajak Ruri, dia nggak mau. Inung juga nggak mau, katanya habis ini dia mau kerja."
"Aku belum ada rencana mau lanjut kuliah apa kerja. Mau aku pikirin dulu."
"Selagi mikir, sambil cari-cari kegiatan, kek. Lagian cuma bayar lima belas ribu doang buat registrasi. Kayak, misal kalo kamu cuma iseng doang juga kamu nggak bakal rugi banyak." Rayu Aji pantang menyerah.
Inung yang mendengar percakapan itu pun angkat bicara. "Ji, kalaupun Hana mau, dia bisa aja daftar SNMPTN pake nilainya yang bagus-bagus itu."
Mendengar hal itu, Aji mendadak lesu. Bahunya yang semula terangkat karena antusiasnya, kini turun kembali. "Yah... Kalo aja nilai aku bagus, aku bakal ikutan SNMPTN."
"Tapi sayangnya, wali kelas bilang kalo tahun ini sekolah kita nggak bisa ngajuin SNMPTN." Ucap Ruri yang baru datang.
"Kenapa?" Tanya Inung.
"Nilai anak-anak yang udah di filter malah nggak masuk di sistem. Padahal guru-guru udah nyiapin dari jauh-jauh hari. Pas kelewat hari malah baru tahu kalo sistemnya error waktu upload. Jadi, ya gitu, deh. Kalo misal anak-anak pada pengen lanjut kuliah, bisa milih antara SBMPTN kalo enggak ya jalur mandiri."
"Yah, sayang banget itu. Anak-anak ambis yang pengen masuk jalur SNMPTN pasti lagi galau berat." Jawab Hana ringan.
"Termasuk kamu kan, Han?" Tanya Aji.
"Mungkin." Jawab Hana.
"Makanya, ayo cari kegiatan biar nggak jadi galau. Cuma lima belas ribu, lho! Sekali-kali kita punya kegiatan yang bermutu." Ucap Aji persuasif.
__ADS_1
Hana termenung, bukan hanya ajakan Aji saja yang saat ini ia pikirkan. Namun entah apa isinya, dan entah kenapa kepalanya begitu berisik.
"Please..." Mohon Aji memelas.
"Kapan?"
"Hari Minggu besok, di SMA 38, jam delapan pagi. Pakaian bebas asal sopan, pake sepatu."
"Buset. Baru aja aku tanya kapan, aku belum bilang mau apa enggak." Hana memprotes kelakuan Aji.
"Pokoknya udah aku anggap setuju."
Hana bergumam ragu. "Ya udah, ayok. Tapi aku nebeng pulang-pergi."
"Oke! Siap!" Jawab Aji dengan semangat yang semakin berapi.
"Kalo gitu aku ikut." Secara tiba-tiba Ruri pun ikut menawarkan diri. Hatinya bergetar ketika mendengar Hana menyetujui permintaan Aji untuk pergi. "Tadi Zia bilang kalo dia mau ikut, Zia juga ngajak kita buat pergi bareng. Nanti aku tanyain lagi sama anak-anak kelas, siapa tahu ada yang mau ikutan juga. Kayaknya seru kalo ramean."
"Lagian kenapa kamu sok-sokan nolak waktu di depan papan pengumuman tadi, padahal ujung-ujungnya mau ikutan?" Ujar Aji terusungut.
Bukan maksud Ruri untuk menyinggung siapapun, namun tanpa sengaja egonya telah mendorong Ruri untuk mencegah hal yang dapat membuatnya sakit hati. Ia berusaha menjaga daerah kekuasaannya.
"Halah, bilang aja gara-gara Hana ikut."
Ruri dan Inung menertawai kelakuan Aji yang tampak seperti anak kecil ngambek karena tidak dituruti permintaannya. Sementara Hana sendiri hanya tersenyum melihat ketiga orang di depannya diliputi berbagai ekspresi.
Aneh. Hana merasa bahwa Ruri tidak pernah memaksakan suatu hal apapun selama ini. Yang Hana tahu, Ruri akan melakukan apa yang ia inginkan saja. Dan ketika Ruri tidak ingin, meskipun Hana yang meminta, Ruri tidak akan memaksakan diri.
"Berarti besok Hana aku yang jemput." Ruri mendadak posesif.
"Iya, aku tahu." Jawab Aji singkat.
* * *
Setelah berapa lama Ruri menyampaikan informasi mengenai kegiatan di hari Minggu, jumlah siswa yang tertarik pun bertambah.
"Untuk lebih lengkapnya, besok hari kamis ada penyuluhan langsung dari kakak-kakak mahasiswa." Tutup Ruri pada kalimatnya.
__ADS_1
Riuh rendah segera mengisi atmosfer ruangan. Para siswa berbincang mengenai rencana mereka setelah mereka lulus. Ada yang terbuka hatinya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi setelah beberapa alasan yang membuatnya lelah belajar, namun ada pula yang malah mengurungkan niatnya disebabkan oleh satu dua hal.
"Berarti nanti kita juga barengan sama anak-anak sekolah lain? Wah, seru dong. Siapa tahu dapet kenalan cewek cantik disana." Celoteh Aji seraya mendongakkan kepalanya sambil bersedekap dan memejamkan matanya. Senyum dari bibirnya pun ikut menghiasi khayalannya yang begitu indah.
Tanpa aba-aba, sebuah buku mendarat perlahan di wajah Aji yang rupanya berasal dari Inung yang selalu mengkritik perilakunya. Hal itu membuat Aji terpaksa sadar.
"Kebiasaan!" Inung protes. Bukan cemburu, namun lebih kearah kesal.
"Dih! Kenapa? Sensi amat jadi cewek."
"Percuma kenalan banyak, tapi nggak ada satupun yang berhasil dipacarin. Capek ngedengerin curhatan kamu doang."
"Mungkin belum jodohnya aja. Nanti kalo udah waktunya, pasti ketemu cewek yang mau sama aku."
Baik Hana maupun Inung, mereka sudah terbiasa mendengar ocehan Aji tentang kriteria pacar idaman. Bahkan lebih ke arah jenuh. Pasalnya, Aji hanya pandai berteori. Dan ketika tiba pada prakteknya, Aji selalu kewalahan untuk mengambil langkah. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang memiliki bakat alami untuk menggaet gadis idamannya.
Aji memang pandai bicara, namun entah kenapa beberapa usahanya dalam mendekati perempuan selalu berakhir gagal.
"Mungkin kamu harus turunin standar, Ji. Cewek spek bidadari kayak mereka pasti seleranya juga harus yang bibit unggul, atau minimal setara sama mereka." Ucap Inung pada Aji yang mulai berceloteh ria.
"Turunin standar gimana? Selera aku ketinggian? Ya wajar lah, semua orang juga pengennya yang terbaik buat masa depan mereka."
"Kalo aja kamu mau turunin standar, mungkin ada yang mau sama kamu. Kalo kamu tetep nggak mau turun, ya udah, melayang aja selamanya sama keinginan kamu. Semoga sukses." Hana menyahuti pertanyaan Ruri dengan cibiran.
"Lagian selera orang beda-beda. Bisa jadi menurut Aji bagus, menurut kita nggak bagus. Bisa jadi menurut Aji nggak bagus, tapi aslinya bagus banget nggak ada lawan. Kita bukannya di bawah standar, Han. Mata Aji aja yang agak lain." Inung mulai mengomel, sekaligus memberi dukungan moral pada Hana sebagai sesama perempuan yang mudah cemburu masalah penampilan.
"Terserah kalian, deh. Aku nggak akan maksa kalian untuk mengakui kalo Bella itu cantik."
Hana menghela nafas, "Ujung-ujungnya masih Bella lagi. Terus apa gunanya cari cewek sampe muterin seisi bumi kalo yang kamu mau cuma Bella?"
"Soalnya Bella nggak mau sama Aji, tapi dia tetep ngeyel. Niatnya mau cari pelampiasan ke cewek lain, eh ternyata nggak ada yang mau." Cetus Inung.
"Ayolah, girls. Kenapa sih, mulut kalian jahat banget kalo aku lagi ngomongin cewek? Aku juga butuh pencerahan gimana baiknya dari sudut pandang cewek."
"Pencerahan mbahmu!" Amuk Inung. "Kamu aja yang sukanya ngeyel. Emang susah ngomong sama batu!"
* * *
__ADS_1