SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Let's Fight the Ego


__ADS_3

Di jalan setapak yang berkerikil, Hana menapaki selangkah demi selangkah bersama Zia di sampingnya. Sore hari yang mendung tidak membuat Hana mengurungkan niatnya untuk mengambil bukunya yang tertinggal di dalam kelas.


"Sepenting apa isi novel yang kamu baca itu, Han? Sampe kamu seniat ini balik ke sekolah?"


"Iya, ya? Kalo dipikir-pikir emang nggak sepenting itu. Tapi nggak tahu kenapa lagi pengen banget baca lanjutannya. Sekalian jalan-jalan sore, hari ini mood aku lagi jelek."


"Emangnya kenapa? Perasaan mood kamu sering banget jeleknya."


"Nggak tahu, capek aja jadi orang cemburuan tapi nggak bisa selalu ngungkapin. Bikin energi terkuras."


"Wajar kali kalo kamu cemburu sama pacar kamu sendiri. Kalo aku jadi kamu juga bakalan begitu, kok. Cewek manapun di dunia ini juga pasti begitu, Han. Ungkapin aja apa yang kamu rasain. Cowok emang gitu, nggak gampang peka kalo kamu nggak ngomong langsung."


Sepanjang jalan Hana masih bertemu dengan beberapa siswa yang baru saja pulang, sepertinya ekstrakurikuler atau kegiatan lain.


Sampai di gerbang sekolah, Hana berpapasan dengan Aji yang sedang duduk di motornya seorang diri.


"Kamu ngapain disini sendirian, Ji?"


"Ini baru mau pulang. Habis ada urusan sebentar." Aji menghidupkan kembali motornya setelah memasukkan handphone di tangannya.


"Kalian berdua ngapain disini?" Tanya aji kembali.


"Ada yang ketinggalan di kelas. Aku minta anterin Zia buat ngambil barang itu."


"Oh. Ya udah aku pulang duluan, ya."


"Hati-hati."


Aji melajukan motornya di lengangnya jalanan, meninggalkan Hana dan Zia yang melanjutkan langkah kakinya menuju halaman sekolah. Terlihat beberapa kendaraan masih terparkir dengan rapi, menandakan sekolah belum sepenuhnya sepi.


Suasana sekolah nampak sangat damai, tidak begitu banyak siswa yang masih tinggal, hanya terdengar sayup suara manusia, sepertinya siswa ekstrakurikuler. Beberapa yang lainnya juga sudah mulai pulang.


Hana melewati ruang musik yang masih banyak sepatu berserakan di depan pintunya. Mungkin Aji baru saja mengikuti ekstrakurikuler musik. Meskipun sudah tidak diwajibkan, siswa kelas 12 tetap boleh mengikuti kegiatan.


Hana melanjutkan langkah menuju koridor, dimana kelas Hana berada di ujungnya. Terdengar seseorang sedang tertawa, Hana penasaran siapa anak dari kelasnya yang belum pulang.


Semakin dekat, Hana mendapati seseorang yang sangat tidak asing, Ruri. Bersama seorang siswi, Farah. Ya, hanya mereka berdua.


Beberapa detik Hana diam mematung, darahnya seperti ingin mendidih, mukanya merah padam.


"Kak Hana, Kak Zia? Ada acara apa kalian kesini?" Tanya Farah dengan girangnya, seperti mendapat durian runtuh, "Loh, Kak Hana sama Kak Zia ternyata berteman? Aku baru tahu."


Zia tersenyum aneh, melebihi anehnya suasana yang terjadi kala itu. "Aku nganterin Hana, ada barang yang ketinggalan."


"Oh iya. Jangan salah paham ya, Kak. Kita nggak cuma berdua doang kok, tadi ada Kak Aji juga. Ini kita baru aja mau pulang, pas banget waktu Kak Hana sana Kak Zia kesini."


Hana masuk ke kelas dengan diikuti Ruri yang terlihat panik. Hana tidak menjawab satupun panggilan Ruri, ia hanya masuk ke dalam kelas, mencari benda yang dituju, dan sejurus kemudian ia keluar kelas.


"Aku pulang duluan. Nih, udah ketemu barangnya." Ucap Hana terburu-buru pergi, diikuti Ruri di belakangnya. Langkahnya sangat cepat sehingga Ruri mengejarnya dengan setengah berlari.


"Hana!" Panggil Ruri sekali lagi.


Zia menahan tangan Ruri, mencegahnya untuk mengejar Hana lebih jauh. "Udah, jangan kejar lagi, biarin aja dulu. Nanti Hana tambah marah."

__ADS_1


Ruri tidak memperdulikan ucapan Zia, ditepisnya tangan Zia, dan kembali mengejar Hana yang hampir jauh.


Ruri meraih tangan Hana erat-erat. "Hana, maafin aku, aku ngaku salah."


Hana mencoba melepas tangannya dari Ruri, kali ini sangat kuat sehingga Hana merasakan sedikit sakit pada pergelangan tangannya.


"Sejak kapan kamu jadi kasar kayak gini!"


Ruri yang baru tersadar, seketika melepas genggamannya. "Ma...maaf, Han."


Hana kembali ingin pergi, namun ditahan lagi oleh kedua tangan Ruri.


"Lepasin, Ri! Malu dilihat orang-orang."


Ruri menggeleng, ia begitu gigih menahan tangan Hana.


"Pilih lepasin, atau kamu mau kita putus?"


Sekali lagi Ruri melepaskan tangan Hana. Ia tidak bisa berbuat banyak, selain merelakan Hana masuk ke dalam asrama. Kalimat Hana benar-benar membuat Ruri tidak dapat berkutik.


Ruri pulang dengan perasaan yang berat, berulang kali ia menghela nafas kasar dan menggeretakkan giginya kuat-kuat.


***


Di kelas keesokan harinya, Ruri mengamati Hana sangat tidak bersemangat. Sepertinya Hana memang sangat marah padanya.


Sejak pagi Hana tidak menoleh kearah Ruri sekalipun. Berulang kali Ruri mencoba mengajaknya bicara dengan berbagai cara, berulang kali pula hana memalingkan wajahnya dari Ruri.


Ruri sudah kehabisan akal untuk membujuk Hana, entah dia harus mencari perhatian dengan cara apa lagi. Ruri duduk persis di samping Hana, menyamakan posisi tubuhnya seperti Hana yang tertidur di mejanya.


Lama Ruri berada di posisi itu, menunggu Hana bangun.


Begitu Hana merasa pegal, Hana mengganti arah wajahnya. Dan betapa kagetnya ketika ia dapati wajah Ruri hanya berjarak satu jengkal dengannya.


"Astaga! Kaget aku!"


Ruri tersenyum lebar, akhirnya Hana mengeluarkan suara.


"Aku kira kamu sadar kalo aku di belakang kamu, makanya kamu diem. Taunya kaget pas noleh."


"Mana senyum lagi. Aku kaget beneran tahu!"


"Lagian betah amat nggak ngomong seharian?" Ruri mencubit hidung Hana, sebuah kebiasaan kecil Ruri pada Hana.


"Nggak usah pegang-pegang! Sana pergi! Udah ditungguin tuh sama 'adek' kamu." Hana menyindir dengan penuh penekanan.


"Sayang..." Tutur Ruri lembut.


"Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu, udah punya pacar tapi masih kegatelan sama cewek lain. Mana ceweknya sama-sama gatel lagi."


"Dia lagi ada masalah, aku kasihan makanya dia curhat sama aku."


"Udah lah. Percuma banget ngomong sama kamu." Hana mengemasi barang-barang ke dalam ransel.

__ADS_1


Jantung Ruri berpacu sangat kencang, rupanya ia telah melakukan kesalahan, padahal ia berniat untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


"Hana, sebentar, jangan pergi dulu. Aku pengen selesaikan masalah ini sekarang. Kalo kamu ngehindar lagi, masalah kita nggak bakalan selesai. Aku mohon, Han."


Hana menghempaskan nafasnya, lalu menatap Ruri tajam. "Ya udah, tinggal jauhin 'adek-adekan' kamu yang genitnya minta ampun itu. Gampang, kan?"


Ruri memutar otak agar tidak sampai salah bicara lagi.


"Apa lagi? Ungkapin semua, sebisanya aku bakal turutin."


Tatapan Hana semakin berkilat, sebelum kalimat yang lebih tajam kembali meluncur dari mulut Hana.


"Bohong. Kamu ngomong kayak gitu cuma buat nenangin aku aja, kan?"


"Han ... Kok kamu kayak gitu?"


"Sebenernya kamu nggak pernah mau dengerin aku, buktinya kamu lupa sama apa yang pernah aku bilang."


Ruri bungkam. Ia ingin menyampaikan jawaban kepada Hana melalui pikirannya, sebab ia tidak sanggup menjelaskan.


"Masa harus diingetin terus? Selama ini aku selalu ngebebasin kamu, apa pernah aku ngatur-ngatur kamu? Nggak pernah, kan? Ri, sebenernya aku nggak mau kalo harus ngekang kamu kayak gini, aku nggak mau bikin kamu tertekan. Tapi kamu malah seenaknya."


"Aku, aku minta maaf. Aku selalu janji sama kamu, tapi masih terus ngulangin kesalahan aku."


"Ini beneran yang terakhir ya, Ri. Aku nggak mau jadi orang bodoh yang selalu maafin kamu. Kalo boleh jujur, aku emang cemburuan, dan sebenernya aku orang yang posesif. Tapi aku nggak mau bikin kamu risih, makanya selama ini, sebisa mungkin aku tahan."


Ruri merasakan nyeri di dadanya. Yang Ruri tahu, Hana bukan tipe orang yang suka bermain-main dengan ucapannya, dan kali ini pun Hana terdengar sangat serius.


Ruri mencoba mencerna setiap perkataan Hana, diresapinya dalam-dalam, meskipun tidak sepenuhnya paham. Bagaimanapun, Hana tidak akan sebegitu marah jika ia tidak melakukan kesalahan.


"Jangan diem aja, aku nggak mau kalo cuma aku yang kelihatan jahat."


Sebuah telapak tangan mendarat lembut di kepala Hana. Ruri mengusapnya perlahan, "aku pikir, selama ini aku yang yang paling sabar diantara kita berdua, ternyata kamu lebih sabar, kamu keren, bisa ngelawan ego kamu sendiri padahal itu bukan hal yang mudah, dan nggak semua orang bisa lakuin termasuk aku."


"Kamu kenapa nggak pernah marahin aku balik, sih?"


"Lah? Aneh kamu, Han. Kok malah minta dimarahin balik?"


"Selalu aku yang marah-marah sama kamu, yang kesel sama kamu. Aku jadi ngerasa jahat."


"Enggak, kamu nggak jahat. Aku udah janji sama diri aku sendiri, sampe kapanpun aku nggak bakal marah apalagi bersikap kasar sama kamu. Janji-janji yang lain mungkin aku bisa lupa, tapi untuk yang ini, kamu bisa pegang janji aku."


Spontan Hana berfikir lebih dalam tentang kalimat yang dilontarkan oleh Ruri sampai muncul kerut-kerut di dahinya. Hana bisa saja mempercayainya sepenuh hati, tapi ia tahu resiko besar jika suatu saat nanti ia terlalu berharap pada janji Ruri, ia takut kecewanya juga tidak main-main.


"Marah sesuka hati kamu, ngomel-ngomel yang panjang kalo perlu. Tapi jangan diemin aku kayak tadi, aku bener-bener nggak sanggup." Sorot mata Ruri menunjukkan ketulusan.


"Tapi kalo aku lagi kesel, aku nggak mau berkomunikasi dalam bentuk apapun. Aku juga nggak sanggup soal itu."


"Nggak apa-apa kalo mau diem dulu. Tapi jangan lama-lama, ya? Aku nungguin omelan kamu."


Hana merekahkan bibir yang indah, serupa kelopak mawar yang terbuka secara perlahan. Dari ucapan Ruri, Hana berharap dirinya dapat tersenyum lebih lama lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2