
Sebuah foto Hana pandang lekat-lekat. Pada layar handphonenya, Hana pernah mengabadikan potret usang yang ia temukan di gudang rumahnya. Warna-warni dalam potret tersebut nampak memudar dan sebagian hampir luntur. Hana pernah menanyakan pada ibunya dimana klise film asli dari potret itu berada. Dalam benak Hana jika saja klise film itu masih tersisa, ia dapat mencetak ulang potret itu. Namun sayang, foto berisi keluarga kecil nan bahagia tersebut diambil dari kamera seorang fotografer jalanan yang biasa menyewakan jasa foto di tempat-tempat rekreasi, alhasil tidak menyisakan apapun kecuali kenangan.
Hana tersenyum tipis melihat gambar dirinya waktu balita sedang tertawa sembari menggenggam sebuah permen lolipop, tidak jauh di belakangnya terdapat ayah dan ibu Hana sedang duduk memperhatikan gadis kecil mereka dengan Indra yang berada di pangkuan ibunya. Tawa di gambar itu terlihat sangat nyata, Hana sangat ingin merasakannya kembali.
Hana teringat saat kecil dulu, kata ibunya, ia merupakan anak yang sangat aktif bahkan seperti anak yang tidak pernah merasakan lelah. Hana kecil selalu bergerak, ia akan diam hanya ketika tidur saja.
"Hayoo, senyam-senyum mantengin handphone." Aji yang baru saja datang berjalan santai melewati tempat duduk Hana, ia sangat intens menggoda Hana. "Padahal lagi duduk depan belakang, pake acara ngobrol lewat handphone segala. Duduk berdua aja kenapa coba?"
"Mending kamu diem, deh. Kalo nggak mau aku sumpal mulut kamu pake tinju aku." Sahut Hana ketus.
"Jadi cewek itu nggak boleh kasar, harus lemah lembut dan penyayang. Kasihan Ruri kalo tiap hari kamu kasih kepal terus, itu namanya KDRT!"
"Kok Aku?" Ruri menyahut dari meja belakang.
"Mulai deh, mulai." Hana seperti sudah sangat lelah dengan drama yang Aji buat setiap harinya.
Handphone Hana tiba-tiba berdering, sebuah telepon masuk dari Indra, sang adik. Hana mengangkat telepon dengan nada rendah, dan tidak selang berapa lama panggilan itu pun berakhir.
"Guys, aku keluar dulu sebentar."
Entah pada siapa Hana pamit, ia lalu pergi begitu saja. Langkahnya nampak mantap diiringi sorot mata tajam sekaligus sayu, bagaikan seekor burung hantu yang berusaha mencari titik fokus pada siang hari, kosong.
Hana berjalan sangat cepat menuju taman kota yang terletak tidak jauh dari sekolahnya.
Sesampainya Hana di taman kota, ia celingukan mencari posisi dimana sang adik berada. Hana coba menelepon lagi bocah laki-laki itu. Hingga sesaat kemudian ia menemukan Indra di ujung taman yang dikelilingi tanaman bersemak, pantas saja Indra tidak terlihat.
"Lo kalo milih tempat yang bener dikit, kek. Duduk di pojokan gini, mana gue lihat." Hana yang baru saja datang langsung menghujani Indra dengan omelan khas darinya.
"Kalo posisi gue mencolok nanti dikiranya lagi bolos pacaran."
"Lah, kocak. Justru kalo dipojokan gini yang bikin orang curiga."
Indra berdecak. "Bodo amat, ah. Ribet lo."
"Kenapa? Ada masalah apa?"
__ADS_1
"Besok ambilin raport gue."
"Emang ayah sama ibu nggak bisa?"
"Ayah biar kerja aja, kalo sampe ayah nggak kejar setoran gue takut nanti ayah marah-marah lagi. Kalo ibu, kebetulan di sekolahnya juga lagi bagi raport. Lo aja ya, yang ambilin?" Ucap Indra memohon.
"Nilai lo jelek apa gimana? Lo takut ketahuan ya?"
"Enak aja!" Seru Indra. "Biar nilai gue nggak sebagus punya lo, nilai gue nggak jelek-jelek amat, kok. Nggak sampe yang harus ditutup-tutupin dari ayah sama ibu."
"Syukur, deh. Kalo nilai lo jelek, gue ogah ngambilnya."
Mereka terdiam sejenak.
"Lo mau cerita apa? Nggak mungkin banget kalo lo minta ketemu gue cuma mau bilang itu aja. Gitu doang mah bisa lewat handphone."
Indra bergumam, nampak ragu dengan kalimat yang ingin ia lontarkan.
"Kemarin ibu mampir katanya mau nengokin gue sebentar. Wajah ibu kayak nggak ada bahagianya sama sekali, gue nggak tega, Han. Gue takut ibu kenapa-napa. Lo tahu kan kalo ayah sama ibu masih suka ribut?" Indra menelan ludah. "Ya, walaupun pas di rumah gue cuma diem aja nggak ngapa-ngapain. Seenggaknya gue tahu apa yang terjadi, Han."
Semenjak Indra masuk SMA, Indra dititipkan di rumah tantenya yang dari pihak ayah dikarenakan jaraknya yang lebih dekat dengan sekolah. Seluruh keluarga ayahnya merupakan orang-orang yang sangat disiplin. Terbukti dari sebagian besar keluarganya yang merupakan orang-orang dengan profesi yang tidak bisa dianggap sepele. Jika disebutkan, hampir semua kategori profesi ada.
Indra mendengus kesal. "Maksud lo, gue cowok tapi manja, gitu?"
"Heh! Yang bilang gitu juga siapa? Emosian sih, lo. Dikit-dikit ngegas."
"Yee... Lo juga sama."
"Terus, ibu ngapain aja waktu nyamperin lo di rumah tante? Ibu ada bilang sesuatu nggak?" Tanya Hana seperti menginterogasi.
"Ibu nggak bilang apa-apa, sih. Itu juga sebentar doang, soalnya kebetulan lewat pas ibu ada tugas dinas." Terang Indra. "Tapi, gue nggak sengaja denger tante lagi bilangin sesuatu ke ibu. Gue nggak denger jelas, tapi kayak ada ngebahas cerai-cerai gitu. Yang gue denger sih, tante kayak nasehatin ibu gitu buat nggak buru-buru ambil keputusan."
Hana ikut lesu. Memandang wajah adiknya yang terus menatap kebawah. Diusapnya kepala serta tengkuk Indra lembut.
"Mau buru-buru, mau nanti-nanti. Gue nggak siap, Ndra. Tapi kalo mereka nggak bahagia, gue bakal jadi lebih sedih lagi. Gue berharapnya hubungan mereka membaik, bukannya malah makin parah."
__ADS_1
"Gue juga sama, Han."
"Lo jangan bandel, ya? Lo harus jadi orang yang sukses, biar hidup lo bisa bahagia nantinya."
Indra tidak mengangguk, pun tidak menggelengkan kepalanya. Indra hanya terus menunduk.
"Nangis aja kalo mau nangis."
Air mata menetes dari pelupuk mata Indra yang sedari tadi ia tahan. "Han, kalo gue sakit, gue harus ngeluh sama siapa?"
"Sama gue, lah. Emangnya lo punya siapa lagi selain gue? Apa lo udah punya pacar?"
"Han, gue sakit. Gue sakit hati." Rengek Indra. "Fisik gue juga sakit."
"Lo kenapa?" Tanya Hana penuh simpati.
"Tante kalo masak pedes banget, gue nggak kuat. Gue sering mules, kadang sampe diare juga."
Mendengar hal tersebut, Hana bingung harus bereaksi seperti apa. Perasaannya sedang teriris, namun ucapan Indra seperti ingin membuatnya tertawa. Dengan ekspresi wajah aneh, serta hidung yang kembang-kempis, Hana menepuk punggung adiknya.
"Nggak asik lo, ah! Lawak banget. Jadi, gue harus nangis apa ketawa, nih?" Ucap Hana kesal. Ia setengah tertawa, namun air matanya ikut turun perlahan. Diusapnya air itu dari pipinya.
"Seriusan, Han. Gue sering sakit perut, tapi berhubung gue anak cowok, gue harus kuat. Gue nggak boleh ngeluh." Kata Indra. "Tapi tetep aja perut gue mules."
"Emangnya nggak bisa ngomong sama tante baik-baik? Kalo lo mules terus gitu, agak nggak tega juga gue. Bilang, kek, kalo lo kepedesan. Atau bilang aja sekalian kalo lo nggak bisa makan pedes. Biar ada solusi lain soal perut lo yang rewel itu."
"Percuma, Han. Waktu itu gue udah pernah bilang sekali, tapi ya sekali itu juga tobatnya. Habis itu balik lagi kayak semula. Tiap hari gue berasa berak cabe tahu, nggak."
"Tapi lo tetep makan?"
"Ya tetep gue makan. Emangnya mau gimana lagi? Tiap makan aja selalu bareng satu meja. Nggak bisa ngehindar gue."
"Makan yang nggak pedes, kek. Gorengan, apa lauk lain yang nggak ada cabenya. Kerupuk misalnya."
"Nggak pernah ada goreng-gorengan. Satu-satunya yang nggak pedes cuma nasi sama air putih. Pernah juga waktu itu tante bikin pecel. Masa iya gue makan pecel pake sayurnya doang? Apa gue garemin aja itu sayur?" Indra menggeleng. "Nggak, deh."
__ADS_1
Hana menahan tawanya, lalu diusapnya punggung adiknya yang mulai melebar tersebut. "Yang sabar, ya?"
* * *