
Ruri memasukkan handphone ke kantongnya dan langsung berlari keluar kelas setelah Inung memberi kode pada Ruri untuk segera mengejar Hana. Suara kakinya saat menapaki lantai benar-benar berisik, hingga membuat Hana menoleh tepat ketika Hana berada di ambang pintu. Sebelum Hana sadar situasi, Ruri menarik tangan Hana agar ia dapat dengan segera menjalankan misi perdamaian.
Ruri dan Inung mengatur tempat duduk sedemikian rupa. Satu meja yang dikelilingi empat kursi, dengan Hana dan Aji yang masing-masing duduk di dekat tembok, saling berhadapan. Kini Hana dan Aji berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan mereka untuk kabur.
"Gini ya, Han, Ji. Aku sama Inung nemuin kalian berdua buat nyelesaiin masalah, supaya kalian berdua bisa akur lagi, biar kita berempat nggak ada rasa canggung lagi. Bisa dibilang kita udah temenan cukup lama, sayang banget kalo pertemanan kita jadi renggang. Kalo bisa, ayo saling terbuka, kalian berdua kenapa?" Ucap Ruri mengawali pembicaraan.
Diam.
"Kalian mau ngomong apa terserah, nggak masalah mau itu penting ataupun enggak. Yang penting kita selesaiin masalah ini sekarang, biar kita bisa bercanda lagi kayak biasanya." Sahut Inung.
"Ngapain sih, pake acara kayak ginian segala? Norak." Dengus Aji sebal.
"Tuh, kan. Kalian bisa lihat sendiri, mulut dia emang tajem banget, kalo ngomong suka seenaknya." Ucap Hana tak kalah kesalnya.
"Males, ah! Mendingan aku pulang."
Aji yang beranjak seketika ditahan oleh Ruri sehingga kembali duduk dengan keterpaksaannya.
"Kita bentar lagi lulus, aku nggak mau nanti kita pisah dengan cara yang nggak baik." Ucap inung.
"Kalo nggak ada yang mau ngomong duluan, ya udah aku yang tanya." Ucap Ruri hati-hati. "Hana, kalian kenapa kok sampe berantem?"
"Aku sakit hati dia ngomong kasar sama aku." Hana memulai pengakuan.
"Lagian udah tau lagi main game, malah digangguin. Siapa yang nggak kesel coba?"
"Itu cuma game, Ji. Nggak perlu kamu ngata-ngatain aku pake bahasa yang nggak pantes, apalagi kamu bilang kayak gitu ke cewek!"
"Halah, kamu aja yang baperan! Lagi pula itu hal biasa kalo di game."
"Tapi ini bukan di dalem game, Ji. Coba deh, bedain game sama dunia nyata, nggak semua orang bisa tahan sama omongan kasar."
Hana berusaha membawa diri, ia tidak ingin terbawa emosi untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Emangnya Hana gangguin gimana, kok sampe bikin kamu marah?" Tanya Ruri lagi.
"Dia tanya melulu, mana maksa lagi, harus banget pake jawaban yang jelas. Lagian posesif amat jadi cewek."
Hana menelan ludah, mencari senjata yang tepat untuk menyerang Aji. Sudah sejak beberapa menit lalu ia mengepalkan tangannya.
"Pantesan ngejar cewek nggak pernah dapet." Jawab Hana sinis.
"Maksud kamu apa?" Aji mulai meninggikan suaranya, Hana telah berhasil menyerang titik terlemah Aji.
"Hei!" Bentak Ruri pada keduanya. "Di awal aku udah minta supaya diselesaiin dengan kepala dingin, kalaupun nggak bisa, nggak apa-apa. Asalkan bisa nyelesaiin masalah, bukan malah memperparah kayak gini."
Mereka bertiga tercengang melihat keseriusan Ruri, tidak biasanya ia keluar dari zona kalemnya. Membuat Hana mengurungkan niat untuk menggebrak meja dengan tinjunya. Perlahan ia pun melepas kepalan tangannya.
Di balik itu, sembari ia menggenggam emosinya, Ruri juga berusaha sangat keras untuk memilih kalimat agar tidak menyakiti siapapun. Ruri memutar otak, rasanya sulit sekali melunakkan kepala mereka berdua.
"Pertama buat orang yang paling deket sama aku, Hana. Aku mohon sama kamu, ada baiknya kamu jangan sampe maksa keinginan orang lain, kecuali sama aku." Ruri menghela nafas. "Terus Aji, semarah apapun kamu, sebisa mungkin jangan sampe kasar sama cewek, baik tangan maupun mulut kamu. Kalo sesama cowok, itu terserah kamu."
"Kalian ada unek-unek apa, sebelum aku suruh kalian saling minta maaf?" Tanya Inung kemudian.
"Aji sejak deket sama Bella, temperamennya jadi jelek. Mulutnya emang masih sama kayak dulu, cuma sekarang dia jadi lebih sering ngomong kasar." Keluh Hana dengan lirikan tajam.
"Kamu sendiri sejak pacaran sama Ruri jadi lebay." Balas Aji atas ucapan Hana.
"Lihat aja nanti, kalo kamu udah punya pacar." Hana menyilangkan tangannya di depan dada, serta membetulkan posisi duduknya yang tidak nyaman. "Aku yakin kamu bakalan nyesel pernah bilang kayak gitu."
"Semoga aja pacar aku nanti bukan cewek yang suka mukul orang."
"Kalo kamu emang pantes dipukul, sih."
Hana melirik bagian wajah Aji yang sempat terkena pukulannya hari lalu. Rupanya terdapat meninggalkan bekas ungu kebiruan disana. Hana ingin tertawa, namun ia tahan.
"Apa lihat-lihat?" Sungut Aji sambil memegangi pipi kanannya, "kemarin ibuku tanya pipi aku kenapa, aku jawab aja berantem. Malu banget kalo harus bilang habis ditonjok sama cewek."
__ADS_1
Ruri dan Inung tertawa serempak, rupanya Aji perlahan mulai melunak.
"Lagian kamu, Ji. Hana kok dilawan, aku aja nggak berani." Goda Ruri.
Aji menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Ya, belakangan ini ia memang agak kurang baik. Jam tidurnya berkurang, ia jadi lebih sering emosi, dan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Mungkin hal itu yang membuat Aji lelah secara mental, terlepas dari apapun penyebabnya.
Aji muaki penasaran dengan satu hal. "Han, kamu serius pas tadi kamu bilang kalo sejak deket sama Bella, aku jadi gampang tersinggung?"
Hana mengangguk. "Bukan cuma aku aja yang ngerasa, Inung juga gitu. Kenapa?"
Jawab Aji hanya dengan menggelengkan kepala.
Aji bercerita tentang hal yang berkaitan tentang pertanyaan Hana, kalau sore itu ia mengobrol ria dengan Ruri dan Farah, dan beberapa cerita panjang kemudian...
Hana memahami maksud Aji. Mereka sama-sama sedang berada dalam tekanan, namun mereka tidak membiarkan satu orang pun mendengarnya, sehingga hal sekecil apapun dapat memicu ledakan emosi yang sangat besar. Yang orang tahu, memuncaknya emosi Hana dan Aji disebabkan oleh pemicu tersebut. Padahal tidak sesederhana itu. Sebenarnya ada hal besar dibaliknya yang menjadi penyebab utama emosi mereka mudah tersulut.
Inung memandang lurus kearah Ruri, "kamu bengong, Ri?"
Ruri mengerjapkan mata, pertanyaan inung membawanya kembali dari kealpaannya. Entah apa yang ia lamunkan. "Ah, masa? Mungkin aku terlalu serius dengerin cerita kalian."
Hana tersenyum melihat Ruri yang kikuk sesaat.
"Padahal gampang buat mereka akur lagi, emang bener yang bikin susah itu egonya. Coba kalo beneran dibiarin akur sendiri, pasti sampe ke buyut-buyutnya masih nyimpen dendam." Tebak Inung sembari terkekeh.
Ruri setuju. Buktinya ia harus mengencangkan urat lehernya terlebih dahulu agar mereka berdua mau mendengarkan.
Terkadang memecahkan batu bisa dilakukan dengan cara memukulkan batu lain yang lebih besar.
Perbincangan panjang itu tanpa terasa telah membawa mereka pada sunyinya sekolah. Lembayung mulai nampak sedikit demi sedikit, burung-burung yang bergerombol mulai pulang ke sarangnya, dan ruang kelas yang perlahan mulai meremang.
Hana bergidik, sepertinya mereka harus segera pulang.
* * *
__ADS_1