SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Ex Prank


__ADS_3

Hana masuk ke dalam kamar asrama, meletakkan tasnya sembarangan lalu duduk menyandar pada tembok. Lunglai.


Ia meraih botol yang terletak tidak jauh dari jangkauan tangannya. Ditenggaknya air mineral di dalam botol berukuran 600 ml sampai habis. Minuman itu terasa manis di mulut Hana yang sangat kehausan.


"Tumben sorean baru pulang? Ada acara apa?" Tanya Zia.


"Tadi niat banget Ruri sama Inung pake acara ngumpulin aku sama Aji, segala disuruh akur, terus debat sampe sore."


Di tutupnya botol kosong itu, Hana mengusap bibirnya yang basah terkena sisa air minum dengan punggung tangan. Lalu diletakkannya kembali botol itu ke tempat semula.


"Kirain apaan, soalnya kamu kayak kelihatan capek banget."


"Masa, sih? Padahal cuma capek biasa habis jalan dari sekolah ke asrama."


"Habisnya muka kamu memelas gitu."


"Muka memelas, muka tukang ngantuk, terus apa lagi? Padahal muka aku udah kayak gini dari sananya."


Zia melempar senyum kepada Hana. "Dasar tukang ngomel. Sana mandi dulu! Bau!"


Hana enggan. Mandi adalah kegiatan yang sangat melelahkan, dimana ia harus menggosok satu persatu bagian tubuhnya, Hana malas. Meskipun begitu, Hana terpaksa harus melakukannya agar dapat tidur dengan nyaman nanti malam.


Hana meraih handuk yang tergantung di belakang pintu, dan beberapa baju ganti dari lemarinya.


Beberapa waktu lamanya, Hana selesai mandi.


Hana mengeringkan rambutnya yang basah, diacaknya rambut itu menggunakan handuk. Beberapa air yang tidak meresap, menetes berjatuhan ke lantai.


"Zia, emangnya Bella sama Kak Nathan udah putus ya?"


"Nggak tahu, Han. Aku udah nggak pernah cari tahu lagi. Lagian Kak Nathan udah lulus, jadi aku udah nggak peduli. Kenapa emangnya?"


"Tanya aja." Hana mengibaskan rambutnya yang basah. "Aji masih ngotot ngedeketin Bella, tapi di tolak terus. Bella nggak ngasih tahu alesan pastinya sama Aji, bilangnya Bella pengen temenan aja. Siapa tahu Bella masih ada hubungan sama Kak Nathan, cuma nggak mau jujur sama Aji."


"Aku nggak tahu soalnya masih kesel gara-gara waktu itu Kak Nathan tiba-tiba nembak Bella terus langsung diterima gitu aja tanpa mikir. Mungkin Bella pilih-pilih orang yang mau deket sama dia." Zia mengendikkan bahu.


Hana mengangguk, berjalan menuju pintu dan menggantung lagi handuknya.


"Kenapa? Mentang-mentang kamu sama Aji udah akur, terus kamu mulai peduli lagi sama Aji?"


"Mau gimanapun juga Aji tetep temen aku, aku juga nggak begitu suka sama Bella. Kamu paham sendiri gimana rasanya."


"Syukur deh, kalo kalian udah baikan. Bentar lagi mau lulus masa masih mau cari masalah sama temen sendiri?"


Hana menyisir rambutnya yang kusut. Tidak terlalu panjang, namun Hana sedikit kesulitan saat mengurainya.


"Kamu tahu kalo mulut Aji kadang suka asal jeplak, Kan? Nah, sejak deket sama Bella jadi lebih parah. Aku nggak sukanya bagian itu. Terserah Aji mau pacaran sama siapa aja nanti, tapi kalo mulutnya jadi jahat sama temen sendiri, males banget, deh."


"Terus bercandaan kalian jadi nggak asik, dong?"


"Kalo bercanda sih, nggak masalah. Tapi kalo pake emosi? Jujur sebagai cewek aku ngerasa tersinggung." Ucap Hana. Seolah kalimat Aji sangat menusuk baginya hingga selalu membekas.


"Ciri-ciri bucin parah kalo misal pacaran."


"Iya kalo bucin, kalo misal toxic?"


Zia mencibir. "Ayolah, Han. Nggak semua hal harus kamu pikirin negatifnya. Coba sekali-kali arahin pikiran kamu kearah yang lebih positif."


Lalu suasana menjadi sunyi. Hana tampaknya sengaja mengabaikan kalimat terakhir Zia. Kepalanya hanya mengangguk kaku, malas-malasan.


"Kamu kalo pas dinasehatin tapi diem kayak gini, biasanya lagi ada masalah."


"Sok tahu kamu, Zi. Aku juga butuh diem, tahu. Kamu lupa kalo aku habis debat panjang sampe sore begini? Capek ini mulut ngomong terus." Jelas Hana. "Lagian sekarang aku juga lebih sering berfikir positif daripada negatifnya."


Zia melirik tidak percaya, karena bagi Zia sama saja, dan terkadang perkiraan Hana banyak melesetnya.


"Ih!" Hana merajuk, "kok ngeliatinnya kayak gitu, sih? Beneran tahu!"


Zia tidak bisa tidak tertawa, usia Hana yang lebih muda beberapa bulan darinya terkadang membuatnya memiliki perasaan seperti seorang kakak yang ingin menjahili adiknya. Sangat lucu melihat Hana yang mulai mengerucutkan bibirnya saat sedang berpura-pura marah.


"Bosen banget. Enaknya ngapain ya?" Ucap Hana mengawang.


"Baca buku." Usul Zia.


"Lagi males baca tulisan banyak-banyak."


"Main game?"


"Nggak."


"Nonton film, yuk? Tadi aku habis download film baru. Kayaknya bagus." Ajak Zia penuh semangat.


"Males, ah. Aku kalo nonton film bareng biasanya ketiduran pas ditengah-tengah. Habis itu males buat lanjutin lagi."


"Tinggal lanjutin, dong? Apa susahnya?"

__ADS_1


"Males lanjutin, tapi penasaran kelanjutan ceritanya apa." Hana nyengir.


Zia memasang ekspresi kesal, ia hampir menyerah dengan pertanyaan Hana yang sudah diketahui sendiri jawabannya. Hana hanya mencari validasi dari Zia.


"Emang judulnya apa? Genre apa?"


Zia mendengus, "katanya nggak mau nonton, kok tanya judulnya apa, genrenya apa? Aku nggak salah denger, kan? Atau ingatan kamu sependek Dory? Terus berenang, terus berenang, terus berenang, renang, renang." Ujar Zia sembari menirukan karakter ikan biru dan bersirip kuning pelupa dalam film Finding Nemo, lengkap dengan gerakan tangan yang menirukan cara ikan itu bergerak.


"Tanya doang. Penasaran bukan berarti suka. No, no, no." Jari telunjuk Hana bergerak ke kiri dan kanan seiring dengan kepalanya yang juga ikut bergeleng.


Zia menghela nafas. Kadang menjengkelkan menghadapi Hana yang tiba-tiba berubah moodnya.


Beberapa saat kemudian Zia menemukan sebuah solusi yang sulit ditolak.


"Makan aja, yuk? Ayo kita jajan keluar."


"Wah, ide bagus, Zi!"


"Iya, kan? Ya udah ayok buruan."


"Tapi, kayaknya ada yang lebih bagus lagi."


"Emang ada ide bagus selain makan?"


Hana mengangguk. Dengan semangat ia mengambil handphone, mencari nomor seseorang, dan mengetikkan suatu pesan lalu mengirimnya.


"Ya elah, ditanyain juga. Bukannya jawab malah mainan handphone."


"Lah, justru ini ide bagusnya."


"Apa?" Tanya Zia penasaran.


"Aku mau ngerjain Ruri, ngaruh nggak ya?"


"Ngerjain gimana?"


Hana menunjukkan isi pesan yang dikirimnya, Zia terkejut saat membaca isi pesan tersebut.


"Kamu serius hal kayak gini dibercandain?"


"Udah, tenang aja. Nggak bakalan lama, kok."


Beberapa menit kemudian handphone Hana berdering. Terlihat panggilan dari Ruri di layar handphonenya.


"Heh, orangnya nelpon." Ucap Hana panik ketika jawaban pesan darinya bukan kembali dalam bentuk teks melainkan sebuah panggilan telepon. "Angkat jangan?"


[ Panggilan berlangsung... ]


Hana: "Halo?"


Ruri: "Halo, kamu kenapa?"


Hana: "Udah jelas, kan. Aku pengen minta putus sama kamu soalnya aku mau balikan sama mantan aku."


Ruri: "Iya. Tapi kenapa tiba-tiba banget?" Suara parau Ruri mulai terdengar dari seberang telepon.


Hana: "Ya, nggak apa-apa. Emangnya butuh alesan apa?"


Ruri: "Aku ada salah ya, sama kamu? Bilang salahku dimana."


Hana: "Nggak ada, Ri. Aku cuma pengen balikan aja sama mantan aku."


Ruri: "Aku bikin salah apa, Han? Bilang sama aku. Jangan tiba-tiba minta putus kayak gini. Seenggaknya kasih aku alesan yang bisa aku terima."


Hana: "Nggak ada, Ri. Cuma itu alesan aku."


Ruri terdiam.


Hana: "Ri?"


Ruri: "Ya?"


Hana: "Kok diem? Jawab pertanyaan aku, kita putus ya?"


Ruri: "Nggak mau."


Hana: "Katamu nggak mau maksain keinginan aku?"


Ruri: "Han..."


Hana: "Ri, aku juga pengen bahagia."


Ruri kembali terdiam sejenak.


Ruri: "Ya udah, kalo bahagiamu emang disana, aku nggak bisa maksa. Jangan sampe nggak bahagia, ya? Aku nggak ikhlas."

__ADS_1


Hana: "Ya udah, makasih ya, Ri?"


Ruri: "Iya."


[ Panggilan berakhir... ]


Hana melepaskan tawa yang sejak tadi sempat ia tahan. "Ya ampun kasihan banget Ruri. Serius banget dia nanggepinnya."


"Jelas, lah. Kamu ngomongnya juga pake nada serius. Gimana nggak percaya coba?"


Hana mengatur nafasnya agar tawanya segera hilang dan melanjutkan aksinya untuk mengerjai Ruri lagi.


"Habis ini mau gimana?" Tanya Zia penasaran.


"Bentar-bentar." Hana memanggil nomor Ruri kembali. Ia sedikit gugup karena panggilannya sempat tidak terjawab satu kali.


[ Panggilan berlangsung... ]


Hana: "Halo, Ri?"


Ruri: "Iya, ada apa lagi?" Jawab Ruri yang sepertinya tengah menahan tangis, suaranya berubah serak.


Hana: "Nangis, ya?"


Ruri: "Nggak."


Hana: "Berarti kita udah putus, kan?"


Kesekian kalinya Ruri terdiam.


Hana: "Ri? Jawab."


Ruri: "Iya."


Hana: "Berarti kita udah jadi mantan, kan?"


Ruri: "Iya, Han."


Hana: "Ya udah, ayo balikan."


Hening sepersekian detik.


Ruri: "M...maksud kamu apa? Aku nggak ngerti."


Hana: "Kan, kita udah putus."


Ruri: "Terus?"


Hana: "Berarti kamu udah jadi mantan aku."


Ruri: "Iya, terus?"


Hana: "Tadi aku bilangnya apa? Aku minta apa?"


Ruri: "Minta putus sama aku soalnya mau balikan sama mantan kamu."


Hana: "Kita barusan udah putus, berarti kamu mantan aku apa bukan?"


Ruri: "Iya."


Hana: "Ya udah, ayo kita balikan."


Ruri: "Bentar, bentar. Hah, maksud kamu, ini kamu cuma mau ngerjain aku doang?"


Hana tidak dapat menahan tawanya lagi.


Ruri: "Dasar, ya. Jahil banget jadi orang, aku udah serius tahu! Udah hampir jantungan aku. Kirain minta putus beneran. Aku lagi mikirin sebenernya salah aku dimana, aku kurang apa? Eh, tahunya."


Hana: "Mana udah nangis sampe ingusan." Hana terbahak.


Ruri: "Asem, asem. Dikerjain."


Hana: "Tadinya aku nggak mau bilang, biar besok pas di sekolah kamu tanya sendiri ke aku. Tapi aku nggak tahan, keburu gatel pengen ketawa."


Ruri: "Udah, ah. Aku jadi malu."


Hana: "Secinta itu ya sama aku?" Ledek Hana.


Ruri: "Tahu, ah!"


[ Panggilan berakhir... ]


Hana dan Zia tertawa cekikikan sampai keluar air mata.


"Untung Ruri emosinya nggak tinggi. Coba aja kalo dia tukang marah, pasti kamu udah habis, Han."

__ADS_1


"Nggak cuma itu, malahan mungkin udah putus beneran."


* * *


__ADS_2