
"Saya rasa, masalah ini tidak akan ada ujungnya. Masing-masing dari kalian berusaha saling melindungi diri sendiri. Saya tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Berhubung tidak ada saksi langsung waktu kejadian, saya panggil saksi lain boleh?" Guru BK melepaskan kedua tangannya yang terlipat setelah selesai mendengar perdebatan antara Ruri dan Farah.
Guru BK segera keluar ruangan setelah adanya anggukan kepala dari dua orang tersebut.
"Kak Ruri." Panggil seorang Farah.
Ruri mengacuhkan panggilan Farah, ia lelah menghadapi tingkah seorang gadis yang telah mengganggu kehidupannya belakangan ini. Ia lalu pura-pura sibuk memainkan handphone yang beberapa saat lalu dikembalikan oleh Edo kepadanya.
"Kak..." Panggil Farah putus asa, perlahan ia berdiri dari duduknya.
"Nggak usah ngomong apa-apa sama aku. Bisa nggak, kamu tinggal ngaku aja biar masalah ini cepet selesai? Aku udah muak sama semua drama kamu!"
"Kalo respon Kak Ruri baik, mungkin aku nggak akan cari-cari masalah!"
"Kamu lupa? Aku selalu baik sama kamu, tapi kamu malah salah mengartikan kebaikan aku, dan berujung ngelunjak kayak gini."
Dengan tubuh yang bergetar karena menahan tangis, perlahan Farah mendekat ke tempat Ruri duduk.
"Jangan mendekat!" Ruri menunjuk wajah Farah dengan tangan yang masih menggenggam handphone. "Stop! Aku bilang jangan mendekat!"
Tangis Farah pecah, dengan langkah yang sangat pelan, setiap satu langkah berhenti, ia tetap berjalan menuju Ruri.
"Kak Ruri... Aku cuma mau Kakak. Apa aku salah?"
Farah, seorang gadis yang baru duduk di bangku kelas satu SMA, tidak pernah Ruri sangka akan melakukan hal sejauh ini. Masih terlalu dini untuk melakukan hal-hal bodoh hanya karena cinta yang tidak terbalaskan. Membayangkannya saja Ruri merasa malu sendiri.
"Kak Ruri, jawab aku!" Ucap Farah dengan nada tinggi.
Karena khawatir Farah akan bertindak lebih tidak masuk akal lagi, Ruri mau tidak mau harus meladeni perkataan Farah.
"Aku udah punya pacar, dan itu jauh sebelum aku kenal kamu. Udah berapa kali aku jelasin? Udah, nggak usah permasalahin hal ini lagi."
"Kalo emang bener kayak gitu kenyataannya, kenapa Kak Ruri masih bersikap baik sama aku? Kakak nggak mikir perasaan aku karena udah bikin aku berharap lebih?"
__ADS_1
Ruri mengambil nafas panjang, bak mengisi seluruh tubuhnya dengan kesabaran. "Maaf kalo sikapku selama ini bikin kamu salah paham. Belakangan ini aku baru sadar, nggak seharusnya aku begitu. Aku jadi merasa bersalah sama kamu, juga Hana terutama. Maaf kalo aku nggak bisa ngejaga perasaan kalian. Dan setelah aku sadar hal itu, aku berusaha jaga batasan. Biar Hana nggak sakit hati, dan kamu nggak terus-terusan berharap sama aku. Sekali lagi aku minta maaf."
Mendengar Ruri yang menurunkan nada bicaranya, Farah pun melunak hatinya. Ia duduk bersimpuh di tengah-tengah ruangan dengan tangis yang sedikit mereda.
Tidak lama setelahnya, guru BK memasuki ruangan dengan diikuti Edo, Zia, dan dua orang siswa lain yang beberapa saat lalu beliau panggil sebagai 'saksi lain'.
Lima orang yang baru datang merasa bingung dengan suasana kala itu. Wajah Ruri yang sangat serius dan terkesan garang, serta wajah Farah yang terlihat begitu lusuh dengan tatapan mata menyedihkan.
"Kamu kenapa, Farah? Kenapa kamu duduk disini?" Tanya guru BK tersebut dengan heran.
Farah hanya menggeleng, mengusap air matanya dan kembali duduk ke tempat semula.
Semua orang memposisikan diri, duduk menyesuaikan kursi yang ada.
"Edo, Zia, apa benar kalian satu tim sama Ruri?" Tanya guru BK.
"Betul, Pak. Saya, Ruri, Zia, dan satu orang lagi. Kami berempat yang bertugas buat jaga pos terakhir." Jawab Edo.
"Coba ceritakan dari sudut pandang kamu, kenapa Ruri yang seharusnya berjaga di lapangan, malah berada di ruang OSIS?"
"Kami satu tim awalnya santai-santai, Pak. Karena kami pikir pos terakhir masih longgar waktunya. Lagi pula semua keperluan sudah disiapkan satu hari sebelumnya. Jadi kami sempatkan untuk ikut jalan kaki sebentar sampai ke pos dua, setelah itu baru kami pergi ke pos yang kami jaga." Edo menjelaskan.
"Kami beranggapan kalau kami bukan petugas utama yang harus bertanggung jawab penuh, jadinya kami lalai. Itu salah kami, Pak. Padahal kami tahu kalau kami diandalkan oleh teman satu tim yang lain. Akibatnya kami jadi keteteran dan beberapa keperluan banyak yang tertinggal di ruang OSIS." Sahut Zia, menambahi penjelasan Edo.
Edo mengangguk setuju. "Habis itu ada salah satu anggota tim yang suka rela untuk mengambil barang yang tertinggal di ruang OSIS, tapi sialnya dia malah nggak balik-balik, padahal kami semua sudah menunggu. Saya pinjam lah handphone Ruri buat koordinasi sama anak itu, juga anak-anak lain. Nah, disitu akhirnya Ruri memutuskan untuk menyusul si anak itu, tapi Ruri lupa nggak bawa handphonenya. Makanya kami hilang kontak. Ditambah lagi, Ruri ikutan nggak balik juga, Pak. Akhirnya saya juga ikut menyusul ke sekolahan, dan setelah itu, terjadilah hal seperti yang bapak lihat tadi."
"Kata Farah, dia di ruang OSIS untuk mencari tali rafia. Apa benar, di pos utama sedang membutuhkan tali rafia?" Tanya guru BK pada dua orang siswa lain yang beberapa waktu lalu ikut masuk bersama sang guru bersama Edo dan Zia.
"Benar, Pak. Kami memang sedang membutuhkan tali rafia. Tapi semua tali rafia sudah dibawa ke area pos utama. Kami kumpulkan di dekat sound system dekat lapangan." Jawab seorang siswa.
"Lalu kenapa Farah mencari lagi di ruang OSIS?" Tanya guru BK.
"Saya tidak tahu kalau sudah dibawa kesana semua, Pak. Makanya saya inisiatif cari sendiri. Saya juga datang lebih awal dari Kak Ruri, jadi tidak ada alasan buat saya untuk masuk ke ruangan tersebut hanya karena saya tahu ada Kak Ruri di dalam." Farah kembali berdalih.
__ADS_1
"Baiklah. Terimakasih untuk bantuannya. Saya cuma mau tanya itu saja. Sekarang, kalian berempat boleh kembali bertugas." Titah guru BK.
"Loh, Pak. Kami nggak tahu apa-apa, tiba-tiba disuruh masuk, ditanya hal sepele seperti itu, habis itu langsung disuruh balik tanpa tahu informasi apapun?" Protes seorang siswa lain.
"Saya minta maaf jika sudah membuang waktu kalian."
"Tidak usah meminta maaf, Pak. Kami jadi nggak enak." Zia tertawa canggung. "Kalau begitu, kami pamit mau melanjutkan kegiatan lagi. Ayo temen-temen!"
Zia mengode ketiga rekannya untuk segera meninggalkan ruangan tersebut. Dengan tatapannya yang memaksa, orang-orang tersebut pun dengan berat hati menuruti perintah Zia.
"Farah, apa kamu mau bilang sesuatu?"
"Saya tidak tahu kalau Kak Ruri mau datang, Pak. Saya juga nggak nyangka kalau Kak Ruri bakal ngelakuin hal kayak gitu."
"Kalau kamu, Ruri?"
"Terserah, Pak. Saya capek sama dia." Ruri merendahkan suaranya, bicaranya datar, tidak seperti sebelumnya yang terus saja menanggapi perkataan Farah.
"Kenapa begitu, Ruri?"
"Sebenar apapun saya, saya tidak akan menang melawan ego dari sebuah kebohongan." Jawab Ruri.
"Kakak nuduh aku bohong lagi tentang semuanya?"
Ruri mengusap wajahnya kesal. Rupanya Farah masih sangat gigih membuatnya naik pitam.
"Terserah kamu aja, lah, Farah. Terserah kamu mau ngomong apa sekarang. Bebas." Ruri beralih menatap guru BK. "Saya sudah tidak sanggup kalau harus menyelesaikannya hari ini, Pak. Masalah ini nggak akan pernah ada ujungnya kalau nggak ada yang mau ngalah. Dan saya ngalah."
Guru BK yang tadinya duduk menyandar pada sandaran kursi kemudian membenarkan posisinya. Memandang dua orang muridnya secara bergantian, beliau mengangguk.
"Tapi saya tidak salah." Ucap Ruri tanpa ada sedikitpun keraguan. Terdengar datar namun berwibawa.
Kalimat yang keluar dari mulut Ruri berhasil membuat Farah dan sang guru BK tertegun sekaligus. Meskipun singkat, namun terdengar jelas bahwa Ruri melontarkan kalimat tersebut dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
* * *