SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Mulut


__ADS_3

"Kamu habis dari mana, Han? Main pergi aja nggak bilang-bilang." Tanya Inung.


"Nemuin adek aku, katanya minta ambilin raport."


"Cieee. Kakak yang baik."


Hana mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Suasana persis seperti hari kemarin, ketika tiba-tiba ia dipanggil menemui Bu Yuni. Hana bergidik ngeri, hal menyebalkan itu tidak ingin Hana ingat-ingat kembali.


"Cari Ruri?" Tanya Inung lagi.


Hana menggeleng. "Enggak, kok."


"Kalo kamu cari Ruri, biasa, lagi nyamar jadi bang Toyib. Ngelayap sama temen-temen OSIS-nya."


Hana telah terbiasa dengan sibuknya Ruri. Seperti yang Hana bilang, ia tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Namun jika dibilang keberatan, ya, mungkin saja Hana lebih merasa nyaman ketika Ruri terus berada di sampingnya daripada ia harus memaklumi setiap ketidakhadiran Ruri.


"Udah dibagi belum, Nung?" Tanya Aji. Ia bertanggung jawab untuk mengambil alih kelas ketika wali kelas dan ketua kelas sedang berhalangan hadir.


"Belum, bentar lagi, nunggu anak-anak pada kumpul."


"Apanya yang dibagi?" Tanya Hana bagaikan alien yang baru saja mendarat di bumi. Asing dan tidak tahu apa-apa.


"Class meeting-nya mulai besok. Biasa lah, kita bagi tugas siapa aja yang ikutan lomba."


"Emangnya apa aja?"


"Kayaknya sih hampir sama kayak kemarin-kemarin. Bedanya besok ada jalan sehat, bukan bakti sosial." Jawab Aji.


"Bukannya dari dulu emang selang-seling ya? Kalo sekarang jalan sehat, class meeting besoknya bakti sosial, terus aja gantian."


"Tahu, nih, si Aji. Udah amnesia kali. Padahal dari awal kita masuk udah kayak gitu aturannya. Bahkan katanya udah dari jaman nenek moyang. Pokoknya kalo kenaikan kelas itu baru bakti sosial." Protes Inung pada Aji.


"Masa, sih? Ya maaf. Mana aku tahu kalo itu udah ada polanya. Aku nggak merhatiin banget."


"Emangnya selama ini kamu kemana aja?" Inung meledek Aji yang nampak menciut mendengar penjelasan Inung tadi.


"Aku disini. Mata aku disini, kuping aku, badan aku, semuanya ada. Aku cuma lupa aja, lagian aku jadi bagian eksekusi bukan yang bagiannya tukang mikir-mikir. Itu jatah kalian." Jawab Aji menggerutu.


"Iya, deh, iya."Jawab Inung.


"Nadanya jangan kayak gitu kenapa? Aku jadi ngerasa aneh. Berasa aku yang cerewet tapi tetep diiyain aja."

__ADS_1


"Emang iya, kan?"


Pertanyaan balik dari Inung sukses menghibur Hana. Pemandangan yang sangat sering terjadi. Entah apa motivasi Aji sehingga masih saja meladeni setiap perkataan Inung yang tidak pernah ada habisnya. Faktanya, keduanya memang sama saja.


"Aku mau ke toilet sebentar."


"Mau ke toilet, apa mau mengintai Ruri, nih?" Inung mengerling jahil.


"Palingan mau ngawasin pacarnya." Sahut Aji.


"Daripada kamu, nggak ada pacar yang perhatiin."


Inung tertawa cekikikan, tampak seperti mengejek Aji dengan muka yang berubah masam sesaat setelah kalimat Hana terlontar.


"Cewek mah aneh. Sumpah, aku nggak ngerti sama isi pikiran kalian para cewek. Udah tahu hal kayak gitu bisa bikin sakit hati, eh masih aja cari tahu."


"Aku lebih nggak ngerti lagi sama cowok jomblo yang sukanya komentar terus soal hubungan orang." Balas Hana sambil berlalu, diikuti Inung di belakangnya.


Hana berjalan cepat, seolah sudah menargetkan kemana arah kakinya berjalan.


"Mana, sih? Kok Ruri nggak kelihatan?" Tanya Inung dengan mata yang sibuk mencari sosok Ruri.


"Bantuin kamu, lah." Inung melanjutkan kegiatan celingak-celinguknya.


"Ngapain?" Hana terkekeh renyah. "Aku beneran mau ke toilet doang, udah kebelet banget ini."


"Lah? Aku kira cuma modus kamu doang buat kepoin dimana Ruri. Ternyata beneran ke toilet?"


"Aku kebelet beneran. Tapi kalo nemu Ruri secara nggak sengaja juga nggak masalah. Anggep aja bonus."


Hingga keduanya tiba di toilet, Hana sayup-sayup mendengar seseorang dengan suara asing menyebut namanya. Langkah Hana terhenti, kalimat tersebut membuat Hana berdiri mematung, ia bersembunyi di balik tembok dan sengaja tidak menampakkan diri.


Setelah lama Hana menguping pembicaraan itu, kini tidak hanya namanya, bahkan suara itu menyandingkan namanya bersama dengan Zia, Farah, bahkan Ruri.


"Sumpah, deh. Kak Ruri itu asli ganteng banget. Tapi kenapa seleranya kayak Kak Hana gitu? Tinggi enggak, kalo dibilang cantik juga nggak cantik-cantik amat, malahan masih cantikan aku kemana-mana. Mana saingannya si Farah lagi. Kayak, haloo, cewek di sekolahan ini banyak loh yang cakep. Kenapa Kak Ruri deketnya sama yang modelnya pas-pasan kayak gitu?" Ucap seorang siswi yang tidak Hana kenal.


Mendengar hal tersebut, Inung langsung bersiap maju, ingin segera menghampiri sumber suara. Namun langkahnya terhenti ketika tangan Hana menahan Inung kuat-kuat.


"Kenapa, Han? Labrak aja langsung. Kurang ajar banget mulutnya." Tanya Inung dengan nada tinggi, yang hanya dibalas dengan gelengan kepala Hana.


"Kak Ruri kena pelet kali, atau si ceweknya yang maksa. Nggak mungkin kalo Kak Ruri yang ngejar-ngejar. Atau nggak, misalpun Kak Ruri yang ngejar, kayaknya mendingan Kak Ruri ngejar Kak Zia nggak, sih?"

__ADS_1


"Nah iya, tuh." Sahut seorang siswi lain.


"Ah, kayaknya enggak, deh. Mendingan Kak Ruri sama aku aja."


"Yeee. Maunya. Nggak, deh, sama aku aja!"


"Heh, jangan keras-keras. Nanti kalo ada yang denger gimana?"


"Ya udah. Ayo cabut."


Setelah kalimat terakhir, toilet mendadak sepi. Orang-orang tersebut pergi tanpa berpapasan dengan Hana.


Obrolan para siswi yang saling bersahutan itu diperkirakan berasal dari adik kelas Hana, terdengar dari para siswi yang memanggil Hana dengan sebutan 'Kak'. Mereka saling melempar tawa tanpa ada yang terdengar lucu di telinga Hana.


"Han..." Inung memandang Hana dengan tatapan kesal namun pasrah. Ia sampai mengendurkan bahunya.


"Aku lagi males ribut, Nung. Masalah aku udah banyak." Hana kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda beberapa saat lalu.


* * *


Sejak kembali dari toilet, wajah Hana berubah murung. Hana kembali menjadi tukang tidur seperti sebelum-sebelumnya. Dan ketika ada yang bertanya, Hana akan menjawabnya dengan jawaban singkat bahwa dirinya sedang mengantuk.


"Kenapa?" Aji yang memperhatikan Hana sejak ia masuk ke dalam kelas, ia bertanya pada Inung hanya dengan menggerakkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara.


Inung menggeleng. Mengisyaratkan pada Aji agar sementara tidak menggangu Hana, dan akan menjelaskannya nanti.


Aji memainkan gitarnya, menyanyikan lagu-lagu yang pernah ia nyanyikan bersama Hana. Berharap Hana akan terhibur dan ikut menyahuti nyanyiannya.


Your hazel-green tint eyes watching every move I make


And that feeling of doubt it's erased


I'll never feel alone again with you by my side


You're the one and in you I confide more


Warmness on the Soul by Avenged Sevenfold


Sementara Hana, dengan wajah yang terbenam dalam kedua lipatan tangannya, sedang mencoba melerai hati dan pikiran yang sedang bertengkar hebat di dalam dirinya.


* * *

__ADS_1


__ADS_2