
"Di Ruang OSIS." Ucap Hana. "Aku udah denger semuanya."
Jantung Ruri mencelos, seketika saja lutut Ruri terasa lemas. Ia mendudukkan dirinya di hadapan Hana. Kursi tersebut berdecit bersamaan dengan mendaratnya pantat Ruri disana.
"M...maksud kamu--"
"Aku tadi mau ke UKS, dan nggak sengaja denger percakapan kalian."
Ruri terdiam sejenak, lalu mendongakkan kepalanya seraya berkata, "Aku minta maaf, Han. Kamu jangan salah paham, ya? Yang dibilang Farah itu nggak bener. Dia bohong, Han. Dia ngarang cerita."
Kepala Hana tertunduk. Di sudut matanya terlihat sebutir air bening yang nyaris jatuh, namun buru-buru ia seka. Sepertinya gadis Ruri ini sedang terluka.
"Hana, kamu nggak marah sama aku, kan? Hana, plis ngomong sesuatu. Aku minta maaf kalo udah bikin kamu kecewa, tapi sumpah yang dibilang sama Farah itu nggak bener sama sekali, Han." Ruri meraih tangan Hana untuk digenggam, mencoba meyakinkan Hana.
Hana tersenyum kecut. "Aku nggak tahu mau ngomong apa."
"Han, aku selalu inget janji aku waktu itu. Tapi jangan putusin aku, ya? Aku mohon." Pinta Ruri.
Melihat raut wajah Ruri yang memelas, Hana menjadi tidak tega. "Aku percaya kok sama kamu. Kamu anak baik, nggak mungkin kamu bakal ngelakuin hal-hal jahat kayak gitu, apalagi di tempat yang semua orang bisa tahu."
Semakin erat genggaman Ruri pada tangan Hana, seperti tidak ingin dilepaskannya sama sekali.
"Makasih udah mau percaya sama aku, Han. Jujur aku takut kalo kamu sampe mikir macem-macem waktu kamu denger ini. Aku juga nggak berniat buat nyembunyiin masalah ini dari kamu, aku mau cerita sama kamu di waktu yang tepat."
"Tapi, janji adalah janji, Ri." Ucap Hana sembari melepaskan genggaman yang membungkus tangannya dengan hangat.
Mendadak tatapan Ruri penuh tanda tanya.
"Kita udah janji kalo hal kayak gini terulang lagi, hubungan kita nggak akan berlanjut, apapun alesannya." Jelas Hana dengan berat hati. "Jadi, kita putus, ya?"
Dengan gemetar, Ruri *******-***** tangannya. Tiba-tiba, seperti ada belati tajam yang menusuk hatinya. Ia sama sekali tidak membayangkan kalimat itu akan melesat begitu saja dari mulut Hana.
"Han, kamu nggak serius, kan? Tolong bilang kalo kamu cuma bercanda. Ayo bilang, aku nggak akan marah kok sama kamu." Mohon Ruri dengan wajah penuh keputus-asaan.
"Aku serius, Ri."
"Han..." Bisik Ruri dengan mata yang basah oleh bulir bening di pelupuk mata. Punggungnya bergerak naik turun secara cepat, tertunduk menahan isakan keluar dari mulutnya. "Aku mohon..."
Tidak hanya Ruri, bahkan Hana pun sama terpukulnya dengan laki-laki di hadapannya itu. Bukan maksud Hana ingin memperburuk keadaan Ruri, namun Hana bermaksud agar Ruri tidak bermain-main dengan janji.
__ADS_1
Hana berdiri, ingin segera lari dari situasi tersebut.
"Hana!" Ruri meraih pergelangan tangan Hana dan mencengkeramnya kuat-kuat.
"Lepasin, Ri. Nggak enak kalo ada yang lihat, ntar dikiranya kita lagi berantem."
"Masih mending kalo orang ngira kita lagi berantem, Han. Ini lebih dari sekedar berantem, dan ini nggak lucu sama sekali."
"Ri, lepas!" Hana berusaha melepas tangan besar yang mencengkeramnya erat. "Lepasin kalo nggak mau aku cap sebagai orang yang kasar!"
Ruri menguatkan bahu, ia menggeleng. Persetan dengan ancaman Hana. Baginya, melepas tangan Hana sama dengan merelakan hubungan mereka berakhir.
"Aku nggak rela kamu mutusin aku sementara hubungan kita lagi baik-baik aja. Aku nggak bisa terima."
Bukan, bukan karena Hana tidak mencintai Ruri. Namun, ia harus melakukan hal itu untuk kebaikan mereka bersama. Ia pun sama, tidak bisa menerimanya.
Dicobanya sekali lagi, Hana berusaha melepas genggaman Ruri yang terasa semakin kuat.
"Nggak bakal aku lepasin."
"Ri, ayolah... Kamu harus jadi orang yang bisa dipegang omongannya."
"Tapi kali ini beda, Han. Aku nggak mau."
"Kenapa harus putus, sih? Pake cara lain kan bisa? Pokoknya aku nggak mau, aku maksa."
"Jadi mau kamu apa?"
"Aku nggak mau kita putus sia-sia."
Hana terkekeh, "jadi, kamu pengen putusnya bermanfaat?"
"Eh? Nggak gitu. Maksud aku, aku nggak mau kita putus sia-sia kayak gini, kayak hubungan kita nggak ada artinya." Jawab Ruri panik. "Aduh, gimana, nih."
"Sesuai janji, kita emang harus putus."
"Nggak mau!"
"Hei..."
__ADS_1
Terpaksa Ruri menuruti perintah Hana meskipun ia sama sekali enggan mendengarnya. Kalimat tersebut terdengar sangat kejam di telinga Ruri.
"Kamu beneran mau minta putus?" Tanya Ruri memastikan.
Anggukan kepala Hana dijadikannya jawaban.
"Aku ada kesepakatan." Usul Ruri. Helaan nafasnya terdengar begitu berat. "Kita putus, tapi cuma status kita aja yang berubah. Sementara hubungan kita masih tetep kayak biasanya. Gimana?"
"Mana bisa kayak gitu?" Protes Hana.
"Nggak ada penolakan. Itu satu-satunya cara supaya aku bisa terima kalo kita putus. Dengan cara ini, aku udah nurutin permintaan kamu, sekaligus penuhin janji kita. Juga nggak ngerugiin aku karena permintaan sepihak dari kamu. Kalo kamu masih tetep nggak mau, ya udah nggak usah putus sekalian."
Rupanya, ide tersebut terdengar lebih manusiawi di telinga Hana, meskipun masih tercium sedikit bumbu keegoisan. Hati kecilnya tidak menolak hal tersebut.
"Gimana?" Ulang Ruri. Kali ini ia melepaskan cengkeramannya dengan suka rela. Dan membuat gestur ingin menyalami tangan Hana sebagai simbol kesepakatan. "Deal?"
Dengan ragu, Hana menyambut uluran tangan Ruri. Rupanya, segala keputusan memang harus diputuskan bersama.
Hana tersenyum. Tampak lebih manis dibandingkan ekspresi wajahnya beberapa detik lalu.
"Oke, deal."
"Janji, ya? Cuma status kita aja yang berubah? Hubungannya jangan."
Dihempaskannya sebelah tangan yang bertaut dengan tangannya. "Belum juga mingkem, kamu udah mau bikin janji lagi?"
Senyum Ruri kini tampak lebih lega, Hana yang cerewet dan suka sekali protes itu telah kembali. Diraihnya kedua tangan Hana, dipegangnya lembut.
"Aku janji, nggak bakalan umbar-umbar janji lagi. Aku juga janji, kita bakalan lebih fleksibel mengelola janji. Nggak melulu harus A, harus B."
Angin bertiup perlahan, membawa udara panas dari luar, mengalir masuk ke seluruh ruangan, dan menjalar sampai kepada pipi Hana. Guratan senyum menghiasi wajah keduanya.
Hana hampir saja menyesal karena telah membuat langkah bodoh. Beruntung lawan bicaranya adalah Ruri, sosok yang selalu memiliki pemikirannya sendiri.
"Yeee... Senyum-senyum. Tadi aja, cemberut kayak curut." Goda Ruri.
"Tega banget ngatain aku kayak curut? Kamu udah nggak sayang?"
"Ya, gimana, ya? Barusan aja kamu hampir bikin kita udahan."
__ADS_1
Dan seketika Hana kembali mengomel, mengeluarkan jurus yang tak terkalahkan, bahkan dengan pidato penuh kalimat bijak dari Ruri sekalipun.
* * *