SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Alasan


__ADS_3

Ruri melirik jam tangannya, memperhatikan para siswa yang berlalu lalang, nampak sedang benar-benar menunggu seseorang.


Begitu sumringah wajahnya ketika seorang gadis yang ia tunggu mulai masuk ke dalam kelas. Dari tempat duduknya, Ruri menatap Hana lekat-lekat hingga Hana sampai di tempatnya.


Hana menahan tawa dengan mulut tertutup, padahal dalam hati ia sedikit merasa gugup disebabkan oleh tidak lepasnya tatapan Ruri terhadapnya.


"Ketawa?" Ruri menyilangkan tangan di atas dada, mempertajam tatapannya dengan menaikkan kedua alisnya.


Senyum Hana bertahan sangat lama ketika menyadari ekspresi wajah Ruri yang sedang pura-pura kesal.


Hana menaruh ransel miliknya di atas kursi. Baru saja ia duduk, Ruri sudah menyusul dan langsung merangkul Hana dengan erat.


"Orang kalo nggak jahil kenapa? Kalo belum ngusilin aku kayak ada yang kurang ya?" Ruri mencubit pipi Hana berulang kali meski Hana terus menghindar.


"Ampun!" Mohon Hana sambil tertawa, seperti seorang yang sedang berusaha melepaskan diri dari gelitikan yang menyerang tubuhnya.


"Apa kamu bilang? Aku nggak denger." Ruri melanjutkan beberapa rangkulan serta cubitannya sedikit lebih agresif, tidak terlalu keras, namun cukup membuat Hana kewalahan untuk melepaskan diri.


"Ampun, sayang, ampun." Intensitas tawanya membuat Hana hampir menangis, ia hampir kehabisan daya. "Udah, Ri. Aku kapok!"


Ruri salah tingkah mendengarnya, ia pun menghentikan serangan tersebut.


"Kamu bikin aku hampir jantungan tahu nggak? Bisa-bisanya kamu ya!"


Hana nyengir, "kamu kira kamu doang yang panik? Aku juga deg-degan banget, aku takut kalo beneran putus."


Ruri meremas kedua tangannya gemas, tepat di depan wajah Hana. Mengisyaratkan ia ingin meremas wajah Hana seperti sebuah gumpalan kertas yang membentuk bola. Ia menggeram.


"Tahu gitu aku pura-pura marah aja kemarin, biar kamu aja yang panik."


"Udah lewat!" Hana menjulurkan lidah, meledek Ruri dengan penuh candaan.


"Awas aja kalo kamu sampe ngerjain aku pake kata-kata itu lagi. Putus beneran baru tahu rasa!" Ruri pundung.


"Iya, iya. Nggak akan lagi, deh. Kali ini aku yang salah, tapi aku nggak mau minta maaf."


"Loh, kok gitu? Curang itu namanya."


"Aku penganut aliran cewek nggak pernah salah."


Ruri menggelengkan kepala pelan seraya memegangi keningnya, lagi-lagi Hana bertingkah lucu. Sulit baginya untuk marah pada Hana, meskipun sekedar berpura-pura.

__ADS_1


Aji muncul dengan wajah sinisnya. "Buset, dah. Masih pagi udah lihat adegan romantis aja."


"Apa, Ji? Kamu pengen?" Tantang Ruri.


"Biasa, Ri. Pengen tapi nggak kesampaian, jadinya gitu. Sirik aja bawaannya." Timpal Inung pada pertanyaan Ruri.


Aji berlalu begitu saja, mengabaikan Inung yang mulai berceloteh tentang dirinya, juga mengabaikan pemandangan indah dari dua sejoli yang membuatnya semakin merasa jomblo.


"Ya udah sana balik ke meja kamu." Usir Hana pada Ruri yang sudah nyaman berada di dekat Hana.


"Nggak mau. Orang aku maunya disini, kok."


Hana bergumam. "Dasar Ruri."


"Dasar Hana." Ucap Ruri menirukan persis seperti yang Hana katakan.


Hana yang merasa sedang dijahili balik membalas Ruri dengan pukulan kecil bertubi pada punggung Ruri. Ruri berpura-pura kesakitan dan balik meminta ampun pada Hana, ia semakin bersemangat untuk mencari perhatian lebih banyak dari gadis kesayangannya itu.


"Mana sini aku pinjem buku sama pulpen kamu. Aku males ambil ke belakang. Jauh."


"Nggak boleh. Ini semua khusus buat aku, kamu nggak boleh pinjem."


"Pelit amat. Emangnya sekhusus apa sampe pacar kamu yang super duper ganteng ini nggak dikasih pinjem?"


"Dasar nyebelin."


Hana hanya diam saja. Namun kentara sekali kalau ia sengaja menyimpan senyumnya.


Ruri melonggarkan ikatan dasi, merasakan gerah yang tiba-tiba. Ia meluruskan punggungnya, duduk dengan posisi tegak. Ia memegangi tengkuknya yang semakin terasa tidak nyaman.


"Kamu kenapa, Ri?"


Pertanyaan Hana membuat Ruri menoleh. Ia lalu membulatkan matanya, menatap Hana dengan tatapan panik. Ternyata Hana mengetahui kegelisahannya. "Ya?"


"Kuping kamu merah."


Reflek Ruri memegangi telinganya sendiri. Pantas saja terasa panas. Ruri kemudian meraih bolpoin milik Hana yang tidak jauh dari jangkauannya, untuk membuatnya sedikit lebih tenang.


"Soal kemarin, kenapa kamu iseng pake alasan itu buat jahilin aku?"


"Nggak ada alesan khusus buat ngerjain kamu kemarin, Ri. Aku cuma lagi bosen aja, terus bingung mau ngapain. Kenapa kamu tiba-tiba jadi serius kayak gini? Bercandaku kelewatan ya?"

__ADS_1


Ruri tidak menautkan matanya pada Hana yang tengah menatap kearahnya. Ruri mengusap wajahnya sendiri dan menghela nafas. "Nggak, kok."


"Nggak apanya?"


Ruri hanya menggeleng. Ruri meletakkan kembali bolpoin yang baru saja ia genggam. Mencoba beranjak dari samping Hana.


"Ruri." Cegah Hana dengan menarik lengan baju Ruri, mengajaknya kembali duduk dengan tenang. "Jangan diem aja. Jawab, Ri, kamu nggak suka bercandaan aku?"


Ruri berdeham, melepaskan tenggorokannya yang terasa tercekat. "Beneran kamu cuma iseng?"


"Beneran." Hana mengangguk dengan serius.


"Tapi ... Rasanya nggak mungkin kalo cuma iseng tiba-tiba bercanda ngajak putus."


"Maksud kamu apa, Ri? Aku nggak ngerti." Hana panik, Ruri berbicara seolah berusaha menyerang kewarasannya.


"Jujur, Han. Kamu pernah ada rasa pengen putus sama aku, kan? Tapi selama ini cuma bisa kamu pendam, dan kamu nggak bisa ngomong langsung sama aku. Makanya kamu ungkapin dengan alasan bercanda?" Ucap Ruri pelan namun menusuk.


"Nggak sama sekali, Ri. Please, kamu jangan kayak gini. Aku minta maaf kalo aku berlebihan. Ya?" Hana menggenggam lengan Ruri dan mengguncangkannya.


"Baik kamu maupun aku nggak ada yang berlebihan, Han." Ruri melepaskan tangan Hana dari lengannya.


"Tapi kamu berlebihan kalo nanggepinnya paka cara kayak gini, Ri. Aku juga udah bilang berkali-kali ke kamu kalo aku cuma bercanda dan nggak ada maksud tertentu."


"Kok malah jadi kamu yang marah?"


Hana melipat bibirnya yang kering, ia tidak mengerti suasana apa yang sedang terjadi. Hana bukan gadis yang cengeng, namun kali ini ia hampir menangis.


"Kemarin aku kecapean habis pulang sore. Aku udah mandi dan ngelakuin hal lain tapi masih ngerasa bosen, aku nggak langsung kepikiran ide itu, Ri. Aku sempet minta saran sama Zia buat ngilangin bete. Jawaban Zia suruh baca buku, nonton film. Tapi aku ngerasa itu belum cukup bikin aku mood lagi. Baru aku kepikiran bilang itu ke kamu. Sumpah, aku nggak pernah mikirin hal kayak gini sebelumnya. Cuma spontanitas waktu itu aja."


Hana memandang Ruri gamang. Ia berharap cemas Ruri bisa menerima penjelasannya. "Ri?"


Ruri otomatis memalingkan wajahnya. Hana tentu sudah berulang kali menjelaskan pada Ruri dengan pernyataan yang sama.


Hana menahan Ruri agar duduk lebih lama. "Katanya tadi mau duduk disini? Aku mohon, jangan bikin aku bingung."


Ruri menghembuskan nafas pelan. Sebenarnya ia juga takut bereaksi terlalu jauh. "Iya. Kamu udah janji nggak bakal diulangin, kan? Aku cuma mau ingetin ini bukan candaan yang lucu."


"Janji, nggak bakal ulangin." Hana mengerlingkan matanya pada Ruri, namun Ruri masih saja tidak bergeming. Ruri mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Hana merasakan atmosfer berubah menjadi sangat dingin kali ini, sepertinya ia hampir mati membeku karena sikap Ruri yang berubah dalam sekejap. Hana penasaran dengan apa yang sedang terjadi dalam batin Ruri hingga membuatnya secepat itu terlihat berbeda.

__ADS_1


Hana masih saja mempertanyakan dalam hati, apa memang benar yang ia lakukan bukanlah sebuah candaan? Terlebih setelah melihat ekspresi Ruri yang biasanya lembut, namun kali ini tampak begitu kaku.


* * *


__ADS_2