SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Sekeras Batu


__ADS_3

"Aji, kamu inget nggak beberapa hari yang lalu pas kita ketemu di gerbang?"


Tanya Hana setelah ketidakfokusannya membaca buku, serta disaat Aji tengah serius-seriusnya bermain game.


"Yang sore-sore kamu sama Zia ambil barang yang ketinggalan? Iya, inget. Kenapa?" Jawab Aji dengan pertanyaan kembali, merespon pertanyaan Hana tanpa memalingkan pandangan pada layar handphonenya.


"Katanya kamu abis ngobrol bertiga sama Ruri terus sama adek kelas? Apa iya?"


"Iya. Waktu itu aku baru selesai ikut ekskul band, tapi nggak sampe selesai aku pulang duluan. Pas lewat depan kelas aku nyamperin Ruri bentar."


"Ngomongin apa emangnya?"


"Ada lah. Bukan hal serius." Jawab Aji acuh.


"Tinggal bilang aja kenapa? Aku cuma pengen tahu dikit."


"Kenapa nggak tanya aja sama Ruri langsung? Kamu nggak lihat aku lagi main game?"


"Yang sama Ruri udah aku tanyain ke Ruri."


"Kalo udah ditanyain ya udah, kenapa tanya lagi?"


"Aku mau denger dari cerita kamu, Ji."


Salah Hana adalah bertanya pada seseorang yang sedang fokus bermain game online, dimana bagi sebagian orang, game seakan menjadi taruhan hidup dan matinya. Umumnya beberapa orang akan menjadi sangat emosional.


"Aji." Desak Hana lagi.


Aji marah.


"Aji!"


"Anj*ng! Aku jadi kalah, bangs*t!


Aji berteriak, mengumpat keras pada Hana, membuat Inung yang semula diam kini beranjak dan mencoba melerai pertengkaran.


"Udah, udah. Jangan berantem, masih pagi!"


Ruri baru saja berangkat, ia bergegas menuju sumber suara begitu mendengar teriakan keras yang familiar dari luar kelas.


"Hana, tuh. Pagi-pagi udah cari masalah duluan. Nggak lihat apa kalo aku lagi ngegame?"


"Ada apa ribut-ribut?" Tanya Ruri dengan ritme nafas yang tidak beraturan setelah berlari.

__ADS_1


"Urusin, tuh, cewek kamu! Pagi-pagi udah bikin emosi aja!"


Ruri menggenggam tangan Hana yang sudah mengepal sangat kencang, ia yakin sebentar lagi Hana pasti akan meninju Aji ketika kemarahannya sudah memuncak.


Ruri mengelus lembut tangan Hana, berharap gadis itu mengendurkan kepalan tangannya.


Inung pun ikut menenangkan Aji, didekatinya Aji agar tidak bertindak lebih jauh lagi.


"Hana, yang tenang. Duduk dulu, yok."


"Aku cuma tanya sesuatu pas dia lagi ngegame. Aku tahu aku salah, aku maksain tanya sama dia tapi nggak lihat situasi dulu, tapi dia nggak perlu anj*ng-bangs*tin juga di depan muka aku! Sebesar apa kesalahan aku sampe dia ngomong kasar kayak gitu?"


"Terus kalo kamu marah, aku harus baik-baikin kamu? Dasar cewek, maunya menang sendiri." Aji menatap sinis.


"Aji, udah, Ji." Ruri menahan Aji yang bersiap maju kearah Hana.


"Jelas, aku maunya menang sendiri, siapa coba yang mau kalah sama cowok kasar kayak kamu!"


"Aku juga mana mau ngalah sama cewek kayak lon-"


Bugg!!!


Belum sempat Aji menyelesaikan kalimatnya, Hana sudah memukul wajah Aji sekuat tenaga. Ia sangat terluka mendengar kalimat kasar yang sangat tidak pantas tersebut.


"Benci banget sama mulut Aji! Ruri aja nggak pernah ngebentak aku, apalagi sampe ngomong kasar kayak gitu." Sungut Hana.


"Mungkin kalian lagi sama-sama sensitif, tenangin diri kamu aja dulu." Ucap Inung hati-hati. "Nanti aku marahin Aji."


Hana merapikan penampilannya di depan cermin toilet, matanya masih merah meski tidak ada bekas sembab pada kelopaknya. Dikibas-kibaskannya tangan kanan Hana yang terasa nyeri setelah memukul Aji dengan tinjunya.


"Tangan kamu sakit?"


"Nggak apa-apa, Nung. Muka Aji pasti lebih sakit. Biarin aja, biar tahu rasa."


"Aku nggak nyangka kalo Aji bisa sekasar itu. Setau aku cuma mulutnya aja yang lemes kayak anak cewek, ternyata mulut cewek sama cowok ada di dia semua. Lagian mereka tahu sendiri kalo udah main game jadi kayak orang kesetanan, masih aja dimainin."


Hana kembali ke kelas yang sebentar lagi dimulai, sepanjang jalan Inung menggandeng lengannya, ia tidak merasa keberatan dengan perlakuan Inung.


Hana masuk dengan enggan, tatapannya datar namun masih menyiratkan sisa amarah. Pun sama dengan Aji, mereka saling acuh satu sama lain. Seharian penuh mereka saling diam.


* * *


Sore harinya, baik Hana maupun Aji pulang tanpa saling sapa. Bahkan Ruri dan Inung tidak mereka hiraukan.

__ADS_1


"Ri, gimana, nih?" Tanya inung khawatir.


"Emang awalnya gimana, sampe mereka berantem kayak gitu? Aku nggak pernah lihat Hana marah sampe mukul orang, aku juga nggak pernah lihat Aji marah sampe berkata kasar sama cewek. Baru kali ini, lho, selama kita temenan."


Diceritakanlah pada Ruri kejadian pagi itu sepanjang Inung tahu.


"... Habis itu kamu dateng."


"Padahal dari kemarin mereka masih akur-akur aja, nggak kelihatan ada masalah. Soalnya mood mereka bisa ditebak dari raut muka."


"Makanya, tadi berantemnya juga singkat banget. Kayak spontan aja."


Ruri berfikir, mungkin ada penyebab lain di luar sekolah, yang bahkan tidak ada kaitannya dengan hal tersebut namun dapat memicu amarah masing-masing dari mereka.


"Emangnya kamu sama Aji ngapain aja sore itu?"


"Jadi, aku habis ada kegiatan OSIS. Nah, rapatnya itu di kelas kita, abis rapat selesai biasanya anak-anak suka saling ngobrol ngebahas hal yang nggak tentu, kayak kita ini ngobrol-ngobrol biasa. Pas aku mau pulang, si Farah itu nahan aku, katanya dia lagi ada masalah terus mau curhat bentar, aku iyain aja soalnya masih rame, tahunya lama banget sampe Aji selesai main band." Ruri menghela nafas, "biasa lah, kita saling sapa. Tapi akhirnya kita bertiga malah saling curhat sampe sore. Tepatnya Aji nyeritain kisahnya sama Bella ke Farah. Farah kayak biasa, seneng banget kalo ada orang yang mau ngobrol sama dia. Cocok, tuh, mereka berdua sahut-sahutan. Habis itu Aji pulang, tinggal aku doang sama Farah."


"Kamu ngapain deket sama cewek lain? Kamu nggak mikirin perasaan Hana?"


"Nah, itu salah aku. Habis itu aku berantem sama Hana, tapi sekarang udah aman, kok."


"Sumpah, cowok itu kadang nggak masuk akal."


"Idih... Kamu kira cewek enggak?"


"Kamu mau kita berantem kayak Hana sama Aji?"


Ruri memejamkan mata, merasakan kepalanya berputar-putar, menahan diri dan berusaha mengalah. Perempuan memang makhluk yang rumit.


"Jadi, kita harus ngapain supaya mereka akur lagi? Ini bakal susah, soalnya mereka sama-sama keras kepala." Ruri menghembuskan nafas, "kayaknya cuma aku yang sering ngalah, pusing banget aku ngadepin tiga orang kepala batu kayak kalian."


Inung memukul lengan Ruri, memang benar kata Ruri, Inung sendiri pun mengakuinya. Sempat Inung berfikir, jika tidak ada Ruri diantara mereka, pertemanan mereka pasti tidak akan sejauh ini.


"Besok udah reda belum? Besok pulang sekolah kita temuim mereka berdua." Tanya Inung.


"Nggak bakalan reda, Nung. Kalo dibiarin sampe ada yang ngalah duluan, sampe lebaran monyet juga mereka bakal diem-dieman terus. Harus kita yang maksa."


"Ya udah. Besok kita paksa mereka damai, kalo nunggu lebih lama takutnya mereka jadi musuhan."


Ruri mengulum senyum kecil. Tangannya meraih ranselnya yang tergeletak di atas kursi. "Ya udah, aku mau pulang dulu, takut Hana marah."


"Yee... Kamu kira aku mau nginep? Aku juga mau pulang kali!"

__ADS_1


* * *


__ADS_2