
Ketegangan antara Ruri dan Farah berlangsung panas. Seorang guru BK yang sejak beberapa saat lalu disebut 'Pak' oleh mereka berdua pun mencoba mendinginkan suasana. Beliau memberi jeda bagi masing-masing pihak untuk sekedar bernafas.
"Saya kembali ke ruang OSIS niatnya cuma sebentar, Pak. Saya cuma mau ambil dus air mineral, sama dus perlengkapan buat di pos terakhir. Saya nggak ada niat buat berlama-lama disini soalnya mau buru-buru dipakai. Saya juga nggak tahu kalo ternyata ada Farah di ruangan ini." Jelas Ruri panjang lebar.
"Apapun alasannya, semisal ada satu orang laki-laki dan satu orang perempuan terkunci dalam satu ruangan, nggak menutup kemungkinan kalo si laki-laki jadi punya pikiran kearah situ, Pak. Pelaku mungkin bisa milih siapa korbannya, tapi kejahatan nggak bakal milih siapa pelakunya. Kejahatan bisa dilakuin siapa aja, Pak." Bela Farah, ia berusaha keras mencari alasan.
"Kamu ngomong kayak gitu seolah aku ini bener-bener seorang bajing*n yang mau jahatin kamu. Apa motivasi aku ngelakuin hal bodoh kayak gitu, coba?"
"Dih. Kenapa tanya aku? Coba tanya sama diri Kakak sendiri. Nggak usah cari alasan buat nutupin kejahatan Kakak." Cibir Farah. "Kenapa? Malu, ya, kalo ternyata ketahuan?"
Hana tidak kuasa menahan gejolak di hatinya, sepertinya ia sudah sanggup mendengarkan pembicaraan itu lagi. Ia kemudian mengajak Inung untuk segera menjauh dari tempat itu sebelum orang-orang di dalam mengetahui bahwa Hana telah menguping pembicaraan mereka sedari tadi.
Zia mengangguk paham, mempersilahkan Hana serta Inung untuk pergi.
Beberapa saat setelah Hana menghilang, barulah Zia mendekati Edo yang sedari tadi menjaga pintu. Ia berbisik, meminta Edo mengatakan sesuatu pada sang guru BK.
"Beberapa siswa sudah mulai kembali ke sekolah. Supaya masalah ini tidak melebar, apakah tidak sebaiknya pindah ke ruangan lain dulu, Pak?"
Guru BK menyetujui usulan Edo, melihat kondisi pintu yang rusak parah akibat dobrakan yang dilakukan oleh tiga orang laki-laki; dirinya, Edo, dan seorang satpam. Beliau yakin, dengan kondisi tersebut, ruangan itu tidak dapat menampung orang-orang beserta rahasia di dalamnya.
"Ya sudah, Ruri sama Farah ikut saya ke ruang BK. Pak satpam sama Edo boleh kembali."
* * *
Ruri, guru BK, serta Farah kini berada dalam satu ruangan kecil dengan satu meja dan beberapa kursi. Ruri duduk di kursi paling ujung dan berjarak cukup jauh dari Farah yang memilih duduk agak dekat dengan meja.
__ADS_1
"Sungguhan, Pak. Saya cuma mau ambil barang habis itu langsung balik lagi, soalnya beneran urgent. Saya sudah ditunggu rekan lain. Saya tidak ada niat lain, bahkan niat buat mampir ke UKS pun tidak, Pak." Ucap Ruri.
"Ya jelas Kak Ruri nggak bakal ke UKS, orang Kak Ruri emang sengaja mau kesini."
"Saya satu kelompok sama Edo dan Zia, Pak. Sebenarnya ini bukan tugas saya, tapi rekan lain yang ditugaskan malah lama sekali tidak kembali, padahal sudah ditunggu. Jadi saya punya inisiatif kesini buat menyusul dia, Pak. Kalau bapak nggak percaya, bapak boleh tanya Edo sama Zia." Ruri menelan ludah, sesekali suaranya terdengar sedikit bergetar sebab menahan emosi dalam diri. "Dan pas sampe sini, barang yang harusnya dibawa malah masih utuh, dan orangnya nggak tahu kemana."
"Lalu yang dilakukan Farah di ruangan OSIS apa? Kok cuma sendirian aja?" Tanya guru BK.
"Saya bertugas di pos start dan finish, jadi saya tetap stay di sekolah. Kebetulan tadi saya mau ambil tali rafia. Terus nggak lama Kak Ruri masuk."
"Lalu setelah itu apa?" Tanya guru BK kembali.
"Awalnya Kak Ruri diam, terus saya ajak bicara supaya suasananya tidak canggung, dan berlanjut kami ngobrol seperti biasa. Tapi lama kelamaan, saya merasa omongan Kak Ruri malah jadi melebar kemana-mana, membahas hal-hal vulgar yang membuat saya risih mendengarnya, Pak. Saya takut. Saya buru-buru pergi, tapi Kak Ruri menghalangi saya dengan mengunci pintu ruang OSIS." Farah kembali menangis "Saat itu saya panik, pintu itu tidak bisa dibuka jika sudah dikunci dari dalam."
Wajah merah padam dari seorang Ruri menampakkan kemurkaan yang sangat ekstrim, namun tidak kunjung membuat Farah diam, malah justru membuat celotehan Farah kian menjadi.
"Bohong, Pak. Dia sendiri yang mengunci pintunya. Lagi pula tujuan saya melakukan itu untuk apa? Farah terlalu berlebihan mengarang cerita, Pak." Tidak hentinya Ruri membela diri ketika ucapan demi ucapan provokatif keluar dari mulut Farah.
"Emang perlu alasan yang jelas? Semua orang bisa aja ngelakuin kejahatan asal ada kesempatan." Jawab Farah.
Sulit sekali otak Ruri memproses cara agar dirinya segera terbebas dari situasi itu. Meskipun yang dikatakan Farah terdengar sangat tidak masuk akal, namun Farah mengatakannya dengan sangat yakin.
"Berarti termasuk kamu yang seenaknya memfitnah aku mumpung lagi ada kesempatan, kan?"
"Lihat, Pak. Kak Ruri bahkan menuduh saya memfitnah."
__ADS_1
"Saya nggak menuduh, Pak. Saya mengatakan yang sebenarnya. Semua yang dikatakan Farah itu bohong."
"Bohong? Mana buktinya? Kalo yang ini, jelas nggak?" Farah menunjuk luka-luka di tubuhnya.
"Saya berani sumpah, Pak. Saya tidak tahu dia dapat luka itu darimana, yang jelas saya sama sekali nggak nyentuh dia, pukul dia, atau apalah itu yang dia sebutkan tadi."
Mediasi antara Ruri dan Farah berlangsung sangat alot. Masing-masing pihak bersikeras membela diri mereka sendiri. Guru BK merasa bahwa bukti mengarahkan pada Ruri sebagai pihak yang bersalah, namun setiap perkataan Farah juga perlu ditelaah lebih dalam lagi kebenarannya.
Tidak ada bukti ataupun saksi langsung dari kejadian itu. Melerai pertikaian dua belah pihak yang berbeda pernyataan juga harus disertakan bukti yang valid dan logis.
* * *
"Udah, nggak usah dipikirin. Kamu tahu sendiri Ruri tipe orang yang kayak gimana. Kalo misal itu cewek lain, musti ada rasa curiga sedikit. Tapi itu Farah, udah pasti semua yang dia bilang itu bohong. Percaya sama aku." Ucap Inung pada Hana yang tidak absen dengan wajah murungnya. Ia mengambil satu botol air minum kemudian menyuruh Hana untuk meminumnya.
"Aku tahu, Nung. Aku percaya kok Ruri nggak bakal ngelakuin hal kayak gitu. Tapi aku takut Ruri kena akibat gara-gara omongan ngelantur si Farah. Apalagi si Farah pinter banget ngomong. Kaya belut, licin banget."
Inung berdiri menyejajari Hana, menepuk kecil pundak Hana.
"Gimana perut kamu? Udah mendingan?" Tanya Inung.
"Udah nggak sakit. Sekarang sakitnya pindah ke hati."
Inung menghela nafas.
"Aku juga ikutan sakit hati, Nung. Nggak tahu, pokoknya sedih aja, pengen marah. Tapi aku nggak boleh gitu, aku harus ngehibur Ruri nanti."
__ADS_1
* * *