SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Gambar


__ADS_3

Suasana kosong menjadi semakin lengang. Hana yang tenggelam dalam tidurnya membuat perasaan Inung tidak nyaman. Hal itu terpaksa membuat Inung memutar otak untuk membuat Hana tidak kembali dengan kebiasaan tidurnya.


Inung menghampiri Aji. Permainan gitar Aji berhenti ketika Inung membisikkan sesuatu.


"Dari tadi aku udah mancing dia pake lagu-lagu, tapi nggak nyahut juga. Udah, lah, biarin Hana tidur."


Inung berkacak pinggang, melotot geram pada Aji yang tidak begitu tertarik dengan perkataannya.


"Apa? Kenapa?"


"Bantuin aku ngebujuk Hana. Kalo dia udah mulai dikit-dikit tidur, berarti dia lagi ada masalah."


"Kamu aja sana. Aku nggak ngerti apa-apa."


"Nggak asik banget jadi orang!"


"Kamu cuma nyuruh aku bantuin ngebujuk, tapi nggak ngasih tahu aku apa caranya. Masa iya aku disuruh mikir sendiri?"


"Cari alesan apa kek, yang nggak terlalu kelihatan kalo kamu mau ngehibur, biar Hana nggak ngerasa diperhatiin banget."


Aji mengerang enggan, mengacak rambut untuk mengurai kemumetannya. "Ribet amat kehidupan cewek."


"Jangan ngeluh kenapa? Itung-itung buat latihan pas kamu udah punya pacar nanti."


Aji merenung, melamunkan cara yang tepat sesuai permintaan Inung. Yang ia tidak mengerti, kenapa ia harus repot menghibur seorang gadis yang bukan miliknya.


Lama Aji berfikir. Tanpa sadar ia melamun sambil memetik senar gitarnya pelan.


* * *


Mulut akan menjadi senjata yang sangat berbahaya jika dimiliki oleh orang dengan perangai kasar, bahkan dapat membunuh mental secara perlahan. Hana tidak pernah menemukan alasan pasti tentang mengapa orang-orang dapat dengan sengaja melontarkan kalimat yang menyakitkan hati.


"Han, minta tolong gambarin sebentar." Pinta Aji sembari menggoyangkan siku Hana yang sedang tertidur di mejanya.


Sunyi.


"Hana." Panggil Aji pantang menyerah. "Gambarin sebentar buat adek aku. Aku udah terlanjur janji."


Mendengar permintaan Aji, dengan malas Hana menegakkan kepalanya. "Gambar apa?"

__ADS_1


"Gambar terserah buat tugas, tapi pake karakter anime."


"Mana kertasnya?"


"Nggak punya." Aji terkekeh. "Pake punya kamu dulu. Ya, Han, ya?"


Hana berdecak kesal, namun tangannya tetap mencari peralatan gambarnya di laci meja. "Kirain udah nyediain sendiri alatnya. Ternyata masih aku juga yang modalin."


"Aku kan nggak hobby ngegambar, jadi aku nggak punya alatnya, apalagi sampe dibawa kemana-mana kayak kamu."


"Ini juga aku bawanya kertas HVS biasa, aslinya nggak bisa buat gambar. Atau gini aja, deh. Aku kasih pinjem buku sama pensil aku, kamu gambar sendiri."


"Aku nggak bisa gambar, ege. Makanya aku minta kamu yang gambarin."


"Bukannya adek kamu masih SD? Kenapa minta gambar anime? Jaman aku SD dulu palingan gambar dua gunung yang ada sawahnya. Terus kenapa nggak gambar sendiri aja?" Cerocos Hana tanpa jeda.


"Udah, buruan gambar. Mau dikumpulin besok."


Tidak mudah bagi Hana untuk menggambar sesuatu diluar moodnya, namun entah kenapa ia tetap menyanggupi hanya karena mendengar bahwa yang memintanya adalah seorang adik.


Goresan demi goresan perlahan mengisi HVS tipis yang Hana punya. Garis berubah menjadi bentuk, bentuk berubah menjadi sebuah karakter manga hasil fikirnya sendiri.


"Udah."


"Udah gitu doang?"


"Iya udah gini doang. Emangnya apalagi?"


"Nggak dikasih warna? Masa cuma hitam putih doang?"


"Ya udah kalo nggak mau." Hana hendak memasukkan kertas bergambar tersebut ke dalam laci mejanya.


"Eh, jangan!" Aji merebut kertas dari tangan Hana sebelum Hana benar-benar menyimpan gambar tersebut untuk dirinya sendiri. "Maksud aku, biasanya kalo gambar anak SD suka dikasih pensil warna kek, krayon kek. Biar warna-warni gitu."


"Ya udah, nanti tinggal dikasih warna pas di rumah. Adek kamu pasti punya."


"Halah, nanti ujung-ujungnya aku yang disuruh ngewarnain. Nggak ah, nanti jelek. Warnain kamu aja sekalian."


Hana memutar bola matanya kesal. "Kamu lihat aku bawa pewarna?" Tanya Hana yang hanya dijawab Aji dengan gelengan kepala. "Ya udah, itu aja. Mau apa nggak? Kalo nggak mau nggak masalah, biar aku yang simpen."

__ADS_1


"Iya deh, makasih. Siniin gambarnya."


Setelah kertas tersebut berada di tangan Aji, Hana menimbang kembali hasil gambarnya. Diamatinya dengan seksama. "Ini terlalu bagus nggak sih, buat ukuran gambaran anak SD?"


Secepat kilat Aji menyembunyikan kertas ke belakang punggungnya, khawatir jikalau Hana memintanya kembali. "Nggak, lah. Anak SD jaman sekarang gambarnya udah pada bagus, udah nggak buluk lagi kayak gambar kita."


Kedua alis Hana bertaut, dahinya mengerut.


"Iya, deh. Gambar aku yang jelek. Gambar kamu udah bagus dari sononya."


Pandangan Hana kembali tertuju pada meja kosongnya, nampak menggoda kantuk Hana yang sempat tertahan, lebih tepatnya, lelahnya fikiran Hana.


Perasaan Hana sedikit lebih membaik daripada sebelumnya, tentu saja setelah ia rampung menyelesaikan torehan pensil di kertas HVS berukuran A4. Tanpa alasan, terdapat sedikit rasa tenang setelah menggambar yang baru ia sadari. Separuh dirinya merasa lega.


"Han, ada lagu baru yang kamu suka, nggak?" Tanya Aji. "Aku lagi butuh asupan yang anti-mainstream."


Hana menggeleng. Belakangan ini ia sedang tidak begitu memperhatikan lagu yang didengarnya. Ia hanya mendengarkan lagu yang terputar secara acak baik di laptop maupun handphonenya.


"Ngapain tanya aku? Biasanya kamu suka cari sendiri lagu yang kamu suka."


"Lagi nggak bisa milih."


"Coba tanya Inung." Ucap Hana memberikan saran.


"Inung nggak tahu banyak lagu, dia taunya yang itu-itu doang. Dia tahu banyak lagu juga gara-gara sering dengerin aku nyanyi."


Mendengar namanya disebut berulang kali, Inung segera menyambar percakapan mereka. "Apaan Inung-Inung? Sebenernya aku tahu banyak lagu, tahu! Cuma selera aku sama kamu beda, jadi cuma kelihatan kalo aku dengerin sedikit."


"Yeee... Santai, kali!" Cibir Aji. "Kenapa sih, aku harus berteman sama cewek-cewek tukang darah tinggi kayak kalian? Bawaannya emosi terus kalo aku yang ngomong. Heran."


"Sebenernya kita bisa aja santai, tapi muka sama nada bicara kamu suka ngajak salah paham. Jadi secara nggak sengaja kita jadi agak sensi kalo ngomong sama kamu." Jawab Hana. "Tapi nggak sengaja, lho. Inget! Nggak sengaja."


Anggukan kepala Inung terlihat sangat mantap, ucapan Hana begitu mewakili perasaannya juga sebagai seorang perempuan.


"Lagian kita nggak maksa kamu temenan sama kita. Kamu deket sama temen-temen lain kayak biasanya juga kita oke-oke aja. Nggak apa-apa, terserah kamu. Cuma, ya, itu, kamu pasti nggak bisa kalo sehari aja nggak bikin ribut aku sama Hana. Nggak tahu kenapa mulut kamu selalu gatel pengen ngomel." Sambung Inung atas perkataan Hana. "Sama, sih. Aku juga gitu."


"Paling bener aku ikut Ruri aja biar aman."


Kembali Aji meraih gitarnya untuk melanjutkan nyanyiannya yang sempat sunyi tergantikan perhatiannya pada hasil kerja Hana.

__ADS_1


__ADS_2