
Hana keluar ruangan OSIS dengan mimik tidak santai. Deru nafasnya terdengar sangat kasar, mungkin telah tumbuh tanduk dan ekor di tubuhnya.
Hana berjalan cepat tanpa menoleh kanan-kiri. Pandangannya lurus ke depan bagai orang kesetanan. Di persimpangan koridor, ia berpapasan dengan Ruri, Zia, dan beberapa anggota OSIS lama lainnya.
"Hana!" Panggil Zia. Ia memandang dengan tatapan heran, tidak biasanya Hana berkeliaran di area OSIS, ditambah lagi dengan bahasa tubuh Hana yang sama sekali tidak terlihat sedang baik-baik saja. "Itu anak kenapa? Kok dipanggil nggak noleh."
"Kayaknya ada yang aneh. Aku cabut duluan, ya?" Tanpa menunggu persetujuan, secepat kilat Ruri pun menyusul Hana.
Hana menerobos para siswa yang berlalu lalang di depannya, ia tidak menghiraukan apapun hingga ia sampai ke tempat duduknya di kelas.
"Kenapa, Han?" Tanya Ruri lembut, namun menyiratkan sedikit kekhawatiran di matanya.
"Aku nggak ngerti, kenapa orang-orang suka banget cari masalah sama aku. Kayak, ada aja permasalahannya, padahal aku cuma diem, lho."
"Kenapa, kenapa? Sini cerita." Ucap Ruri seraya mendekatkan kursi ke arah Hana, kemudian melepas kepalan tangan Hana yang sedari tadi tergenggam.
"Masa tadi aku disidang sama anak-anak OSIS, mana nggak mutu banget. Sebel banget aku."
Ruri menautkan alisnya. "Disidang anak OSIS? Kok bisa?"
"Kelakuan adek kamu, tuh, si Farah. Pake acara ngadu ke Bu Yuni segala, dia bilang kalo kamu udah nggak pernah aktif OSIS lagi gara-gara aku. Maksudnya apa coba?"
Hana menceritakan semuanya pada Ruri. Saking seriusnya hingga Aji dan Inung diam-diam mendekat dan menyimak runtutan kalimat dari mulut Hana.
"Bentar, deh. Ini aneh banget. Kok bisa Bu Yuni mau-maunya ngurusin masalah kayak gini, maksudnya ini bukan kasus gede yang kalo semisal nggak ditanganin bakal ngerusak organisasi, lho. Ini bener-bener urusan pribadi kita."
"Kamu, kan, anak kesayangan Bu Yuni. Sementara Bu Yuni nggak suka sama aku, makanya dia semangat banget ngurusin hal receh kayak gini. Padahal jelas-jelas sumbernya dari si Farah, gegayaan aja pake mengatas namakan anggota OSIS lain." Gerutu Hana. "Yang jadi topik utama kamu, tapi kenapa mereka nggak ngundang kamu? Masa masalah internal kayak gitu mereka malah nyuruh aku buat selesaiin masalah, padahal kan aku orang luar."
"Kalo aku jadi kamu, aku juga bakalan kesel banget." Ruri mengusap kepala Hana, mendinginkan otak Hana yang baru saja mendidih. "Ya udah, nanti aku bicarain ini sama mereka."
"Terutama si Farah, Ri. Makin lama makin gila aja dia, nggak tahu malu banget jadi cewek." Sergah Inung yang sedari yadi fokus mendengarkan.
Ruri memandang Hana, meminta persetujuan.
"Bingung aku. Kalo disikapin, dia pasti bakal kesenengan akhirnya dapet perhatian kamu lagi, atau nggak malah makin parah ngaduinnya. Tapi kalo dibiarin, dia pasti bakal cari perkara terus." Ucap Hana pada Ruri.
__ADS_1
Ruri terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan suatu hal yang penting. Tentu saja. Jika sampai ia keliru mengambil langkah, hubungannya dengan Hana yang akan menjadi taruhan.
"Aku mau ngebahas ini sama mereka mumpung masih anget. Kamu ikut ya, Han?"
Hana melipat kedua tangannya di depan dada, melemparkan tatapan sinis ke udara. "Idih, ngapain? Kamu aja sana! Aku mah ogah!"
"Aku janji bakal ngejaga kamu disana. Aku yakin nggak ada yang nggak suka sama kamu, semua orang disana pasti ngedukung kamu. Pokoknya aku nggak rela kamu dijahatin sama siapapun."
"Males banget." Hana melenguh pelan, mengungkapkan keengganannya mengenai usulan Ruri. "Nanti malah jadi kayak drama sinetron."
Ruri mencubit hidung Hana keras. "Nurut aja kenapa, sih?"
Hana memekik kesakitan. Baru kali ini Ruri menarik hidungnya dengan sangat keras.
"Sakit, Ri!"
Saat Hana kehilangan fokus, Ruri dengan sigap menarik tangan Hana sehingga gadis di hadapannya tidak dapat menolak.
Sebelah tangan Hana yang lain memegangi serta mengusap hidungnya yang terasa sakit, sepertinya matanya berair.
Sesampainya di ruang OSIS, Ruri langsung mengumpulkan orang-orang yang beberapa waktu lalu Hana ceritakan, namun tanpa seorang Bu Yuni disana. Ruri menggantikan kekosongan tersebut dengan satu orang kepercayaan Hana agar gadis kesayangannya itu tidak merasa sendiri, yaitu Zia.
"Farah, sebelumnya aku minta maaf, ya. Tapi kali ini kamu bener-bener udah berlebihan. Aku nggak tahu motivasi kamu apa sampe-sampe kamu ngelibatin Bu Yuni cuma karena hal sepele ini." Raut wajah Ruri berubah menjadi sangat serius, lengkap dengan tatapan penuh intimidasi darinya.
"Aku cuma menyampaikan keluhan anak-anak lain, Kak. Bukan cuma aku aja." Ujar Farah membela diri.
"Siapa?" Tanya Ruri sadis.
"Aku nggak bisa sebutin nama, Kak. Aku menjaga privasi mereka, aku nggak enak, takutnya malah dikira mengadu domba." Jawab Farah dengan gugup yang coba ia tutupi.
"Halah. Alesan aja itu, semua orang disini biasa aja. Cuma dua orang itu aja yang emang agak lain." Serobot Zia sembari menunjuk Farah dan seorang temannya. Zia langsung mengerti arah pembicaraan karena akhir-akhir ini secara tidak sengaja ia selalu mendengar percakapan Farah yang selalu membahas tentang hubungan Hana dan Ruri.
"Ketua OSIS, apa hal kayak gini pantes dibawa ke dalam forum yang melibatkan pembina?"
"Kondisional." Jawab seorang anak laki-laki yang diam mengamati. "Tapi untuk kasus ini, tidak perlu, Kak. Jadi, saya dan Kak Edo hanya diam dan jadi pengamat saja."
__ADS_1
"Kamu denger, Farah?" Tanya Ruri kemudian.
Farah menunduk lesu, sesekali melayangkan pandang tepat ke arah bola mata Ruri.
"Kalo ini murni soal perasaan, kamu harus minta maaf sama semua orang yang udah ngeluangin waktu buat ngedengerin omong kosong kamu, terutama Hana."
Ruri beralih menuju ke arah dua orang laki-laki di ruangan tersebut. "Bro, maaf ya kalo kalian jadi terlibat. Silahkan kalo kalian berdua mau keluar.
Kedua orang itu mengangguk dan langsung meninggalkan ruangan.
Tatapan tajam Hana tidak lepas dari Farah, hatinya memanas ketika mendapati Farah yang terus-menerus mencuri pandang pada kekasihnya. Benar-benar tebal muka.
"Ayo, minta maaf." Perintah Ruri.
Farah menggeleng, bahkan sekilas melirik Hana pun tidak.
"Udah lah, Ri. Ayo balik aja ke kelas. Ngapain ngemis permintaan maaf dia."
Ruri menelan ludah, merasa masalahnya belum cukup sampai disitu. Namun karena Hana yang meminta, ia pun mengurungkan niat untuk berbicara lebih jauh.
"Kenapa Kak Ruri nggak nyuruh dia buat minta maaf juga?" Tanya Farah tiba-tiba.
"Maksud kamu apa? Emangnya aku salah apa?" Nada bicara Hana tidak kalah tinggi dengan lawan bicaranya.
"Hubungan aku sama Kak Ruri selama ini baik-baik aja. Tapi sikap Kak Ruri berubah sejak Kak Hana ikut campur!"
"Kamu nggak waras ya? Aku pacarnya, wajar dong kalo aku ikut campur! Lagian yang seharusnya marah itu aku, bukan kamu!"
Ruri memeluk Hana, menuntun Hana untuk segera menjauh. Ia tidak rela kekasihnya memperebutkan seseorang yang jelas-jelas sudah jadi miliknya.
Dengan bisikan lembut Ruri berkata. "Udah, Han. Kamu berharga. Jangan turunin harga diri kamu buat ribut sama dia."
Hana pun luluh. Ruri memperlakukannya lebih dari yang sekedar ia bayangkan.
* * *
__ADS_1