SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Snack


__ADS_3

Seperti rencana sebelumnya, mereka pergi ke SMA 38 secara mandiri. Ruri menjemput Hana, dan Aji membonceng Zia. Sementara mereka akan bertemu dengan temannya yang lain setelah sampai di lokasi.


Sesampainya di sana, sangat ramai siswa dari berbagai sekolah. Tidak seperti dugaan, ternyata terlebih dahulu mereka harus memasuki sebuah aula dan disambut dengan acara pengenalan lingkungan kampus dari beberapa aktivis universitas.


"Aku kira bakalan langsung masuk ruangan, terus ujian. Tahunya masih harus ngedengerin pidato mereka lagi." Ucap Aji setelah turun dari motor dan melepas helmnya.


"Kemarin udah di jelasin sama kakak-kakak mahasiswa pas lagi penyuluhan di kelas. Kamu nggak dengerin?" Singgung Hana. "Lagian kamu sendiri yang ngajak, malahan nggak tahu soal informasi ini."


"Aku denger kok, katanya buat pengarahan, kan? Tapi coba lihat, mereka nyediain snack sama air mineral, bisa dipastiin itu bakalan lama. Umumnya kalo pengarahan biasa kan cuma sebentar, nggak perlu sampe dikasih snack gitu."


Ucapan Aji sedikit masuk akal di telinga Hana. Ia pun menyetujuinya beberapa detik kemudian.


"Tahu gitu, aku nggak buru-buru waktu di asrama tadi." Gerutu Hana.


"Tapi tetep aja, berangkat di waktu yang lebih longgar itu ada untungnya, kita jadi tahu situasi, dan jadinya kita nggak terlalu gugup." Zia berkata bijak.


Mendengar hal itu, Ruri manggut-manggut.


"Ya udah, kita mau nungguin temen yang lain disini, apa di dalem aula?" Ucap Ruri sembari menunjuk halaman parkir yang masih setengah terisi.


"Kayaknya mereka udah pada masuk, deh. Itu kayak motor anak-anak kelas. Orangnya udah nggak kelihatan di luar sini." Zia coba menganalisa dengan otak cerdasnya.


"Yaampun. Males banget aku." Aji berjalan dengan enggannya. Langkahnya gontai, namun matanya tetap mengawasi gedung-gedung yang mengelilinginya.


Saat hampir mendekati pintu masuk, mereka diarahkan agar berbaris berdasarkan kategori jurusan. Hana dan Aji berada di barisan SAINTEK, sementara Ruri dan Zia berbaris diantara para siswa yang memilih SOSHUM.


"Haduh, terpisah, nih." Aji menggoda Ruri yang sedang mengantri jatah snack.


Ruri hanya memiringkan senyumnya mendengar candaan Aji.


Barisan yang ditempati oleh Hana dan Aji rupanya berjalan lebih lancar, sehingga dengan cepat mereka berdua lenyap diantara kumpulan orang yang sibuk mencari tempat duduk.


Ruri hanya memandangi punggung Hana dari belakang, gadis yang menjadi pusat perhatiannya saat itu justru tidak menoleh padanya sejak berada dalam barisan.


"Yah, mana lesehan lagi." Keluh Aji saat hendak duduk di sebuah lantai tanpa alas. Ia meletakkan tas dan segala barang bawaan sebelum pantatnya ikut mendarat di samping Hana yang sudah terlebih dahulu mendiami tempat duduknya.

__ADS_1


"Udah, jangan ngeluh terus kenapa? Masih pagi juga."


"Nggak tahu tiba-tiba pengen ngeluh aja. Kayak ada unek-unek yang harus aku keluarin pas lihat sekolahan ini."


"Kenapa?" Tanya Hana.


"Kamu nggak tahu kalo aku dulu pernah banget pengen sekolah disini?"


Hana menggeleng.


"Dulu sekolah ini jadi impian aku. Cuma nggak kesampean aja, makanya aku berakhir di sekolah yang sekarang."


"Kenapa dulu nggak sekolah disini aja?"


"Dulu aku udah sempet daftar, cuma nggak keterima. Nilai aku kurang mencukupi buat sekolah disini. Habis itu aku keliling lagi ke sekolahan yang menurut aku favorit, dan masih aja nggak keterima." Aji membuka tutup botol yang dibawanya, dan meminum beberapa teguk untuk membasahi tenggorokannya yang kering. "Waktu itu aku udah mau nyerah buat sekolah lagi. Apa gunanya aku sekolah tapi bukan di tempat yang aku pengen?"


"Terus kenapa akhirnya kamu sekolah di SMA Garuda Bangsa? Bukannya kamu nggak pengen?"


"Aku beneran nggak mau sekolah, aku udah putus asa. Bahkan ibu aku sampe ngebujuk, mau ngabulin apapun yang aku mau asal aku mau sekolah lagi. Aku ngeyel yang bener-bener ngeyel, sampe bapak aku ikut ngebujuk."


"Ya, karena pada dasarnya aku ngehormatin banget ibu sama bapak aku, mau nggak mau aku harus nurut. Kata bapak, kalo nggak sekolah mau ngapain? Kerja juga belum becus, masih ingusan." Aji menghela nafas dalam-dalam. "Ditambah lagi ibu ngeluarin jurus seribu pedang."


"Jurus seribu pedang? Apaan tuh?" Hana penasaran dengan ungkapan yang Aji ucapkan.


"Ibu sampe nangis waktu ngebujuk aku, aku nggak tega. Aku sakit ngelihat ibu nangis kakyal gitu. Makanya aku luluh."


"Bagus, dong. Artinya kamu bukan anak durhaka."


"Ya emang bukan, gini-gini juga aku aslinya penurut." Jawab Aji.


"Terus gimana?" Tanya Hana antusias, mengabaikan ramai kerumunan yang semakin padat.


"Gara-gara aku sibuk daftar sana-sini, akhirnya nggak sadar kalo sekolah-sekolah udah pada tutup pendaftaran. Aku panik, dong. Tapi waktu itu ada tetangga yang bilang kalo di Garuda Bangsa masih buka, jadi ibu buru-buru nyuruh aku masuk. Terus, ya udah. Berakhirlah aku disini, ketemu manusia bucin kayak kamu."


Hana memasang wajah datar namun mengisyaratkan kesal mendengar kalimat terakhir yang Aji ucapkan. Aji adalah Aji. Seserius apapun ucapannya, pasti tidak lupa menyelipkan kalimat candaan.

__ADS_1


Aji tertawa miris sambil memandangi kotak kecil berisi snack yang belum sempat ia buka. "Seenggaknya nanti aku tahu gimana rasanya ngerjain soal di sekolahan ini. Anggep aja pernah sekolah disini walaupun cuma sehari."


Melihat ada raut kesedihan dari wajah sahabatnya, Hana pun merasa iba. Ditepuknya punggung Aji yang setengah berbungkuk itu sebagai dukungan moril Hana.


"Kenapa, sih? Malah jadi mellow gini? Kesel banget aku kalo mulut tiba-tiba curhat."


Diedarkannya pandangan Hana ke seluruh penjuru, saking banyaknya orang, ia tidak dapat menemukan satu wajah pun yang dapat ia kenali. Kemana semua orang itu?


"Cari siapa, Han? Ruri? Ya elah, baru pisah sebentar aja udah kangen."


"Apaan, sih! Orang aku ngasal cari orang dari sekolah kita. Dari tadi aku nggak ngelihat mereka satu pun."


"Udah, nanti juga kelihatan kalo nggak dicari."


"Aku nggak nyaman, banyak orang baru."


"Untung ada aku." Ucap Aji membanggakan dirinya sendiri, seolah telah menjadi sesosok pahlawan bagi kucing terlantar.


Di tengah diamnya, perut Hana berbunyi. Cacing di perutnya pasti sudah protes ingin segera disambangi. Hana memutar tutup botol yang airnya tinggal setengah.


"Kalo laper, snacknya dimakan. Jangan minum terus, nanti ngompol." Aji meraih botol dintangan Hana dan segera mengeratkan kembali penutupnya.


Dengan perasaan aneh, Hana meraih kembali botol minum miliknya. "Orang aku haus."


"Buruan makan. Anak-anak lain udah kenyang, tuh. Kamu mau laper sendirian?"


"Kalo aku mau, udah aku makan dari tadi. Aku laper, tapi lagi nggak pengen aja."


Aji meraih kotak kecil milik Hana lalu membukakannya, kemudian ia membuka kotak miliknya sendiri dan segera memasukkan sepotong kue brownies ke dalam mulutnya. "Aku temenin."


Dengan perasaan gelisah, Hana kembali meneguk air minumnya, baru ia mengambil sebuah cup jelly. Disendoknya secara perlahan, sehingga barulah ia merasa tenang.


"Kayaknya aku perlu cerita kisah hidup lagi biar kamu nggak gugup." Gumam Aji.


"Nggak usah. Aku nggak punya permen kalo kamu nanti nangis atau ngambek." Hana menjawab perkataan itu meskipun Aji hanya bergumam tidak jelas.

__ADS_1


* * *


__ADS_2