SEPARUH SAYAP

SEPARUH SAYAP
Boy's Mood


__ADS_3

Seharian penuh Hana coba membaca gerak-gerik Ruri yang sangat tidak biasa, diamnya tidak menggambarkan ketenangan seorang Ruri yang selama ini Hana ketahui. Kali ini Ruri benar diam dengan ekspresi yang tidak dapat Hana pahami.


Seperti ada yang aneh, Ruri yang kemarin sore baru saja mendamaikannya dengan Aji, terlihat berbeda dengan Ruri yang balik mendiamkan Hana hari ini. Meskipun tidak sepenuhnya diam, namun sangat kontras dengan tingkahnya pagi tadi.


"Ri, kamu kenapa?" Tanya Hana pada Ruri yang sedang merebahkan tubuh pada dua kursi yang dirapatkan menjadi satu.


"Emangnya aku kenapa? Ada yang aneh?"


"Aku tanya kamu." Jawab Hana lirih.


"Mungkin kamu udah tahu jawabannya tadi pagi. Tapi udah lah, jangan di bahas terus. Kamu juga jangan minta maaf terus, aku nggak akan sekejam itu kok, sama kamu."


Ruri menutupi matanya dengan lengan, tidak begitu digubrisnya kehadiran Hana.


"Apa ini yang biasanya aku lakuin ke kamu? Ternyata nggak enak banget ya, dicuekin?"


Hana menghela nafas panjang. Kemudian berjalan kembali menuju tempat duduknya dengan langkah kaki yang berat.


Hana mencoba mengalihkan perhatiannya dengan membaca komik berbau komedi keluaran lama, lucu, namun ia hanya memasang wajah datar.


Komik itu menceritakan bagaimana seorang ilmuwan menciptakan ramuan ajaib yang dapat memberikan kekuatan super yang berbeda-beda berdasarkan warna obat yang dipilih.


Obat berwarna merah membuat orang yang meminumnya dapat berlari secepat kilat, kuning menjadikan kuat dan tak terkalahkan, hijau dapat membuat seseorang yang meminumnya menjadi tidak terlihat, dan biru agar dapat membaca pikiran seseorang.


Hana membaca dialog pada bagian itu berulang kali, jika komik itu nyata, rasanya ia ingin meminum obat berwarna biru agar bisa digunakannya untuk membaca isi pikiran Ruri saat ini.


"Kenapa, Han? Kok lesu banget?" Tanya Inung yang datang menghampiri Hana, ia baru saja kembali dari ruang guru ditemani oleh siswi lain.


Hana menunjuk sosok Ruri dengan bahasa tubuh menggunakan dagunya yang tidak begitu lancip.


"Kalian nggak berantem, kan?"


Hana menggeleng. Berusaha meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja.


"Udah, palingan Ruri lagi nggak mood. Diemin aja, nanti juga baik sendiri."


Hana berpura mengiyakan kata-kata yang terlontar dari mulut Inung. Mungkin bagi sebagian orang, itu merupakan hal biasa, namun bagi Hana, sikap Ruri padanya sangatlah berbeda. Hana rasa, Ruri bukanlah seseorang yang dengan mudah menuruti ego untuk sekedar membuat orang lain bingung, terlebih pada Hana. Ruri mampu mengesampingkan emosinya sendiri bahkan ketika seharusnya ia marah.


"Barusan aku habis dari ruang guru, kirain ada apa rame-rame, ternyata lagi ada gerombolannya Farah adek kelas itu. Sumpah berisik banget kayak mulut Aji."


"Kenapa sih, Nung? Aku diem aja masih kamu senggol."


"Informasi kamu nggak ada yang lebih penting, Nung?" Cibir Hana.

__ADS_1


Inung meringis. "Nggak ada, soalnya aku ngumpulin tugas, bukannya minta tugas."


"Han, menurut kamu, cocok nggak kalo aku sama Bella?" Tanya Aji tanpa aba-aba.


"Cocok."


"Serius ini, kalo nggak cocok bilang, jangan cuma jawab sekenanya aja."


"Ya udah, nggak cocok."


"Tuh, kan. Yang serius dong, Han."


"Kurang serius apa lagi? Aku bilang cocok salah, bilang nggak cocok masih aja salah."


"Aku tahu kamu bilang cocok cuma buat ngebesarin hati aku aja, makanya aku nggak yakin." Aji mengomel. "Emangnya yang bikin kelihatan nggak cocok bagian mananya?"


"Pertama, Bella suka cowok yang tinggi, katanya."


"Katanya?"


"Kata Bella sendiri."


"Aku udah tinggi."


"Berarti masih kurang tinggi."


"Terus Bella suka sama yang lebih tua, dan kamu lebih muda setengah tahun dari Bella. Jelas Bella nggak suka." Lanjut Hana.


"Terus apa lagi?"


"Kamu kekanakan-kanakan."


"Yah. Kan aku pengennya jadi diri aku sendiri, biar Bella ngelihat aku apa adanya, bukan pura-pura jadi orang lain."


"Iya, sih. Tapi nggak gitu juga, Ji. Kamu juga harus ada kemauan buat bisa ngerubah diri kamu kalo pengen diterima orang lain. Seenggaknya buat menyesuaikan diri, dunia nggak hanya berputar di kamu."


"Jadi aku harus gimana?"


"Kalo kamu pengen dilihat Bella, ya kamu harus mau berubah jadi yang kayak Bella mau. Kecuali kalo semua yang Bella mau udah ada di diri kamu, kamu diem aja pun, otomatis Bella ngelirik."


"Semua bisa aja aku usahain. Tapi kalo umur? Aku harus gimana?"


"Ya udah, pasrah aja. Habis mau gimana lagi? Ya, nggak, Nung?"

__ADS_1


"Nggak tahu lah, Han. Aku pusing. Udah berkali-kali aku ngomong gitu sama Aji." Jawab Inung cuek.


"Katanya suruh berjuang sampe akhir? Kok sekarang malah nyuruh aku buat nyerah? Rumit banget pikiran cewek."


"Justru karena aku ini cewek, Ji. Aku tahu kapan cowok harus berjuang, dan kapan dia harus berhenti. Nggak semua perjuangan itu bikin cewek luluh, kadang ada juga yang bikin risih kalo kamu terus-terusan ngejar. Kadang cewek malah jadi gede hati, makin dikejar makin berasa super. Ini aku ngomong jujur sebagai cewek, dan aku cuma ngomong ini khusus sama kamu soalnya kamu batu banget kalo dibilangin, tapi masih aja ngeyel minta saran."


Anggukan Hana pada perkataan Inung sudah menjelaskan semuanya. Fakta bahwa Aji tidak pernah mengindahkan nasehat dari mereka berdua juga merupakan reflek alami dari seseorang yang sedang jatuh cinta. Mau diberi nasehat seperti apapun, Hana rasa itu merupakan hal yang sangat percuma.


Tatapan Aji berubah menjadi lebih sendu dari sebelumnya yang memang sudah terlihat lesu.


"Ini anak cowok lagi pada kenapa, sih? Lagi musimnya galau apa gimana?" Cetus Inung setelah melihat Ruri dan Aji terlihat sedang tidak bersemangat.


Ruri mendadak bangkit dari tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak, memandang ketiga orang di depannya dengan wajah datar.


Ruri hanya menghela nafas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Terutama kamu, Ri. Padahal Hana disini, tapi masih aja galau. Mikirin apa, sih?"


"Asal kamu tahu, Nung. Galau bukan cuma gara-gara lagi mikirin sesuatu doang, nggak mikirin apa-apa juga bisa bikin galau." Jawab Ruri. "Han, kamu jangan gampang kemakan omongan Inung. Inung kalo ngomong emang suka bener, tapi lebih sering ngarangnya."


Hana tersenyum, Ruri mulai berbicara lagi padanya, tanpa ia minta.


Inung sangat serius mendengarnya, bahkan tanpa sadar telah mengerutkan kening dan bibirnya.


Sementara Aji merasa perkataan Ruri barusan tidak hanya ditujukan pada Hana, tapi untuk dirinya juga. Ucapan mereka ada benarnya, namun hati kecilnya selalu menyangkal atas perkataan yang tidak ingin ia dengar.


Ruri beranjak, ditepuknya bahu Aji perlahan. "Ayo ngopi."


Aji segera bangkit dan segera mengikuti kemana Ruri pergi.


"Oh iya, Han. Tadi pas di ruang guru aku denger kalo nanti mau diadain class meeting."


"Bukannya emang selalu ada class meeting, ya? Apa istimewanya?"


"Iya juga, sih. Aku cuma mau bilang aja, palingan habis ini Ruri bakal sibuk lagi."


Hana merenung sejenak. " Nggak apa-apa, udah biasa juga. Aku nggak enak kalo ngelarang-larang dia terus."


"Padahal kamu ngelarang masih dalam tahap wajar lho, Han. Malah kelihatan perhatian. Bukan kayak yang ngatur-ngatur banget gitu. Kenapa harus ngerasa nggak enak?"


"Nggak tahu, Nung. Kalo terlalu menggenggam, aku takut dia lepas. Tapi kadang aku juga mikir, kalo aku terlalu ngebebasin, apa dia bakal lepas juga? Sementara aku nggak terlalu paham aku harus bertindak kayak gimana. Yang bikin aku bingung, Ruri anaknya nurut-nurut aja. Takutnya dia ada keinginan lain tapi nggak disampein ke aku."


"Ruri terlalu baik, sih, jadi orang. Makanya sekali-kali kamu ajarin rebel."

__ADS_1


Hana tertawa singkat. "Tuh, lihat sendiri. Udah mulai ikutan kayak aku, moodyan. Mulai nurutin moodnya sendiri."


* * *


__ADS_2