SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 1: Panggilan Tugas


__ADS_3

Namaku Helga Anabelle. Bukan nama sebenarnya.


   Aku tidak bisa memberitahu pada kalian siapa nama asliku, atau dari mana asalku. Itu hanya akan membantu para pencari ku. Mereka pasti senang karena bisa menemukan ku disaat aku menjadi manusia biasa karena kehilangan kekuatan sejati ku sebagai pengendali api.


   Mengetahui nama asliku tidak penting bagi kalian. Yang harus kalian tahu adalah, dulu aku bukan manusia seperti kalian. Tempat tinggalku juga bukan di bumi. Tapi di dimensi lain. Aku mendapat tugas dari penguasa  negeri bawah untuk memurnikan arwah manusia yang masih bergentayangan dan membuat kerusakan. Makanya aku bisa ada di bumi kalian. Makanya aku menjadi manusia biasa seperti kalian.


   Saat memurnikan arwah, aku biasanya membuat dua pilihan, mau menyelediki kehidupan arwah itu saat masih hidup, atau melenyapkannya. Sebagai pemurni aku mendapat kelebihan yang bisa membuat kalian terkagum-kagum, sekaligus menjerit ketakutan. Aku bisa melihat arwah dengan sangat jelas, seperti aku bisa melihat kalian. Aku bahkan bisa menyentuh, berbicara, dan bermain dengan mereka. Keahlian yang bagus bukan?


   Aku sebenarnya bisa saja menolak tugas yang di berikan penguasa negeri bawah. Tapi, karena arwah yang berhasil di murnikan menghasilkan jiwa, makanya aku mau menerimanya. Apalagi aku sangat membutuhkan jiwa untuk memperoleh kembali kekuatanku yang di segel entah dimana. Ditambah lagi, penguasa Dunia Arwah mau menjadi penanggung jawab ku.


   Nah, awalnya aku mengira kalau yang menjadi sasaran pemurnian ku hanyalah hantu biasanya. Maksudku aku baru tahu kalau hantu di dunia manusia itu beranekaragam. Ada pocong, kuntilanak, genderuwo, tuyul, dan masih banyak lagi. Memurnikan mereka tidaklah gampang, apalagi saat aku berhadapan dengan hantu yang memiliki niat jahat. Aku harus bertempur melawan mereka disaat aku tidak bisa menggunakan kekuatan, dan kadang aku membutuhkan bantuan Alda, guilde dunia bawah yang di tugaskan untuk mengawasi sekaligus membantu pekerjaan ku.


  Aku dan Alda sama-sama memurnikan arwah. Tapi kami cuma berdua. Ya, berdua. Itu sebabnya aku sangat, sangat, sangat tidak mengerti kenapa aku masih harus mengalami setumpuk penderitaan.


  Bukankah aku sudah cukup menderita karena tidak bisa lagi menggunakan kekuatan ku yang sangat aku banggakan? Apakah hidupku menjadi manusia biasa tidak cukup buruk? Tapi kenapa aku harus...menari?

__ADS_1


   Menari! Mengerikan!


   Suara musik yang tidak begitu aku sukai memenuhi segala penjuru ruangan. Lampu dalam ruang kelas kami terasa lebih terang menyilaukan dibandingkan awan hitam yang ada di luar. Guru kami berdiri di pinggir. Wajahnya memperlihatkan mimik puas seorang guru yang tahu muridnya sedang tersiksa. Sesekali guru kami memberi instruksi. Sebuah instruksi yang biasanya membingungkan para muridnya.


   "Sekarang, dua langkah ke depan, tiga langkah ke belakang, dan berputar!" 


   Aku melangkah dua langkah ke depan, tiga langkah kebelakang, dan berputar. Gerakan ku begitu kaku dan tampak aneh. Itu wajar karena aku jarang sekali menari. Tapi jangan salah ya, aku masuk dalam kategori murid yang jago olahraga dan bela diri lho.


   "Hei, hei, kenapa gerakan kamu aneh begitu, Helga?" Tanya salah seorang teman yang memperhatikan bagaimana cara aku menari. Minta di pites nih.


   "Jangan cari gara-gara denganku!" Aku memperingatkan sambil menatapnya dengan tatapan tajam. Yahh, di sekolah ini siapa yang tidak mengenal aku. Aku begitu di takuti karena suka mencari gara-gara dan menantang siapa saja berkelahi. Tak peduli itu adik kelas, maupun kalal kelas yang usianya jauh diatasku. Namun, ada dua anak yang tidak merasa takut dengan ku di kelas ini. Yang satu adalah Sherlly, satu-satunya sahabat yang aku miliki, dan yang satunya lagi...


   Refleks aku melirik ke arah Chris yang menari tak jauh dariku. Itu dia si Christian! Satu-satunya orang yang paling tidak cocok dengan ku sejak awal mula aku bersekolah di sini! Aku baru tahu kalau orang sepertinya bisa menari. Tapi apa peduli ku? Dia orang yang bisa merusak kebahagiaan ku dengan mudahnya. Memberi lindungan pada mereka yang ingin mencari gara-gara dengan ku. Wajahnya sedatar tembok, dengan sifat sedingin es dan kata-kata setajam jarum!


   Lalu, hal buruk tiba-tiba terjadi. Alda mendadak muncul dan menertawakan ku yang sedang menari seperti orang tolol. Hanya aku yang bisa melihatnya. Setidaknya itu sangkaan ku. Ternyata aku salah. Ada seorang lagi yang bisa melihat sosok guide itu. Tapi saat itu aku tidak sadar mengenai hal mengejutkan itu. Kesal. Aku kesal dengan Alda yang mendadak muncul dan menertawakan ku. Karena itulah aku memelototinya.

__ADS_1


   Alda mendekat ke arahku. Ia sama seperti manusia. Hanya saja ia mengendarai sapu terbang Harry Potter dan mengenakan kimono Jepang. Ia juga mempunyai selendang ajaib.


   "Jangan kesal. Aku hanya memberi tahu. Ada arwah baru yang berkeliaran di taman kota. Sepertinya ia butuh bantuan!" Kata Alda sambil tertawa cekikikan.


   { Seperti apa arwahnya? } Tanya ku melalui bahasa pikiran. Aku tidak mau di anggap gila karena bicara seorang diri, makanya berbicara melalui pikiran. Hanya yang ku ijinkan saja yang bisa mendengar bahasa pikiran ku. Itu bisa di bilang, mirip monolog sih.


   { Kau tahu anak kecil yang tewas di taman kota tiga hari yang lalu? Sepertinya dialah yang meminta bantuan pada kita! } Jawab Alda, dengan menggunakan bahasa pikiran yang sama dengan ku. Istilah kerennya adalah telepati.


   Tiga hari yang lalu, aku melihat koran ibu yang memberitakan ada seorang anak gadis kecil yang tewas karena tertabrak mobil. Jadi dialah yang meminta bantuan kali ini?


   { Baiklah, pulang sekolah nanti kita ke sana, Alda! } Kataku kemudian. Alda mengangguk.


Seperti jelangkung, ia datang tak diundang dan pergi tak diantar, ia pergi menghilang begitu saja. Meski dia sudah sering melakukan itu tetap saja aku merasa kesal. Lebih kesal lagi karena jam seni budaya masih ada sekitar tiga puluh menit lagi. Itu akhirnya kami masih harus menari tiga puluh menit lagi!


   Coba saja ada alat yang bisa mempercepat kan waktu. Akan aku percepat kan waktu hingga pulang sekolah sekalian!

__ADS_1


   Aku melihat ke arah Sherlly yang juga melihat ke arahku. Kami berdua sama-sama tersenyum. Rasanya aku jadi ingin mengingat kembali kenapa aku bisa berteman akrab dengan Sherlly.


   Sherlly Nobela Viera. Dulu, waktu pertama kali aku bersekolah di sini, dia itu menjadi sasaran bullying. Pas aku bertemu dengannya pas pertama kali pun, dia sedang di bully. Akulah yang membasmi para pembully itu. Sejak itulah kami jadi berteman dekat, dan dia tidak jadi sasaran bullying lagi.


__ADS_2