SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 9: Persahabatan Yang Retak


__ADS_3

   Sore itu, Rara berdiri di pinggir jalan sambil membaca buku pelajaran. Ia melirik ke rambu jalan. "Hijau, ya..." Gadis itupun berjalan menyusuri zebra cross. Namun, baru saja ia melangkah, seseorang tiba-tiba memanggil namanya.


   "Rara! RARA AWAS!"


   Rara terperanjat kaget. Mendadak sebuah mobil melaju dengan sangat cepat di hadapannya. Nyaris saja ia tertabrak mobil tersebut. Dan untungnya bisa selamat. Angely, sahabat Rara bergegas menghampirinya.


   "Rara, kamu tidak apa-apa?" Tanya Angely cemas, "kenapa kamu bengong dan nekat menyeberang jalan biarpun lampu merah, sih?"


   Rara tidak segera menjawab pertanyaan Angely. Gadis itu masih shock dengan apa yang  terjadi padanya barusan. Ia menoleh ke rambu jalan yang masih berwarna merah. "Tidak mungkin! Waktu ku lihat...!!" Batinnya.


   "Tuh hijau! Ayo, Rara!" Ajak Angely. Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan.


   "Kamu tidak terlalu banyak belajar, Ra? Kalau kamu memaksakan diri hingga merusak badanmu atau membuat mu celaka, semua akan jadi percuma! Kalau kamu mundur sebelum bertarung, aku jadi tidak bisa bersaing. Habis ini pertama kalinya 'kan aku dan Rara rebutan hal yang sama."


   "Benar!" Sahut Rara dengan nada tidak enak hati.


   Razia Amara dan Angely Suregar selalu bersama sejak mereka masih kecil. Angely yang keras kepala dan lincah serta Rara yang pendiam. Mungkin karena perbedaan sifat mereka jadi kompak tanpa pernah bertengkar sedikitpun. Mereka yang sudah kelas 3 SMP sama-sama ditawari mendapatkan kesempatan untuk menjadi siswa penerima beasiswa di SMA 'N' yang terkenal.


   SMA 'N' adalah sekolah lanjutan yang sangat terkenal di seluruh negeri. Tahun ini mereka menawarkan beasiswa pada 1 orang murid yang ditunjuk oleh pihak sekolah. Rara dan Angely terpilih oleh sekolah sebagai kandidat. Rara sangat tidak suka karena harus bersaing dengan Angely sehingga ia jadi depresi.


   Lagipula, seperti tambahan beban...selain perasaan itu, sekarang Rara juga sedang di pusingkan oleh sesuatu. Akhir-akhir ini di sekitar Rara sering terjadi hal yang aneh-aneh. Ada suara yang kedengaran dari tempat yang tidak ada orangnya. Ada aura seseorang yang terasa di balik punggungnya. Khususnya waktu ia sedang belajar sendiri.


   Contohnya saja malam ini. Rara tiba-tiba merinding saat dirinya sedang belajar di kamarnya yang sepi dan sunyi. Benar-benar seperti ada seseorang yang diam-diam memperhatikannya. Biarpun takut, Rara berusaha untuk memastikan dengan jantung yang berdetak kencang. Tidak ada siapa-siapa.


   "Jelas, kan...ternyata itu cuma perasaan. Ujian makin dekat dan aku makin tegang!" Kata Rara pada dirinya sendiri. Tiba-tiba cermin kecil yang ada di atas meja belajar Rara bergerak dengan sendirinya. Gadis itu menoleh. Tampak olehnya sesosok hantu anak laki-laki yang terpantul di cermin. Karena terkejut, Rara langsung pingsan seketika.


   Saat sadar, hari sudah pagi. Rara dipanggil ke ruang guru karena tidak konsentrasi dalam mengikuti pelajaran. Ia pun harus mendengarkan ceramah Pak Guru yang sangat ingin salah satu muridnya mendapatkan beasiswa ke SMA 'N'


   "Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu tidak konsentrasi pada pelajaran. Ujian kali ini sangat penting, sebab berkaitan dengan pemilihan siswa penerima beasiswa! Bapak mengharapkan mu! Untuk saat ini kamu memimpin selangkah di depan. Buatlah jarak yang jelas di tes kali ini!" Kata pak guru, "Mengerti? Tidak akan kumaafkan bila kamu tak ingin bersaing dengan teman, atau tidak mau bersekolah di SMA 'N'! Bapak tidak akan membuat surat rekomendasi selain untuk beasiswa di SMA 'N'! Karena itu, meski harus setengah mati, kamu harus mengalahkan Angely Suregar dari kelas C! Kalau ada murid di kelasku yang jadi siswa SMA 'N', nilai ku jadi naik, gwa ha ha ha,"


   Ahh~ jadi sebal. Karena harus saingan dengan Angely, dan karena kejadian aneh itu, Rara jadi tidak fokus menyimak materi yang sedang di terangkan oleh gurunya di depan kelas. Ia jadi capek. Sesosok bayangan muncul di dekat Rara, digantikan oleh sosok anak laki-laki yang di lihatnya semalam. Di belakang sosok anak laki-laki itu muncul sosok Helga yang langsung menjitak kepalanya dari belakang.

__ADS_1


   PLETAK!


   Hantu anak laki-laki yang bernama Rendi itu mengaduh kesakitan. "Apa-apaan sih? Kamu tiba-tiba begitu!?"  Protesnya pada Helga.


   "Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Bodoh!" Sahut Helga, "kenapa kamu membuntuti anak ini? Kamu mau mengganggunya dengan cara yang berbahaya, ya?" Tuduhnya sembarangan.


   "Tu, tunggu! Ini salah paham! Aku cuma di panggil ke sini!"


   "Dipanggil? Sama siapa?"


   "Sama cewek!" Jawab Rendi dengan cepat, "Dia punya jimat dengan tulisan mantera aneh. Mungkin dia mengirim pikiran jahatnya pada saingannya. Aku terpanggil oleh kekuatan jimat itu. Sepertinya karena ini masalah yang bersumber pada ujian. Aku juga dulunya siswa kelas 3 SMP ini, lima tahun yang lalu. Yahh, kalau lihat sosok ini kamu pasti mengerti. Aku gagal sampai bunuh diri. Sekarang ini sih aku menyesal sekali!"


   "Aku mengerti. Kamu mau balas dendam dengan mengajak mati siswa kelas tiga SMP lainnya, ya?" Helga mengepalkan tangannya, siap di layangkan kapan saja bila tebakannya benar.


   "Yahh, waktu aku baru mati, aku memang punya perasaan seperti itu. Aku pernah nempel pada siswa kelas 3 dan menempelinya. Tapi sekarang tidak lagi, berkat anak itu (Rara). Dia anak yang baik, senyumannya terasa begitu hangat. Aku tahu, setiap kali aku melihat senyum di bibirnya, perasaan ku yang dingin dan jahat pun sedikit demi sedikit membaik."


   "Kamu suka sama dia waktu nempel, ya?" Tanya Helga dengan nada mengejek. Lucu sekali ekspresi wajahnya saat mengatakan itu.


   "Aku tidak senorak itu!" Tukas Rendi, "Sewaktu aku melihatnya, aku malu pada diriku yang di penuhi niat jahat. Gadis itu seperti menyelamatkan ku. Makanya aku mau memberi tahu tentang bahaya ini. Bahwa ia diincar oleh kekuatan yang tidak terlihat. lagi pula manusia yang mengincarnya itu adalah sahabatnya sendiri!"


   "Ehh~ Rara di tempeli setan?" Tanya teman sekelas Rara saat Rara menceritakan peristiwa aneh yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini.


   "Stttt! Jangan keras-keras!" Rara memperingatkan, ia khawatir ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Sepertinya ia tidak sadar kalau Angely juga ada di sana. "Ughh, aku jadi takut dan tidak bisa belajar sendirian malam-malam..."


   "Kamu dekat dengan Angely Suregar yang dari kelas C itukan? Aku rasa dia mau menendang pergi setan itu!"


   "Tidak bisa seperti itu! Meski keinginan tak mau kalah Angely kuat, dia sangat percaya dengan sihir dan mistis. Kalau aku mengatakan ini padanya aku malah mengatakan ini padanya, aku malah membuatnya khawatir. Ini adalah waktu yang sangat penting untuk Angely." Tolak Rara.


   "Kamu juga berada di posisi yang sama 'kan?" Teman sekelas Rara itu memperingatkan.


   "Karena itulah aku tidak mau Angely sampai khawatir dengan masalahku. Angely harus menjalani ujian dalam kondisi prima!"

__ADS_1


   Deg! Hati Angely seolah tercubit saat Rara mengatakan hal tersebut.


   "Kurasa Angely juga merasakan hal yang sama. Kalau tidak, bersaing dengan sahabat itu..."


   Setelah itu hening. Agely tidak mendengar percakapan lagi sekarang. Itu artinya hanya dirinya sendirilah yang masih di toilet. Perkataan Rara barusan mampu membuatnya berpikir jernih.


   Apa yang telah ia lakukan? Apa yang telah ia pikirkan? Suara-suara yang membebani pikirannya terngiang di kepalanya.


   "Mengerti? Ujian ini kesempatan terakhir mu!"


   "Ayo belajar!"


   "Kamu jangan kalah dari Razia Amara dari kelas B!"


   "Kamu harus menang!"


   "Jangan lewatkan kesempatan!"


   "Kalau kamu dapat beasiswa, aku juga bangga! Yang seperti itulah anak kami!"


   Entah sejak kapan, sedikit saja nilai Angely berbeda dengan Rara, menjadi tekanan yang sangat berat baginya. Lalu, suatu hari Angely menemukan buku sihir tua di perpustakaan secara kebetulan. Walau bertolak belakang dengan pikirannya, mata Angely mencari mantera untuk tidak kalah dari saingan. Kenapa, ya?


   "Maafkan aku, Rara...!" Sambil berkata begitu, Angely menyobek kertas mantera tersebut.


   "Ah, anak itu menyobek kertas mantera nya!" Kata Rendi yang sejak tadi mengawasi Angely dari kejauhan. "Syukurlah dia menyadari kesalahannya sebelum terlambat. Dengan ini Rara pasti akan baik-baik saja!" Imbuhnya.


   "Siapapun pasti pernah terbujuk untuk melakukan kejahatan. Kamu juga harus meminta maaf pada dirimu sendiri!" Sahut Helga dengan nada memperingatkan.


   Rara tampak berpikir sejenak. Ia membenarkan perkataan Helga. Tubuhnya perlahan-lahan menghilang, "ya, akan aku lakukan! Selamat tinggal!" Katanya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Helga. Belum pergi ke alam baka. Karena dosa bunuh diri itu sangat besar. Sebelum ia ke alam baka, dia harus menebus dosanya dulu. Itu pikir Helga.


   Agely yang berjalan menyusuri koridor berniat untuk meminta maaf pada Rara bila mereka bertemu kembali. Mendadak, ia di kejutkan oleh suara yang tak berwujud yang mengatakan bila semuaya sudah terlambat. Tangan Angely terasa nyeri. Saat dilihat, ternyata pola pada kertas mantera itu tercetak di lengannya.

__ADS_1


   Sementara itu, Rara yang berdiri di pinggir jalan raya merasa kalau tangannya di tarik oleh sesuatu. Ia hendak berteriak meminta tolong tapi suaranya tak bisa keluar.


*****


__ADS_2