
Helga dan yang lainnya berlari menaiki tangga dengan amat tergesa. Sesampainya diujung tangga, mereka semua dikejutkan oleh banyaknya pintu yang ada disana.
"Apa-apaan ini?" Tanya Helga pada teman-temannya.
"Ya ampun, jadi ini bagian labirin kastil itu, ya?" Tanya L memastikan.
"Kastil labirin?" Helga menatap L dengan tatapan heran.
"Dari cerita yang beredar, aku pernah mendengar kabar itu juga. Seingat ku hanya ada satu pintu yang mengarah ke ruang paling atas kastil labirin. Sampai sekarang belum ada seorang pun yang berjalan melaluinya dengan aman. Dengan kata lain, tidak ada yang hidup setelah mengambil jalan yang salah." jelas Kamandanu.
"Helga, jalan mana yang menurut mu benar?" Tanya Chris sambil menatap ke arah teman sekelasnya itu. Ia sudah tau kalau Helga punya kemampuan spiritual yang sangatlah tinggi.
Helga memperhatikan semua pintu dengan seksama. Pandangan matanya tertuju ke salah satu pintu yang memiliki aura siluman yang sangat kuat. Mungkin pintu itulah yang aman mereka semua lalui. "pintu ketiga dari arah kiri."
"Oke, kalau begitu kita langsung masuk ke sana sekarang!" Ucap Chris dengan semana empat puluh lima.
"Apa kamu yakin pintu itu yang benar?" Tanya L sansi. Ia masih meragukan kemampuan Helga meski ia juga tau siapa sebenarnya Helga.
Helga tidak segera menjawab pertanyaan L. Gadis itu berjalan mendekati pintu yang tadi ia maksud. "Biar bagaimanapun juga, aku punya bakat melacak dengan Indera keenam. Aku bisa merasakan aura siluman yang lebih kuat dari pintu yang lainnya."
Helga membuka pintu yang ada didepannya. Tak ada yang aneh. Sampai akhirnya ia melihat tikus putih yang amat lucu dan menggemaskan. Ia ketakutan saat melihat tikus itu. Sampai kapan pun Helga tidak akan pernah cocok dengan tikus!
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengawasi mereka berempat dengan bola kristal ajaib. "Mereka sudah berhasil menemukan pintu yang benar. Sepertinya mereka punya teman yang mempunyai kekuatan spiritual yang cukup tinggi. Mereka telah memilih rute terpendek tanpa perangkap sedikit pun dan menuju ke lokasi kita. Meski yang tersisa hanya aku dan Triple sih."
"Bersantai lah tuan Quadra, bagaimana pun juga mereka cuma aksi pembukaan saja. Aku, Triple memintamu untuk menyaksikan bagaimanapun caraku membunuh mereka semua." Kata siluman Triple pada tuannya yang bernama Quadra. Triple berjalan melewati Quadra. Ia berhenti didepan tuannya sejenak. "Tidak masalah meski cuma kita berdua saja yang pergi ke dunia manusia."
*****
Diantara padatnya kota Jakarta, orang-orang dan kendaraan banyak yang berlalu lalang. Seorang pria berstelan jas masuk ke dalam sebuah gang dengan kondisi tubuh sangat kelelahan.
Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi pada pria itu. Tubuhnya tiba-tiba bergetar dan kulitnya membiru. Dengan mata merah seperti zombie pria itu pun keluar dari dalam gang.
Banyak pasang mata yang melihatnya dengan tatapan heran. Seolah belum sadar apa yang sebenarnya terjadi. Pria itu menyeringai.
Entah sejak kapan, Alda yang ada di sana langsung memukul tengkuk pria itu sebelum sempat melakukan apapun.
Sekarang itu hanya didaerah ini, tapi serangga perubah kejahatan mulai hidup dari hati gelap seseorang satu persatu. Jika mereka tidak mengambil seruling serangga dari emoat hewan suci segera, pada waktunya Jakarta pasti akan hancur.
Dalam hal apapun, yang bisa dilakukan sekarang adalah menunggu Helga dan yang lainnya untuk mengalahkan empat hewan suci. Alda terus membasmi serangga perubah kejahatan yang mulai aktif didunia manusia.
Kini, Helga dan yang lainnya tengah berada didepan sebuah pintu dengan ukiran naga yang sangat mencolok.
"Sepertinya pintu ini yang mencolok." Ucap L.
"Ini mungkin ruangan Triple. Aura yang mengalir pada makhluk semesta mengalir keluar dari sana lebih kuat dari yang sebelumnya pernah kita lihat." Sahut Kamandanu.
"Ini membuatku merinding." Gumam Chris tanpa sadar. Pintu itu terbuka dengan sendiri. Menampakkan kepulan asap didalam sana. Helga dan yang lainnya masuk ke dalam. Setelah mereka masuk pintu pun tertutup dengan sendirinya.
"Berarti dia memiliki aura makhluk semesta yang cukup besar, ya?" Tanya Helga.
"ππ’ππ ππ’ππππ π πππππ‘ πππππ ππππ πππππππππππππ ππππππ. ππππ ππ‘π’ π πππ’π ππππππ ππππππ ππππππ πππ‘πππ ππ π πππ." Kata sebuah suara yang tak diketahui wujudnya.
__ADS_1
"Darimana suara itu berasal?" Tanya Chris.
"Oi, Triple, apa kamu mau bermain petak umpet dengan kami?" Tanya Helga kesal, jelas-jelas ia tahu kalau suara itu berasal dari Triple yang tidak menampakkan sosoknya. "Berhentilah berbuat seperti itu dan keluarlah!" Imbuhnya.
Mendengar perkataan Helga, Triple pun menampakkan dirinya. "π΄ππ πππ ππ’ππ’π?" Tanya Triple. Tubuhnya tak kalah tinggi besarnya dari siluman Double.
"Dia besar!"
"Jika kalian mau pergi sekarang lah saatnya. Kalian tidak perlu sekarat saat melawanku." Kata Triple memperingatkan. Tidak hanya tumbuhnya yang besar, tapi sikapnya juga.
Melihat keempat anak itu tidak beranjak sedikit pun, Triple pun mengambil keputusan. "Sepertinya kalian ingin mati." Ia merasakan aura makhluk semesta selain dirinya. "Tapi sebelum itu ada tamu yang tidak diundang datang."
Benar saja. Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok Double yang sudah cedera parah. Dia masih hidup. Ternyata dia beneran kuat, ya.
Tanpa memedulikan pengendali tengil yang sudah membuatnya hampir sekarat, Double berjalan mendekati Triple.
"ππππππ πππ’ ... ππππππ ..." Ucapnya memelas. "π΄ππ’ πππππ, ππππππ, ππππ πππ’ π ππππππ‘ ππππ’ππ‘ππ ππ’ ππππππ’. πππππππ‘ π πππ. π΄ππ’ πππ π‘π ππππ πππππππππππππππ¦π πππππ’ ππππππ ππ’ π π’πππ π ππππ’π."
"π΅ππππ! πΎππππ‘πππππ ππ’ πππ πππ πππππ-πππππ π π’ππ‘π’ ππππππππ π¦πππ πππ ππ!" Kata Triple dengan kejamnya.
"ππππππ ..."
"π΄ππ’ π π’πππ π‘ππππ ππππππππ πππππππ π’ππ‘π’π ππ’. πΎπππ’ ππππ’π ππ πππππππππππ." Triple memasang kuda-kuda hendak menyerang Double.
"Gerakan itu! Kamu tidak bermaksud ...! Aku mohon padamu untuk berhenti!" Pinta Double memelas.
Namun, bukannya menaruh belas kasihan pada rekannya, Triple malah menyerang Double dan membekukannya dengan kekuatan es. Benar-benar tidak punya perasaan. Tak cukup sampai disitu, Triple menerjang menerjang Double yang sudah membeku sampai hancur dengan cepat.
"Kamu bahkan membunuh teman sendiri seolah tak terjadi apa-apa, ya?" Tanya Helga sambul menyentuh mata kirinya yang tertutup rambut.
Aku tidak membutuhkan yang lemah." Jawab Triple dengan santainya, "Seekor anjing yang terkapar bukanlah apa-apa kecuali sampah!" Imbuhnya. Ia meludahi kepala Double yang sudah terpenggal.
Helga yang melihat hal itu menjadi sangat emosi.
"Mereka sama sekali tidak punya rasa persahabatan." Ujar Kamandanu, "Keinginan mereka untuk memerintah dan selera adalah segalanya bagi mereka." Imbuhnya.
"Aku yang bertarung dengannya beberapa waktu lalu malah ingin mengalahkan Triple mewakili dirinya!" Ucap Chris. Rupanya ia juga kesal dengan perlakuan Triple yang sudah kelewatan itu.
"Ini sangat menjijikkan, sialan. Aku pasti akan membunuhnya!" Kata Helga.
"Tunggu Helga," punya L. Helga menoleh kearahnya. "Tahan kemarahan mu sampai bisa mengalahkan Quadra di akhir." Setelah mengatakan hal itu L maju dengan tenangnya.
"Jadi L yang akan menjadi lawan pertama ku, ya?" Tanya Triple. Kini keduanya saling berhadapan. L menatap Triple dengan tatapan tajam. Matanya melirik ke kepala Double yang sudah mati. Ia melepaskan jubahnya dan melemparkannya ke arah Double hingga menutupi kepalanya.
Melihat hal itu, Triple pun tertawa. "Apa itu? Jangan bilang kalau orang seperti mu juga terbawa emosi saat melihatnya?"
L kembali menatap Triple dengan tatapan tajam. Ia mengeluarkan aura semesta pengendali petir dan menyalurkannya ke pedangnya.
"Ini pertama kalinya aku melihat L seperti ini." Ujar Kamandanu, "Sebelumnya, L mungkin akan melakukan hal yang sama seperti Triple. Tapi sekarang L malah tidak senang dengan sikap seperti itu. Dia pasti akan bingung dengan dirinya sendiri. Hanya saja, semangat juang yang mengisi seluruh tubuhnya lebih kuat dari yang sebelumnya pernah aku rasakan."
Apa yang bisa dilakukan pengendali jahat seperti mu?" Tanya Triple dengan angkuhnya, "ππππππππ ππππ ππ π‘ππππ! πππππ’ππππ’π πππππππ‘ ππ’ πππ ππππππππ πππ! πΏπππ’ πππππππ π πππ’π‘π’ ππππ!" Triple tertawa mengejek.
__ADS_1
"Apa itu semua yang ingin kau katakan?" Tanya L. "Kamulah yang akan membungkuk nanti!"
"L, apa itu yang ada di wajahmu? Senyum sinis mu itulah yang paling aku benci!" Setelah mengatakan hal itu, Triple segera mengeluarkan kekuatannya.
Bukannya gentar sedikitpun, L malah mencabut pedang halilintarnya dan menangkis serangan Triple.
"π΄ππ’ πππ π‘π ππππ πππππππππ’ππππ ππ’ πππππππππ-ππππππ." Geram Triple. Ia mengeluarkan teknik yang sama dengan teknik yang digunakan untuk membekukan Double tadi. L melompat menghindar. Sepertinya ia lupa kalau L punya kecepatan seperti cahaya.
Triple menyerang L bertubi-tubi. Namun dengan cepatnya L menghindar. Bagi seorang pengendali elemen petir seperti dirinya, kecepatan seperti apapun tidak ada artinya bagi seorang L. Hingga pada akhirnya sebelah kakinya berhasil dibekukan oleh Triple.
Dilihat dari dekat, L sudah kehilangan sarana untuk menghindar sampai akhir. Ia jatuh terduduk. Meskipun begitu ia masih menatap Triple dengan tajam.
"π΅ππππππππ? π΄ππ πππ’ πππ’ ππππππ‘π ππππ, πΏ?" Tanya Triple. "πππ ππππ’π πππππ‘π’ π π’πππ π‘ππππππππ‘. πππππ ππππ’ππ π πππππ¦ππ πππππ’π ππππ’ ππππππππ πππππ’ππ-πππ’ππ ππππππ‘π ππππ’π ππππππ’, ππππ’ π‘ππ‘ππ π‘ππππ ππππ πππ’ ππππ’ππ!"
Triple kembali mengeluarkan kekuatan dahsyatnya hingga kedua kaki dan tangan L membeku saat melesat melewatinya.
"Kau beruntung bisa lolos. Tapi berikutnya pasti akan menjadi akhir bagimu!" Geram Triple. Ia tersinggung saat melihat L tertawa sambil membelakanginya. "Apa yang lucu?"
L berdiri dan membalikkan badannya menjadi menghadap ke arah Triple. "Kekuatan es mu tidak akan pernah bisa bekerja pada pengendali elemen petir seperti ku!" Katanya sambil menghancurkan es yang menempel di kaki dan lengannya.
"Sial! Bagaimana ini bisa terjadi? Aku akan melakukannya sekali lagi dan menghabisi kalian!" Darah merah mengalir dari atas kepala Triple. Ia terkejut setengah mati.
"Tidak ada kata π πππππ ππππ."
Triple merasakan sakit yang sangat luar biasa pada sekujur tubuhnya. Ia mengerang kesakitan dan lenyap begitu saja.
"Kapan dia memotongnya?" Tanya Chris heran.
"Selain pada tebasan pertama, aku tidak tahu berapa kali ia menebasnya." Kata Kamandanu. Mereka bertiga berlari menghampiri L yang menyimpan kembali pedangnya.
"Kau sangat kuat, bukan?" Puji Helga bangga.
"L, berapa kali kau menebasnya?" Tanya Kamandanu.
"Enam belas kali."
"Enam belas kali, ya? Aku hanya menghitung sampai lima belas kali, tuh!" Ucap Helga.
"Sedangkan aku, aku tidak bisa melihat apapun kecuali garis berkedip melesat disekitar." Sahut Kamandanu..
"Setelah aku menyadarinya, ia sudah terpotong!" Timpal Chris.
"Itu tidak buruk. Bila kita bertarung sekali lagi kami pasti akan bisa mengalahkan ku!" Ucap sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mungkin ..."
L berlalu pergi untuk mengambil jubahnya dan memakainya kembali.
"Ku kira dia akan bilang seperti π΄ππ’ πππ π‘π ππππ πππππππππππ ππ’." Gumam Chris.
"Dia sudah banyak mengalami perubahan setelah kami datang ke sini. Dia dipengaruhi sedikit demi sedikit olehmu, Helga." Kata Kamandanu sambil tersenyum ke arah Helga.
__ADS_1
Quadra menghancurkan bola kristal yang sejak tadi ia gunakan untuk mengawasi Helga dan yang lainnya. "πππππ-πππππ πππππ! ππππππ π π’πππ πππ‘πππ πππ πππ’ ππππ πππππ’ππ’π ππππππ ππππππ π‘πππππππ’ π ππππππ!"