SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 6: Tuyul si pencuri


__ADS_3

"Pssst, pssst! Kemarin aku melihat Helga pergi ke sekolah, lho!"


"Kemarin? Bukannya kemarin hari Minggu, ya?"


"Ahh, masa' dia pergi ke sekolah hari Minggu, sih?"


"Kalau tidak percaya ya, sudah!"


Aku hanya menguping pembicaraan teman sekelas ku yang kemarin melihatku pergi ke sekolah di hari Minggu gara-gara kak Priat. Sebenarnya gak gara-gara dia juga sih, sepenuhnya. Tapi apa salahnya sih dia bilang ke adiknya yang manis ini kalau kemarin itu hari Minggu? Dia kayaknya mau mengerjai aku deh. Makanya gak bilang-bilang pasal hari.


Sherlly yang duduk di sebelahku menyikut lengan ku. Aku menoleh. "Kamu hari Sabtu kemana? Kok gak pulang ke rumah?" Tanyanya yang membuatku mengernyitkan dahi. "Hari Sabtu kemarin kak Priat nelpon, dia tanya apa kamu di rumahku apa nggak." Imbuhnya.


Aku mengangguk-angguk mengerti. Lalu tersenyum lebar. "Hari Sabtu aku menolong anak kecil yang menyuruhku untuk memastikan keadaan ibunya. Makanya aku pulang telat. Mana aku pakai acara nyasar sampai ke Tangerang!" Jawabku.


"Kamu kalau menolong orang lain itu gak setengah-setengah ya, Helga. Sama seperti waktu kamu menolong ku saat aku di bully sama anak-anak itu." Gumam Sherlly pelan. Meskipun lirih, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Aku tersenyum tipis. Biar bagaimana pun, aku harus mengumpulkan banyak jiwa atau spirit agar aku bisa mendapatkan kembali kekuatanku yang tersegel entah dimana.


"Namanya juga manusia, Sher. Ya harus saling tolong menolong, lah!" Kataku kemudian.


Pak guru yang mengajar mata pelajaran olahraga segera masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi yang di sediakan khusus untuk guru. Seperti yang sudah di beritahukan Minggu kemarin, hari ini Pak Santoso --- nama guru olahraga tersebut ---akan mengambil nilai atlentik untuk dimasukkan ke dalam buku nilai.


Setelah mengganti seragam putih biru dengan baju olahraga, kami semua bergegas untuk baris di lapangan. Aku sebenarnya tidak begitu suka dengan atlentik, tapi karena lariku cukup kencang, jadi apa boleh buat. Lagi pula kalau aku tidak ikut mengambil nilai olahraga, maka nilai ku nol dan bisa-bisa aku tidak naik kelas 3 SMP. Amit-amit deh.


"...Helga Anabelle...!"


Pak Santoso memanggil namaku, pertanda giliran ku untuk melakukan gerakan atlentik yang beliau pinta. Mulai dari lari estafet, zig-zag, tolak peluru, sampai lempar cakram. Semua bisa aku lakukan dengan bagus. Tidak perlu di ceritakan bagaimana lengkapnya pengambilan nilai ini. Karena yang jelas, aku sebagai tokoh utama dalam cerita ini sudah selesai.


Nah, pas kami semua sudah kembali ke kelas, salah seorang anak murid perempuan menjerit histeris dan menangis saat mendapati gantungan kunci hadiah dari keluarganya yang tinggal di luar negeri hilang di curi oleh seseorang saat kami ada di lapangan. Bukan hanya dia saja yang kehilangan, tapi hampir semua yang ada di kelas itu juga mengalami hal yang sama. Dan aku termasuk ke dalamnya.

__ADS_1


Aku hanya bisa bertopang dagu melihat keributan yang terjadi. Barangku yang hilang memang tidak begitu penting sih. Jadi buat apa diributkan? Aku menoleh ke arah lain. Saat itulah aku bisa melihat makhluk kecil bernama tuyul yang sedang mengutil barang teman-teman sekelas ku. Tuyul itu dengan senangnya mencuri barang-barang mereka, sambil sesekali tertawa mengejek. Dia kira aku gak bisa melihat aksinya itu.


Aku pernah membaca buku yang mengatakan kalau tuyul itu di pelihara seperti kucing, jadi siapa yang pelihara tuyul di sekolahan, ya?


Sudah, cukup. Masa' aku cuma diam dan menonton aksi pencuri kecil ini, sih? Tidak bisa di biarkan. Sebagai seorang pengendali sekaligus pemurni, aku mempunyai kelebihan khusus seperti menghentikan waktu untuk sesaat. Teman-teman sekelas ku membeku. Menyisakan aku dan pencuri yang masih asyik dengan aksinya. Aku bangkit berdiri, lalu menjitak kepala tuyul itu dengan penuh kasih sayang. Pencuri kecil itu menoleh ke arah ku, lalu memasang wajah ketakutan.


"Siapa yang menyuruh kamu mencuri di kelas ku, hah?" Tanyaku galak. Hiiii. Tuyul itu bergidik ngeri. Ia tidak menyangka kalau ada pemurni di kelas ini. Yaa tentu saja aku. Hehehehe.


Pencuri itu hendak lari, tapi dengan cepat aku mencekal lengannya.


"Antar aku ketempat tuan mu, atau aku akan langsung melenyapkan mu!" Ancamku sambil memasang wajah devil.


Tuyul itu kelihatan tak berdaya. Apalagi dengan tanganku yang mencekal lengannya. Pasti terasa sekali panasnya. Jadi kasihan. Hanya bercanda. Enak saja aku kasihan pada makhluk yang telah melakukan tindak kejahatan!


Dengan pasrah, tuyul itu membawaku ke tempat orang yang telah memeliharanya. Aku sangat terkejut saat melihat siapa yang berani memelihara tuyul di sekolahan. Rupanya Bu Surti, salah seorang penjaga kebersihan sekolah. Dia pasti menyuruh tuyul ini untuk mencuri dengan memberi imbalan ASI.


Begitu sampai di rumah yang di sediakan khusus untuk buk Surti, tuyul itu langsung berlari masuk ke dalam. Sepertinya ia ingin mengadukan perihal aku yang menggagalkan rencana nya.


"Nama kamu siapa ya?" Tanya buk Surti, pura-pura ramah.


Tiba-tiba aku tertawa terbahak-bahak. Tawa'an ku berubah menjadi tawa yang begitu dingin dan mencekam. "Siapa saya itu tidak penting! Tapi saya sama sekali tidak bisa membiarkan tindakan anda yang melewati batas!"


"Tindakan apa maksudmu?" Tanya Bik Surti.


"Seperti memelihara makhluk seperti dia!" Aku menunjuk ke arah tuyul yang bersembunyi di belakang bik Surti.


Bik Surti melihat ke arah arah yang aku tunjuk. Dia tersenyum licik. "Jadi kamu melihatnya ya? Memangnya kenapa, hah? Kamu mau mengadukan aku ke pihak sekolah? Silahkan! Aku sudah kaya sekarang!"

__ADS_1


Percuma kaya tapi uangnya di dapat dengan cara yang tidak benar. Aku bersyukur setidaknya orang tua yang telah merawat dan membesarkan ku selama ada di dunia manusia ini mempunyai pekerjaan yang jelas. Tidak aneh seperti itu. Masa' dia rela memelihara tuyul ini hanya untuk memperoleh kekayaan sih?


Lalu tuyul itu, gara-gara dipelihara seperti ini, dia jadi gak bebas dan gak bisa pergi ke alam sana.


"Tuyul ini mau bibik jual berapa? Satu juta? Lima juta? Sepuluh juta? Atau dua belas juta?"


Sistem tawar menawar harga aku praktekkan dengan baik. Hanya saja yang aku tawar itu makhluk halus.


"Dua puluh lima juta!"


Aku mengangguk. Tidak semahal yang aku kira. Setidaknya aku masih bisa membeli tuyul itu dengan uang yang aku punya. Tidak perlu meminta tambahan uang sama Ayah ataupun Kak Priatna.


Aku segera mentransfer uang yang di minta ke atm Bik Surti, lalu pergi dari sana sambil membawa tuyul yang nampak murung itu. Sepertinya ia sedih karena sudah di jual oleh pemiliknya sendiri. Dan sekarang ia berganti tuan.


"Aku bersedia bekerja untukmu asalkan kamu mau memberikan ku ASI!" Kata tuyul itu tiba-tiba. Aku menghentikan langkahku, lalu merendahkan tubuhku untuk menyamai tingginya yang tidak seberapa.


"Siapa namamu?" Tanyaku. Tuyul itu menggeleng. Sepertinya ia tidak ingat namanya. "Berapa usiamu sebelum tewas?" Tanya ku lagi. Tuyul itu berpikir sejenak. Lalu menunjukkan enam jarinya ke arah ku. Dia meninggal di usianya yang ke enam tahun. Masih anak-anak.


"Kamu tahu kalau kamu sudah meninggal kan?"


Dia menatapku. Lama. Lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Pergilah ke alam sana! Kamu bebas sekarang!"


"Aku masih belum bebas. Kan aku sudah jadi milik kakak!"


"Kan aku sudah bilang, kamu bebas sekarang! Jadi beristirahatlah dengan tenang di alam sana!" Tegas ku sekali lagi.

__ADS_1


Tuyul itu menatapku lamat-lamat, lalu memelukku dengan sangat erat. "Terima kasih, kak! Kalau tidak ada kakak, mungkin selamanya aku masih jadi pencuri. Aku sebenarnya tidak mau pekerjaan kotor seperti ini, tapi karena Mbah dukun mengubahku menjadi tuyul, apa boleh buat! Sekali lagi terima kasih, kak!"


Setelah berkata seperti itu, tuyul itu akhirnya menghilang. Semoga tuhan yang kuasa memaafkan segala kesalahannya dan menghukum orang yang telah menjadikannya seperti itu.


__ADS_2