SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 12: Rumah Perkumpulan Penjahat


__ADS_3

   Di hari Minggu yang sama sekali tidak cerah ini, aku hanya menghabiskan waktu untuk berdiam diri di kamar. Kak Priatna ada rapat mendadak dengan klien, jadi tidak bisa menghabiskan waktu liburan dengan ku. kadang aku jadi tidak habis pikir dengan Kak Priatna. Kak Priatna kan sudah jadi dokter, tapi kenapa masih nekat jadi direktur utama di kantor ayah, ya? Apa tidak capek tuh?


   Aku lagi asyik-asyikan menonton anime saat Alda tiba-tiba muncul di kamarku dan mengajakku pergi ke rumah perkumpulan. Berhubung karena aku tidak ada kerjaan dan Kak Priatna lagi tidak ada di rumah, ya sudah aku iya in saja.


   Aku tidak perlu mengeluarkan rohku dari dalam tubuh karena Alda lah yang bakal menyerupai manusia biasa. Aku bergegas memakai jaket warna abu-abu gelap dan celana hitam. Mengingat rambut ekor kuda dengan poni yang menutup mata Kiri ku. Lalu memakai sepatu kets warna hitam.


   Aku memasukkan dompet ke saku jaket untuk berjaga-jaga. setelah merasa cukup aku segera meraih pedang naga api dunia gaib yang kemarin di berikan Alda kepadaku. Sengaja aku tidak keluar rumah melalui pintu utama karena gak mau dilaporin ke kak Priat kalau aku keluar rumah. Sebagai gantinya, aku dan Alda keluar lewat jendela kamar yang sudah ku pasangi tali.


   Setibanya kami di ujung jalan, aku dan Alda berpapasan dengan tiga orang anak cowok yang berlari ketakutan keluar dari dalam gang.


   "Uwaaaa serem..."


   "Itu toko buku tua berhantu!"


   "Lari!"


   Aku hanya bengong melihat dua anak itu lari terbirit-birit dari tempat tujuan kami. Aku yang keheranan tanpa ssngaja menyentuh selembar poster yang tertempel di dinding.


   Di cari orang untuk membantu:


- Remaja tidak masalah


- Upah perhari di nilai dari pekerjaan dan sedikit berisiko


- silahkan belok sana


-toko buku yang menjual buku-buku tua.


   Eh, jadi nenek tua itu sedang mencari pekerja, ya? Haaahh~ ngapain juga aku ke sini. Tapi karena sudah terlanjur apa boleh buat? Toh, Alda juga tadi bilang kalau Jr. memberiku tugas lewat nenek tua itu.


   Sesampainya di toko buku yang bernuansa angker bin horor itu, hujan turun dengan sangat lebat. Cepat-cepat aku dan Alda masuk ke dalam. Aneh, kenapa gelap begini, ya? Kemana perginya semua orang?


   Alda menyalakan obor lewat selendangnya sebagai penerangan. "Nenek Kasumi! Lurge! Wang! Apa kalian di dalam?" Panggilnya.


   Sebagai jawaban, lampu mendadak menyala. Menampakkan sosok Lurge di meja penjual. "Selamat datang!" Ucapnya datar dan tanpa ekspresi.


   Alda menjerit ketakutan saat lampu mendadak menyala. Lurge~ mau sampai kapan boneka hidup itu membuat kami jantungan setiap datang ke sini?


   "Ah,  ternyata Helga dan Alda, ya!" Kata Lurge lagi sambil menekuk kan lehernya. Bagi yang tidak terbiasa melihat Lurge, kalian pasti akan ketakutan. "Ada perlu apa kalian berdua ke sini?" Imbuhnya.


   "Lurge, anu kami berdua mau bertemu dengan nenek Kasumi! Apa beliau ada?" Tanya Alda takut-takut.


   "Nenek Kasumi, ya? Ayo ikut aku!" Aku dan Alda pun berjalan mengikuti Lurge. Dari tadi aku terus berpikir, sejak kapan toko buku ini juga menjual barang antik? Tuh, liat saja dengan banyaknya barang antik yang bentuknya aneh bin ajaib itu.


   Di salah satu ruangan, aku bisa melihat dengan jelas si koki gila sedang memasak. Percuma saja dia memasak, toh gak semuanya bisa makan makanan manusia.


   Kami bertiga akhirnya sampai di depan pintu sebuah ruangan pintu yang tertutup rapat. Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok kurus tinggi nenek Kasumi yang sedang santai membaca buku. Ada kabut tipis yang menyelimuti sekeliling nenek Kasumi.


   "Rasanya ada yang berisik..." Gumam nenek itu sambil melirik ke arahku dan Alda. "Jadi kamu, ya, yang disuruh tuan Jr. untuk membantu disini?" Tanyanya.


   Aku mengangguk. Nenek Kasumi melayang ke arahku. "Sepertinya tuan Jr. terlalu mengandalkan manusia seperti mu!"


   Cih! Ingin sekali aku meludah di depannya. Mentang-mentang aku sudah jadi manusia biasa, dia malah seenaknya mengejekku. Dasar Sennin sialan! Umpatku geram --- dalam hati.

__ADS_1


   "Untuk melihat apa manusia seperti mu bisa diandalkan atau tidak, aku harus memberi mu tes!"


    Oh, tidak. Sampai kapan dia akan mengejekku seperti ini? Aku datang ke sini karena ada tugas dari Jr. nenek tua! Toh sebelum menjadi Sennin dia juga menjadi manusia! Huuh, kenapa tidak nenek Renka saja yang menjadi Pembimbing ku seperti dulu, sih?


   "Ikut aku!" Hanya itu? Dasar nenek tua!


   Nenek Kasumi akhirnya membawaku ke sebuah ruangan yang tertutup rapat. Pintu terbuka, menampakkan ruangan yang gelap gulita.


   "Kau ada di dalam, Tian?" Tanya nenek Kasumi. Tian? Siapa dia? Terakhir kali tinggal di sini, aku tidak pernah mendengar nama itu. Apa dia tahanan baru, ya?


   "Tidak mungkin tidak kan, nenek Kasumi?" Su, suara itu... "Aku kan jadi tahanan di sini!" Jangan-jangan...


   "Jangan main di atap, Tian! Kemarilah!" Perintah nenek Kasumi. Orang itu tidak menjawab melainkan melesat cepat kearah kami. Setelah dekat...


   "Kamu?!"


   Aku dan dia saling tunjuk satu sama lain. Wat de fak, kenapa dia juga ada di sini sih? Aku memanggilnya dengan sebutan Chris karena teman di sekolah juga memanggilnya Tian. Gak sekalian robot Titan saja, biar jelas?


   "Kalian sudah saling kenal?" Tanya nenek tua Kasumi yang heran melihat reaksi kami. Gak kenal dari mana coba? Tuh bocah kan teman sekelas ku? Dan lagi dia itu musuh bebuyutan ku sejak SD!


   Sebuah fakta mengejutkan kalau Christian adalah seorang pengendali! Dan lagi, sepertinya dia sedang menjalani proses hukuman di toko buku ini. Asli, kenapa gak ada yang memberi tahu kalau Chris juga pengendali sih? Kalau melihat dari jaketnya sepertinya dia pengendali elemen bayangan.


   "Kamu kenapa bisa ada di sini, sih? Dan lagi, kenapa kamu tidak memberitahu ku kalau kamu juga pengendali sih?" Tanya ku heboh.


   Christian tertegun saat aku mengatakan 'juga', "memangnya aku harus mengatakannya pada orang seperti mu? Dan lagi, kamu tidak pernah bertanya!"


   CK, "Nenek, kenapa bocah ini juga ada di sini, sih?"


   "Ng? Tian akan melakukan tugas tertentu di sini!" Apa? Baru kali ini aku merasakan aura mengerikan dari Chris. "Helga, kamu juga ikut dalam tugas Tian!"


   'siluman'


   'siluman'


   'siluman'


   'siluman laut!'


   Cih, sudah lama aku malah dikejutkan dengan hal-hal baru.


   "Kelihatannya sudah ada, Tian. Tugasmu..." Kata nenek Kasumi, "Helga Anabelle, tugas orang itu menyegel siluman" menyegel siluman? "Selanjutnya biar Tian yang menjelaskan! Sana pergi!"


   Huuuh! Aku segera mengadukan kepalan tangan ku untuk membuka pintu antar dimensi. Bisa repot kalau nenek tua ini marah. Aku dan Chris pun segera masuk ke portal tersebut. Lebih cepat dari pada terbang. Begitu pikirku.


   Yang tinggal di toko buku ini adalah pengendali dan Sennin. Yang di sebut Sennin itu orang yang mendalami berbagai macam metode dan hidup abadi menurut ajaran konfisus. Eksistensi luar biasa di China yang tinggal di daerah pertapaan penuh kedamaian dan menggunakan berbagai macam teknik. Bagi manusia biasa seperti kalian, mereka bisa di bilang penyihir.


   Dalam arti kuncinya, Sennin yang naik ke langit atau hidup di dunia adalah orang-orang yang berusaha memperoleh umur yang panjang dalam arti sesungguhnya. Ada berbagai macam ajaran untuk mencapai itu dan mereka mendalami salah satu ajaran yang mereka pilih. Terlebih lagi semuanya Sennin hebat. Mereka berkumpul di negara kepulauan ini sebagai penjahat dunia gaib karena berbagai macam-macam alasan. Begitulah sejatinya toko buku yang aku datangi tadi.


   Tak jauh dari tempat aku dan Chris tadi berada, aku bisa melihat siluman perubahan dari ikan atau ular. Kalian para manusia biasa salah besar kalau beranggapan bahwa apa yang biasa kalian lihat itu keseluruhan dari dunia. Yang seperti ini juga ada. Dari dulu, siluman mengacaukan dunia manusia, menyebarkan makhluk aneh, dan memakan manusia. Saat terjadi kecelakaan misterius, bisa jadi itu perbuatan mereka.


   Setelah lebih dekat lagi, aku dan Chris bisa melihat empat orang yang naik perahu tengah diserang oleh siluman itu. Dua orang diantara mereka berhasil di tangkap. Tak banyak waktu lagi, kami berdua harus segera bergerak.


   Aku segera mencabut pedang naga api dari sarungnya dan bersiap menyerang siluman itu. Sedangkan Chris, dengan kekuatan tangan bayangan menyelamatkan orang-orang di sana. Pedang ini, meski tidak sehebat pedang kepunyaan ku, tapi lumayan juga.

__ADS_1


   "Kamu yang seperti itu kenapa mau berjuang mati-matian untuk mereka?" Tanya Chris.


   "Mudah saja kan? Aku tidak tahu alasan apa yang membuat seseorang melakukan kejahatan, tapi untuk berbuat baik, apa kita membutuhkan alasan? Lagi pula, kalau ada cara praktis, meski harus berkorban, akan aku tempuh asal aku bisa bertemu dengan adikku lagi!"


   Chris tertegun saat mendengar kalimat terakhir yang aku katakan barusan. Siluman ini tangguh juga.


   "Chris! Tempelkan kertas serangan! Kita bisa mengalahkannya kalau itu ditempelkan saat dia terluka!" Pintaku pada Chris yang langsung di balas dengan anggukan. Tumben Chris tidak berdebat dulu? Yahh~ di keadaan seperti ini, mana kami punya waktu untuk berdebat atau sekedar baku hantam? Mungkin nanti kalau makhluk ini sudah di kalahkan.


   Kertas serangan adalah jimat dunia gaib yang bisa menyegel monster dan makhluk aneh. Kalau tidak di segel, silumannya bisa regenerasi berapa kali pun juga. Setelah beberapa saat akhirnya siluman itu berhasil di kalahkan.


   "Hmm... berarti satu siluman sudah disegel ya, Tian?" Tanya nenek Kasumi saat aku dan Chris sudah kembali.


   "Begitulah, apa ada keluhan nenek?" Tanya Chris.


   "Tidak. Itu memang sudah tugasmu." Nenek tua itu menoleh ke arahku, "Helga, beberapa waktu yang lalu, Tian melakukan kesalahan dengan membebaskan para siluman. Karena itulah dia di perintahkan untuk menyegel para siluman itu. Melihat kerja sama kalian, seperti cocok bila kalian menjadi partner!"


   "Menjadi partner dia? Enak saja! Aku tidak mau!" Tolak ku tegas.


   "Aku juga tidak mau bekerja sama dengan gadis payah seperti mu!"


   "Apa katamu?"


   "Kamu gadis payah!"


   "Tidak, kamu yang payah!"


   "Kamu!"


   "Kamu!"


   "Ka --- "


   Yahh, sepertinya aku dan Chris memang cocok  menjadi rekan.


*****


   "Kak Helga!"


   Seseorang langsung berhambur memelukku saat aku membuka pintu kamar. Aku menelan ludah kasar, kenapa bocah cilik ini harus datang berkunjung saat ini, sih? Untung aku sudah pulang dari rumah perkumpulan tepat waktu.


   "Kak Helga, Citra kangen!" Kata bocah kecil itu dengan manjanya. Namanya adalah Citra Adelia Rasya, sepupuku dan kak Priatna yang baru berusia tujuh tahun.


   "Citra, meluk kak Helga nya jangan kencang-kencang dong! Kasihan kan, kak Helga tidak bisa bernafas gara-gara kamu!" Tegur Tante Risara, Ibunya Citra.


   Aku meminta pertolongan pada Tante Risara lewat isyarat mata. Sumpah, Citra kalau meluk orang itu kencang banget. Sampai gak bisa nafas orang dibuatnya. Setelah di bujuk berkali-kali akhirnya dia mau melepas pelukannya.


   "Tante sudah lama ya, datangnya?" Tanya ku sambil mengelus rambut Citra yang hitam dan ikal. Tante Risara hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


   "Kak Helga tadi tidur, ya?" Tanya Citra sambil mendongakkan kepalanya untuk menatapku.


   "Memangnya kenapa, sayang?" Aku balik bertanya.


   "Habisnya, Citra sudah mengetuk pintu kamar kak Helga dari tadi, lho. Tapi kakak gak keluar juga!" Jawab Citra dengan nada merajuk.

__ADS_1


   Aku terkekeh geli melihatnya. Kalau aku dan Citra baru bertemu memang akrab seperti ini. Tapi kalau sudah lewat satu atau dua hari, pasti kami akan ada yang kami pertengkaran!


*****


__ADS_2