SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 16: Hukum Rimba (1)


__ADS_3

    Malam itu, seorang gadis belia keluar sendirian di daerah perumahan. Tiba-tiba, seekor macan jadi-jadian menghampirinya dengan tampang buas. "Tidak baik seorang perempuan berjalan sendirian di tengah malam begini. Bahaya akan tetap mengintai walaupun di daerah perumahan seperti ini. Kita tidak tahu kapan dan dimana kita akan mengalami musibah."


   Gadis belia itu benar-benar ketakutan. Wajahnya pusat pasi. Ia berjalan mundur beberapa langkah saat macan jadi-jadian itu mendekatinya secara perlahan.


   Kyaaaaaaa


   Suara teriakan itu terdengar oleh Ryo. Remaja berusia 14 tahun itu hendak keluar rumah untuk melihat keadaan di luar. "Kak Ryo mau kemana malam-malam begini?" Tanya Erika, adik Ryo yang baru duduk di kelas 5 SD.


   "Aku akan melihat keadaan di luar. Aku akan melihat suasana di luar. Tadi aku mendengar suara jeritan diarah taman." Jawab Ryo.


   "Hihihi, sudah lama aku tidak menyantap daging gadis belia." Kata makhluk jadi-jadian itu, "Apa rasanya daging anak yang lahir dari hasil perkawinan manusia dan makhluk jadi-jadian, ya?"


 


--- ### Ryo POV'S on ---


   "Kak Ryo ... lagi-lagi kakak cari masalah. Nanti dimarahi Kak Ken, lho!" Erika yang memutuskan untuk ikut denganku memperingatkan. Memang sih, diantara kami berdua, akulah yang sering di marahi Kak Ken. Meski sebenarnya Erika yang paling bandel sih.


   "Ah, Erika juga tidak menahan kakak dan malahan ikut." Ujarku membela diri, "sepertinya darah ayah yang tidak bisa mengacuhkan masalah mengalir di tubuhku, ya..."


   Erika yang memiliki indera penciuman yang tahan menciun bau sesuatu yang sangat menyengat, "Kak Ryo...! Aku mencium bau darah manusia! Rasanya ada di dekat sini deh!"


   Aku dan Erika akhirnya sampai di taman. Di sana, kamu langsung disuguhkan pemandangan jasad seorang gadis belia yang berlumuran darah. Keterlaluan. Luka ini seperti dimakan oleh binatang buas. Jangan-jangan...


   "Hati-hati Erika! Jangan-jangan dia masih ada di sekitar sini! Pokoknya kita harus melapor pada polisi!" Aku memperingatkan. Erika mengangguk paham. Tiba-tiba aku mendengar suara aneh di semak-semak.


   "Awas, Erika!"

__ADS_1


   Serangan itu benar-benar mendadak dan cepat. Untung aku bisa menghindar. Seorang wanita dengan kuku yang panjang keluar dari semak belukar tersebut. "Hihihi ... hebat, kamu bisa mengelak dari serangan ku. Kalau manusia ... rasanya kalian terlalu sensitif. Apa kalian anak makhluk jadi-jadian?"


   Aku dan Erika tidak menyangka kalau wanita itu bisa menebaknya. Kami berdua sama-sama dia . Tidak berniat untuk menjawabnya. Wanita itu berubah menjadi macan betina. "Percuma saja kalian mencoba menutupi diri. Manusia biasa tidak akan mampu membedakan gerakan makhluk jadi-jadian."


   " ... Jadi kamu salah satu dari siluman pemburu, ya?" Tanyaku memastikan.


   "Benar. Aku Naomi. Siluman macan betina. Aku datang untuk mengambil nyawa anak seorang pengkhianat. Aku tidak menyangka kalau kalian berani datang sendiri padaku. Akan aku cabik-cabik kalian dengan taring dan kuku ku ini!"


   Aku dan Erika segera berlindung di balik semak belukar. Rasanya tidak mungkin melawan siluman itu dengan wujud manusia. "Hei, jangan lari! Aku tidak akan membiarkan kalian berdua lolos!"


   Kami tidak melarikan diri kok. Hanya saja kami membutuhkan waktu untuk berubah wujud menjadi siluman anjing penjaga. "kami tidak akan bersembunyi, apalagi lari. Tak akan kubiarkan kamu membunuh kami!"


   "Wah, hebat sekali! Kalian berani melawan ku?" Tanya Naomi dengan nada mengejek.


   "Bukan sekali ini nyawaku terancam. Dalam kelompok siluman anjing penjaga, ayahku merupakan siluman terkuat yang dapat bertarung melawan macan dan singa. Dalam Tubuh kamu bersaudara mengalir darah itu. Walaupun kamu seekor macan sekalipun, aku tak mau kalah!"


   Aku tidak terima ketika siluman itu menghina ibu kami. Langsung saja aku serang dia, "kamu tidak akan bisa membuatku lecet dengan gerakan lamban begitu. Kalau begini tidak akan sebanding!" Dia kembali mengejek, "hahaha, ternyata kalian hanya besar mulut. Dengan tubuh dialiri darah manusia kalian tidak akan bisa menangkap ku!"


   Aku kembali menyerang Naomi. Namun, kembali ditangkis oleh-nya. "Kak Ryo!" Erika berteriak saat melihat ku terpental beberapa meter.


   "Kita akhiri saja permainan ini. Kekuatan kalian kurang besar untuk melawan ku. Kalian berdua bersiap-siap lah!"


   Naomi bersiap-siap hendak menyerang aku dan Erika. Saat itulah seekor anjing siluman yang mirip dengan kami melesat dan menyerang Naomi. Kak Ken.


   "Dasar bodoh! Kalian kan masih anak-anak!" Aku memasang wajah ketakutan saat kak Ken marah padaku.


   "Aku dengar anak siluman anjing penjaga itu ada tiga orang. Apa kamu anak yang ketiga itu?" Tanya Naomi, "kelihatannya lebih mahir dari adik-adiknya, ya?"

__ADS_1


   "Aku tidak bermaksud bertarung denganmu. Tapi kalau kamu berani mengganggu adik-adik ku lagi, maka aku tidak akan pernah tinggal diam!" Kak Ken memperingatkan. Dia sangat menyayangi kami. Makanya ia selalu khawatir kalau terjadi sesuatu pada kami.


   "Kamu pasti akan menyesal! Sehingga kamu akan berpikir, kalau saja aku bisa membunuhmu malam ini." Kata Naomi sebelum melarikan diri entah kemana. Aku hendak berlari mengejarnya, namun di cegah oleh Erika. Bahaya katanya. Sepertinya polisi telah datang. Kami harus segera pergi dari sini.


   Orang-orang yang dapat hidup dengan wajar, padahal mereka dapat berubah wujud menjadi serigala, burung, atau ikan. Mereka adalah makhluk siluman yang sering muncul dalam berbagai cerita legenda. Kami bersaudara pun memiliku dua wajah.


   Kak Ken yang usianya lima tahun lebih tua diatasku. Adikku Erika yang masih duduk di kelas 5 SD. Dan aku, Ryota ... siswa kelas 3 SMP.


   Ibu kamu manusia biasa. Tapi ayahku terlahir sebagai salah seorang makhluk siluman. Dia lebih dekat dengan manusia daripada seekor serigala. Namun lebih liar dari seekor anjing.


   Ayah yang telah menikahi ibu yang manusia biasa telah di buru dan di bunuh karena dianggap sebagai pengkhianat oleh keluarga besar siluman anjing penjaga. Setelah ayah meninggal, ibu jadi sering sakit dan kerap keluar masuk rumah sakit.


   "Ibu sudah muak pada pembunuhan," kata ibu pada kami bertiga, "Bohong kalau ibu tidak dendam pada orang yang telah membunuh ayah. Tapi, ibu hanya ingin hidup dengan tenang bersama keluarga yang ibu cintai. Kenapa mereka tidak bisa membiarkan kita hidup dengan tenang? Ibu tidak ingin kehilangan lagi. Kalau saja ibu bisa melindungi kalian dengan kekuatan yang ibu miliki. Maaf kan ibu, ya... maaf kan ibu..." Ibu menangis saat mengatakan hal itu. Erika segera mendekat dan memegang lengan ibu, "Ibu tidak usah khawatir..."


   "Kami akan baik-baik saja, Bu. Tidak akan terjadi apa-apa bila kami bertuga saling melindungi." Imbuhku.


   Ayah memenuhi keinginan ibu yang menginginkan anak. "Anak-anak ku akan seperti aku ... Nyawa mereka akan selalu terancam oleh keluarga siluman karena menganggap ku seorang pengkhianat. Hal itu akan terlalu berat untuk ditanggung anak-anak ku."


   Oleh sebab itu ibu mengatakan bahwa, "Kalau begitu jangan satu orang, tapi banyak ... " Supaya dapat hidup saling membantu. Agar dapat merubah cara berpikir keluarga besar siluman. Dan akan terus melanjutkan hidup. Sampai dapat diterima keluarga besar. Itulah harapan ayah dan ibu.


   Keesokan harinya, stasiun televisi ramai menayangkan berita tentang mayat seorang gadis belia yang berlumuran darah di taman.


[ Pada mayat seorang siswa SMA yang ditemukan di taman kota, terdapat banyak bekas cabikan taring dan kuku singa, macan, dan lain-lain yang merupakan spesies kucing besar. Kepolisian setempat akan mengadakan penyelidikan, untuk mencari bukti-bukti kuat di sekitar lokasi kejadian bersama kelompok pemburu setempat ]


   "Untuk beberapa saat, pasti di sekitar sini akan ramai. Dan macan betina itu sedang terluka. Kakak rasa dia tidak akan menyerang daerah ini dalam waktu 2 atau 3 hari ini. Namun kalian harus tetap berhati-hati, apalagi kamu, Ryota!" Kak Ken memperingatkan ku dengan tatapan tajamnya, pertanda kalau ia sedang serius, "Berhati-hatilah! Dan jangan sampai membuat ibu yang sedang di rawat di rumah sakit khawatir. Mengerti?!"


 

__ADS_1


--- ### Ryo POV'S off ---


__ADS_2