SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 8: Om Pak Aliandra


__ADS_3

   "Huwaaaaah"


   Lagi-lagi aku menguap dengan ujung mata yang berair. Ngantuk banget aku pagi ini. Gara-gara kak Priat Dkk main jelangkung tadi malam, aku jadi tidak bisa tidur karena digangguin sama makhluk berwujud wanita yang sangat cantik, yang namanya saja tidak boleh disebutkan (meski itu dalam hati). Kalau ada yang nekat menyebutkan namanya, maka akan ditempeli.


   Aku menoleh ke arah Sherlly yang sedang membaca buku yang baru di belinya, "Sherlly, nanti kalau Pak ****** datang, bangunkan Helga, ya?" Pinta ku pada Sherlly sambil meregangkan tanganku yang terasa pegal.


   Sherlly menutup buku bacaannya dan menatap heran ke arah ku. "Ini masih pagi lho, kamu sudah mengantuk?" Tanyanya sambil menaik-turunkan alisnya.


   Aku mengangkat bahu dengan malas, "mau bagaimana lagi? Aku sama sekali gak bisa tidur gara-gara kak Priatna!"


   Setelah berkata seperti itu, aku meletakkan tas ku diatas meja dan menyembunyikan wajahku diatasnya. Sherlly yang melihatku bersiap hendak tidur hanya bisa geleng-geleng kepala dan melanjutkan bacaannya.


   Tak lama kemudian, baru saja aku hendak terlepap, Pak ****** yang namanya aslinya Bambang Eko tapi kami singkat dengan kejam menjadi '******' gara-gara kekillerannya masuk ke dalam kelas.


    Teman-teman ku yang semula ribut langsung tenang dan sudah duduk rapi di tempat masing-masing. Beberapa diantara mereka ada yang meringis ketakutan saat melihat tatapan Pak ****** yang menyapu ke seisi kelas dengan kumisnya yang bergerak-gerak.


   Sherlly yang takut dengan Pak ****** diam-diam membangunkan ku dengan cara menggoyangkan tubuhku. Ingat dengan perkataan kak Priatna yang bilang kalau aku tidur itu seperti mayat atau orang yang sudah mati gara-gara aku susah di bangunkan? Nah, itulah keadaan ku sekarang. Aku belum menunjukkan tanda-tanda bangun saat Pak ****** berjalan menuju ke bangku ku. Dengan pasrah, Sherlly menghentikan niatnya untuk membangunkan ku.


   "Astaga...belum bangun juga? BANGUN! BANGUN!" Teriak Pak ****** di dekat kepala ku. Suaranya begitu keras hingga Sherlly dan beberapa orang teman sekelas ku yang kebetulan duduk di sekitar ku menutup telinganya masing-masing.


Satu detik...


Dua detik...

__ADS_1


Tiga detik...


Pak ****** menunggu reaksi dariku setelah teriakannya yang memekakkan telinga. Karena aku ini tipe orang yang gak bakalan bangun tidur meski ada bom yang meledak di dekat ku, makanya aku tidak menunjukkan tanda-tanda kalau aku akan bangun. Hanya ada satu cara membuat ku bangun, yaitu dengan cara yang sering di lakukan kak Priatna untuk membangunkan ku.


  


   "Masih belum bangun juga???" Pak ****** mulai meradang, dia bisa saja memulai pelajaran. Tapi sepertinya dia terganggu oleh keterlelapan ku. "Ambilkan bapak air! Akan bapak siram dia!" Imbuhnya kemudian. Sherlly menepuk dahinya saat mendengar perintah Pak ****** yang mau menyiram ku. Habis sudah.


   Juna Tirtayasa yang sepertinya punya dendam kepada ku langsung berlari keluar kelas dan kembali dengan ember yang penuh berisi air, lalu menyerahkannya ke pak ******. Gak tanggung-tanggung lagi, setelah mendapatkan apa yang ia mau, Pak ****** langsung menyiram ku hingga aku basah kuyup. Dah kayak tanaman aja. Ya gak?


   Banjir. Basah. Dingin. Tak butuh waktu lama, aku langsung bangun dengan mulut megap-megap seperti ikan. Gelagapan. Melihat cara bangunku yang kacau itu, teman-teman sekelas ku tertawa mengejek. Aku menatap tajam ke arah mereka semua. Sebenarnya, aku mau marah sama orang yang telah berani menyiram ku hingga aku basah kuyup begini. Namun, niatan ku itu langsung sirna saat melihat pak ****** yang tampak angker dengan kumisnya yang bergerak-gerak. Jadi dia toh, yang sudah menyiram ku?


   "Huh, akhirnya kamu bangun juga... KAMU KIRA KELAS INI HOTEL APA? SEENAKNYA SAJA KAMU ENAK-ENAKAN TIDUR DI JAM PELAJARAN SAYA! CEPAT KELUAR KELAS, KERINGKAN BAJU KAMU ITU!" perintah pak ****** setelah mendamprat ku habis-habisan. Dengan senang hati.


   Otak cerdik ku langsung mengingat sofa empuk yang ada di kantor kepala sekolah. Kenapa aku gak tidur disana aja, ya? Kalau begini sih, keluar dari kandang harimau masuk ke akandang singa! Tapi tenang saja, aku gak bakal di bunuh kok. Kenapa? Karena kepala sekolah ku itu Pamanku sendiri alias adik Ayah, jadi gak mungkin kan aklau aku bakal di bunuh olehnya? Hehehehe.


   Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku langsung berjalan menuju ruang kepala sekolah dan masuk ke dalam setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku bisa melihat pamanku yang bernama Aliandra itu sedang sibuk dengan kertas yang tidak aku ketahui isinya apa.


   "Lho, Helga? Kenapa kamu datang ke sini? Seragam kamu juga, kenapa bisa basah seperti itu? Kamu habis mandi, ya?" Tanya Om Aliandra.


   Tanpa mengindahkan perkataan Om Aliandra, aku langsung memasang wajah memelas dan berkata, "Pak Om Aliandra, Helga numpang tidur di sini dulu, ya? Helga ngantuk!" Kataku sambil merebahkan tubuh diatas sofa --- tanpa meminta persetujuan dari Om Aliandra. Pak Om Aliandra? Apa'an tuh?


 

__ADS_1


--- Author POV'S on ---


   Jam sekolah sudah usai sejak satu jam lalu tapi Helga masih belum bangun juga. Setelah memasukkan kertas dan dokumen di atas meja, Aliandra berjalan mendekati Helga dengan gelas yang berisi air putih. Lalu memercikkannya tepat di wajah Helga yang tampak manis saat tidur.


   Tak membutuhkan waktu lama, Helga akhirnya bangun dari tidur nyenyaknya. Gadis itu menguap dengan ujung mata yang berair. "Om Aliandra...?" Panggilan Helga saat melihat Pamannya itu. "Ini jam berapapun, Om?" Tanyanya kemudian.


   "Sudah jam lima!" Jawab Aliandra sekenanya. Helga terperanjat kaget saat mendengarnya. Gila aja kalau sekarang sudah jam lima! Baru juga dia tidur. "Bercanda, Helga... Sekarangkan masih jam dua siang!"


   Kekesalan Helga langsung mencapai batasnya saat sang Paman berbohong padanya. Membunuh orang, apalagi keluarga, kagak dosa kan? Apalagi kalau korbannya orang macam Aliandra.


   "Cepat rapikan seragam mu, Helga. Kita pulang sekarang!" Ajak Aliandra. Helga hanya mengangguk. Bukannya apa, ia hanya tidak mau kena marah sama Priatna kalau telat pulang sekolah. Untung pamannya ini mau mengantarkannya pulang. Mugkin Aliandra ada janji dengan Priatna.


   Sesampainya di rumah, Helga langsung dihadapkan dengan wajah datar dari kakaknya yang hendak pergi lagi ke rumah sakit.


   "Kakak mau ke rumah sakit lagi, ya?" Tanya Helga yang cuma di balas anggukan oleh kakaknya itu. Priatna berjalan menghampiri Aliandra dan mengatakan sesuatu pada pamannya itu.


   "Kamu tenang saja, Om pasti akan menjaga Helga. Jadi kamu tenang saja!" Pinta Aliandra sambil menepuk-nepuk bahu Priatna.


   "Aku berterima kasih karena Om Ali tidak keberatan menjaga Helga selama Priatna tidak ada di rumah." Ucap Priatna. Kakak Helga yang sudah berusia dua puluh lima tahun itu menghampiri Helga yang cemberut karena pertanyaannya tidak di tanggapi. Lalu memberikannya sebuah kecupan di pipinya. "Kakak ada banyak kerjaan di Rumah sakit, bisa di pastikan kalau kakak akan lembur malam ini. Kamu untuk sementara bakal di jaga sama Om Ali. Jangan nakal-nakal, ya?" Pesan Priatna sambil mengusap puncak kepala Helga, lalu pergi begitu saja.


   Helga bengong saat melihat perlakuan Priatna yang berbeda dari biasanya. Gadis itu mengusap pipinya yang baru saja di cium Priatna. Kakaknya itu memang sulit di mengerti, ya.


*****

__ADS_1


__ADS_2