
Aku bergidik ngeri saat melihat tampang menyeramkan kak Priatna yang berdiri di depan pintu masuk. Tatapan matanya yang tajam itu seolah hendak menelanku hidup-hidup. Ya Tuhan...kenapa aku langsung dihadapkan oleh kakak hamba yang galak ini sih?
"Kak Nana..." Panggil ku. Nana itu panggilan kesayangan ku untuk kak Priat. Citra yang masih ada di gendongan ku masih terlelap.
"Darimana saja kamu sama Citra?" Tanya kak Priat dingin. Mau beku aja nih rasanya. Ya elah, kan aku sudah bilang mau pergi ke taman ria. Masih aja nanya.
"Ke taman ria, kak!" Cicit ku, takut dimarahin sama Kak Priat. Yang konon kalau sudah marah, hidungnya bakal ilang (bercanda).
"Sama siapa?" Tanya Kak Priat.
"Ya sama Citra dan rombongannya Sherlly lah kak!" Aku tertegun saat mengatakan itu. Otakku loading seketika. Astaga naga, kenapa aku bisa lupa kalau aku ke taman ria bareng Sherlly dan sepupunya sih? Gara-gara aku terlalu bersemangat main dengan Citra aku sampai lupa. Pasti mereka bertiga sedang sibuk mencari ku.
"Sana masuk rumah!" Perintah Kak Priat sambil meraih Citra dari gendongannya.
"Hatchi!" Aku bersin. Yahh, jadi masuk angin beneran nih. Aku bergegas masuk ke dalam kamarku dan mandi dengan air hangat. Biasanya aku jarang tidur siang, sih. Pengendali seperti ku, biar sudah menjadi manusia, menganggap kalau tidur siang itu sebagai kemewahan. Tapi bagaimana lagi 'kan, kepalaku terasa pusing. Belum sempat mataku terpejam, aku mendadak teringat akan Sherlly. Segera aku kirimkan pesan padanya. Mengatakan kalau aku sudah tiba di rumah karena tidak enak badan. Barulah aku tidur dengan lelapnya.
*****
Mendekati pukul sepuluh malam, aku terbangun saat merasakan tubuhku sangat panas. Kepalaku juga sangat pusing. Sial, disaat seperti ini kenapa perutku terasa lapar sekali sih? Dengan tubuh lemas tak bertenaga, akupun mulai berjalan keluar kamar. Jalanku sempoyongan banget. Persis seperti orang mabuk.
Baru saja mencapai ruang tamu, aku merasa demamku makin naik. Pandanganku jadi buram. Setelah itu aku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Pandanganku jadi gelap. Aku tumbang tidak sadarkan diri.
-------------------------------------
--- Priatna POV'S on ---
-------------------------------------
Aku baru saja selesai menelepon rekan bisnisku yang ada di Makassar saat mendengar keributan asisten rumah tangga di lantai bawah sambil menyebut-nyebut nama Helga. Apa adik nakalku itu sedang berulah lagi? Karena penasaran, sambil menggelengkan kepala, akupun berjalan menuju ke sumber suara.
Betapa terkejutnya aku saat melihat Helga tidak sadarkan diri di ruang tamu. Dengan cepat aku segera memeriksa suhu tubuhnya dengan telapak tangan, "apa-apaan ini? Kenapa tubuh Helga panas sekali?" Kataku sambil mengibaskan tangan ku yang terasa panas. Gawat, Helga demam tinggi!
Tanpa berpikir panjang lagi aku segera membopong tubuh Helga lebih ringan dari yang aku duga. Sepertinya Helga harus memperbanyak porsi makannya.
"Bik Leha! Bik Yati!" Aku berteriak memanggil nama dua orang art di rumahku setelah membaringkan tubuh Helga. Dua art yang aku panggil namanya datang tergopoh-gopoh dengan mata mengantuk.
"Ada yang bisa kami bantu, den?" Tanya mereka hampir serempak. Aku lebih senang di panggil den daripada tuan muda sih.
Aku mengangguk. "Maaf meminta mereka datang kesini malam-malam begini! Tapi tolong Bik Yati siapkan baskom berisi air hangat dan sapu tangan. Dan bik Leha, tolong siapkan bubur hangat untuk Helga!" Perintah ku. Kedua art itu mengangguk dan berlalu pergi.
Aku menghela nafas. Sudah lama Helga tidak sakit seperti ini. Tubuhnya juga keliatan lemah tak berdaya. Masih sangat panas.
Kalau tidak segera ditangani bisa-bisa sakitnya akan tambah parah.
__ADS_1
Saat kedua art kembali sambil membawakan apa yang aku perintahkan dan kembali lagi ke kamar masing-masing, aku dengan telaten mengompres dahi adikku ini. Helga perlahan-lahan membuka matanya.
"Sudah sadar, sayang?" Tanyaku sambil tersenyum padanya. Helga hanya mengangguk. Aku membantunya yang hendak bangun dan menyandarkannya ke papan kasur. Aku meraih bubur yang masih hangat. "Makan dulu, ya? Baru minum obat," Tawar ku.
Helga menggelengkan kepalanya. "Tidak mau kakak, tidak mau!" Tolaknya. Aku menghela nafas. Percaya deh, kalau demam seperti ini, Helga pasti manja banget. Harus extra sabar dalam menanganinya yang seperti ini.
Aku mengelus rambut Helga dengan penuh kasih sayang, "Makan ya? Biar ada tenaga!" Bujuk ku sekali lagi.
"Suapi,"
Tuh kan. Dengan telaten aku menyuapi Helga sedikit demi sedikit. Suapan pertama berhasil, namun, baru beberapa suap, dia tidak mau makan lagi. Aku menyerahkan segelas air putih untuk diminum oleh Helga.
"Sudah!" Kata Helga setelah meminum air itu sedikit, "Helga tidak mau minum obat!"
Aku menatap Helga dengan tatapan tajam, "harus, kalau tidak minum obat lama sembuhnya!"
Adikku ini masih setia menggelengkan kepalanya.
"Adek sudah besar lho, masa' kayak anak kecil seperti ini?"
"Obat itu pahit kak, Helga tidak suka!"
Aku mengacak rambut ku frustasi, memang susah membujuk Helga soal minum obat. "Terus kamu maunya gimana?"
Helga tersenyum, "beli bodrexin! Kan manis!"
Helga mencibir, "Helga kan memang anak kecil. Ya sudah, Helga bakal minum obat, tapi dengan syarat kakak gak marah lagi sama Helga, ya?"
"Kakak tidak marah sama kamu kok, kakak cuma kecewa saja!'
Aku pikir, penyakit Helga akan berangsur-angsur membaik setelah minum obat, namun dugaan ku salah.
--------------------------------------
--- Priatna POV'S off ---
--------------------------------------
"Kak Priatna, sakit...!" Aku tak henti-hentinya mengaduh kesakitan saat tubuhku seperti terbakar dan kepalaku seperti mau pecah saja rasanya. Kak Priatna yang masih setia merawat ku tidak tega melihat ku tersiksa seperti ini. Ia mengusap air mataku yang menetes begitu saja.
"Adek yang sabar, ya? Pasti demamnya cepat turun," kak Priat hendak menyuapi ku dengan bubur yang sudah di siapkan Bik Leha. Belum sempat memakannya, aku sudah muntah duluan.
--------------------------------------
__ADS_1
---- Author POV'S on ---
--------------------------------------
Makin lama demam Helga semakin tinggi. Suhu tubuhnya mencapai 42° C. Sebagai seorang kakak, Priatna jelas merasa sangat iba. Disaat Mama dan Ayahnya tidak ada di sini, ia harus menghadapi Helga yang seperti ini.
Kalian boleh saja membodohkan Priatna yang seorang dokter. Tapi ingatlah, sebagian besar dokter tidak mempunyai ketegaran saat harus menangani keluarga dan orang terdekatnya. Begitu juga dengan Priatna.
Tidak ada cara lain. Meski gadis itu menolak tapi Helga harus segera di larikan di rumah sakit. Dengan bantuan Aliandra, Priatna akhirnya membawa Helga ke rumah sakit milik keluarganya.
"Kamu sudah memberitahu Kak Pasya dan Kak Kanaya kalau Helga sakit?" Tanya Aliandra. Priatna menggelengkan kepala. Gara-gara terlalu mencemaskan Helga, ia sampai lupa memberi tahu orang tua mereka kalau Helga demam tinggi.
Aliandra menghela nafas. Ia segera mengabari kakak dan kakak iparnya yang saat ini ada di luar negeri, "Kamu tenang saja, Priatna. Mama dan Ayahmu akan segera terbang ke Indonesia!"
Priatna hanya mengangguk. Otaknya tidak bisa berpikir jernih di kondisi seperti ini. Pemuda itu berterimakasih, setidaknya masih ada keluarga seperti Aliandra yang selalu ada disaat ia membutuhkan bantuan.
Malam harinya, Priatna mendapatkan kabar dari dokter yang menangani Helga kalau adiknya itu dalam kondisi kritis. Priat memejamkan matanya. Ingin rasanya ia menggantikan posisi adiknya yang terbaring lemas tak sadarkan diri seperti ini. Helga memang jarang sakit. Namun, bila sudah sakit maka penyakitnya itu akan langsung parah.
Di tengah kegundahan dan kekalutan hati Priatna, Pasya dan Kanaya akhirnya tiba di rumah sakit tempat Helga dirawat. Lebih cepat dari perkiraan.
"Helga Kritis, Ma, Yah." Kata Priatna setelah menyalimi kedua orang tuanya itu. Rasa sayangnya pada Helga membuatnya seolah tak berdaya. Ia benar-benar tidak mau berpisah dengan adik satu-satunya itu.
"Kamu tenang saja, sayang. Adik kamu pasti akan baik-baik saja. Dia kan kuat!" Hibur Kanaya. Dalam hati, ia merasa bersalah karena telah membiarkan anak sulungnya ini menangani Helga seorang diri. Kalau saja Aliandra tidak akan tahu kalau Helga terbaring di rumah sakit.
Tak lama kemudian, dokter Adit yang menangani Helga keluar dari ruangan tempat Helga dirawat. "Nona Helga sudah berhasil melewati masa kritisnya. Hanya saja kondisinya keadaannya masih sama seperti sebelumnya," setelah mengatakan hal itu, dokter Adit pun pamit undur diri.
Aliandra, Kanaya, Pasya, dan Priatna masuk ke dalam kamar VVIP tempat Helga di rawat. Mata gadis itu masih setia untuk terpejam rapat. Ia kelihatan pucat sekali. Kanaya yang merasa iba plus bersalah segera menghampiri Helga. Dengan penuh kasih sayang, ia membelai rambut anak keduanya ini. "Helga sayang..." Panggil Kanaya.
Helga perlahan-lahan membuka matanya saat merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasa, "Mama..."
Kanaya tersenyum miris. Ia tidak boleh rapuh disaat seperti ini. "Helga kenapa bisa sakit, sayang? Kamu kan sudah janji sama Mama buat jaga kesehatan!" Bisik Kanaya.
"Bagaimana kondisi kamu, Helga? Apa sudah agak mendingan?" Tanya Pasya. Helga menggeleng lemah. Kondisinya masih sama seperti sebelumnya. Namun, hatinya sudah tenang saat melihat keluarganya ada di dekatnya.
Kanaya melihat makanan rumah sakit yang belum dimakan Helga. "Helga makan dulu ya, sayang? Mama suapi?" Tawar Kanaya. Helga menatap wajah mamanya yang masih seperti dulu. Ia sebenarnya mau nolak. Tapi tidak tega. Karena itulah ia hanya bisa mengangguk.
"Helga mau pulang!" Kata Helga.
Kanaya menatap Helga dengan tatapan yang sulit di artikan. "Kalau kamu sembuh, pasti boleh pulang!" Ujar Kanaya.
Helga mengangguk. Begini juga boleh. Ia rela terbaring di rumah sakit seperti ini asalkan bisa merasakan kembali kehangatan kasih sayang keluarganya.
*****
__ADS_1
Bersambung....
(Padahal Helga itu pengendali api, tapi kenapa bisa sakit, ya?)