SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 2: Hantu Aya (1)


__ADS_3

   "Maaf ya, Sherlly. Sepertinya aku tidak bisa pulang bersama mu hari ini!" Kataku pada Sherlly saat jam sekolah berakhir. Dari wajahnya yang nampak muram, aku tahu kalau sahabatku itu kecewa. Tapi apa hendak di kata. Meski Sherlly anak seorang dokter, dia punya phobia darah. Lagipula, dia kan tidak bisa melihat arwah. Makanya akan percuma saja kalau dia ikut dengan ku.


   Wajah murung Sherlly kembali ceria. Itulah yang aku suka darinya. "Sebenarnya aku memang ingin mengatakan kalau aku tidak bisa pulang bersama mu, tapi karena kamu mendahului jadi apa boleh buat?!"


   "Oh ya? Memangnya kamu mau kemana?"


   "Mama akan membawaku berlibur. Kebetulan besok hari Minggu. Jadi untuk hari ini sepertinya aku tidak bisa pulang bersama mu. Mama akan menjemput ku. Maaf ya." Maaf. Aku bisa melihat ketulusan dimata Sherlly saat mengatakan kata maaf. Selama aku menjalani kehidupan seperti manusia, baru kali kali ini lah aku bertemu dengan anak yang memiliki hati dan sifat setulus dia. Aku heran, kenapa dulu Sherlly sempat menjadi sasaran bullying, ya? Padahal kan dia anak yang sangat manis.


   "Tidak apa-apa, kok!" Kebiasaan. Saat tersenyum aku selalu memejamkan mataku. Senyumanku langsung luntur seketika saat ada seseorang di belakangku yang berkata...


   "Minggir! Kamu mengganggu jalanku!"


   Memang sih posisi ku saat ini ada di depan pintu dan aku yakin kalau aku saat ini memang menghalangi jalan sehingga beberapa teman sekelas ku tidak bisa keluar. Dan hanya ada satu orang yang berani menegurku dan berkata seperti itu.


   Aku membalikkan badanku dan memasang wajah galak. Siap tempur kapan saja. Tanganku ku lipat di depan dada. Mataku mendelik menatap Chris yang sedang menatap malas ke arahku. Sepertinya dia mau menantang ku berkelahi.


   "Memangnya kenapa? Ada masalah?" Tanyaku sewot. Sungguh, hanya aku saja yang tahu apa yang aku rasakan saat melihat atau tanpa sengaja berdekatan dengan Christian. Tapi, dengan sikap profesional ku, aku bisa dengan mudahnya memendam gejolak rasa yang ada di dadaku. Hidup layaknya manusia membuatku merasa seperti ini, dan aku tidak suka itu.


   Chris memutar bola matanya dengan malas. Dan itu membuatku jijik sekaligus kesal. Sering sekali dia meremehkan ku. Seandainya saja dia tahu siapa aku sebenarnya. Mungkin dia akan terkejut dan kehilangan kata-kata.


   Disaat aku sedang melamun tidak jelas seperti itu, Chris menyelinap keluar dari dalam kelas hingga membuat ku terdorong beberapa senti. Grrrrrr! Aku sangat kesal karena dia berani mendorongku. Untung saja aku tidak jatuh. Kalau ia? Bisa-bisa aku menjadi bahan tertawaan!


   "Apa maksudmu mendorong ku, hah?" Tanya ku galak.


   Chris yang semula berjalan menjauh dari ku dan Sherlly yang masih ada di sana menghentikan langkahnya. Ia menoleh tanpa membalikkan badan. "Tidak ada." Katanya datar. Singkat. Padat. Dan jelas. Dan itu membuatku bertambah kesal!


   "Kau sengaja mau cari gara-gara dengan ku, ya?"

__ADS_1


   Chris membalikan badan. Ia menatap sinis ke arahku. Wahh, minta di gibeng nih bocah. "Memangnya kenapa?" Dia balik bertanya. Membuatku darah tinggi saja.


   "Kamu..."


   Belum sempat aku mengeluarkan segala 'kata-kata mutiara' ku, Sherlly sudah memenangkan ku.


   "Sudah, sudah, bagaimana kalau kita berdua berjalan bersama ke gerbang sekolah? Aku rasa ibuku sudah datang!?"


   Good job, Sherlly. Kamu memang benar-benar Sahabatku. Aku kembali menoleh ke arah Chris. Ternyata si tengil itu sudah melanjutkan perjalanan. Aku dan Sherlly akhirnya berjalan beriringan menuju gerbang sekolah sambil bercengkrama satu sama lain. Benar saja, ibunya Sherlly rupanya sudah datang dengan mengendarai mobil putihnya.


   Setiap kali bertemu dengan ibunya Sherlly, aku merasa aneh dengan tatapannya padaku. Ada raut ketidaksukaan yang besar setiap kali aku bersama dengan anaknya. Tapi karena aku sahabat Sherlly satu-satunya, makanya ia menyembunyikan tatapan anehnya. Tapi sayangnya, tatapan seperti itu tidak akan bisa mengelabui ku.


   "Kalau begitu aku pergi dulu, ya?" Kataku sambil berpamitan dengan Sherlly dan Ibunya.


   "Hati-hati di jalan, ya, Helga! Sampai ketemu di hari Senin!"


   "Iya, sampai ketemu di hari Senin!" Aku melambaikan tangan. Membalas lambaian tangan Sherlly, lalu berlari menjauh dari sana. Saatnya menuju taman.


   Tiba-tiba, aku mendengar suara tangisan anak kecil tak jauh dari taman. Karena penasaran, aku langsung menuju ke sumber suara. Tak jauh dari taman, di lokasi yang agak tersembunyi, aku bisa melihat tiga orang preman tengah bermabuk-mabukan sambil membagi uang hasil copetan, jambretan, curian, atau apalah. Terserah kalian. Lalu seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan.


   Gadis kecil itu dalam keadaan yang benar-benar menakutkan. Setidaknya itu bagi orang-orang yang takut dengan hantu. Karena anak itu memang hantu. Setengah bagian tubuhnya dalam keadaan tak lagi berbentuk dan berlumuran darah. Sebelah matanya hilang entah kemana, mungkin juga rusak akibat kecelakaan. Eh, kecelakaan? Dari mana aku bisa tahu, ya?


   Hehehehe, itu cuma dugaan kok! Aku berjalan menghampiri gadis kecil yang sedang menangis itu. Mungkin ia terganggu dengan kehadiran sosok preman itu. Karena ia tidak bisa melakukan apa-apa, makanya ia hanya bisa menangis. Kasihan sekali. Yaah, setidaknya aku masih punya hati nurani sih.


  "Ada apa? Kenapa kamu menangis?" Tanyaku hati-hati, aku tidak mau mengambil resiko dianggap gak waras karena berbicara seorang diri, jadi harap maklum.


   Sesaat, gadis itu menghentikan suara tangisannya dan menoleh ke arahku. Ia menatap ku dengan tatapan heran. "Kakak bisa melihatku?" Tanyanya dengan suaranya yang terdengar polos.

__ADS_1


   Jangankan melihatmu. Menjitakmu saja aku bisa. Hehehe. Aku mengangguk sambil tersenyum simpul. "Apa kamu yang membutuhkan bantuan dari Alda?"


   Anak itu tampak bingung. "Alda? Alda siapa?"


   Astaga...ini bagaimana aku bisa menolongnya kalau dia saja tidak kenal dengan Alda. Alda mana lagi tuh bocah. Kok gak dateng juga. Kebiasaan tuh anak. Suka sekali telat. Ini beneran anak ini gak sih, yang meminta bantuan?


   "Ahh, sudahlah. Kamu yang mati kecelakaan itu, kan?" Tanyaku akhirnya. Awas aja ntar, si Alda, akan aku gibeng tuh bocah. Bikin orang esmosi saja. Eh, salah, emosi maksudnya.


Anak itu mengangguk. Baiklah~


   Pertama-tama aku harus mengusir ketiga preman itu dulu. Tapi bagaimana caranya, ya? Aku lagi malas berkelahi nih. Gimana dong? Mana Alda gak datang-datang. Tanpa sengaja aku melihat ke arah anak itu. Dengan cepat, otak licik ku berkembang dengan cepat. Kenapa tidak menggunakan dia saja, ya? Xixixi.


   "Hei, paman! Disini bukan tempat preman kayak kalian lho! Lebih baik kalian pergi dari sini saja, deh!" Usirku. Mengganggu kesenangan tiga preman yang jauh lebih tua dari ku. Tapi tenang saja. Aku nggak takut dengan mereka bertiga kok! Sama sekali tidak takut. Lalu apa yang membuatku takut? Mudah saja, kehilangan kalian lah yang membuat aku takut. Kalau kalian menghilang siapa yang membaca ceritaku, hah? Cukup hantu saja yang merepotkan ku, kalian, jangan.


   Ketiga preman yang sedang dalam keadaan setengah sadar itu sepertinya terusik dengan kehadiranku yang tiba-tiba berkata begitu.


   "Memangnya kenapa, hah? Ini bukan urusanmu, bocah!"


   Wat de ****? Aku yang biasanya ngatai orang bocah malah di bilang bocah? Wah, gak bener nih. "Kalau begitu, setidaknya kalian harus meminta ijin dulu dengan penunggu yang ada di taman ini!" Aku menunjuk ke arah gadis kecil itu.


   Ketiga preman yang semula mengabaikan ku itu langsung pucat pasi saat melihat gadis kecil yang sudah menjadi hantu itu. Yaa, aku meminta gadis kecil itu untuk memperlihatkan sosok aslinya pada ketiga preman kampungan itu. Tentu saja mereka ketakutan dan lari tunggang-langgang. Hehehe.


   "Maaf ya, kakak sudah meminta kamu untuk memperlihatkan diri pada mereka!" Kataku dengan nada tak enak hati. Tidak banyak hantu yang bisa memperlihatkan dirinya pada manusia biasa. Apalagi ini masih siang hari.


   "Tidak apa-apa kok kak, aku tidak kepikiran untuk menggunakan cara ini untuk mengusir mereka."


   Satu masalah telah selesai, sekarang giliran ku untuk menyelesaikan masalah anak yang kemudian aku ketahui namanya, yaitu Aya.

__ADS_1


   "Nah, bagaimana kamu bisa meninggal, Aya? Apa kamu tidak keberatan menceritakannya padaku? Siapa tahu aku memperoleh petunjuk untuk menyelesaikan masalah mu!" Pintaku pada Aya.


   Aya mengangguk. Hantu kecil itu mulai bercerita kenapa ia bisa tewas karena kecelakaan tiga hari yang lalu.


__ADS_2