SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 13: Orang yang lebih suka sediri


__ADS_3


--- Christian POV'S on ---


-----------------------------------------


   Namaku Christian, seorang pengendali elemen bayangan. Karena alasan tertentu, aku tinggal di toko buku tempat Sennin dan sesama tinggal. Toko ini, dari depan seperti toko buku pada umumnya, tapi sebenarnya tidak.


   Misalnya Lurge. Biasanya dialah orang yang melayani tamu di toko. Tapi sebenarnya dia boneka pengiring yang di buat nenek Kasumi, pemilik toko buku ini.


   Dengan ilmu gaib, nenek Kasumi mengumpulkan roh-roh kecil di udara yang menghidupi gunung, sungai, tumbuhan, bunga, serangga, dan semacamnya. Mencampur semua itu dan menyatukannya dalam guci. Lalu dijadikan roh berukuran besar. Dimasukkan dalam boneka dan di beri kemampuan untuk bergerak. Dia itu boneka hidup. Roh-roh kecil tidak punya kesadaran ataupun hati. Karena itu dia bergerak dengan perintah.


   Orang-orang ini Sennin dari China! Orang-orang yang hidup abadi karena melakukan banyak latihan khusus. Mereka menggunakan kekuatan ajaib seperti penyihir di buku dongeng. Terlebih lagi, semuanya penjahat dunia gaib yang sudah melakukan dosa, termasuk aku. Untuk menebus dosa, mereka datang dari China ke Indonesia dan melakukan pekerjaan rahasia.


   Hari ini udara jadi lembab, sepertinya akan turun hujan yang dingin.


-----------------------------------------


--- Christian POV'S Off ---


------------------------------------------


   "Helga! Kata Pak Kepala Sekolah, Citra tinggal di rumah mu, ya?" Tanya Sherlly begitu aku masuk ke dalam kelas. Aku menghela nafas lega. Untung aku tiba di sekolah telat pada waktunya. Teman-teman sekelasku sudah banyak yang datang, termasuk dia. Musuh yang entah kenapa jadi Partner ku.


   "Yahh, begitulah~ dia memang lengket sekali dengan ku, sih. Tadi saja dia melarang ku untuk berangkat sekolah. Tapi karena aku kabur lewat jendela kamar, makanya aku bisa datang ke sekolah!" Jawabku sambil melirik ke arah Christian yang berdiam diri di tempat duduknya.


   Dia...apa tidak punya teman, ya? Aku tidak pernah melihat Chris berbicara dengan seseorang di kelas ini. Diam-diam aku merogoh saku rok ku. Kertas jimat penyegel siluman yang waktu itu diberi oleh Christian... Pengendali, Sennin, atau siluman, dikatakan juga pasti semuanya tidak percaya.


   Grak


   "Hei, kalian, minggir dong, aku jadi tidak bisa lewat nih!" Kata seorang anak perempuan yang baru masuk ke dalam kelas. Dasar, seluas ini jalan dia malah bilang gak bisa lewat. Apa dia tidak pernah mendengar pepatah tidak satu jalan ke Roma, ya?


   "Ah, Chintya, maaf ya!" Kata Sherlly dengan nada tak enak hati. Sahabatku ini memang baik pada siapa saja sih.


   "Berisik begitu, mengganggu tahu!" Anak bernama Chintya itupun berlalu dengan sombongnya. Tanpa sengaja, dia menyandung bola hingga jatuh mencium lantai.


   "Ka...kamu tidak apa-apa, Chintya?" Tanya Sherlly yang langsung berjalan menghampiri Chintya.


   "Ng..tidak apa-apa." Jawab Chintya ketus.


   "Kamu tidak apa-apa?" Anak-anak cowok yang melihat Chintya jatuh bertanya hal yang sama.


   "Pasti kalian kan, yang main bola di kelas?" Tuduh Chintya seenak jidatnya saja. Padahal anak-anak itu tidak tahu kenapa bisa ada bola di dalam kelas. "Kalian ini, main yang konyol melulu!"


   Sherlly melihat ke arah Chintya yang marah-marah tidak jelas, "Chintya gawat, wajah mu luka karena anting! Aku ambil kan kotak P3K, ya?"


   "Tidak perlu, nggak usah sok peduli padaku!" Tolak Chintya mentah-mentah.


   "Tapi..."


   "Aku bilang tidak usah pedulikan aku, kan?!" Chintya mendorong tubuh Sherlly dengan kasar. Seenaknya saja dia berbuat seperti itu pada sahabat ku!


   "Biarkan saja, Sherlly, anak itu bilang tidak perlu, kan?" Kataku pada Sherlly yang keras kepala mau mengobati luka Chintya.


   "Tidak bisa seperti itu!" Sahut Sherlly sambil tetap mengobati luka Chintya, "Chintya anak orang kaya, ya? Anting mu bagus sekali. Tapi bahaya kalau di pakai ke sekolah, lho!"


   Entah kesambet setan apa, anak itu malah marah-marah tidak jelas. "Berisik! Tidak ada hubungannya dengan keluarga ku, kan? Lagian apa-apaan sih, sok ikut campur begitu? Pasti supaya kamu populer kan! Seperti orang bodoh saja!"


   "Aku tidak melakukannya supaya populer!"Sahut Sherlly kesal, "cuma karena mengkhawatirkan keadaan mu!"


   Tak lama kemudian, pak guru pun datang. Anak itu memang selalu begitu sama siapapun juga. Anak itu putri direktur perusahaan dagang besar. Katanya dia jarang sama-sama dengan orang tuanya karena mereka sibuk.


   Sepertinya orang tua seperti itu memberikan benda-benda mahal. Tapi setelah itu menelantarkannya. Dia sering ngamuk seperti itu di mana-mana. Selalu sendirian. Persis seperti Chris.


   Saat jam istirahat, hujan turun dengan sangat lebat. Padahal kami semua sedang makan di dalam kelas.


   "Kyaa, hujan!"


   "Yahh, aku lupa bawa payung!"


   "Helga, asparagus rebus ini tidak enak, ya?" Tanya Sherlly sambil menunjuk mangkuk asparagus yang tidak aku sentuh. Aku tidak menjawab.


   "Lho, kamu kenapa, Helga?"


   "Helga berhenti bergerak!"


   "...dia tidur!"


   Eh, kalian tahu tidak? Katanya kalau hujan begini, monster bakal muncul...siluman.


   Kalau jalan sendirian, katanya ada suara yang bilang, "mau aku pinjami payung? Biar tidak basah" lalu, kalau kamu bilang mau pada suara itu, katanya akan ada yang gelap dari balik gang yang muncul di atas mu, dan membawamu pergi entah kemana dengan cepat.


-------------------------------------

__ADS_1


--- Author POV'S on ---


-------------------------------------


   Saat pulang sekolah pun, hujan masih turun dengan lebat. Anak-anak yang lupa membawa payung dijemput oleh keluarganya masing-masing. Sherlly juga sudah di jemput oleh ibunya. Meninggalkan Helga yang masih berada di pekarangan sekolah.


   Tak jauh dari tempatnya berada, Helga bisa melihat Chintya yang berteduh. Tidak membawa payung, dan tidak ada yang menjemput. Pasti di lupakan oleh orang tuanya lagi. Selama bersekolah di sana, Helga tidak pernah melihat Chintya dijemput oleh orang tuanya.


   Melihat Chintya yang tidak pernah di jemput orangtuanya, entah kenapa Helga jadi teringat pada Mama dan Ayahnya yang keluar negeri. Meski begitu, ia masih punya Priatna yang menjaganya dengan sepenuh hati.


   Entah apa yang menggerakkan hati Helga, gadis itu malah menghampiri Chintya dan menyerahkan payung padanya. "Aku jadi kepikiran kalau kamu berdiri kedinginan sepeti ini." Meski Helga sudah menduga kalau niat baiknya akan di tolak oleh Chintya, apa salahnya  menawarinya saja? Chintya sering marah-marah sih, makanya banyak yang enggan memberi bantuan padanya.


   "Si...siapa yang mau memakai payung mu? Sebentar lagi ada yang menjemput ku! Cepat pulang sana!" Tolak Chintya.


   "Jangan keras kepala, ambil saja!"


   "Kubilang sebentar lagi akan ada yang menjemput ku! Cuma sedikit terlambat saja!" Chintya menyambar payung Helga.


   "Kenapa kamu mau tetap sendirian?" Tanya Helga.


   Chintya yang tidak suka Helga bertanya seperti itu langsung menginjak payung Helga sampai rusak, "Berisik! Sendirian sudah cukup bagiku!" Katanya sambil berlari meninggalkan Helga.


   Christian yang muncul entah dari mana memungut payung Helga yang sudah rusak, "aku juga setuju dengan Chintya. Aku tidak akan menanyakan urusanmu. Hanya saja, aku heran kenapa kamu dan sahabat mu suka ikut campur dengan urusan orang lain. Sherlly bisa aku mengerti karena dia memang anak yang baik, tapi kalau sampi kamu juga..."


   "Aku sudah tidak mau kesepian lagi, Chris." Kata Helga tanpa sadar, "Orang tuaku sudah lama tinggal di luar negeri. Tapi aku bersyukur karena setidaknya masih ada kakak yang mau perhatian dengan ku. Sendirian itu menyakitkan. Aku sudah tidak mau merasakannya lagi!"


   "Itu untuk orang yang lemah!"


   "Kalau begitu, memangnya kamu sekuat apa?"


   "Menurut ku, aku sekuat gunung. Aku kan pengendali. Kamu juga, kan?"


   "Kalau begitu, kenapa kamu tidak beraksi sendiri saja?"


   "Padahal kamu bisa menyegel siluman sendiri, kenapa malah meminta bantuan ku?" Tanya Helga.


   "Dengar ya, ku beri tahu nih. Memangnya kamu bisa tahan mengembalikan pinjaman uang seratus juta dengan uang seribu sekali bayar? Menyegel satu persatu siluman yang tidak terhitung jumlahnya pun, entah makan waktu sampai kapan. Karena itu aku tidak begitu berniat melakukannya! Kamu mengerti?"


   "Orang yang sudah membuat kesalahan dengan membebaskan para siluman bicara apa, sih?"


   Christian tertegun saat Helga mengatakan itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Sebab, memang kesalahannya lah yang telah mengakibatkan siluman-siluman itu bebas.


   Mendadak, tangan kiri Helga terasa nyeri. Gadis itu meringis kesakitan.


   "Ada siluman di dekat sini, ayo kita ke sana!" Ajak Helga. Keduanya pun segera bergegas pergi.


   Sementara itu, Chintya yang berteduh di dekat gang menggigil kedinginan dengan pakaian yang basah kuyup. Sudah satu jam lamanya ia menunggu tapi tidak ada orang yang datang menjemputnya. Tiba-tiba, gadis itu di kejutkan oleh suara yang berasal entah dari mana.


   "Dingin ya, mau aku pinjami payung?"


   Chintya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara. Tidak ada orang selain dirinya di sana. Suara misterius itu kembali terdengar.


   "Basah kuyup begitu. Mau aku pinjami payung?" Bersamaan dengan itu, sebuah payung terkembang muncul dari balik gang. "Sepatu boot juga ada. Kamu tidak perlu kedinginan lagi..."


   Entah kenapa, Chintya jadi mengingat saat dirinya menolak payung yang di pinjamkan oleh Helga. Gara-gara itu, dia jadi terjebak di tengah lebatnya hujan seperti ini. Gadis itu berpikir sejenak, tidak ada salahnya kalau ia menerima payung tersebut kan?


   "Tolong, pinjamkan!" Katanya sambil berjalan untuk meraih payung tersebut. Namun, belum sempat ia meraih payung tersebut, sebuah tangan yang dipenuhi oleh bulu menggenggam erat tangannya.


--------------------------------------


--- Author POV'S Off ---


--------------------------------------


   Saat tiba di ujung gang, aku kaget saat melihat siluman yang tengah membawa Chintya. Gadis yang menjadi teman sekelasku dan Chris itu sangat ketakutan.


   "Mau ku pinjami payung? Kamu tidak perlu kebasahan." Kata siluman itu. Dia mengendus-endus tubuh Chintya, "tercium bau manusia kesepian . Aku suka dengan bau ini. Disini dingin, aku akan membawamu pergi!" Setelah berkata seperti itu, siluman itu segera membawa pergi Chintya.


   "TOLONG!" Teriak Chintya. Aku jatuh saat siluman itu mengenai diriku. Bukan itu saja, siluman itu juga merusak beberapa mobil yang ia jadikan pijakan untuk meloncat dan melesat pergi.


   "Itu siluman yang di sebut Kakuen. Dia sering menculik manusia. Di sebut juga monster kera atau monster kuda. Dia melewati batas usianya dan jadi raksasa. Sepertinya akan makan waktu cukup lama untuk menyegelnya. Jadi tidak niat." Jelas Christian, "dia mengambil wujud seperti kera dan punya telinga putih. Berjalan membungkuk dan berlari seperti manusia."


   Chris berjongkok di dekat ku yang meringis kesakitan. "Kamu pulang saja, terluka begitu. Anak perempuan seperti mu tidak pantas melakukan tugas berbahaya seperti ini!"


   Dari nada bicaranya, aku bisa mendengar kalau Sepertinya Chris sedang mencemaskan ku. Tapi sebenarnya aku tidak punya waktu lagi untuk beranggapan seperti itu, sih.


   "Walaupun begitu, aku akan tetap pergi!" Kataku dengan sorot mata yang memancarkan keseriusan. "Kamu tidak mendengarkan suara minta tolong anak itu? Dia teman sekelas kita, Christian Samuel!"


   Lagi-lagi aku melihat wajah tertegun Chris. Apa ada yang salah dengan kata-kata ku? Kalau ada, tulis di kolom komentar.


   "Meski kamu bertekad seperti itu, kamu tidak tahu harus kemana kan?" Tebakan jitu dari seorang Chris yang tepat sasaran. Aku memang tidak tahu harus kemana. Kalau menuruti insting, bisa-bisa aku tersesat.


   Chris memindahkan kekuatan bayangannya pada sebuah mobil yang ada di dekat kami. Mobil yang semula berwarna putih menjadi hitam gara-gara ulahnya itu. "Cepat naik!" Perintahnya.

__ADS_1


   Meski agak ragu, aku pun masuk ke dalam mobil tersebut, aku tahu apa yang di pikirkan Chris. Akan menarik perhatian kalau kami terbang. Tapi yang jadi masalahnya, apa Chris bisa menyetir?


   Belum sempat aku menanyakan hal itu, Chris sudah mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Aku hanya bisa memejamkan mata saat cowok itu masih menambah kecepatan mobil.


   Nih orang mau ngajak aku mati bareng, ya? Niat sekali dia jadi pembalap.


--------------------------------------


--- Author POV'S on ---


--------------------------------------


   Chintya menagis berurai air mata saat siluman itu terus membawanya pergi entah kemana. Saat seperti ini, ia mulai berpikir kalau sendirian itu bukan pilihan yang tepat. Kesadarannya perlahan-lahan mulai berkurang. Gadis itu berharap akan ada orang yang mau menyelamatkannya. Sayup-sayup ia mendengar suara seseorang memanggil-manggil namanya.


   "Chintya!"


   Ia tersentak kaget saat melihat Helga dan Christian tengah berusaha menyelamatkan dirinya.


   "Aku tidak bisa membiarkan mu pergi sendirian begitu saja!" Teriak Helga. Kesadaran Chintya semakin menipis hingga ia tidak sadarkan diri.


   "Siapa kamu? Mau mengganggu?" Tanya siluman itu dengan nada penuh ketidaksukaan.


   "Kami pengendali yang ditugaskan untuk menyegelmu!?" Jawab Chris sambil bertopang dagu.


   "Minggir sana!" Monster itu menyerang mobil yang sedang ditumpangi oleh Helga dan Chris.


   Chris yang tidak terima diserang begitu saja langsung menggunakan kekuatan kekuatannya untuk mencekal leher siluman itu dan meninjunya.


   Siluman itu mengaduh kesakitan. "Lihat, tinju bayangan ku terasa kan?"  Tanya Chris dengan sombongnya.


   "Tunggu Chris, Chintya masih dalam bahaya!"


   "Hah?" Christian tidak habis pikir kenapa Helga malah mengkhawatirkan teman sekelas yang tidak akrab dengan mereka. Padahal kan mereka bisa membiarkan anak itu mati begitu saja. Toh mereka tidak akan rugi. Yang penting kan silumannya berhasil mereka segel.


   "Aku yang akan membebaskan anak itu. Jadi kamu tolong hentikan makhluk ini!" Perintah Helga.


   "Pengendali? Anak ini tidak akan aku serahkan begitu saja. Anak ini milikku!"


   Chris kembali memukul siluman itu. Tapi berhasil di hindari. Akhirnya terjadi baku hantam antara Chris dengan siluman itu.


   "Sebenarnya siluman ini mau membawanya kemana?" Tanya Helga.


   "Berisik Helga!" Chris memperingatkan, "... kegelapan yang ada di dasar hutan. Itu wilayah yang sama sekali tidak bisa dimasuki cahaya. Lubang penghubung yang tidak kelihatan apapun dan tidak merasakan apapun. Dibaliknya pasti ada neraka. Dia tidak akan bisa kembali lagi!"


   "Kenapa?"


   "Aku tidak akan mendengar omonganmu lagi. Kamu cuma perlu membantuku untuk menyerang siluman ini. Aku sudah muak!"


   Sendirian sudah cukup untukku...


   Aku lebih suka sendirian...


   Memikirkan perkataan Chintya dan Chris yang lebih menyukai sendirian, Helga malah mendapat dorongan untuk meloncat dan membebaskan Chintya yang masih tidak sadarkan diri. Siluman itu memukul Chris.


   "Dia lebih cepat, tapi kenapa ini...? Harusnya bisa di lakukan! Aku kan pengendali yang melebihi manusia!" Batin Chris. "Selama ini aku selalu melakukannya sendiri!" Katanya berapi-api.


   "Kalau sendirian, hujan tidak akan bisa di tahan!" Kata Helga tiba-tiba, "karena ada payung dan mantel, kita tidak kehujanan. Payung bisa di ibaratkan dengan kehangatan orang-orang di sekitar kita. Apa kamu tidak merasakan kehangatan dari orang-orang sekitar mu?!"


   "Jangan dengarkan kata-kata gadis itu!" Batin Chris. Dengan bersusah payah, akhirnya Helga berhasil menempelkan jimat penyerang. Sial, kalau tidak ada senjata ia jadi tidak bisa menyerang.


   "Pedang naga api! Kemarilah!" Teriak Helga. Ajaib, seekor burung berukuran besar terbang di dekat Helga dan menjatuhkan pedang naga api. Lalu pergi begitu saja.


   Helga segera membuka sarung pedang naga api dan memotong tangan siluman itu. Tidak ada benda yang tidak bisa di potong oleh pedang dunia gaib. Tubuh Chintya nyaris jatuh mencium tanah, untung Chris berhasil menangkapnya.


   Tangan Chris tiba-tiba di pegang oleh siluman itu, "apa yang kamu lakukan? Lepaskan, dasar!"


   "Kalau anak itu tidak bisa aku bawa, kamu saja yang menjadi korban. Ada bau kesepian yang sangat menyengat dari mu!" Chris terpaku saat siluman itu mengatakan hal seperti itu padanya.


   "Ada apa, Chris?" Pertanyaan Helga kembali menyadarkan Chris. Anak itu meronta dan membebaskan diri. "Lepaskan! Lepaskan! Sial!" Chris hendak menyerang siluman itu, tapi percuma. Ia sudah memakai kekuatan spirit dipertarungan sebelumnya. Ia tidak bisa menang dengan tenaganya. Kalau terus begini, bisa-bisa Chris akan terbawa ke dalam kegelapan.


   "Aku lebih suka sendiri!" Kata-kata itu kembali terngiang di telinga Chris. Memalukan sekali. Chris yang seperti ini...


   Helga kembali menyabetkan pedangnya berkali-kali, "Chris, sekarang! Jimat serangan sudah aku tempelkan! Cepat habisi dia!"


   "Ugh, ini tidak bisa lepas!"


   "Dia akan aku bawa juga! Orang yang paling tidak suka dengan rasa sepi!" Kata siluman.


   "Christian tidak sendirian, dasar monster!"


   Deg! Jantung Chris berdetak kencang saat Helga mengatakan hal itu. Anak itu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melepaskan diri dari cengkeraman siluman itu. Berhasil. Helga menebas siluman itu berkali-kali. Chris segera menyegel siluman itu di kertas mantera yang ditempelkan Helga. Akhirnya selesai juga.


    Kalau kamu tidak mau sendiriran, bukalah pintu hatimu. Dan biarkan orang lain mengisi kekosongan yang ada di hati mu dan memahami mu. Kalau kamu tetap tidak mau memberikan hatimu pada orang lain, bisa-bisa ginjal mu yang mereka minta lho. Lumayan kan, lima miliar.

__ADS_1


****


__ADS_2