SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 19: Gerbang Pengkhianat


__ADS_3

   "L, Kamandanu, kenapa kalian bisa ada disini?" Tanya Helga pada dua orang yang tak asing baginya itu. L dan Kamandanu.


   "Yah, bisa dibilang sebagai kerja sukarela untuk kembali ke dalam masyarakat." Jawab Kamandanu. Bawaannya selalu tenang dan tanpa emosi. Pengendali elemen pohon yang ditangkap Helga terkait pencurian harta pusaka. "Dengan bekerja sama dengan kalian mungkin kami bisa mendapatkan remisi hukuman". Imbuhnya.


   "Begitu, ya? Jr. pun melakukan hal yang modern, ya?!" Kata Helga. Tak bisa dimungkiri, ia cukup senang dengan kedatangan mereka berdua. "Christian, aku kenalkan! Ini L dan Kamandanu!"


   "Hai!"


   "Salam kenal!"


    "Aku tidak tahu soal Kamandanu. Tapi yang menarik perhatianku adalah harta dan alat yang dulu dicuri oleh siluman hewan suci. Aku sama sekali tidak berniat untuk kerja sama dengan kalian!" L yang sejak tadi diam angkat bicara. Dia tipe orang yang suka mencari gara-gara pada siapa saja. Pengendali elemen petir yang juga mantan pencuri seperti Kamandanu.


   "Apa-apaan sih, heh? Kebalikan dari badanmu yang kecil, sifatmu gede sekali"  ujar Chris dengan nada tidak suka. Baru beberapa menit bertemu saja ia sudah merasa tidak cocok dengan L.


   "Kamu mau mati, ya?" Tanya L dengan wajah datarnya yang benar-benar tanpa ekspresi. Hal itu membuat Chris semakin kesal.


   "Hentikan L. Perkelahiannya lakukan setelah tugas ini selesai!" Pinta Kamandanu.


   "Dengar, Helga! Pasti dendamku padamu akan aku balas! Setidaknya, siapkanlah dirimu!" Kata L dengan cueknya.


   "Boleh saja. Tapi sekarang sebaiknya kawan kita jadi banyak!" Sahut Helga.


   Melihat siapa yang datang membantu Helga dan Christian, setan lapar busuk yang masih tersisa pun menjadi ciut. "Ugh, itukan L dan Kamandanu. Gawat. Mereka pengendali yang ada dalam daftar penjahat top!"


*****


   Di dalam istana labirin berbentuk menara dengan lingkaran besar diatasnya, keempat siluman hewan suci pun berkumpul seperti biasa.


   "Tamu yang jarang nih," kata siluman One.


   "Huh, bukan lawan yang membuat kita harus turun tangan sendiri!" Sahut siluman Double.


   "Bagaimana, tuan Quadra?" Tanya siluman Triple meminta pendapat.


   "Ucapan Double benar. Kelompok dengan campuran tak jelas begitu masuk ke istana pun tidak akan bisa. Mereka hanya akan bertahan di gerbang pengkhianat dan mati." Jawab siluman Quadra.


*****


   "Ini jalan masuknya?" Tabya Christian saat mereka berempat sudah berada di depan gerbang yang terlihat seperti pintu terowongan yang sangat panjang.


   "Kalau tidak di lakukan, maka kita tidak akan mendapatkan apapun" kata Helga. Mereka berempat pun masuk ke dalam. Namun, baru saja mereka melangkah beberapa meter seekor siluman bulat bermata satu terbang kearah mereka.


   "Selamat datang di istana labirin. Orang-orang yang ingin memasuki istana harus melewati penilaian dari gerbang pengkhianat"


   "Penilaian?"


   Siluman itu terbang ke arah dinding dan menurunkan tuas yang ada di sana. Seketika saja, langit-langit menjadi turun. Dengan gerakan refleks keempat orang itupun menahan langit-langit agar tidak semakin turun.


   "Gerbang itu sensitif dan cerdik. Tapi sifatnya buruk. Dua membaca kekuatan orang yang menahannya dan memberikan tekanan sesuai berat yang bisa ditahan. Kalau satu orang saja melepas tenaganya, semua langsung gepeng!" Siluman itu tertawa penuh kemenangan, "Kalau ada seorang saja yang berkhianat dan melarikan diri, semua yang tersisa akan hancur. Jika semua saling percaya dan tenaganya habis semua akan mati bersama-sama. Bagaimana? Hanya pengkhianat yang memenuhi syarat yang bisa masuk ke istana ini. Pemilihannya terserah kalian."


   Helga melihat kearah tuas yang ada di dekat siluman itu. Kalau tuas itu tidak dibalikkan ... "L, Lawliet!" Ia menoleh kearah L. "Tolong angkat tuas yang ada disamping dia! Yang paling cepat diantara kita kan kamu yang seorang pengendali petir!" Pintanya. L tertegun saat mendengarnya.

__ADS_1


   "Bodoh! Helga kamu gila ya? Kamu saja yang pergi! Bagaimanapun juga aku tidak menyukai dia!" Protes Christian.


   "Ucapan si muka hancur ( Christian ) disana itu benar. Apa kamu bisa mempercayai orang seperti aku?" Tanya L sansi.


   "Jika dalam waktu sebentar saja, mungkin kami bertiga bisa menahan bagianmu juga. Pergilah, L. Aku serahkan padamu!"


   Melihat keseriusan dimata Helga saat mengatakan hal itu, L segera berlari dengan kecepatan tinggi ke arah tuas. Ia melihat ke arah Helga dan Christian. Ada keraguan dalan dirinya.


   "Kenapa? Ayo cepat angkat tuasnya, angkat!" Pinta Christian. Ia gregetan melihat L yang hanya diam saja.


   "Anda sama sekali tidak perlu bingung, tuan L. Dengan dipandu oleh ku anda tinggalkan saja mereka dan akan aku pertemukan anda dengan tuan Quadra. Pengendali kriminal sekaliber anda pasti akan diterima sebagai kawan dengan penuh kebahagiaan oleh siluman hewan suci!"


   "Ka, kamu, oi bocah! Padahal kamu di serahkan tugas dengan penuh kepercayaan oleh Helga. Tapi kamu mau berkhianat?!" Christian benar-benar emosi sekarang. Ingin rasanya ia berlari dan menerkam L hidup-hidup.


   Tiba-tiba, L tertawa tidak jelas. "Kalian polos sekali, ya?" Helga dan Chris terkejut saat L mengatakan hal itu, "Jangan anggap remeh aku, ya!" L mengambil pedangnya dan menyerang siluman bulat bermata satu. Lalu menaikkan tuas. "Katakan pada mereka! Merekalah yang akan menjadi bawahan ku! Maka aku ampuni. Kalau mau nyawanya selamat sekaranglah waktunya" siluman itu melarikan diri saking takutnya.


   "Apa kamu baik-baik saja, Helga?" Tanya Chris, bagaimanapun juga Helga baru saja sembuh dari sakitnya.


   "Aku kira uratku akan putus!" Keluh Helga. Ia menyambut kedatangan L yang kembali bergabung dengan mereka. "Terimakasih ya, L." Ucapnya dengan sepenuh hati, "kamu membuat orang ketakutan saja. Akting yang hebat. Tapi sepertinya sifat jelekmu itu tidak berubah."


   "Sebenarnya aku bukan mau menolong kalian. Jadi jangan salah paham. Aku juga sama, agar mudah mengalahkan mereka, sebaiknya dengan jumlah orang yang banyak." Kata L.


   "Fuhh ... Itu gayanya berterimakasih. Jangan masukkan ke hati." Ujar Kamandanu. Ia tahu pasti sifat L itu seperti apa.


*****


   "Mereka berhasil melewati gerbang pengkhianat, ya?" Kata siluman Double.


   "Serahkan saja pada One. Biar aku habisi mereka. Aku akan membawa mayat keempat orang itu ke sini!"


*****


   "Istana ini sesuai sekali dengan namanya, ya!" Keluh Christian saat melihat banyaknya lorong dan pintu di dalam istana berbentuk menara itu.


   "Ayo, cari tangga dan masuk ke atas. Kamar pemimpin itukan biasanya dilantai atas." Ajak Kamandanu.


   Tiba-tiba, frekuensi jiwa Helga tersambung dengan frekuensi jiwa Alda yang sedang berpatroli di dunia manusia.


--- Mode Telepati on ---


Alda : "Helga, ini Alda di dunia manusia! Saat ini belum


             terjadi kekacauan lho!"


Helga : "Oh, begitu, ya"


Alda : "Ditengah patroli aku menangani 15 ekor serangga


             perubah kejahatan"


Helga: "15 dari ribuan sih hampir tidak ada artinya.

__ADS_1


              Ternyata kita memang harus merebut seruling


               itu, ya?"


Alda : "Yang namanya serangga perubah kejahatan itu


             hanya hidup pada orang yang hatinya lembab.


             Pasti orang yang seperti itu jumlahnya sedikit.


             Tanpa bisa menempati manusia lain mereka hanya


             bisa berkeliaran. Manusia bisa dipandang rendah,


             ya. Ah, aku dapat seekor lagi. Tapi mungkin ini


             ketenangan sebelum badai. Jadi sambil aku


             berjaga-jaga kalian lakukan secepatnya, ya?!"


--- Mode Telepati off ---


   "Baiklah, sepertinya kota masih aman. Kita harus cepat-cepat!" Keempat orang itupun kembali melanjutkan perjalanan. "Ngomong-ngomong Kamandanu, Siluman hewan suci itu seperti apa, sih?" Tanya Helga pada Kamandanu. Soal itukan kalian yang lebih tahu.


   "Dari dunia arwah yang menyegel mereka di dunia bawah, kamu sudah mengerti, kan? Mereka adalah kawanan yang cukup berbahaya. Lagipula karena mereka berbeda dengan siluman yang ada didunia manusia, mungkin kamu akan terkejut." Jelas Kamandanu.


   "Terimakasih atas pujianmu!" Sahut seseorang dari dalam pintu yang tertutup rapat. Tanpa berpikir panjang Helga segera membuka pintu itu hingga terbuka lebar. Di dalam sana sudah menunggu seekor siluman besar yang mirip batu karang.


   "Khu khu khu, hebat. Kalian bisa sampai. Biarlah siluman One ini yang mengurus kalian!" Kata siluman One, "Tangga menuju ke atas hanya ada di sini. Kalian bisa mengalahkan aku atau jadi mayat."


   Siluman One memukulkan ekornya. "Sebaiknya kalian menyerang sama-sama. Dengan begitu waktu ku untuk mengurus kalian jadi singkat."


   "Biar aku lakukan. Karena kita tidak tahu karakter lawan bahaya jika kita maju bersama-sama!" Kamandanu mengajukan diri untuk bertarung melawan siluman One.


   "Kamandanu?!"


   "Lagipula aku tidak bisa membiarkan L terus yang jadi keren. Sesekali aku juga mau unjuk gigi." Imbuhnya.


   "Kalian ingin mati satu-satu, ya? Itu juga bagus!" Kata siluman One.


   "Sembarang saja. Lebih baik kita lakukan sesuatu untuk mencuri kesempatan dan maju ke atas" saran Chris.


   "Kalian tidak tahu betapa kuatnya Kamandanu!" Kata L, "Aku beri tahu alasan kenapa aku mau sekelompok dengan dia. Itu karena aku tak ingin dia berubah jadi lawanku. Dia akan melawan orang yang akan melukai dirinya dengan ketenangan yang bukan main" L lakukan meski ia tidak bisa dia lukai.


   "Yah, silahkan serang darimana saja" kata Arya mempersilahkan. Siluman One hanya diam saja tidak menanggapi. "Kalau tidak mau aku yang akan menyerangmu lebih dulu!"


    Ekor siluman One melebur masuk ke dalam lantai. Dan entah bagaimana caranya hanya ekornya saja yang muncul di belakang Kamandanu. Kamandanu yang baru menyadari itu cukup terkejut. Ekor siluman One menyerang tiba-tiba hingga melukai perut Kamandanu.


   "Gyahahaha, aku bisa bersatu dengan karang dan bisa bergerak dengan bebas tahu. Dengan melalui karang ini mudah saja ekorku bergerak!"


*****

__ADS_1


  


__ADS_2