SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 10: Penyesalan Angely


__ADS_3

   Helga tiba-tiba merasa aneh dengan jiwanya yang tiba-tiba gemetaran. Lagi-lagi Rara diincar. Gadis itu dalam bahaya, karena itulah Helga berniat menolongnya.


   Sementara itu, Angely tengah berlari mencari tahu keberadaan Rara yang entah dimana. Saat ini pola di kertas mantera itu tercetak di lengannya. Itu artinya kekuatan jahat itu belum hilang. Gara-gara ia Rara jadi terancam bahaya.


   "Rara ada di mana?" Tanya Angely entah pada siapa. Arwah Rendi melesat ke arahnya dan menunjukkan jalan. Lurus terus. Sesampainya di persimpangan Rendi memberi arahan pada Angely untuk lurus terus. Angely pun langsung berlari lurus.


Pun di persimpangan jalan, arwah Rendi menuntun Angely hingga sampai ditempat tujuan.


   Sesampainya di ujung jalan, Angely sangat terkejut saat melihat Rara seperti di seret oleh sesuatu, "Rara! Jangan!" Teriak Angely sambil berlari menghampiri Rara.


   Yang bisa dilakukan Rendi cuma sampai di sini. Ia berpesan pada Angely agar menyelamatkan Rara.  Yang bisa menyelamatkan Rara cuma Angely, sebab itu adalah setan yang lahir dari dalam hatinya.


   Helga yang baru tiba di tempat Rara langsung tahu apa yang menarik Rara. Itu adalah setan yang merupakan sosok kumpulan pikiran jahat , ini pasti yang di hasilkan oleh sahabatnya Rara, Angely.


   Sebenarnya, setan yang lahir dalam hati Angely hanya seperti kecemburuan kecil. Tapi karena Angely sudah memindahkannya ke suatu bentuk berupa kertas mantera (jimat), hasilnya jimat itu memanggil berbagai roh dan menjadi alat penyerap semua itu. Jadi biarpun jimatnya sudah di robek, karena roh jahatnya sudah terkumpul, semuanya sudah terlambat.


   Sebelumnya pun, Alda pernah bilang, menghentikan ornag yang akan memasuki wilayah terlarang itu tugas sesama manusia. Tapi manusia di sekeliling Angely malah membuat tekanan mental yang keras dan seakan mendorongnya untuk menjadi seperti ini. Baik Rara maupun Angely, keduanya sama-sama menjadi korban.


   Orang-orang yang melihat keadaan Rara saling bertanya satu sama lain.


   "Oi, anak itu kenapa?"


   "Hei, ada bus lho!"


   "Dia seperti di seret oleh sesuatu!"


   Helga yang tidak tahu harus berbuat apa akhirnya duduk bersimpuh. Kedua tangannya saling bertautan. Kepalanya mendongak ke atas. Sebuah sinar keluar dari dalam jiwanya dan menghentikan waktu. Menyisakan Angely, Rara, setan, dan dirinya yang masih bisa bergerak.


   Angely hendak menolong Rara, namun setan itu seolah menghalangi dirinya dan memproses tindakannya, "Yang menginginkan ini kamu, kan? Kami di panggil oleh hatimu! Yang memanggil kami adalah kamu, Angely!"


   Tidak begitu! Angely selalu menolong Rara! Sejak kecil, Angely selalu...


   Tubuh Angely di selimuti oleh penyesalan yang keluar dari lubuk hatinya.


 


--- ### Flashback on ---


   ... Itu ... Diri Angely saat masih SD --- yang jengkel karena kalah lagu dari Rara. Pasti ia dimarahi lagi oleh ibunya. Saat itulah ia mulai berpikir kalau seandainya Rara tidak ada.


   Angely melihat Rara yang sedang di ganggu oleh kakak kelas mereka. Dalam hatinya, perasaan jelek itu mulai menghilang. Ia berpikir harus menolongnya.


   "Hei, apa yang kalian lakukan, hah?" Sentak Angely sambil berlari menghampiri Rara. Kakak kelas mereka yang melihat kedatangan dirinya langsung kabur begitu saja.

__ADS_1


   "Terimakasih, Angely!" Kata Rara di sela-sela tangisnya.


   "Sudahlah, kalau kamu diganggu mereka katakan saja padaku! Akan aku hajar mereka!"


   "Maaf ya, karena sudah membuat Angely khawatir. Coba saja kalau aku sekuat Angely. Maaf ya, maaf."


   "Bicara apa sih? Kita kan sahabat!"


 


--- ### Flashback off ---


   Angely sangat menyesal, perasaan jelek terus terpikir sebelum ini dihilangkan oleh Rara. Biarpun dirinya berniat menolong Rara, hatinya malah di selamatkan oleh Rara.


   "Maaf! Rara, maafkanlah aku! Ku mohon, tolonglah Rara! Apapun yang terjadi padaku biarlah! Tolonglah Rara!"


   Blarrrrrrr


   Saat membuka mata, Rara dan Angely ternyata masih hidup. Waktu yang sempat terhenti kembali berputar.


   "Kalian berdua tidak apa-apa?"


   "Dua-duanya selamat!"


   "Itu percobaan bunuh diri!"


   Rara yang berterimakasih karena telah di tolong Angely langsung memeluk sahabatnya itu, "aku takut! Terimakasih, Angely!"


   "Tidak, bukan,"


   "Eh?"


   "Yang di selamatkan itu aku! Aku! Terimakasih!" Angely pun membalas pelukan Rara dengan sangat erat. Ia bertekad untuk menceritakan semuanya pada Rara.


   Hanya dengan mendo'akan keinginannya untuk menyelamatkan Rara, hal itu jadi bertubrukan sekuat itu. Dengan demikian, roh jahatnya bisa lenyap dengan mudah. Kali ini, keduanya akan baik-baik saja.


   Kemudian...


   "Uwaahh~ inilah jeritan kebahagiaan!"


   "Dari hasil tes, keduanya mendapat nilai sempurna di semua mata pelajaran!"


   Wali kelas Rara dan wali kelas Angely tampak senang sekali saat keduanya memperlihatkan hasil tes yang mereka peroleh. Sangat memuaskan.

__ADS_1


   "Kalau begini, siapapun yang terpilih, akan menjadi kebanggaan sekolah kita. Yang tidak terpilih pun bisa mengincar sekolah yang lain!" Kata wali kelas Rara.


   "Sebenarnya kami mau minta tolong soal hal itu!"


   "Ng? Apa? Katakan saja!"


   "Kami mau minta soal pemilihan itu di tiadakan saja!" Pinta Angely dan Rara.


   "Wah, itu sih permintaan yang mudah! Hahahaha!"


   Sesaat, kedua wali kelas itu tidak menyadari apa yang diminta oleh Rara dan Angely. Saat sadar, keduanya pun saling pandang satu sama lain dan membelalak kaget. "APAAA??"


   "Kami berdua mau masuk ke SMA putri 'S'!"


   "Kalian likirkan lagi! Ini SMA 'N' lho! Paling top dan paliang tinggi!" Bujuk wali kelas Angely.


   "Benar! Yang tidak lolos dari pencalonan ini pun, akan di buatkan surat rekomendasi khusus agar bisa masuk sekolah lain yang bagus. Bagaimana? Mau kan?" Imbuh wali kelas Rara.


   "Kami berdua sudah memutuskannya! Kami tidak akan terus menurut! Permisi!"


   Setelah berkata seperti itu, keduanya pun segera keluar dari dalam ruang guru tersebut.


*****


Sementara itu, Helga yang mengeluarkan kekuatannya tiba-tiba merasa mati rasa. Kekuatannya memang hebat, tapi resikonya gak pernah kira-kira sama sekali. Itulah akibat dari menguarkan kekuatan padahal sudah tidak jadi pengendali.


Priatna yang melihat adiknya tiduran di sofa tanpa melakukan apapun jadi heran sendiri. "Kamu kenapa, dek?" Tanya Priatna cemas. Ia memeriksa suhu tubuh Helga yang biasa-biasa saja.


"Tubuh Helga, tubuh Helga kaku banget kak. Jadi sulit digerakkan!" Jawab Helga jujur. Kondisi ini sangat menyiksanya karena ia tipe orang yang tidak bisa tinggal diam.


Priatna mengernyitkan keningnya heran. Pasalnya bukan sekali ini saja adik semata wayangnya itu kaku seperti ini. Mengenai Helga yang bisa melihat hantu, keluarganya semua tau akan hal itu.


Tapi sayangnya mereka tidak tahu siapa Helga yang sebenarnya.


Sebuah ide tiba-tiba terlintas di kepala Priat. Ia menghampiri Helga dengan segelas air.


Sang adik yang melihat gelagat aneh kakaknya jadi was-was sendiri. "Kakak mau ngapain?" Tanya Helga sambil bergidik ngeri.


"Mau merukiyah kamu!" Priatna menciprati muka adiknya dengan air yang dibawanya, "Keluar! Keluar! Keluar!"


"Kakak ngapain sih? Orang aku masih sadar!" Dia kira Helga sedang kerasukan kali ya? Namun, jawaban Priatna sungguh diluar dugaan.


"Iya, jiwa kamu memang sadar, tapi raga kamu tidak!" Jahatnya~

__ADS_1


 


--- ### Author POV'S off ---


__ADS_2